JAYABAYA BICARA TUKIN

Pancen wolak waliking jaman, amenangi jaman edan, ora edan ora keduman, sing waras padha nggagas, wong tani padha ditaleni, wong dhora padha ura ura, beja bejane sing lali, isih beja kang eling lan waspadha ( Sriaji jayabaya – ilustrasi )
Diartikan bahwa suatu ketika jaman akan berubah dan islampun sudah memberitakan bahwa jaman akan selalu berubah untuk dipergilirkan pada generasi berikutnya (QS Ali Imran 140) dan sampailah pada jaman kita sekarang ini yang diramalkan jayabaya sebagai jaman edan,kalau tidak ikut menjadi gila maka tidak mendapat penghasilan. Yang bisa berpikir secara sehat hanya selalu berwacana, orang yang bekerja demi sebuah kehidupan yang layak tidak bisa lagi secara bebas berkreasi,orang yang senang berbohong justru berbangga hati dengan selalu bersenandung. Tapi patut di ingat dari semua itu bahwa seberuntungnya orang yang lupa masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada dalam perikehidupannya
Kita sebagai PNS melihat apa yang dikatakan jayabaya hampir seluruhnya benar terjadi di masa sekarang,ada ungkapan yang bisa mewakili anggukan kita yaitu ”cari yang haram saja susah apa lagi cari yang halal “ inilah ungkapan jaman edan yang menggambarkan banyak orang sudah merambah pada keputusasaan ( dipaksa tunduk oleh kebohongan)
Wong tani, dalam syair itu dapat ditafsirkan sebagai orang orang yang bekerja tanpa pamrih demi kehidupannya,dan tanggung jawab profesinya saat ini banyak yang “ditaleni”(di ikat) mereka bekerja tidak lagi dihargai sebagai manusia tapi hanya sebuah bagian dari”mesin” atau robot yang terprogram artinya mereka bekerja menggunakan tangan dan kaki berdasarkan aturan baku dan dibatasi untuk lebih luas memberdayakan pikiran dan hatinya juga yang memprihatinkan adalah pekerjaannya dibatasi oleh kontrak yang telah ditanda tanganinya
Wong dhora,(yang suka berbohong) justru bangga hatinya,lega hatinya,dan selalu bersenandung (ura ura). Sekarang tak ada pembeda yang jelas,antara sebuah kejujuran dan kebohongan ketika di jaman ini orang pandai merangkai kata kata dan membuat penghalusan penghalusan bahasa ( berdalih regulasi) sehingga kebohongan tak lagi menjadi suatu yang tabu…………………( FS – D7)

Satu tanggapan untuk “JAYABAYA BICARA TUKIN

  1. pak hartono, saya kurang setuju dengan pemikiran bahwa “pekerjaannya dibatas oleh kontrak yang telah ditanda tanganainya”, apalagi dengan judul diatas TUKIN, dan ditutup dengan kalimat :”Sekarang tak ada pembeda yang jelas,antara sebuah kejujuran dan kebohongan ketika di jaman ini orang pandai merangkai kata kata dan membuat penghalusan penghalusan bahasa ( berdalih regulasi) sehingga kebohongan tak lagi menjadi suatu yang tabu”
    dengan adanya reformasi birokrasi, maka negara memberikan reward sesuai dengan kinerja yang telah dilaksanakan, kinerja tersebut tercermin dari hasil kerjanya, dan diikuti dengan aturan bahwa HR yang dulu diberikan kepada PNS sebagai pengganti jerih payahnya, harus dihapus, maka justru istilah yang tepat, dulu kita sering menerima uang “HARAM” (dalam tanda kutip) HR yang kita terima tanpa jelas keterlibatan kita dalam tugas yang ada di surat tugas tersebut… Saat ini diberikannya TUKIN maka tunjangan yang kita terima menjadi tunjangan yang “HALAL” dan bermartabat, karena kita diberikan tunjangan sesuai dengan kinerja kita, sesuai dengan kelas jabatan kita. Jika terjadi kekurangan di sana sini, tentu saja… ada masa transisi, yang penting berjalan pada rel yang benar…. Jika dipertanyakan mengapa tidak semua PNS mendapatkan TUKIN ? jawabnya, tunjangan kinerja untuk membayar kinerja, kinerja dilihat dari hasil kerja, maka siapapun yang sudah mendapatkan tunjangan atas hasil tersebut, maka dia telah mendapatkan hak-nya, dan tidak bisa satu hasil kerja dibayar dengan lebih dari satu tunjangan yang berbeda, namanya double accounting (kata orang-orang yang ngerti keuangan)… komentar saya ini tidak perlu menjadi bahan perdebatan, karena aturannya sudah jelas, hanya saya sangat terusik ketika bapak menuliskan bagian judul seperti itu, bagian penutup seperti itu… matur nuwun… salam BUDIARTO (FIP)

Komentar ditutup.