Generasi Muda

Kalau saya amati sepintas jumlah penduduk Malang Raya kayaknya semakin padat saja dan hal ini bisa dilihat dari padatnya kendaraan di jalan raya, mulai dari angkutan umum yang muatannya kebanyakan anak sekolah, mobil dan motor mulai dari produk terbaru sampai yang terjadul semua turun ke jalan ikut berdesakan belum lagi becak becak yang mestinya sudah tak di operasikan malah jadi penghambat menambah kemacetan lalu lintas terutama pada jam jam tertentu dimana para pekerja, karyawan, pegawai, mahasiswa dan pelajar akhirnya saling terobos karena ingin secepatnya sampai di tujuan bahkan jalan pintas maupun jalan tikuspun sekarang tak ada celah dan kondisi seperti ini banyak ditemui diwilayah Malang Raya
Kebutuhan Hidup Suatu pemandangan yang amat menarik dan ini bisa disaksikan setiap pagi di jalan arteri dari Tumpang kearah Blimbing, bak bertemunya kendaraan dari segala jalur pedesaan sehingga ribuan kendaraan roda dua tergabung tanpa kesepakatan tapi punya niat dan arah yang sama, maka terjadilah iring iringan (konvoi)an yang sangat panjang dan rapat sehingga kendaraan lain atau orang mau menyeberang agak kesulitan. Suatu ketika saya tanyakan pada salah seorang diantara mereka,ternyata mereka adalah para pekerja dari pedesaan menuju kota karena dipaksa oleh keadaan sehingga meskipun jarak rumah dengan tempat ia bekerja sangat jauh tapi ditempuhnya juga.Di desa rata rata mereka tak punya lahan untuk diperjuangkan juga tak pernah ada kesempatan untuk menjadi petani meskipun sekedar menggarap sawah atau ladang milik orang lain, akhirnya mereka lebih memilih mengadu nasib dikota meskipun gaji belum bisa mencukupi,..biarlah asalkan halal,itu kata salah seorang dari mereka. Kemajuan teknologi Memang tak dapat dipungkiri kalau ilmu pengetahuan sekarang seakan mampu melipat dunia, mampu membebaskan kungkungan kefanaan dunia, akan tetapi ilmu pengetahuan masih belum bisa dijadikan standar kebenaran sebab ilmu pengetahuan tak mengenal moral manusia dan buktinya masih belum bisa memberikan solusi bagi problematika manusia, misalnya betapa banyaknya sarjana di negeri ini yang terpaksa harus menganggur? Potensi dan kemampuan (skill) nya ternyata masih di kalahkan oleh tenaga mesin dengan sistem robotnya yang otomatis? dan sekarang fakta telah menginformasikan pada kita bahwa dunia
nyata ternyata hanya membutuhkan tenaga teknisi daripada akademisi, demikian juga yang terjadi dinegara maju dengan tenaga buruhnya amat besar juga sama berguguran, bertumbangan sebab kehilangan pekerjaannya apalagi dinegeri yang masih berkembang seperti Indonesia ini tentu akan lebih parah lagi. Lantas apa kaitannya dengan padatnya penduduk Malang raya dan berbondong bondongnya mereka dalam mencari pekerjaan?dan apakah yang dikerjakannya? Sebagai fakta bahwa negara maju saja terkejut apalagi negara yang belum maju pasti akan terguncang,sebab dampak dari globalisasi pada pelarian terakhirnya adalah negara berkembang yang menjadi sapi perahan karena mereka menggunakan sistem”sweat shops”dengan kata lain berjalan dengan tangan dibawah kaki diatas dengan gaji sedikit dan itupun dalam kurun waktu yang sangat lama, yah mungkin inilah yang dikatakan oleh I.Wibowo dalam bukunya”Negara Centeng” bahwa nasib mereka tak ubahnya “race to the bottom”..berlomba lomba masuk jurang, Jadi tidak heranlah jika tenaga tenaga muda dari Indonesia yang punya ketrampilan membanggakan malah lebih memilih keluar negeri meskipun menurut orang luar negeri gajinya paling rendah tapi serendah rendah gaji disana cukup besar menurut kurs Indonesia.
Kita butuh Tuhan Bisa dibayangkan bagaimanakah nasib generasi dan negeri kita dimasa mendatang? Mudah mudahan pemegang amanah yang terpilih pada periode ini diberi kepekaan yang tinggi olehNya, diantaranya adalah ”baddallu ni’matalloohi kufroon”yaitu selamat dari kesalahan dalam manajemen nikmat, dan menjadi asy syifa’ penyembuh dari banyaknya peristiwa yang mencoreng negeri ini, dan kalau saya sebut kita butuh Allah artinya kita sangatlah membutuhkan sandaran kepada Yang Maha Kuat, bagaimanapun juga manusia tak bisa menipu dirinya sendiri akan kenyataan dari efek negativnya teknologi dan kita membutuhkan Yang Maha Benar, agar aktivitas kita dalam bekerja tetap berada dalam jalan yang benar…dan Ahmad Thompson(ulama Amerika) ikut mengingatkan kita bahwa beliaunya menyebut zaman sekarang ini sebagai “A Godless Civilization” yaitu zaman dengan peradaban yang tak bertuhan artinya manusia yang hidup pada zaman fitnah ini banyak yang meninggalkan nilai nilai kenabian…….(fs-d7)