Learning Center for World Class University – Something is Missing

Sesuai yang sering dikumandangkan dalam setiap kesempatan oleh para pejabat di lingkungan UM, slogan semacam Learning University, Learning Center for World Class University nampaknya begitu indah dan nyaman untuk di dengar. Butuh usaha dan kerja keras yang tidak sedikit untuk mewujudkan slogan tersebut.

Jika UM ingin menembus dunia internasional dan menenteng gelar World Class University, saya merasa ada sesuatu yang hilang atau kurang dalam aplikasi sehari-harinya. Apakah yang hilang itu?

Bahasa Inggris saat ini sudah menjadi bahasa yang menjadi kunci dalam memasuki dunia internasional, demikian pula dalam hal komunikasi dan interaksi lewat website. Apakah ini sudah sempat dipikirkan oleh pengelola situs UM? Bukankah dengan penerapan website bersistem dua bahasa (bilingual – Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris) atau banyak bahasa (multi lingual) akan semakin menambah peluang dan kesempatan UM ke depan agar dapat lebih dikenal dan terkenal di dunia internasional, sehingga slogan World Class University tidak lagi sekedar menjadi sebuah slogan?

Banyak SDM potensial di lingkungan UM yang saya rasa dapat mewujudkan terciptanya situs web bilingual ini.

Semoga menjadi pertimbangan.

Indahnya Menapaki Hidup

6 tanggapan untuk “Learning Center for World Class University – Something is Missing

  1. @Syamsul @Dimas
    Situs um.ac.id versi 1.0 (sebelumnya) sudah disertai dengan toolbar Google Translate, lihat tulisan di blog ini 12-12-2008 yaitu Website UM Dapat Dibaca dalam 35 Bahasa” .

    Setelah meninjau situs-situs perguruan tinggi dunia versi Webometrics peringkat 1-25 ternyata tidak ada yang pasang Google Translate, dan melihat rata-rata anak SMTA/SMTP di Malang sudah biasa memakai Google Translate dari browser, maka pada versi 2.0 (saat ini) toolbar Google Translate tidak disertakan lagi. Sewaktu di versi 1.0, kami juga menerima banyak kritik yaitu kok ramai sekali, seperti tampangnya blog, kok Google Translate dipasang? Sekarang dihilangkan … muncul kritik lagi dari pengguna lain. Menjadi pengurus situs memang harus sabar …melayani banyak orang … .

    UM memang punya SDM jurusan bahasa Inggris, tetapi mencari yang mau meluangkan waktunya untuk web, belum ada yang menawarkan diri. Cari yang gratisan, lebih sulit lagi, cari yang berbayar, nah sumber dananya yang tidak mudah dicari (sebagai contoh: sampai saat ini, BERKARYA dan tulisan-tulisan lain itu didanai dari donasi pribadi — [lihat kategori Ssst Donasi di BERKARYA] –, sedang diusahakan dana dari sumber rutin).

    Tidak mudah mengubah cara kerja
    dari RUTIN menjadi KREATIF dan INOVATIF;
    dari TIM RAKSASA YANG BOROS menjadi TIM KECIL YANG EFISIEN;
    dari PROSEDUR BERTINGKAT-TINGKAT menjadi PROSEDUR SATU TINGKAT;
    dari RAPAT BERKALI-KALI TANPA KEPUTUSAN menjadi RAPAT SATU KALI DENGAN KEPUTUSAN;
    dari LAMBAN BERTINDAK menjadi CEPAT BERTINDAK;
    dari BANYAK WACANA menjadi BANYAK KERJA.

    Saat ini, prioritas kami bukan untuk membangun web dengan dua bahasa tetapi pada usaha membangun subdomain untuk unit-unit yang membutuhkan. Misalnya membangun arsip akademik (akan saya tulis di Berkarya) berupa surat-surat keputusan, daftar hadir kuliah, kartu hasil studi, daftar nilai akhir, dll.

  2. wah.. bakalan keren donk klo UM bisa dibuat Bilingual (Indonesia-Inggris).

    Semangat buat para admin, semoga dapat segera terwujud.

  3. Johanis Rampisela :
    “Learning University” memang slogan. “Learning Center for World Class University of UM” bukan slogan melainkan pusat studi untuk mempelajari berbagai macam metode penilaian universitas kelas dunia.
    Pengelola situs pernah memikirkan untuk membuat situs UM berbahasa Indonesia dan Inggeris tetapi setelah mempertimbangkan adanya fasilitas “Google Translate” yang sanggup menterjemahkan (walaupun belum sempurna) sampai dengan lebih dari 30 bahasa maka pemikiran tersebut tidak dilaksanakan.
    Terima kasih atas perhatiannya.

    Saya kok jadi kepikiran ya.. mengapa cuma dipertimbangkan
    padahal kalau menurut saya realisasi dua hal tersebut bisa dilaksanakan (1. Membuat database bahasa atau 2. Membuat tool google translate).

    1. Kan jurusan SDM UM yang pandai bahasa inggris melimpah
    2. penggunaan toolbar auto translate dari google

    jadi kalau memang mau mengandalkan google translate, paling tidak ada toolbar bahasa yang memudahkan pengunjung (jadi kan tinggal klak-klik aja 🙂 )

  4. Jika ada 2 versi website (yang otomatis dengan pemisahan page), website UM akan semakin banyak terindeks oleh google, yang tentu saja dengan target market tidak saja dalam negeri, tetapi luar negeri, seperti kita ketahui, google kan tidak saja dot com, dot co id tetapi di setiap negara ada prefix domain masing-masing.

    Pembaca luar negeri pun akan lebih meningkat jika content web ada yang berbasis Bahasa Inggris (yang tidak mungkin dilakukan oleh google translate).

    Mengenai google translate sendiri, saya rasa bukan saya belum sempurna tetapi “Tidak sempurna” dan “tidak akan bisa sempurna” Apabila source/target bahasanya adalah Bahasa Indonesia karena tidak seperti bahasa lain yang memiliki struktur sama, Bahasa Indonesia termasuk “unik” sehingga mustahil bagi google translate ataupun software penerjemahan manapun yang bisa menyamai kemampuan human translation.

    Menengok situs universitas tetangga yang sudah bilingual seharusnya UM tidak secepat itu memutuskan untuk tidak melaksanakan pemikiran terkait dengan website bilingual tersebut.

    Terima kasih tanggapannya.

  5. “Learning University” memang slogan. “Learning Center for World Class University of UM” bukan slogan melainkan pusat studi untuk mempelajari berbagai macam metode penilaian universitas kelas dunia.
    Pengelola situs pernah memikirkan untuk membuat situs UM berbahasa Indonesia dan Inggeris tetapi setelah mempertimbangkan adanya fasilitas “Google Translate” yang sanggup menterjemahkan (walaupun belum sempurna) sampai dengan lebih dari 30 bahasa maka pemikiran tersebut tidak dilaksanakan.
    Terima kasih atas perhatiannya.

Komentar ditutup.