Parkir UM kok tidak kayak universitas lain di Malang ya

Kapan ya univesitas kita yang kita banggakan menerapkan sistem parkir kayak di kampus-kampus lain …  sebut saja UB untuk parkir sistem pembayarannya per semester.  Jadi enak mahasiswa tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk parkir.

Kalau dibandingkan, UM jauh lebih mahal dan tidak efektif karena tiap kali masuk harus bayar Rp 500. Bayangkan kalau kita dalam 1 hari masuk 4 kali, sudah Rp 2.000. Kapan ya??????

23 tanggapan untuk “Parkir UM kok tidak kayak universitas lain di Malang ya

  1. Wah…wah…unik juga ya kasus d UM ini…!!! sory ya…numpang orat-oret…habisna…gemes banget liat” keluhan” mahasiswa UM yang sangat lucu sekali jika dibandingin dengan Univ besar yang ada d mlg. heheheee…kayakna perlu belajar banyak nih dengan UB or UMM….!!! kalo di kampus gua neh..(UMM). biaya parkir tarifnya uda pake persemestr so..pake stiker. n smua mahasswa d WAJIBkan dengan SOSIALISASI yang jelas n terang dr pihak peglola parkir kpd mahaswa. n kalo pun blm daftr atau pihak luar/umum yang parkir di UMM cuma BAYAR Rp.200 per-motor…..!!! MURAH BUKAN…??? n lokasi parkir yang LUAS, AMAN….lagi!! arah keluar masuknya juga enak…g ribet….hehehee”
    hm….kayakna kampusku patut di contoh nih,,,ma UM…
    UMM MURAH MERIAH oey…..!!!
    makash…UM..atas dinding komentnya…..hehehee”

  2. memang perlu disegerakan pengaturan perparkiran khususnya mobil, jangan sampai cuma BISA MELARANG parkir ditempat-tempat tertentu, tetapi TIDAK ADA SOLUSI, tempat parkir yang disediakan tidak mencukupi terkadang sampai bertumpuk. Ya kalau sepeda bisa dipinggirkan tapi kalau mobil gmana caranya???. sebaiknya jangan terlalu dilaranglah tapi diatur lalu lintas jalannya apakah perlu searah atau boleh 2 arah sehingga satu tepi jalan bisa untuk parkir jangan sampai masuk parkir sulit keluar juga sulit. sukses untuk unit parkir……

  3. (pak dhe, pak lik, pak, mbah, ato siapa pun anda) zul … tunggu saja tanggal mainnya … kalo ga salah sudah masuk renstra UM koq… ke depan tidak akan ada lagi kendaraan bermotor berseliweran di tengah kampus, semua akan disentralisir di pojok2 kampus di empat penjuru mata angin, jadi di tengah kampus hanya ada orang jalan saja…

  4. parkirnya yang gak beres atau jumlah sepeda motornya yang berlebih? saya sendiri pengen bike to work, sepeda motor bikin saya jadi gendut

  5. kalau kampus kita bisa nyaingin UB,mungkin kampus kita bisa masuk 6ptn terbaik indonesia.
    soalnya 6ptn terbaik masih dipimpin:
    UI
    ITB
    UGM
    UNIBRAW
    IPB
    UNAIR

  6. @Mas Langgeng, kalo masalah motor ilang saya yakin semua kampus di Malang ini pasti ada kasus seperti itu. Jangankan diparkir di parkiran resmi di kampus.. wong motor saya Jupiter Z tahun 2005 kemaren saya parkir di rumah saja bisa hilang koq.

    Masalah parkir ini tidak saja berkutat pada masalah keamanan, tetapi juga pada kenyamanan, serta keteraturan. Lihat saja tuh di jalan mulai FIP sampe FE, tidak dosen tidak mahasiswa, banyak yang masih parkir di pinggir jalan sebelah barat, sehingga jika ada mobil yang bersimpangan, mau tidak mau salah satu harus mengalah, bisa yang dari arah FS berhenti dulu di pertigaan pojok perpus, atau yang dari FIP berhenti dulu sebelum persempitan jalan di depan FE.

    @ Mr. X, sabar mas, kalo tidak ada respon kenapa disediakan fasilitas website/blog ini? Rektor kan tidak hanya mengurusi parkir saja… he he he

  7. Apakah mas Langgeng memparkir motornya di tempat parkir resmi? Kita memiliki tanggungjawab bersama untuk saling menjaga kenyamanan dan keamanan kampus dengan memparkir kendaraan bermotor pada tempat parkir resmi yang disediakan UM.
    @langgeng

  8. iya sepakat kalo parkiran UM perlu di perbaiki..
    karena saya adalah salah satu korban dari ketidak efektifan sistem parkir yang ada di UM.
    sehingga Supra 125 tahun 2009 ku melayang di bawa sang maling..

  9. wah, di MIPA parkirnya perlu lebih minta perhatian… bayangkan anak2 SMP lab ikut parkir di MIPA suatu pelanggaran : mereka blm berhak naik motor sesuai aturan… mereka bisa pulang sewaktu-waktu sblm bel sekolah plg karena bisa ngambil motor di MIPA yang relatif mudah dan terbuka sehingga mudah pula mbolos, tempat bagi mhsw dan dosen yang relatif datangnya lebih siang selalu dapat tempat yang tidak nyaman…. kepenasan dan kehujanan yag mmg kapasitas sdhsempit… karena mrk dtg lbh awal… ada raja2 kecil krn pengluaran mhsw lebih gede… sebaiknya pembayaran bersamaan dg smtran… lbh awala
    mohon perhatian

  10. sebenarnya kalau temen-temen perhatian, di UM sudah diberlakukan tapi perbulan, jadi tiap bulan 7000, stikernya bisa diminta di Pak Satpam. Klo di FMIPA seperti itu,,,

  11. sepakat,,lebih tidak ribet,,mari kita berpikir efektif dan efisien,,lebih baik satu semester sekali daripada satu hari berkali-kali,

  12. Saya kira usulan para penulis, perlu segera dicoba dengan pola yang sederhana dulu (mungkin pola manual) setelah itu diadakan evaluasi dan pembenahan secukupnya untuk menuju tatakelola perparkiran yang profesional dan modern.

  13. Memang sudah waktunya pengelolaan parkir secara profesional. Perlu dibentuk unit layanan parkir UM, yang khusus menangani perparkiran UM sebagai unit usaha, sehingga SATPAM ditugaskan pada fungsi yang semestinya (termasuk menertibkan pemarkir kendaraan yang tidak pada tempatnya). Biaya parkir bisa distandarkan sesuai aturan yang pembayarannya bisa dilakukan pada awal semester atau tiap bulan bagi mahasiswa/dosen/pegawai, atau langsung bagi tamu UM, sehingga tarif parkir sama (tidak seperti saat ini).

  14. Memang kondisi parkir di kampus kita sangat memprihatinkan. Mulai dari kapasitas yang sudah overloaded sampai dengan aturan tarif parkir. Antrian panjang didepan tempat parkir selalu menjadi pemandangan sehari-hari. Dan oleh karena itu tidak sedikit mahasiswa yang terlambat masuk kelas karena kesulitan mencari tempat parkir.
    Pembayaran parkir per semester merupakan ide yang bagus. Tetapi perlu dibarengi dengan pengembangan sistem parkir itu sendiri. Diantaranya adalah administrasi pembayaran, identitas pemilik kendaraan dan pembawa kendaraan (copy STNK dan SIM), stiker identitas yang menempel di kendaraan dengan masa berlaku satu semester, dan lain-lain. Pembayaran dan proses administrasi bersamaan dengan proses registrasi tiap awal semester, sehingga hanya mahasiswa yang aktif pada semester itu yang membayar parkir. Perangkat kontrol di tiap pintu akses perlu ditingkatkan, misal pengontrolan kendaraan keluar masuk secara ketat.
    Setahu saya sampai saat ini, tarif parkir hanya ditentukan untuk kendaraan sepeda motor sedangkan untuk mobil sepertinya belum ada. Padahal mobil memerlukan area parkir yang lebih luas. Jika UM ingin menata parkirnya agar lebih baik maka isu terakhir ini sangatlah perlu diperhatikan. Terimakasih, mudah-mudahan masukan ini akan berarti bagi usaha untuk memajukan UM, kampus tercinta ini.

  15. Pak Rektor, biaya parkir di UM tidak wajar dan sangat tinggi. Hari sabtu dan minggu sering
    ada kegiatan mahasiswa di A3. Tapi minta ampun deh beaya parkir sepeda motor saja satpam menarik Rp 1.000,- sekali parkir. Sebagai mahasiswa menjadi berat jika diakumulasi selama sebulan. Terus kemana duit hasil parkir itu larinya???

  16. Bagus, termasuk meringankan beban satpam dalam hal pembayaran (kasir), sehingga hanya fokus pada pencatatan nomor kendaraan saja.
    Identitas pengguna yang sudah membayar di depan juga harus jelas dan bagus, sehingga sekalian menunjukkan sistem parkir di UM terkelola dengan baik.

  17. Ya, itu semua tergantung kebijakan kampus sendiri, jika pihak kampus sendiri tidak menggubris pendapat kita ya tidak akan terlaksana sistem parkir yang diinginkan mahasiswa, jika sebaliknya, pasti dalam waktu dekat akan diubah sistem parkir UM yang tidak nyaman.

Komentar ditutup.