Asap!!

DSC01658Taukah atau lebih tepat sadarkah kita bahwa asap merupakan hal yang berbahaya? Terlebih asap hasil dari pembakaran sampah, ternyata lebih berbahaya dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, bahkan asap dari pabrik. Asap sampah ini dapat merusak lapisan ozon lebih parah dari asap-asap itu. Sadarkah kita akan hal teersebut? Sayangnya, masyarakat kita belum sadar akan hal tersebut, lebih parah lagi di sini sebagai lembaga pendidikan masih kurang sadar akan hal itu juga. Seperti gambar di samping, itu adalah salah satu lokasi pembuangan sampah di kampus ini, tetapi tidak sekedar tempat pembuangan, melainkan juga sebagai tempat membakar sampah. Yang saya sayangkan adalah, tempat ini tidak hanya berdekatan dengan kelas, tapi juga TPA(Tempat Penitipan Anak), tempat makan (pujasera UM), dan poliklinik. Lebih parah, asap tersebut sampai di UKM dan HMJ yang cukup jauh dari tempat sampah itu. Saat saya mengambil gambar itu, pagi hari, adalah saat ketika semua tempat tersebut sedang menjalankan aktivitasnya, sampai-sampai TPA menutup semua pintu dan jendela. Bayangkan bagaimana kesehatan anak-anak yang berada di situ? Saya pernah mendengar ada alat untuk mendaur ulang sampah. Tetapi masih langka dijumpai di masyarakat kita, apalagi harganya yang mahal. Tapi saya rasa jika seluruh warga UM menyisihkan barang Rp.1000,- atau bahkan Rp. 500,- saja mungkin UM bisa membeli alat itu dan tidak akan ada asap yang sangat berbahaya tersebut. Someday..hopefully

12 tanggapan untuk “Asap!!

  1. @Eko Wahyu Setiawan
    Waduh, mas eko. dari pada ngayal sebaiknya do it now! seperti aa gym itu: 3M. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang juga. Ngolah sampah itu gampang, yang susah adalah membangun niatnya dan konsistensinya. Alhamdulillah, saya sekeluarga sudah 3 tahun mengolah sampah rumah tangga sendiri. Alatnya murah meriah, banyak bertebaran di internet. Yuk mulai sekarang. Salam,

  2. @fatma
    Ya benar Bu Fat, kalau masalah sampah hanya diurusi oleh orang biologi, betapa susahnya mereka nanti, siapa saja bisa kok, kecuali orang malas asal mau pasti bisa

  3. @fatma
    Bu fat, ini tempat asap, bukan tempat latihan nulis. Sebaiknya kita beralih saja ke belajar membuat surat, biar surat-surat yang dikeluarkan warga UM bagus dan sesuai aturan tata persuratan. mohon maaf

  4. @kusmain
    Yah pak kusmain, kangen nulis nih. Untuk membuat pupuk organik UM tidak perlulah “ekstrem; harus orang dari Jurusan Biologi. Bisa lintas bidang ilmu. Kalau SOP sudah disusun standard, dioperasikan siapa saja juga bisa. Kita yang alumni PLS juga bisa loh, tapi ya belajar dulu ya. Kan belajar sepanjang hayat. Terima kasih. salam

  5. @kusmain
    Pak Kusmain saya pun juga mengharapkan segera direalisasi tentang penanganan sampah di UM. Tetapi saya juga maklum mengusulkan hal yang baru tidaklah mudah mendapatkan persetujuan. Mungkin pertimbangannya banyaklah. Nah, mesin pengolah sampah yang dirancang tersebut memang akan mengolah sampah organik menjadi pupuk organik yang nantinya akan dijual sehingga menghasilkan pendapatan. Sedangkan sampah plastik dijual kepada pihak lain yang memiliki peralatan daur ulang. Menurut hitung-hitungan waktu itu, pendapatan dari sampah organik ini sudah bisa digunakan untuk operasional unit pengolah sampah. Bahkan juga bisa digunakan untuk praktek kewirausahaan mahasiswa. Yah, kita tunggu saja mudah-mudahan tahun depan sudah beroperasi. Terima kasih. Salam

  6. memang sampah selalu jadi persoalan dimana-mana, bahkan kota bandung sempat dijuluki kota sampah beberapa saat yang lalu karena macetnya distribusi sampah dari kota tersebut ke TPA.

    sampai sekarang saya pun masih hanya bisa berkhayal kapan lingkungan kita secara khusus da Indonesia secara umum bisa melaksanakan pengelolaan sampah seperti yang ditayangkan di Discovery Channel….

  7. @fatma
    Ya bu fat, sepertinya gedung pengolahan sampah udah dibangun beberapa tahun yang lalu, tapi belum selesai. Mestinya sampah tidak perlu dibakar tetapi dipisahkan mana yang organik dan yang bukan; bahkan kalau petugas kebersihan mau memanfaatkan ini, wah makmur.

  8. Komentar tentang “asap”, mengingatkan saya tentang proposal pengolahan sampah yang telah disusun oleh Tim dari Kemahasiswaan pada tahun 2007. Tim penyusun terdiri dari dosen Jurusan Tehnik Mesin dan Tim Pengembangn Kewirausahaan Universitas. Proposal disusun sebagai salah satu program rintisan pembelajaran enterpreunership mahasiswa pada waktu itu. Dalam propsosal tersebut dilengkapi dengan berbagai perhitungan biaya mulai dari gedung, mesin pengolah sampah, biaya produksi dan perolehan yang didapat jika unit usaha sampah tersebut dijalankan. Gambar gedung, lokasi dan desain mesin sudah disiapkan.

    Lama tidak terdengar kelanjutan proposal tersebut, alhamdulillah saya mendapat berita kalau sekarang ini sudah dalam proses pembuatan alat tersebut.

    Mudah-mudahan keluhan teman-teman tentang asap di kampus kita segera teratasi.

  9. Memang banyak pekerjaan yang belum 100% tuntas dengan baik termasuk salah satunya kebersihan, apalagi jumlah tenaga semakin menipis (ZeroGrowth) saya pikir jika hal ini tetap dipertahankan akan tambah banyak lagi masalah. Walaupun kita bisa membeli mesin yang canggih dan mahal sekalipun kalau tidak ada yang mengoperasikan dengan baik apa kata dunia!

  10. Mungkin kita bisa belajar pada Pemkot Batu yang sudah membuat alat sederhana untuk mengolah sampah basah menjadi pupuk

Komentar ditutup.