“Kampus Pengemis”

Warga UM tentunya tidak senang dengan sebutan “Kampus Pengemis”. Ini bisa terjadi bila banyak tamu luar UM didatangi oleh pengemis yang setiap hari beroperasi di UM. Padahal kebijakan Rektor UM jelas melarang pengemis beroperasi di kampus. Tapi kenapa masih banyak …, apakah UM merupakan lahan subur? ataukah kita tak peduli terhadap kesan yang akan muncul?

Halaman Masjid, Senin 16/11/2009, 12:10
Halaman Masjid, Senin 16/11/2009, 12:10
antara E6--E7, Senin 16/11/2009, 12:18
antara E6--E7, Senin 16/11/2009, 12:18

27 tanggapan untuk ““Kampus Pengemis”

  1. Dadung Wawuk :kalau menurut saya,jika ada yg minta dan selama kita mampu bersodaqoh,ya kasih aja,klo gak mau ya gak usah dikasih,kasihan mereka,jangan kucilkan mereka,mari kita rangkul,nah iku lho bes solusine,ojok dihindari opo diusir2,yok opo iki cak

    Bagaimana kalau yang kita sedekahi ternyata lebih mampu daripada kita?

  2. kalau menurut saya,jika ada yg minta dan selama kita mampu bersodaqoh,ya kasih aja,klo gak mau ya gak usah dikasih,kasihan mereka,jangan kucilkan mereka,mari kita rangkul,nah iku lho bes solusine,ojok dihindari opo diusir2,yok opo iki cak

  3. Benar….Terlalu Banyak pengemis yang masuk ke wilayah UM,
    apa lagi sekarang mereka berani masuk sampai wilayah2 kantin…
    mereka juga tak segan2 menggunakan anak2 sebagai kedok untuk meminta belas kasihan…
    ini sangat memprihatinkan…memang mahasiswa2 UM orangnya dermawan akan tetapi ini semua perlu di tindak lanjuti Pak…
    demi Kenyamanan bersama….
    Terima Kasih….Salam

  4. Kenapa pengemis rajin datang ke UM? Ya ibarat pepatah “ada gula ada semut”. Di UM banyak gulanya, sehingga kalau pun tulisan besar-besar (berisi larangan pengemis beroperasi di kampus ) dipasang di mana-mana, tetapi kalau warga kampusnya masih memberi duit kepada pengemis; upaya menata kampus yang “bebas pengemis” menjadi tidak efektif. Jadi menertibkan pengemis, juga harus diikuti semangat seluruh warga kampus untuk tidak memberi duit kepada mereka. Terima kasih. salam

  5. Kenapa ya?
    Padahal di pintu masuk jalan surabaya sudah terpasang plakat bahwa menurut surat keputusan rektor no sekian bla bla bla…
    -pengemis dilarang masuk dan sebagainya…

    Tapi kog kelihatannya hanya digunakan sebagai aturan “yang penting ada”, tidak diterapkan dan tidak pula ditertibkan. Sungguh keberadaan pengemis di kampus tercinta ini, sering meresahkan. Dan uniknya lagi, pengemis yang datang ke kampus kita orangnya tetap itu-itu saja… Di pagi hari saya sering menemui mereka berangkat menggunakan angkotan kota. Sebaiknya tidak perlu menunggu lagi segera bertindak untuk kenyamanan kampus. Lebih cepat lebih baik. Jangan hanya wacana saja, yang pada akhirnya sering tidak dilaksanakan.

  6. usul pak………
    bgmn klo smua pengemis d kumplkan, dan diberi penyuluhan dan juga keterampilan dan dikasih waktu 1 bulan lah… untuk hengkang dari kampus…. kalo ga’ mau meskipun tiap hari mereka datang satpam harus langsung membawanya….

    (cara halus ditolak SATPOL PP bertindak)

  7. @Johanis Rampisela
    Saya punya usul, bagaimana kalau setiap unit kerja menugaskan staf untuk mengikuti forum SUARA KITA dan BERKARYA di web ini. Staf inilah yang bertugas menghubungkan antara publik dengan pimpinan unit kerjanya sehingga permasalahan segera ditanggapi langsung pihak yang terkait. Pimpinan unit kerja tersebutlah yang “wajib” memberikan jawaban atau tanggapan secepatnya. Mari kita membiasakan membuka web (paling tidak) di pagi dan sore menjelang pulang, dan menjadikannya “menu wajib” setiap harinya. Terima kasih. Salam.

  8. Mari mulai sekarang mari KATAKAN TIDAK kepada pengemis… bukan saja KATAKAN TIDAK kepada KORUPSI.

    Silahkan BACA CERITA berikut, siapa tahu bisa jadi pertimbangan bagi kita. Siapa tahu ada yang berminat jadi Pengemis he he he:

    ——-
    Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

    Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.
    Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.
    Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.
    Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

    Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

    Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.
    Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.

    Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.
    Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya.
    Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

    Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.
    Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.
    Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya.
    Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya.
    Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

    Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
    Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.
    Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.
    Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

    Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.
    Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.
    Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.
    Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

    Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.
    Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan…

    Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.
    Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
    Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

    Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.
    Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti…

    ADA YANG MAU NIRU?
    ——-

    dari mengemis aja bisa naik haji lho …. udah hilang urat malu nya di hadapan Allah

  9. UM…kampus pengemis..?
    di MIPA pengemis malah bisa masuk kawasan kampus…dan sampai sekarang tidak ada tindakan tegas untuk mengusir para pengemis-pengemis itu. Tidak tahu apa karena kasihan atau tidak peduli, padahal itu sangat mengganggu.

    Pernah waktu saya dikantin dengan teman-teman, ada seorang ibu-ibu tua minta kepada salah satu orang tetapi orang itu tidak memberi dan pada waktu ibu-ibu tua itu mendatangi kami, lalu kami beri. Tapi apa yang terjadi setelah itu…?

    ibu itu malah menjelek-jelekkan orang yang tadi tidak memberi sambil menuding orang itu dan berkata “iku lo mbak wes g ngekei menengae malah g nganggep aku onok” setelah itu pengemis itu meninggalkan kantin sambil nggrundel.

    apakah kita salah untuk tidak memberi…? dan
    apakah kita benar untuk memberi…?

    inikah dampak negatif jika kita terus memanjakan pengemis-pengemis itu…

  10. that’s right!!…semakin menjamur saja mereka di kawasan UM..

    Kalo emang udah ada kebijakan yang melarang pengemis masuk wilayah UM ya tinggal tindakan tegas saja oleh para aparat kampuz!

    Masa UM yang sudah terkenal dengan kampuz pencetak guru eh,,sekarang malah lebih terkenal dengan kampuz pengemis…

    sungguh disayangkan…..:)

  11. Yth. Prof. Dawud, tujuan saya adalah agar hal-hal/keluhan-keluhan yang disalurkan melalui situs UM memperoleh jawaban. Berhubung pihak terkait belum memberi tanggapan maka saya berusaha memberi jawaban.

    Tanya jawab melalui situs menjadi hal baru dalam UM sehingga belum ada mekanisme yang mengatur soal jawab-menjawab ini. Saya akan menyampaikan hal ini kepada unsur Pemimpin UM sehingga ada (1) redaksi, dan (2) mekanisme yang mengatur hal ini.

    Saya berharap blog “SUARA KITA” dan “BERKARYA DAN TERUS BERKARYA” semakin berkembang dan menjadi ciri khas UM (situs perguruan tinggi lain umumnya menyalurkan lewat forum). Tentu saja isinya tetap diarahkan untuk perbaikan dan untuk membangun UM yang kita cintai ini.

    Terima kasih atas kritikannya dan mohon maaf, akan saya perhatikan Pak.

  12. Saya memohon Pak Jo tidak berperan sebagai juru bicaranya Muhtarom, Kabag UHTP, atau Kabiro, Kabag, atau Kasubbag yang lain. Mestinya, sebagai Kabag dia yang menjelaskan atau menjawab sendiri di web ini. Penjelasan dan jawaban itu merupakan salah satu bentuk akuntabilitas kinerjanya. Ini sekaligus pembelajaran untuk pimpinan teknis yang lain, yakni mampu dan berani menunjukkan akuntabilitas kinerjanya di hadapan publik. Pada sisi lain, publik memperoleh info dari “tangan pertama”, bukan “katanya … katanya” yang belum tentu kebenarannya.

    Pada contoh jawaban Muhtarom via Pak Jo tersebut, dua jawaban itu tidak semuanya benar. Jawaban (1), memang pernah ada Satpam yang menertibkan itu, tapi duuluu. Yang terakhir ini, hanya SMS Karo AUK kepada jajaran Satpam untuk menertibkan pengemis (dengan tembusan PR II dan PD III FS). SMS itu muncul setelah didesak agar menertibkan pengemis yang sudah meresahkan sebagian warga kampus dan tamu. Tindakan itu bukan atas inisiatif sendiri dalam rangka mengimplementasikan kebijakan Rektor!
    Pada jawaban (2), disebutkan bahwa pada jam dinas, pedagang kaki lima akan diangkut dengan menggunakan truk satpol PP (satuan polisi Pamong Praja?). Sudah jelas di depan mata sangat mengganggu seperti itu dan kondisi itu terjadi sudah sangat lama, tapi tindakannya masih “Akan?” Lalu, pertanyaan berikutnya “Kapan?” “akan” itu. Pertanyaan penting selanjutnya, sekali melakukan, selesailah tugas itu dan tanggungjawabnya? Padahal, esensi kebijakan Rektor adalah perlunya keamanan dan kenyamanan kampus. Nah, kalau begitu, ya, ha… ha… ha…

    Sekali lagi, mohon Pak Jo tidak jadi juru bicaranya Muhtarom. Peran itu, dari sisi mana pun, tidak proporsional, tidak rasional, dan belum tentu fungsional. Saya sangat menghormati dan “menyayangi” Pak Jo. Maaf Pak Jo, terima kasih.

  13. gak usah d kasih tuh pengemis, mereka cm kelompok pekerja yg sudah terorganisir dengan baik.
    adakalanya lebih baik menyalurkan uang kita kepada masjid2 saja, lebih tersalurkan dengan baik.
    dan pihak satpam mgkn jg harus bertindak tegas pada para pengemis biar gak merusak pemandangan kampus kita…

  14. Hal ini telah disampaikan ke Pak Muhtarom Kabag UHTP, penjelasannya sebagai berikut:
    (1) Satpam sudah beberapa kali ditugaskan untuk melarang pengemis beroperasi di dalam kampus. Warga kampus diharapkan tidak memberi sumbangan/makanan ke pengemis sehingga mereka tidak beroperasi di dalam kampus.
    (2) Demikian juga jika ada pedagang kaki lima pada saat jam dinas maka akan diangkut dengan menggunakan truk satpol PP.

  15. Itu anak kecil cowok sama cewek yang biasa muter-muter di UM pernah saya tanya yang adik laki-lakinya… “bapakmu kerja apa?” dia jawab, “tukang becak”. “Lha kamu ga pengin sekolah?”, jawabnya “gak, ngene ae penak kok, karo bapak yo ga oleh sekolah”…

    Ampun deh … gimana mo maju bangsa ini kalo mental-mental warga negaranya ada yang seperti itu….

  16. Kalo dulu ada testimoni yang mengatakan bahwa di Jakarta uang beredar masuk kantong pengemis per hari mencari 1.5 milyar.

    Ayo kita hitung aja berapa kira-kira uang yang beredar di UM untuk pengemis?

  17. Bukan saya anti sosial, tetapi daripada kasih uang ke pengemis, mending saya masukkan langsung ke sasaran yang tepat.

    Saya punya pengalaman buruk dengan pengemis. Waktu itu di perempatan Dieng… anak-anak kecil pada ngemis, sementara ibu sama adiknya dengan santai makan nasi bungkus pake lauk ayam bakar plus minum Frestea … waduhhhhh …

  18. Ya Pak noor, jika ditinjau dari perpspektif mengemis adalah pekerjaan memang itu jelas-jelas kurang mendidik, membuat orang malas, tidak punya pandangan jauh ke depan, senang ongkang-ongkang. Saya pernah baca korang dan melihat di TV bahwa di salah satu Kabupaten di Madura ada statemen Ulama mengatakan bahwa “mengemis hukumnya haram” dan hal ini pernah juga dibahas sampek pada tingkat nasional, tapi alhasil ….
    Toh akhirnya bergantung pada sudut pandang kita, yaitu memberi pengemis itu atas kalbu yang iba, apa memberi pengemis itu malah tidak mendidik, gitu ya Pak Noor.

  19. Mungkin warga UM juga perlu diimbau untuk tidak memberikan uang kepada pengemis. Kalau pengemis itu tidak memperoleh hasil yang mereka inginkan, maka dengan sendirinya pengemis tersebut akan lenyap dari kampus UM. Saya bukan bermaksud menghalangi orang untuk bersedekah, tapi hal ini demi kenyamanan kampus.

    Soal pendapatan, ada pengemis yang memperoleh pendapatan yang cukup besar. Saya pernah menjumpai seorang pengemis yang sedang menghitung penghasilannya di pedestrian menuju perpustakaan UM, ternyata penghasilannya 50.000 lebih (saat itu baru pukul 12.30). Sejak saat itu, sang pengemis (si pengemis hafal wajah saya dan saya hafal wajah si pengemis) tidak pernah meminta uang lagi kepada saya (mungkin malu).

    Memang tidak semua pengemis pendapatannya sebesar itu. Ada pengemis yang benar-benar masih miskin. Akan tetapi, melihat kenyataan yang ada, saya jadi ragu untuk memberi pengemis. Lebih baik uang tersebut, saya sedekahkan melalui tempat ibadah.

    Bukan itu saja, pernah saya juga menjumpai pengemis itu lagi di depan I8 sedang memberi pengarahan kepada kedua anaknya mengenai lokasi mana saja yang “enak” untuk mengemis.

    Ketika saya menjumpai anak pengemis itu tanpa didampingi ibunya, saya bertanya, “Mengapa kamu tidak sekolah?”Jawabannya sungguh mengejutkan saya. “Males, enak ngemis” tuturnya.

    Saya jadi berpikir, “Ibunya tidak punya uang atau malah justru mendidik anaknya untuk menjadi pengemis sejati.”

  20. @Imam Kh
    Menurut Pak Imam Kh , “pendapatan mereka tergolong orang yang perlu diperhatikan” coba dihitung, dulu saya iseng-iseng pernah tanya ke salah seorang pengemis, pendapatannya sehari minimal antara 20 rb s.d 50rb bahkan sering bisa lebih. Ambillah mudahnya sesudah dikurangi makan/minum rata-rata 30rb berarti 900rb/bulan, lumayan. Seseorang bahkan kabarnya ada yang memiliki rumah dan sawah, jadi mengemis baginya adalah pekerjaan bukan kemiskinan. Ini bisa jadi masalah yang perlu penelitian (mahasiswa ada yang berminat?).

  21. Jika dilihat dari perspektif distribusi pendapatan mereka tergolong orang yang perlu diperhatikan, jika dari kacamata pendidikan mungkin mereka kurang memperoleh sebaran pendidikan. Orang yang kurang pendidikan dekat dengan kebodohan, sedangkan kebodohan sangat dekat dengan keminkinan (pengangguran), biasanya kemiskinan juga sangat dekat dengan kriminalitas, kecuali dengan pengetahuan agama sebagai salah satu penangkalnya.
    Banyaknya pengemis yang berlalu lalang di Kampus menurut saya memang perlu ditertibkan, di arahkan, atau kita cari mungkin ada koordinatornya dan kita ajak musyawarah kita cari jalan yang terbaik untuk kampus tercinta. Semoga

Komentar ditutup.