Pertigaan Parkir FMIPA Memakan Korban (Lagi)!

Hari Kamis 26 Februari 2010 siang terjadi tabrakan antara sebuah mobil dan sepeda motor di pertigaan yang menuju parkir FMIPA dan Penerbit UM. Pengendara sepeda motor yang mahasiswa UM masuk rumah sakit karena kepalanya kemungkinan kena pecahan kaca. Kecelakaan seperti ini sering terjadi semenjak dibongkarnya polisi tidur yang ada disitu. Kejadian ini tidak hanya sekali saja terjadi, ternyata sebelumnya juga terjadi dua peristiwa (yang penulis ketahui) yang sama.

Kecelakaan umumnya terjadi karena pengendara sepeda motor dari arah utara (jl Veteran) melaju kencang sementara (biasanya) yang ditabrak adalah mobil yang mau masuk ke parkir FMIPA baik dari utara atau dari selatan. Saya juga sering mengalami hampir tertabrak kala berbelok masuk. Yang saya herankan kenapa sepeda motor dari utara cenderung ngebut padahal kalau pengendara adalah warga UM mestinya mengetahui bahwa di daerah itu terdapat pertigaan? Apakah hal itu terjadi karena dihilangkannya polisi tidur? Dulu saat masih ada polisi tidur mereka pasti akan memperlambat laju sepedanya dan kemungkinan terjadinya kecelakaan bisa dikurangi.

Untuk itu saya usulkan dua alternatif pemecahan untuk mengurangi terjadinya kecelakaan di pertigaan FMIPA sebagai berikut.

Pertama. Polisi tidur dipasang lagi di daerah tersebut dan diberi rambu atau garis putih di polisi tidur agar orang baru bisa mewaspadai adanya polisi tidur.

Kedua. Jika tidak ingin memasang polisi tidur maka tanaman tinggi di tengah di pertigaan tersebut mohon dipindah agar pandangan pengendara baik dari utara dan selatan tidak terhalang. Jadi pada daerah tersebut tidak usah ditanami pohon yang tinggi tetapi bunga-bunga yang tumbuh rendah.

Mudah-mudahan usulan ini bermanfaat agar tidak terulang lagi kecelakaan yang bisa merenggut nyawa.

18 tanggapan untuk “Pertigaan Parkir FMIPA Memakan Korban (Lagi)!

  1. Ya gak papa, oran gitu lagi demam motoGP kale,,so tancap pool aja…

    But any way,,loe juga kudu hati2..dan berperilaku sopan berkendara dalam kampus..

    UM is yours

  2. aq jg pernah hampir tertabrak disitu………..
    setuju dgn usulan pemangkasan tanaman.
    tp emang aneh ya..kok pengendara sepeda motor di malang ni kayaknya mw jd pembalap smua.gak cew gak cow..sm aja..mw jalan smpit atw lebar sm aja….brutal

  3. Pemasangan rambu2 5 KM per Jam adalah omong kosong belaka, rata2 motor dan mobil di lingkungan UM lajunya sekitar 20 km/jam keatas, bahkan satpam UM saja jarang yang naik motor dengan kecepatan 5 km/jam. Sebaiknya rambu2 itu di bongkar saja, USELESS…

  4. Sepertinya bagian Rumah Tangga sudah mengakomodasi usulan dengan memangkas beberapa tanaman dan membuat garis-garis putis di pertigaan tersebut.

    Usulan saya: mungkin perlu ditambahi lagi polisi tidur seperti yang ada di pelintasan kereta api. Polisi tidur ini berupa bejolan kecil tetapi banyak sehingga tidak berbahaya bagi pengendara motor dan benjolan ini cukup bisa memberi warning para pengendara agar berhati-hati.

    Mudah-mudahan tidak ada lagi kecelakaan.

  5. polisi tidur itu malah akan membuat jatuhnya banyak para korban… bikos karna sebab itu jgn pasang lagi

  6. mungkin memang benar salah dua faktor adalah tanaman dan polisi tidur tapi salah tiganya adalah pengendara sendiri, kalo menurut saya okaylah polisi tidur itu diadakan tapi kalo memang pengendaranya yang biaya’an ya sama aja…. kayaknya itu butuh kesadaran dari para pengendara walaupun dibilang sulit tapi kayaknya memang kalo didalam kampus 20 km / jam aja lebih baik 🙂

    irene marfellia
    mahasiswa ekonomi

  7. Ternyata dari ngobrol-ngobrol bertambah lagi 2 (dua) orang dosen yang bercerita mobilnya pernah ditabrak sepeda motor. Mohon bagian Rumah Tangga segera memikirkan solusi yang tepat untuk menghindari kecelakaan lebih jauh. Kalau saya baca dari komentar yang ada disini sepertinya solusi nomor dua adalah yang paling banyak dipilih.

    Untuk rambu sebaiknya ditambah rambu adanya pertigaan dan tulisan besar dan merah: HATI-HATI SERING TERJADI KECELAKAAN. Namun rambu terakhir kesannya menakutkan, tetapi apa boleh buat jika kenyataannya memang begitu.

  8. saya juga punya pengalaman tidak menyenangkan saat berkendara di kampus. Mobil saya juga pernah akan ditubruk sepeda motor yang dikendarai mahasiswa. Untung saja saat nyetir sedang konsentrasi penuh. Kalau tidak, wah body depan bisa ringsek dan untuk dapat ganti rugi dari penabrak kecil kemungkinannya. Pasti deh berdalih tidak punya duit dan biasanya dilengkapi dengan nangis-nangis. Kejadiannya di jalan sebelah selatan parkir gedung FT. Mobil saya dari arah barat, dan sepeda motornya dari arah timur ke arah perpustakaan. Waduh pengendara sepeda motornya “biayaan” seperti dikejar apa ya.
    Di dalam mengemudikan kendaraan (mobil atau pun sepeda) hendaknya juga memperhatikan keselamatan pengendara lain. Jangan hanya demi keselamatan diri sendiri tapi mengorbankan orang lain. Untuk itu kita harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan jangan mengabaikan sopan santun di jalanan. Alat komunikasi sesama pengendara adalah rambu-rambu dan kelengkapan peralatan yang ada di kendaraan kita (misalnya lampu, klakson, dsb). Polisi dan rambu-rambu tidak akan ada artinya kalau perilaku pengendara seenaknya.
    Terima kasih. Salam

  9. tri hapsari dosen mat fmipa UM

    dimungkinkan salah satu penyebabnya adalah tanaman yang terlalu tinggi di median jalan, sehingga dapat menganggu pandangan. Juga perlu ada rambu rambu lalulintas yang memadai, meskipun sudah ada tanda kecepatan maks 5km/jam (mungkinkah) maks 20km/jam saja sudah lambat.

  10. @fa’ul
    Paling enak ngebut di hutan ya … hi h hi … paling2 juga lawannya lumpur, tanah liat, daun sama pohon ha ha ha ha …

    ayukk.. sapa yang mau ikut saya ngebut di coban rondo besok minggu…. ada event Malang Sobo Tegalan 2 tuh … hadianya Sepada Motor Kawasaki KLX150s

    ekowahyu
    fs-um

  11. Kalau ditanya siapa yang salah, ya semuanya!

    Yang menanam pohon, karena pohon menghalangi pandangan kok dipelihara, rapikan dong!
    Yang naik motor, sudah tahu di kampus dan harus jalan pelan malah ngebut, jadi “benjuuud” deh!
    Yang naik mobil, sudah tahu nggak bisa lihat ada pengguna jalan lain kok malah nyelonong saja, kasihan mobilnya!
    Yang buat rambu-rambu, apalagi, sudah tahu nggak ada kendaraan yang bisa jalan 5km/jam kok tetap dipasang, ganti saja dengan 500km/jam biar pesawat terbang bisa masuk kampus!

    Kalau sudah tahu salah semua, ya semua dari kita harusnya koreksi diri, kuncinya hati-hati.
    Untuk solusi kedepan saya sangat setuju dengan Pak Muladi.

    Fa’ul, FS

  12. Kecelakaan terjadi karena kelalaian satu dan/atau kedua pengendara.

    Menurut yang saya amati, bahkan di perempatan masjid-kantor pos pun kelihatannya jarang sekali pengendara motor yang mengurangi kecepatan saat melewati perempatan. Seringkali saya lebih memilih untuk berhenti terlebih dulu saat mau belok ke arah selatan.

    Saya tidak serta merta menyalahkan pengendara motor secara umum, tetapi dalam kasus tabrakan antara motor dan mobil, yang sering saya temui, motor cenderung lebih sering menjadi menyebab. Lihat saja mobil baru beberapa dosen di FS yang bagian pintu belakang / bember sudah pesok2 … padahal keluaran Tahun 2009.

    Begitu tau menabrak mobil di depannya, ujung-ujungnya mereka pasti lari … karena kalopun dimintai pertanggung jawaban juga tidak akan mau (atau mampu) untuk menggantinya …. memperbaiki baret 1 pintu saja sudah 800rb, kalo pesok bisa sampai 2juta …

    Oleh karena itu, hendaknya opsi kedua pada tulisan di atas bisa diterapkan. Usul juga, untuk jalan masuk parkir di FS, tanaman pagar itu ya HARUS dipotong… karena motor / mobil keluar dari parkir FS tidak bisa terlihat oleh pengendara motor/mobil lain yang akan masuk…

    terima kasih

    ekowahyu
    fs-um

  13. Pilihan kedua menurut saya adalah pilihan terbaik. Memang tanaman hias di sepadan jalan di sekitar lokasi tersebut termasuk belokan masuk ke garasi cukup tinggi sehingga menghalangi pandangan pengendara yang akan belok atau putar balik. Namun demikian pilihan pertama juga perlu dipertimbangkan hanya saja ukuran polisi tidur tidak perlu tinggi dan besar. Misalnya bisa digunakan garis-garis cat yang biasa digunakan untuk marka jalan. Garis-garis cat ini juga digunakan di jalan-jalan tol untuk mengejutkan pengendara yang mengantuk dan peringatan untuk mengurangi kecepatan.
    Turut berduka atas musibah yang telah dialami.

    Salam,
    Muladi

  14. Kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran terhadap rambu-rambu aturan yang telah ditetapkan. Sudah ada rambu-rambu untuk kecepatan kendaraan 5 Km, walaupun jarang sekali yang mematuhi dengan kecepatan 5 Km/jam tetapi artinya hendaklah pengguna jalan itu berjalan dengan hati-hati dan perlahan-lahan memasuki lingkungan kampus. Kesalahan utama tentunya pada penabrak, karena melebihi kecepatan dan kurang hati-hati sehingga tidak punya kesempatan mengerem kendaraan dan menabrak pengguna jalan lain.
    Menurut saya yang terbaik adalah pilihan kedua dengan mengatur tumbuhan sedemikian rupa sehingga tanaman hijau yang ada tidak menghalangi pandangan pengendara yang akan melintas menuju tempat parkir dan sebaliknya.

Komentar ditutup.