Manfaat Usia Kita Hanya 4% Saja?

Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak. Itu doeloe salah satu peribahasa yang pernah diajarkan saat duduk di bangku SD, dengan peribahasa itu mengingatkan kepada kita untuk selalu “Introspeksi diri”.  Introspeksi diri atau muhasabah artinya perhitungan diri sendiri, melihat hal-hal yg telah kita lewati sendiri.  Jangan sampai nampak jelas kekurangan-kekurangan kecil orang lain di mata kita, sementara ada pada diri kita kekurangan yang begitu besar tidak kita sadari.  Perintah untuk melihat atau memperhatikan diri sendiri ini terdapat dalam firman Alloh SWT, “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (S.51:21)

Demikian juga terdapat dalam S.58:18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);  dan bertakwalah kepada Allah,  Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (S.58:18).”

Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).  Perhitungkanlah dirimu sebelum dirimu diperhitungkan, demikian kata Khalifah Umar bin Khottob.  Mengapa perlu diperhitungkan?, tidak lain karena kita yakin hari esok setelah yaumul kiyamah akan ada yaumul hisap, yaitu hari hisap (perhitungan), saatnya ada soal pertanyaan yang wajib dijawab dan perbuatan yang dipertanggungjawabkan.

Salah satu soal yang sudah “dibocorkan” untuk kita ketahui ada di S.23:212, Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” (S.23:112)

Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? => pertanyaaan mengenai usia berapa? Rasulullah SAW dalam salah satu hadistnya menegaskan, digunakan untuk apa? artinya berapa lama usia dan digunakan untuk apa?.   Dalam salah satu hadist, Rasulullah SAW. bersabda “usia ummatku antara 60 – 70 th” jadi kalau ada orang berusia lebih dari 70 th berarti sudah mendapatkan bonus.  Usia tersebut kalau dirata-rata adalah 65 th, sehingga bisa dikatakan kita diberi kesempatan hidup hanya 65 th saja.

Perlu direnungkan bahwa usia ini (65 th) adalah usia bruto karena ada batas-batas usia yang tidak ada perhitungannya yaitu masa usia 0 th s.d. baligh, adalah usia yang bebas dari hitungan.  Anak laki-laki baligh biasanya pada usia 15 th, anak perempuan baligh di usia 12 th, ambil saja rata-rata usia 15 th sehingga kalau dikurangkan 65 – 15 = 50 th, dari sini terlihat usia yang diperhitungkan adalah 50 th selama tinggal di bumi.

Untuk apa 50 th usia ini dipergunakan? Mari kita coba hitung seobyektif mungkin, lama waktu usia 50 th itu kita gunakan untuk apa saja, dengan hasil dari kenyataan yang tidak pernah kita perhitungkan.

1. Tidur

Waktu tidur kita, tidur malam dan siang hari kira-kira + 8 jam/hari, selama 50 th waktu yang kita gunakan untuk tidur adalah = 8/24 x 50 th = 16,66 atau 17 th => kenyataan yang tidak bisa kita elakkan bahwa waktu yang digunakan utk tidur adalah selama 17 th dari 50 th usia kita.

2. Urusan Dunia

Aktifitas siang hari bersibuk-sibuk diri, lembur untuk urusan dunia (informal urusan orang lain, formal utk pekerjaan mencari nafkah, nonformal / insidental di rumah atau di luar rumah).  Lama waktu siang hari adalah + 12 jam/hari, selama 50 th waktu yang kita gunakan untuk urusan dunia adalah = 12/24 x 50 th = 25 th.

3. Untuk Santai

Untuk kegiatan yang sifatnya menganggur, baca koran, nonton TV, rileks, santai, dan sejenisnya lebih dari + 4 jam/hari, selama 50 th waktu yang kita gunakan untuk bersantai adalah = 4/24 x 50 th = 8,33 atau 8 th.

Total kegiatan untuk tidur, urusan dunia, dan bersantai adalah 17+25+8 = 50 th

Tabel Kegiatan:

NO.

AKTIFITAS

JAM / HARI

LAMA KEGIATAN

1.

Tidur

8

8/24 x 50 Th = 17 th

2.

Urusan Dunia

12

12/24 x 50 Th = 25 th

3.

Rileks, santai, dll

4

4/24 x 50 Th = 8 th

JUMLAH

24

50 Th

Berarti kalau ada pertanyaan “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi dan digunakan untuk apa?

=> sejujurnya dapat terjawab bahwa selama 50th usia kita hanya digunakan untuk kegiatan  tidur, lembur urusan dunia, rileks/nganggur?

Kalau ditanyakan ibadah kita dimana dan apa? ternyata ibadah kita, faktanya ibadah kita hanya ketika akan sholat saja, mungkin kita akan protes bahwa ibadah tidak hanya sholat saja.  Allah berfirman “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (S.51:56).

Jadi hidup itu adalah untuk ibadah, tetapi (kita obyektif saja) kita belum termasuk ayat ini.  Sekali lagi ibadah kita masih hanya sholat saja, buktinya hanya (hanya) ketika kita akan sholat sajalah, yang ketika itu dipikiran kita, yang kita munculkan adalah bahwa kita akan beribadah.  Untuk aktifitas yang lain? belum, bahwa yang kita munculkan adalah belum terpikirkan kita akan beraktifitas dan bernilai ibadah.

Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa ketika akan berangkat pergi bekerja bahwa itu adalah menuju kegiatan beribadah?.  Pernahkah terpikir oleh ibu-ibu bahwa ketika akan melakukan kegiatan masak memasak, bahwa itu adalah juga satu perbuatan Ibadah? kan belum juga, akibatnya apa?

Karena sudah berpikir ketika akan sholat bahwa itu adalah ibadah maka kita tidak akan terganggu oleh suara apapun, meskipun ada orang teriak-teriak atau ada suara gaduh yang terjadi di sekitar kita, kita asyik sholat dan merasa tidak terganggu.  Dan setelah selesai sholat, kita tidak marah kepada orang yang teriak-teriak tadi karena sudah kita munculkan pikiran bahwa kita akan beribadah kepada Allah, sementara untuk aktifitas yang lain belum.

Sebagai contoh ketika seorang ibu memasak dan tidak dimunculkan perasaan memasak itu adalah kegiatan ibadah.  Setelah selesai masak, masakan sudah disiapkan semua, ternyata tidak mengundang selera anak-anak atau bapak, atau kebetulan hampir seluruh anggota keluarganya tidak makan karena sudah makan di luar.  Akhirnya si ibu menjadi jengkel, marah, dan menggerutu, tahu begitu tadi nggak usah repot-repot masak.  Tetapi kalau sebelumnya dimunculkan perasaan bahwa kegiatan masak memasak itu adalah ibadah, maka dengan ikhlas hal ini tidak akan membuatnya marah atau jengkel.  Sehingga saat menghadapi kenyataan dengan nasib dari makanan tersebut bisa mengatakan bahwa masakan itu mungkin seharusnya memang bukan untuk keluarganya tetapi adalah untuk bagian orang lain yang belum makan, tetangga misalnya.  Jadi hasil dari kegiatan masak-memasak yang diniatkan dengan perasaan ibadah itu tidak terganggu oleh siapapun atau keadaan apapun.

Sekali lagi ternyata ibadah kita masih terbatas sholat saja, dan ibadah sholat inipun tidak kita program seperti tidur, urusan dunia, ataupun rileks, tetapi ternyata kita lakukan sebagai sambilan (sampingan).  Yaitu ibadah sholat kita lakukan di sela-sela antara waktu urusan dunia dan waktu santai, waktu tidur tidak bisa kita lakukan.  Buktinya pada saat jam kerja ada adzan panggilan untuk melaksanakan sholat, apakah kita kemudian dengan segera menghentikan pekerjaan untuk kemudian memenuhi panggilan melaksanakan sholat?. Ketika ada undangan hajatan atau ada undangan rapat, apakah sholat kita bisa khusuk atau malah tergesa-gesa menyelesaikan sholat karena segera akan rapat? Atau pada saat sedang rapat kemudian terdengar adzan yang merupakan panggilan untuk kita agar sholat berjamaah di masjid, apa yang kita lakukan? berhenti memenuhi panggilan ataukah tetap meneruskan rapat?, seolah-olah panggilan itu tidak terdengar oleh kita.  Apalagi kalau sedang asyik di depan TV di mana ada pertandingan sepak bola yang menjadi favorit kita…

Nah kita bisa introspeksi diri, muhasabah = kita perhitungkan diri kita sendiri sebelum kelak nantinya diperhitungkan.  Bukankah orang yang beruntung adalah orang yang selalu ingat akan kekurangannya atau kejelekannya dan tandanya orang yang rugi dan serakah adalah orang yang selalu ingat-ingat akan kebaikannya, dengan demikian akan ada usaha dari kita untuk perbaikan kedepan.  Jadi jelas sekali bahwa ibadah kita hanya waktu sholat saja dan sholat inipun tidak kita program tetapi kita hanya “nyulik” diantara waktu urusan dunia dan waktu santai.

Untuk itu marilah kita coba untuk menghitung-hitung waktu ibadah sholat kita, anggap saja setiap kali waktu sholat kita membutuhkan waktu 10 menit.  Berarti kalau 5 waktu = 5 x 10 = 50 menit, anggap saja 1 jam/hari, artinya bahwa ibadah kita selama usia 50 th hanya 1/24 x 50 = 2 tahun (hanya).

Bandingkan dengan aktifitas tidur, 2/8 hanya ¼ nya, dengan urusan dunia, 2/12 hanya 1/6 nya, dengan saat santai, 2/4 hanya ½ nya, tragis kan?  Kalau ini kita presentase 2 th dari 50 th hasilnya adalah 4%, artinya dalam kehidupan kita hanya 4% saja yang kita gunakan untuk beribadah.  Itulah sebabnya mengapa tadi dikatakan bahwa  kita belum termasuk ke dalam apa yang dikatakan ayat ini (S.51:56) bahwa hidup itu adalah untuk ibadah, belum termasuk, karena hanya 4% saja.  Kalau diibaratkan dengan tugas menyelesaikan sejumlah 100 soal dan kita hanya mampu mengerjakan 4% saja (inipun belum tentu benar).  Anggap saja 4% itu benar semua dan mendapat nilai 4, kecil sekali, maka bisa dikatakan kita tidak akan lulus.

Maka karena kita tahu dengan gambaran perhitungan diri kita tadi, bahwa kalau hanya mampu mengerjakan 4% saja dari 100 soal yang ada itu, tentu pasti tidak akan lulus.  Karena 50 th usia kita yang diperhitungkan itu hanya digunakan untuk kegiatan  tidur, untuk urusan dunia, dan rileks/nganggur?, maka ini perlu ada perbaikan, perlu adanya solusi untuk menambah nilai kita yang hanya 4% saja.

Solusinya apa? sabar, masih bersambung ……

6 tanggapan untuk “Manfaat Usia Kita Hanya 4% Saja?

  1. SURYADI (Guru Matematika SMKN 1 Kelapa Kampit Belitung Timur Babel Archi, Aumni Univ. PGRI Palembang) berkata:

    Memang fakta dalam kehidupan demikian, namun tidak banyak kita yang mau berfikir, bahkan hanyalah berfikir untuk dunia belaka, padahal jelas ALLAH SWT dalam hadits Qudtsi telah mengatakan,”….dunia ibarat anjing berebut bangkai….”,,, kenapa kita masih semaksimal mungkin mengejar yang tak pasti. Tepat sekali jika 4% hidup digunakan untuk ibadah sungguh jauh dari kriteria kelulusan,, sangat jauh?????

  2. Makanya nurut apa yang digariskan Rasulullah Muhammad SAW,bangun disepertiga malam…..tahajjud,ngaji, terus belajar….dari jam 3.00 malam sampai 6.00 pagi…. lanjut mandi sarapan, kuliah atau ngantor atau sluruh kegiatan sampai jam 18. sore……(dunia achirat)
    istirahat, bertemu dg keluarga sampai jam 10. malam. tidur jam 10-11 malam sampai jam 3 pagi.. kalau kegiatan ini kita turuti Insya Allah Hidup kita tidak merugi…….innal Insana lafi chusrin… (tidur hanya 1/3 malam TIDAK 8 jam tapi 4 jam saja)

  3. Assalaamu ‘alaikum wr.wb

    Untuk apa 50 th usia ini dipergunakan? Mari kita coba hitung seobyektif mungkin, lama waktu usia 50 th itu kita gunakan untuk apa saja, dengan hasil dari kenyataan yang tidak pernah kita perhitungkan.

    1. Tidur

    Waktu tidur kita, tidur malam dan siang hari kira-kira + 8 jam/hari, selama 50 th waktu yang kita gunakan untuk tidur adalah = 8/24 x 50 th = 16,66 atau 17 th => kenyataan yang tidak bisa kita elakkan bahwa waktu yang digunakan utk tidur adalah selama 17 th dari 50 th usia kita.

    2. Urusan Dunia

    Aktifitas siang hari bersibuk-sibuk diri, lembur untuk urusan dunia (informal urusan orang lain, formal utk pekerjaan mencari nafkah, nonformal / insidental di rumah atau di luar rumah). Lama waktu siang hari adalah + 12 jam/hari, selama 50 th waktu yang kita gunakan untuk urusan dunia adalah = 12/24 x 50 th = 25 th.

    3. Untuk Santai

    Untuk kegiatan yang sifatnya menganggur, baca koran, nonton TV, rileks, santai, dan sejenisnya lebih dari + 4 jam/hari, selama 50 th waktu yang kita gunakan untuk bersantai adalah = 4/24 x 50 th = 8,33 atau 8 th.

    Total kegiatan untuk tidur, urusan dunia, dan bersantai adalah 17+25+8 = 50 th

    ya di ikuti aja alur kehidupan yang ada, yang penting kita berusaha untuk yang terbaik mejalankan hidup yang di berikan yang Maha Esa yaitu: menjalankan perintaNya dan menjaui laranganNya. Trims (sangat bagus pak artiklnya)

  4. Assalaamu ‘alaikum wr.wb
    Merupakan tantangan bagi kita sebagai manusia pada umumnya, memang andaikan kita ini
    sadar dan tahu bahwa Alloh itu menciptakan segala sesuatu secara berpasang pasangan, ada siang ada malam, ada penyakit ada obatnya dan ada sebab pasti menuai akibatnya. Bu kankah Alloh memberikan pilihan bagi kita ? Bagi Al Muharrom yang menulis artikel diatas, me ngingatkan khususnya bagi para ulil Albab dan kita semua agar selalu ber Mukhasabah di se tiap derap kehidupan ini sehingga kita senantiasa dapat kontrol mana yang baik mana yang buruk dan mana yang haram mana yang halal. saya ingat suatu hadits yang maksud nya adalah Kalau kita berbuat berlebihan sekalipun itu halal akibatnya akan membinasakan kita juga
    walloohu a’lam

  5. kalau kita berniaga dengan Alloh memang dianjurkan. karena merupakan bukti bahwa kita berharap(doa) dan bukti kalau kita membutuhkan Alloh Al Kholik wa Al mudabbir tetapi jalan jalan penggapaian taqwa itu harus mendahulukan pasrah dan penyerahan diri secara mutlaq (al bayyinah;5) maka dengan penyerahan diri ( taqwa) itu kita serahkan hasil nya kepada Alloh swt dengan harap harap cemas .begitu juga dalam hal kematian yang pasti akan mendatangi kita , kenapa musti takut? bisa kita amati fenomena kematian, kan tak terduga. ada yang hidupnya ahli maksiat tapi diakhir hidupnya bertaqwa begitu sebaliknya. maka dari itu kita tidak bisa selalu berbangga dengan amalan kita nanti jadi sombong dan yang harus kita takuti adalah kematian dimana hati kita kosong dari dzikrulloh ( suhartono)

  6. patut direnungkan ..

    terus berkarya dan menapaki indahnya hidup …

    ekowahyu
    fs-um

Komentar ditutup.