TIPS (Solusi 1): Manfaat Usia Kita Hanya 4% Saja?

Sesudah kita koreksi kekurangan diri kita pada tulisan yang lalu, kali ini saya mencoba menuliskan salah satu solusi, semoga nantinya pembaca diharapkan bisa juga menambahkannya.

Solusi 1:

Adalah hendaknya segala aktifitas apapun, tidak hanya ketika mau sholat saja, selalu kita awali niat ikhlas ibadah kepada Allah.  Termasuk ketika kita akan tidur, hendaknya tidur itu dengan ikhlas sehingga juga ada nilai ibadah, maka kita membaca dzikir do’a sebelum tidur, jadi jumlah tidur (siang dan malam) yang 8 jam tadi tidak sia-sia.  Contoh tidur yang sia-sia, pulang dari bekerja atau bepergian sampai di rumah capek langsung tidur pulas tanpa sempat membaca dzikir do’a sebelum tidur, atau bertengkar dulu karena sesuatu hal terus tidur sehingga tidurnya itu dengan perasaan jengkel, dll.

Agar tidur (siang dan malam) yang 8 jam ini bisa bernilai ibadah, tidak kita lupakan untuk membaca dzikir do’a sebelum tidur, inikan sering kita remehkan, sayang sekali, 8 jam ini sia-sia terbuang. ”Bismikallahumma amuut wa ahya”, ”Dengan namaMu ya Allah aku mau mati dan dengan namaMu ya Allah aku ingin hidup lagi” (HR.Bukhari).  Mengapa demikian? karena orang tidur itu ibarat orang yang mati sementara, dasarnya di S.39:42,

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (S.39:42)”

[1] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

Itulah sebabnya sebelum tidur yang merupakan mati sementara itu perlu ikhlas dengan menyebut nama Allah, membaca dzikir do’a sebelum tidur. ”Dengan namaMu ya Allah aku mau mati dan dengan namaMu ya Allah aku ingin hidup lagi”, nggak ingin kebablasan terus mati.  Kemudian setelah bangun (hidup lagi) mengucapkan syukur kepada Allah, ”Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah tadi kami dimatikan, dan kepadaNya kami akan kembali (mati beneran)”.  Ketika kita membaca do’a itu, bisa juga membaca ayat kursi, al-ikhlas, falaq, dan an-nas sambil menunggu tidur beneran, sehingga masa tidur yang totalnya 17 th itu bernilai ibadah, tidak sia-sia.  Pada saat bangun, tidak lupa membaca dzikir do’a bangun tidur, ”Alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amaatana wailaihinnusyur – segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkanku sesudah matiku dan kepadaMu kami kembali”.

Berikutnya membaca dzikir do’a sebelum masuk kamar mandi dan keluarnya, membaca dzikir do’a sebelum berpakaian, membaca dzikir do’a saat berada di depan cermin.  Selalu ingat dengan perintah dan larangan, misal sebelum makan dan minum membaca basmalah, makan dan minum tidak menggunakan tangan kiri, tidak mubadzir membiarkan makanan terbuang sia-sia, selesai makan dan minum, tidak lupa mengucapkan hamdallah, bersyukur atas nikmat karunia rizki yang telah diberikan, dst.

Kemudian ketika disibukkan dengan urusan duniapun hendaknya kita awali ikhlas ibadah kepada Allah.  Malah Rasul SAW selalu mengingatkan ketika hendak keluar rumah untuk aktifitas apapun hendaknya membaca dzikir do’a keluar rumah.  ”Bismillahi tawakkaltu alalloh lakhaula wala quwwata illa billahDengan nama Allah aku serahkan urusanku kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah” maka aktifitas apapun yang kita lakukan insyaAlloh bernilai ibadah.  Semua ini kita lakukan dalam rangka berusaha untuk memenuhi kebutuhan bahwa hidup ini adalah ibadah.  Dengan demikian saat jam kerja ada adzan panggilan untuk melaksanakan sholat, maka kemudian dengan segera untuk ingat dan berusaha menghentikan pekerjaan kemudian memenuhi panggilan melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggunganjawab atas apa-apa yang telah dipimpinnya.  Dengan mengingat ini, tentunya kita akan berusaha untuk tidak membuat suatu keputusan atau kegiatan yang nantinya bisa menjauhkan diri dari nilai ibadah.  Misal menentukan/membuat jadwal rapat atau jadwal kuliah sementara ditengah-tengah kegiatan itu adalah jam saat waktu sholat, tentunya ini menjadi tidak bernilai ibadah.  Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan ”hanya Engkaulah yang Kami sembah[2], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[3]”, sementara ketika dipanggil (adzan) untuk menghadap (sholat)  kita tidak menghiraukan?

[2] Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[3] Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Ada lagi yang diingatkan oleh Rasul SAW, aktifitas apapun yang tidak dimulai dengan bacaan basmalah maka akan terputus. Nah kata-kata ”terputus” ini artinya tidak mempunyai arti nilai ibadah, karena tidak dengan asma Allah akhirnya terbuang sia-sia.  Berarti, urusan dunia inipun yang 12 jam/hari dengan total 25 th juga tidak akan bernilai ibadah.

Kemudian ketika kita sedang rileks, santai, dll pun bisa juga bernilai ibadah apabila kita munculkan kesadaran dan pikiran kepada Allah.  Ada ayat yang menunjukkan ketika kita sedang rileks, santai, dll tetapi mendapat pahala, bernilai ibadah, yaitu S.3:190-191

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (S.3:190)

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka (S.3:191).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang sedang rileks, santai, dll yang tidak berbuat apa-apa tetapi memunculkan kesadaran dan pikirannya kepada Allah tentang penciptaan langit dan bumi, sehingga dengan demikian ketika kita sedang nganggur dan bersantai pun bernilai ibadah.  Sebagai contoh ketika melihat TV ada kejadian yang menakjubkan, kita ucapkan dalam hati masyaalloh, subhanallah, atau allohuakbar sehingga 4 jam/hari atau 8 th dari 50 th usia kita itu juga bernilai ibadah.  Semua yang kita lakukan tersebut haruslah dengan ikhlas, namun untuk mencapai ikhlas itu ternyata tidak mudah, maka perlu adanya rumus, rumus yang mudah di ingat-ingat itu adalah dengan pendekatan eksak, rumus matematis.  Dengan menghadirkan 3 buah ayat, yaitu 98:5, 112:1, dan 1:5,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[4], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus (s.98:5).

[4] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

”memurnikan” ketaatan kepada Allah, mukhlis dari kata akhlasul – ikhlas, murni artinya tidak bercampur dengan sesuatu apapun, tanpa campuran artinya tidak riya’, nggak pamer, nggak ada pamrihnya kepada makhluk, berarti disini secara matematis bilangannya adalah 0.  Nol (tidak ada) pamer, nol (tidak ada) riya’, nol (tanpa) pamrih kepada selain Allah, dengan demikian dari ayat ini kita sudah mendapatkan bilangan 0 (ikhlas).  Kemudian dari ayat ini kita pertanyakan, kita diperintahkan kepada Alloh dengan ikhlas, Alloh yang mana? Jawabannya di surat al-ikhlas (S.112:1) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.

Kita diperintahkan dengan ikhlas untuk beribadah kepada Alloh yang Ahad,  ahad bilangan­nya adalah 1.  Selanjutnya 0 (ikhlas) dan 1 (Alloh yang Ahad) kita hadirkan dengan surat al-fatikhah (s.1:5):” hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[7].

[6] Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Alloh, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Alloh mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri

hanya Engkaulah yang Kami sembah, artinya hanya kepada Alloh sajalah kita beribadah, tidak kepada yang lain.  Kalimat ini bisa kita rubah, seperti dalam bahasa matematika, kita itu beribadah hanya ”berbagi” dengan Alloh saja, tidak kita bagi dengan makhluk, tidak pamer.  Nah dalam bahasa matematika ”bagi” menggunakan simbol ”/”, maka rumusnya, dapat kita buat menjadi: rumus ikhlas adalah kita beribadah kepada Alloh yang Ahad (1), kemudian ”iyyaka na’budu”, hanya ”berbagi” dengan Alloh saja.  Selanjutnya pembaginya harus kita ”murni”kan (ikhlas) yang bilangannya ”0” hasilnya adalah 1/0 = ~ (tak terhingga), dapat kita tuliskan dalam hasa matematis:

1/0 = ~ (rumus)

Ilustrasi mudahnya adalah ½ = 0,5 ; ¼ = 0,25 ; 1/100 = 0,01 ; makin banyak bilangan pembaginya semakin kecil hasil yang kita peroleh.  Artinya kalau kita beribadah kepada Alloh yang ahad (1) dan kita ”pamer”kan kepada 2 orang maka kita akan memperoleh besaran pahala 0,5 kalau kita ”pamer”kan kepada 4 orang maka kita akan memperoleh besaran pahala hanya 0,25 dst., semakin banyak orang yang kita ”pamer”i akan semakin kecil imbalan yang bisa kita dapatkan:

Tabel:

/

2

4

100

1000

0,5

0,25

0,01

0,001

0

1

0,5

0,25

0,01

0,001

2

4

100

1000

~

Sebaliknya 1/0,5 = 2, 1/0,25 = 4, 1/0,01 = 100, 1/0,001 = 1000, semakin kecil bilangan pembaginya hasil yang diperoleh semakin besar, sehingga kalau dengan ikhlas tidak pamer (0) hasil yang kita dapatkan adalah betapa besarnya, tidak terhingga.  Dengan demikian kita beribadah kepada Alloh yang Maha Ahad (1) sekecil apapun ibadah kita kalau kita ”nol”kan pamrih kepada makhluk, kita akan mendapatkan balasan dari Alloh yang tak terhingga besarnya.  Sehingga yang tidak terhingga inilah nantinya yang akan membantu kita untuk menutupi kekurangan perolehan yang hanya 4% tadi.  Ini kebenaran firman Alloh di s.39:53,

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[8] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (s.39:53).

[8] Dalam hubungan ini Lihat surat An Nisa ayat 48

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (s.4:48).

Sebaliknya kalau kita beribadah kepada Alloh yang Maha Ahad (1) kemudian kita berbagi kepada 2 orang hasilnya adalah ½ = 0,5, hasilnya kita hanya akan mendapat 0,5 pujian dari 2 orang itu, dari Alloh nggak dapat.  Artinya kita merelakan yang tak terhingga (~) hanya karena ingin mendapatkan 0,5 pujian dari 2 orang itu, dari Alloh nggak dapat sama sekali.

Contoh lagi, kita beribadah kepada Alloh yang Maha Ahad (1) kemudian kita berbagi (pamerkan) kepada 10 orang, hasilnya adalah 1/10 = 0,1 semakin tambah kecil apa yang kita dapat.   Lagi, kita beribadah kepada Alloh yang Maha Ahad (1) kemudian kita berbagi (pamer) kepada 1000 orang, hasilnya … orang akan mencemooh, cuma beribadah begitu saja dipamerkan.  Artinya semakin banyak orang yang dipameri bukan pujian yang akan didapat, tetapi malah semakin banyak yang mencemooh.  Dia baru datang akan mendekat saja orang sudah kasak-kusuk dan mengatakan ini lho orang yang suka pamer, nggak usah dihiraukan.  Jadi, nggak dapat pujian dari manusia, apalagi dari Alloh, jadi kehilangan yang tak terhingga tadi.  Sehingga ”rumus” ini sangat efektif untuk diingat-ingat untuk selalu memperbaiki niat ikhlas karena Alloh, tidak untuk mendapatkan pujian dari manusia.  Dengan demikian seberapa besar dosa yang melampaui batas, sesungguhnya Alloh akan mengampuninya, seperti 6,7 trilyun, bilangan sebesar itu jadi tidak akan ada artinya jika dibandingkan dengan yang ”tak terhingga”.

6 tanggapan untuk “TIPS (Solusi 1): Manfaat Usia Kita Hanya 4% Saja?

  1. Artikel yang bagus ..
    Trimakasih ,,
    setelah membacanya, saya jadi teringat dengan diri saya sendiri yang sering lupa membaca doa sebelum tidur,,

    Novika P. Sari
    English 2008
    FS-UM

  2. Artikelnya bagus, namun aku kurang suka dengan cara ibadah dihitung-hitung seperti itu, jadi sibuk dengan menghitung, padahal belum tentu amalan itu bisa naik ke atas. (tidak cukup hanya dengan ikhlas, tapi kebersihan harta kita juga menentukan nilai amalan itu sendiri).
    Kalau kita selalu mengingat QS 36.65 atau QS 99:7 dan 8, akan bisa menuntun perilaku yang hati-hati. Allah memang maha pengampun, tapi kalau kesalahan ada hubungannya dengan manusia tetap dibutuhkan maaf darimanusia, plus kalau berhubungan dengan uang tetap harus dikembalikan, kan bukan hak kita. Sementara gitu aja dulu.

  3. Alhamdulillaah…….Suatu nahehat agama yang cukup panjang dengan ayat ayat yang jelas.
    Pertanyaannya adalah “Konsep hidup kita ini seperti apa “? bagi saya sih sudah jelas tapi untuk merealisasikan tarbiyah diatas memerlukan perjalanan spiritual yang bertahap (Long time ) dan yang imannya masih di ujung seperti saya ini, wah…banyak alpanya. Apalagi hidup di zaman sekarang yang segala sesuatunya “serba krisis” dan taruhannya adalah aqidah. Kata Al Ghazali dalam bukunya “Ajaibul Qulub” bahwa perjalanan hidup itu dibutuh kan kendaraan yang baik dan bekal yang cukup untuk menghadapi gangguan ditengah perjalanan. Memang energi cinta (mahabbah ) itu tak bisa kita gapai hanya dengan teknologi moderen (eksakta )belaka ,tanpa di iringi ilmu syar’i ( syari’at ) plus meng amalkannya dalam kehidupan sedang Tuhan sendiri mewajibkan agar hambaNya menggali ilmu al qur’an ( shaad:29 ). Sudah di maklumi bahwa kalau kita menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat ya dengan ilmu (Hadits) tidak dengan merajut angan angan dan mimpi.
    Kata Albert Einstein: “Hidup ini seperti naik sepeda,agar tetap seimbang kau harus terus bergerak” ……senada dengan kata bijak lainnya,”Hidup itu seperti orang berenang,kalau diam akan tenggelam”. Saudaraku…….sebetulnya kita di ciptakan Alloh itu disertakan (fitrah) yang kata Adi Negoro disebut Homo Religious (naluri beragama) dan Homo Divinans (khalifah Tuhan). Jadi manusia dituntut agar selalu connect (dzikir) terhadap penciptanya Yang Maha Rohman dan Rohim……Laa ma’buda illalloh wa Alloohush shomad …wa hasbiya lloohu wani’malwakil…..

Komentar ditutup.