5 tanggapan untuk “Parkir Penuh

  1. Parkir terpusat? kenapa nggak!
    Apalagi gedung perkuliahan satu Fakultas akan menempati satu wilayah tertentu (tidak tersebar seperti saat ini).
    Kalau fasilitas itu ada, Pohon perindang sepanjang jalan juga harus diperbanyak, sehingga pengguna jalan tidak kepanasan.
    Aktifitas Surat menyurat juga harus dipertimbangkan, kalau jalan kaki antar unit bisa-bisa besuknya si petugas mengajukan Pensiun Dini…..
    Tapi besar harapan saya agar UM menjadi kampus Hijau, Banyak Tumbuhan Rindang, bebas polusi, bebas pemburu, dan bebas dari orang yang buang sampah sembarangan.
    Go Green UM!

  2. Memang lebih baik jika didalam kampus, jalanan hanya diperuntukkan para pejalan kaki. Tetapi UM sendiri harus siap dalam hal penyediaan sarana dan prasarana. Kita ambil contoh, saat registrasi administrasi, seharusnya UM menyediakan 1 tempat untuk mengurus segala keperluan registrasi tersebut. Mulai dari loket pembayaran, loket stempel, bahkan untuk hal-hal kecil seperti tempat fotokopi, semua dalam satu gedung/ruang dan semua itu harus mampu menampung sekian banyak mahasiswa UM. Jika untuk mengurus registrasi saja harus mendatangi beberapa gedung, maka kebanyakan mahasiswa yang berregristrasi akan menggunakan kendaraan. jika sarana dan prasarana seperti contoh diatas dapat disediakan UM, bisa jadi “tumpukan kendaraan” di area parkir dapat dikurangi. Disamping itu, harus dibangun kesaradan untuk menciptakan hidup sehat didalam seluruh komponen yang terkait di UM, mulai mahasiswa, sampai pejabat-pejabat. UM ^_^b

  3. Setuju sekali kawasan parkir di luar area kampus…. lingkungan kampus hanya membolehkan dosen dan mahasiswa berjalan kaki kecuali jika ada yang mengendarai sepeda tradisional alias bukan sepeda motor. Cuma kendalanya orang indonesia itu suka sekali mengendarai sepeda motor dan mobil, beda dengan orang luar negeri sehingga kawasan parkir universitas di luar negeri walaupun jumlahnya terbatas n jumlah mahasiswanya jauh lebih banyak dari um, tetap masih punya lahan cukup untuk tempat parkir. Jadi jangan hanya salahkan um saja, tapi juga kebijakan pemerintah yang menciptakan budaya konsumtif dalam kendaraan bermotor, juga pemerintah lah yang tidak ada kapabilitas untuk menyediakan transportasi umum yang layak. Jika bis umum…angkutan etc memiliki kualitas yang baik….banyak masyarakat akan meninggalkan kendaraan pribadi mereka. Jadi tersangka bukan hanya um tapi juga pemerintah. Tersangka lain adalah kita sebagai pengguna kendaraan bermotor….yang tidak peduli lagi masalah global warming. Jadi mari ciptakan hidup sehat di lingkungan kampus….ya lingkungan tanpa polusi….ya karena penghuninya sering jalan sehat dari area parkir ke gedung/kelas yang dituju….just work together….not to blame each other

  4. inilah imbas dari keinginan pejabat rektorat yang menginginkan peningkatan daya tampung mahasiswa tanpa memperhatikan insfratuktur yang ada. Semakin penuhnya parkir di UM tidak terlepas dari upaya Universitas untuk menambah daya tampung mahasiswa sehingga jumlah kendaraan yang masuk di UM semakin banyak, dan akhirnya banyak lahan parkir yang tidak mampu lagi menampung semua kendaraan yang di bawa oleh civitas akademika UM. Mohon hal ini menjadi pertimbangan pejabat rektorat untuk tidak memburu daya tampung saja tetapi juga peningkatan pelayanan. mulai dari yang peling vvital seperti pelayanan regristrasi online yang sampai saat ini hanya online di pembayaran bank saja tetapi setelah itu semuanya tetap kembali manual hingga pelayanan yang paling sepele seperti tempat parkir.

  5. Mungkin perlu ditinjau kembali tata ruang di kampus tercinta ini. Lahan parkir tersebar di seluruh pojok kampus dimana hampir setiap gedung mempunyai areal parkir sendiri. Jika areal parkir tidak tersedia di dekat sebuah gedung maka gedung itu sendiri yang dijadikan areal parkir, oleh staf yang berkantor di gedung tersebut. Kasihan gedungnya karena harusnya untuk tempat kerja tapi hanya dijadikan tempat menaruh kendaraan saja. Disamping itu kasihan kepada yang melihatnya karena gedung akan tampil lebih jorok.
    Lahan parkir di sekitar tempat kerja memang nyaman karena begitu turun dari kendaraan kita bisa langsung bisa masuk kantor. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa gas buang dari kendaraan kita akan tersebar di sekitar tempat kerja kita? Semua sudah tahu dan paham bahwa gas buang kendaraan mengandung gas-gas beracun dan logam berat yang sangat membahayakan kesehatan tubuh manusia. Sama berbahayanya dengan asap rokok.
    Ke depan mungkin perlu dirancang kawasan parkir terpadu yang berada di lingkaran luar kampus UM. Setiap kendaraan yang masuk akan langsung masuk kawasan parkir tanpa melalui gedung kantor dan gedung kuliah. Untuk menjangkau tempat kerja, tempat kuliah, atau kantor hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda. Menghayal? ga juga karena saat ini sudah banyak kampus yang ditata seperti ini (di luar negeri). Sama halnya dengan adanya keinginan agar kampus ini bebas asap rokok. Menghayal? ga mungkin alias impossible? ga juga, sebuah STM di Purwosari, Pasuruan sudah menerapkannya dan beberapa Pemkot sudah mengatur kawasan bebas asap rokok. Mau contoh? Sekali-kali perlu jalan-jalan ke Kantor Kecamatan Lowokwaru yang berada di depan kampus kita di Jl Surabaya yang sudah bebas asap rokok. Ungkapan yang sesuai dalam bahasa Melayu kurang lebih “Seronok ler bile kampus korang cem tu”.

Komentar ditutup.