Kultum di masjid Al-Hikmah UM

Menyimak apa disampaikan pembicara pada kultum ba’da sholat dhuhur beberapa hari yang lalu di masjid Al-hikmah UM tentang keharusan rapatnya sebuah shof, mengingatkan saya yang dhoif ini akan kekurangan saya karena tidak khusu’, astaghfirullah.  Disebutkan bahwa apabila di dalam sebuah shof yang tidak rapat atau renggang, maka di situ akan diisi oleh setan.  Mereka yang tidak mau mengisi kekosongan shof yang ada di depan yang belum penuh lalu membuat shof lagi akan kehilangan fadilahnya sholat berjamaah.  Menurut beliau, kalau saya tidak salah tangkap, rapatnya sebuah shof sudah cukup dengan bersinggungannya lengan antara satu dengan yang lain atau sebelah dengan sebelahnya pada saat bersedekap.  Demikian juga dengan posisi kaki dalam berdiri, kaki lurus sejajar dengan pundak masing-masing dan mata kaki lurus dengan mata kaki sebelahnya.  Kalau posisi kaki terlalu melebar maka pada rokaat berikutnya posisi shof akan jadi renggang, tidak rapat lagi.

Apa yang disampaikan itu jadi mengingatkan ketidakkhusu’an saya dalam sholat berjamaah ketika saya ada dibelakang seorang bapak yang sudah cukup tua bersebelahan dengan seorang pemuda.  Saya terusik mengetahui pak tua yang posisinya tepat di depan saya terlihat gelisah, tidak jenak dengan posisi berdirinya sedikit miring kurang seimbang.  Ketidakseimbangannya dalam berdiri tersebut menurut saya karena posisi kakinya yang tidak tepat.  Pada awalnya posisi kakinya biasa saja tapi kemudian dengan perlahan pak tua itu menggeser kakinya sedikit ke dalam, kemudian diikuti si pemuda sebelahnya menggeser kakinya sedikit ke luar, lalu pak tua menggeser lagi kakinya sedikit ke dalam lalu diikuti lagi si pemuda menggeser kakinya sedikit ke luar. Geser menggeser ini berulang lagi pada beberapa saat berikutnya dan berikutnya, yang akhirnya terlihat badan pak tua agak sedikit miring karena tumpuan pijakan kaki yang tidak seimbang akibat “dipepet” kaki sang pemuda.  Sementara si pemuda berdiri dengan gagahnya (Jawa: “mbegagah”), yang menurut saya sudah bukan sikap sempurna lagi dalam berdiri, karena sudah termasuk “mekangkang”.  Tetapi si pemuda acuh saja seolah sudah merasa benar (?) tanpa merasakan pak tua disebelahnya yang mungkin terganggu dengan sikapnya itu. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni.

Setiap orang tidak mungkin sama indera perasanya, ada yang bisa tahan dan ada yang tidak tahan, tapi yang jelas pasti sedikit terganggu kekhusu’annya.  Seperti terlihat pada pak tua tersebut yang mungkin tidak bisa menahan geli (jawa: “keri”) kena dempetan kaki si pemuda sehingga selalu menghindar dan menghindar dengan menggeser kakinya.

Kejadian serupa justru terjadi pada saya sendiri, pada waktu yang berbeda tentunya, ketika di samping seorang pemuda serupa dengan pak tua tadi.  Pada awalnya saya bisa menahan “keri” (geli) kena dempetan kaki pemuda ini, walaupun sempat menghindar dua kali, yang membuat saya lebih tidak tahan adalah jari kakinya itu selalu bergerak-gerak terus.  Karena sudah nggak tahan menahan “keri”, telapak kaki saya sedikit saya angkat, pas kaki pemuda tersebut bergeser, telapak kaki saya turunkan, jadi sebagian jari kakinya sedikit saya injak, sudah diam, nggak bergerak-gerak lagi.  Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni.  Selanjutnya pada rokaat-rokaat berikutnya sudah nggak terlalu “mepet-mepet” lagi.

8 tanggapan untuk “Kultum di masjid Al-Hikmah UM

  1. @dawud
    Iya Pak, mudah-mudahan bukan termasuk setan spesialis mengganggu orang sholat, yang bernama Khanzab (bukan kata saya lho…). Sebagaimana diriwayatkan:
    Utsman pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Beliau bersabda: “Itulah setan yang disebut dengan ‘Khanzab’, jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta’awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali.” (HR. Ahmad). Utsman melanjutkan: “Akupun melaksanakan wejangan Nabi tersebut dan Allah mengusir gangguan tersebut dariku.”

  2. Pemahaman terhadap nas atau teks firman Allah atau sabda Nabi bisa beragam. Ada yang memahami sangat tekstual, literal, formal. Ada yang memahami secara substantif. Saudara kita yang memahami secara terkstual, literal, dan formal hadis tentang kerapatan saf salat, saf rapat diwujdukan dalam bentuk secara fisik harus rapat, mepet, antartubuh wajib bersinggungan. Jika berlebihan, ini bisa menimbulkan perasaan risih teman di kiri atau kanannya, bahkan mengganggu. Saudara kita yang memahami secara substantif, saf rapat diwujudkan dalam bentuk kecukupan & kewajaran kerapatan antarjamaah.

    Awalnya, saya juga risih dan terganggu dengan Saudara yang terus mendesak mepet, sampai terjepit karena dia terus “mbegagah” itu. Tapi, lama-lama saya berdiri wajar saja, teserah sajalah yang mau dia lakukan. Lha, bagaimana lagi? Kalau diikuti terus, malah mengganggu konsentrasi memahami bacaan salat saya, lho Pak Noor. Hati saya “berbisik” maklumlah, dia memahaminya begitu. (Nah, bener kan menjadi tidak konsentrasi. He… he…)

    Dawud
    FS UM

  3. @hamba Allah
    @rental rikat
    “… maju/mundur sedikit dari shof, tak apalah daripada kekhusukan kita terganggu.?”

    Maksud dari tulisan ini apa tidak bertentangan dengan apa yang telah diajarkan? Rasulullah saw telah mengajarkan agar dibuat shof yang lurus.
    سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ
    “Luruskan shof-shof kalian, karena lurusnya shof termasuk kesempurnaan sholat.” (HR. Muslim)
    Kalau maksudnya adalah keluar dari shof, maka hal ini bertentangan dengan petunjuk nabi saw
    مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
    “Barangsiapa yang menyambung shof maka Allah akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskan shof, maka Allah akan memutuskannya” (HR an-Nasa’i)
    Di dalam hadis lain disebutkan Rasulullah bersabda;
    إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً
    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shof. Dan barangsiapa menutup kekosongan (di dalam shof) maka Allah akan meninggikannya satu derajat” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
    — dikutip dari berbagai sumber —

  4. yupzzz,,, mungkin sdikit petunjuk bg kita semua,,, bahwa kita masih sangat perlu sekali dlam mengaji islam,, mash byk bgt yg mgkn blum qt ketahui,,,
    mulai dri bgun tidur hingga tidur lagi, mulai ank2 sampai yang tua, mulai yang sifatnya individu samapi kehidupan bermasyarkat dan bernegara itu semua complit di atur oleh islam,, jadi Berapa persenkah yg udh kita pelajari ?
    mgkn inilah yang mnjdi sebab bayknya permaslah di khidupan ini, yaitu ketika umat islam di jauhkan dari ajarannya,,

  5. setuju,,,tapi hal ini memang sering terjadi dikarenakan pemahaman agama yang berbeda,,,jadi diharapkan kita bisa mengghargai dan menghormati pendapat masing-masing tanpa membenarkan dan menyalahkan…daripada kita yang memberontak lebih baik kita menghindar seperti yang dilakukan oleh saudara rental rikat….

  6. Hehe.. kalau setiap sholat jamah begitu gimana ya jadinya,? jadi mikir? Tapi bisa juga sih menggau kekhusukan kita beribadah. Sabar ajalah pak..hehe, kalau kejadian lagi dan merasa geli, tunggu aja dia bertakbir, merasa dia sudah khusuk, lalu maju/mundur sedikit dari shof, tak apalah daripada kekhusukan kita terganggu.?
    Terimakasih…

Komentar ditutup.