“Mikir”, perokok

Sudah ada kira2 dua bulan, salah satu WC/kamar mandi di gedung A3 tidak bisa dipakai karena saluran buntu.  Saat memakai kamar mandi yg satunya, begitu masuk terasa bau yang menyengat menusuk hidung.  Ternyata bau yang menyengat itu nampaknya berasal dari puntung rokok yang “berkolaborasi” dg aroma WC.

Sementara di lubang saluran pembuangan air ada puntung rokok, yg rupanya dibuang oleh si perokok. Entah perokok ini mikir apa tidak ya, kalau puntung rokok ini numpuk, pasti saluran pembuangan air itu akan buntu juga.  Kan filter dan tembakau itu tidak hancur kena air, “mikir” kah?

15 tanggapan untuk ““Mikir”, perokok

  1. Merokok di lingkungan kampus (di gedung-gedung kuliah) tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa. Dosen banyak juga! Bahkan seorang mahasiswa saya ada yang mengeluh, diajar dosen yang selama memberi kuliah kebal kebul kayak sepur, tanpa mau tahu mahasiswi didepannya kipas-kipas dan sedikit malu menutupi hidungnya. Mau protes tidak berani.

    Bagaimana kalau saya usul pada pimpinan perguruan tinggi ini, agar tahun anggaran mendatang diupayakan anggaran untuk menatar dosen-dosen perokok yang saaya maksud, agar bisa sedikit menghargai orang-orang yang tidak merokok (terutama mahasiswi).

  2. Alhamdulillah… sekarang ini WC sedang dalam perbaikan, terimakasih… mudah-mudahan tidak ada lagi yang “ngempet” menunggu giliran pemakaian WC. Tapi tadi pagi saya lihat, kok sepertinya saluran kloset dan saluran air pembuangan jadi satu, semoga saja ini terlihat karena belum selesai saja. Sebab kalau saluran jadi satu, bisa dibayangkan nanti “aroma” sedapnya yang keluar melalui lubang saluran pembuangan air. Menurut saya saya sih kok sebaiknya salurannya berbeda ya…

  3. Ahhhhh Pak Jo….apalah artinya saya, P. Noor, ….fatwa ulama dan himbauan Rektor saja nggak digubris koq oleh para perokok..(mengutip tulisan P. Dawud nih… maaf pak). Saya menulis itu kan karena juga ingat dengan “penderitaan Bu Elfin”, bahkan Bu elfin paling sering bertanya pada saya, ” Pak apa nggak bisa ya orang2 itu merokoknya di luar, dada ini sesak rasanya”. Tapi ya begitulah, mereka yang diingatkan seolah-olah tuli tidak bisa mendengar bahkan tertawa saat diingatkan, seolah buta tidak bisa membaca tulisan tentang himbauan “kawasan tanpa asap rokok”.

  4. Setelah selesai dilantik tanggal 2 Juni 2008, saya masuk ke Gedung Pusat TIK (dulu di H3 Lantai 1), saya sangat tersiksa karena harus menghirup bau rokok yang menempel di dinding, karpet dan barang-barang lainnya. Ruang server juga tidak lepas dari serangan asap rokok. Hari itu juga diadakan rapat dan salah satu keputusannya adalah TIDAK BOLEH MEROKOK DALAM GEDUNG (termasuk WC tentunya). Semua asbak dibuang, tempat sampah yang penuh dengan lubang-lubang bekas api rokok juga dibuang. Kisi-kisi udara yang ditutup dengan plastik segera dibuang. Beberapa hari kemudian bau gedung sudah segar. Kami di Pusat TIK beruntung, karena semua Pimpinan Pusat TIK mendukung hal ini maka begitu ada orang yang merokok maka segera ditegur.

    Setahu saya di Gedung A3 Lantai 1 ditempati oleh pimpinan yang mendukung dilarang merokok dalam gedung. Seandainya saja semua pimpinan untuk menerapkan dan menegur yang tidak mematuhi maka selesailah “penderitaan” Bu Elfin dan juga orang lain yang selama ini diam saja namun sangat terancam kesehatannya. Saran lain bagi Bu Elfin, tulis saja surat resmi ke pimpinan menceritakan penderitaan Bu Elfin, siapa tahu ada tindak lanjutnya. Saya sependapat dengan Bu Elfin bahwa KESEHATAN ADALAH HARTA YANG TAK TERNILAI.

    Salah satu tempat yang sering saya kunjungi adalah tempatnya Pak Noor. Cukup sering saya menahan nafas di sana karena bau rokok. Pak Noor Farochi yang saya kenal selama ini adalah orang yang sangat taat dengan aturan, tidak peduli mahasiswa atau atasan sekalipun pasti akan “dilawan” kalau tidak mematuhi aturan. Saya ingat kata Pak Rektor sewaktu perkenalan dengan mahasiswa baru: “Pak Noor ini Kasubag Registrasi, orangnya patuh pada aturan tetapi hatinya lembut”. Di Gedung A3 Lantai 1, ada aturan DILARANG MEROKOK DALAM GEDUNG tetapi saya lihat beberapa anak buah Pak Noor masih sering merokok dalam Gedung A3 (saya sering sesak nafas kalau berkunjung ke Subag RS). Apakah Pak Noor sudah bukan Pak Noor yang patuh aturan sehingga mengijinkan stafnya melanggar aturan sehingga mencelakai orang lain?

    Seorang tokoh yang saya kagumi, DAHLAN ISKAN, bisa membuat tonggak baru, kantor PLN yang semula penuh asap dan puntung rokok, sekarang menjadi tanpa asap rokok di seluruh Indonesia, hanya dalam waktu 1 bulan. Mudah-mudahan seorang Pak Noor bisa membuat tonggak baru, Subag RS menjadi tanpa asap dan puntung rokok.

    Sejak Juni 2008 – 31 Desember 2010 tak bisa saya hitung berapa kali saya harus diingatkan oleh Pak Noor melalui temu muka, telepon, atau SMS tentang program-program tertentu yang salah dan perlu diperbaiki. Sebaliknya, seingat saya, baru sekali ini saja saya mengingatkan Pak Noor. Ahhhhh Pak Noor, … jangan terlalu dipikirkan komentar saya ini …. ini hanya pengantar untuk menyampaikan

    SELAMAT TAHUN BARU
    Semoga kita bisa melayani sebaik mungkin

  5. Benar sekali, cak. Informasi dari saya memang hanya untuk yang bisa baca pesan ini. Jika “resep” saya itu diterapkan, siapa juga yang bisa njamin keberhasilannya? Manusia kan kewenangannya hanya berikhtiar dan bertawakkal. Ini hanyalah “resep,” dan penyembuhnya tetaplah Allah Subhanahuwata’ala.

  6. Saya pernah menjadi perokok selama 18 tahun (sejak berumur 14-an) dan, alhamdulillah, telah berhenti merokok selama 28 tahun. Rokok telah saya jatuhi talak tiga sejak 4 Desember 1982. Saya tahu persis bahwa perokok sebenarnya 100 persen sadar bahwa merokok itu tidak baik bagi diri sendiri dan bagi orang lain (dalam bentuk sekian ratus efek yang merugikan). Tapi ya itu, perokok yang sudah mencapai taraf “mbah dhanyang” tidak bakal libur merokok. Lha wong sudah “nyethet” kok. Rasa? Tidak menjadi soal. Perasaan orang lain? Persetan! Peringatan pada bungkus rokok yang berbunyi, “merokok dapat menimbulkan sakit jantung” saja diberi tafsir begini kok: “merokok dapat” menimbulkan sakit jantung, tetapi “merokok beli” tidak menimbulkan sakit jantung he he he. Kelainan? Sepertinya iya, minimal berlawanan dengan akal (orang) sehat. Jadi, perlu ada jihad.
    Menurut pendapat saya, jihad akbar bagi para perokok adalah MEMERANGI KEINGINAN (NAFSU) UNTUK MEROKOK. Ketika keinginan untuk merokok itu muncul, lawanlah dengan segenap ikhtiar, dan perasaaan akan sangat puas jika keinginan itu berhasil dilawan. Itulah yang dengan sepenuh hati dan sepenuh ikhtiar telah saya lakukan 28 tahun yang lalu, dan allhamdulillah berhasil.
    Mau coba? Tidak usah! Artinya, TIDAK USAH DICOBA, TETAPI (BISMILLAH…) LANGSUNG DITERAPKAN SAJA.

  7. @dawud
    Nggih Pak, betul!!!
    Saya tambahi, jangankan fatwa ulama dan himbauan Rektor yang pasti sudah dilupakan para perokok. “Hiasan kaca” ruang Gedung A3: KAWASAN TANPA ASAP ROKOK yang terpampang SETIAP HARI saja tidak bisa mengingatkan mereka (atau mungkin mereka tidak membaca ya Pak?)
    SETIAP HARI juga (minimal 40 jam dalam seminggu) saya harus ikut menanggung beban asap rokok mereka. Terus terang setiap ada aroma asap rokok, saya protes pada diri sendiri:
    1. Kenapa saya berbeda dengan mereka yang tidak harus merasakan batuk bahkan sesak nafas saat mencium asap rokok…
    2. Kenapa saya ndak bisa istiqomah pakai MASKER… (Karena yang lain jadi terganggu dengan tampilan saya, dan itu semakin menambah perbedaan saya dengan yang lain…)
    3. Kenapa perbedaan itu tidak menguatkan saya untuk menjauh dari mereka… (Padahal kalau sudah ndak kuat saya ngungsi ke ruang lain: ruang Bu Tia, musholla, dapur…, cuman komputer saya ndak mungkin saya angkut juga Pak…)
    4. Kenapa mereka bisa mengabaikan orang lain… (Karena mereka mungkin tidak (mau) tahu kalau orang lain terganggu…)
    5. Kenapa mereka tidak tahu kalau orang lain terganggu asap rokok mereka… (Karena mereka TIDAK PERNAH BACA keluhan kita lewat SUARA KITA…)
    6. Kenapa saya tidak protes mereka… (Karena saya sudah SUNGKAN untuk BERULANGKALI bilang: Paa…k, roko’e Pak!!!)
    7. Kenapa saya akhirnya hanya bisa protes pada diri sendiri… (Karena mereka tahu saya tidak punya kekuatan untuk menghindar dari asap rokok mereka,… apalagi mereka tahu BELUM PERNAH ADA SANKSI untuk mereka yang merokok, bahkan di ruang kerja sekalipun…)

    Kira-kira mereka PERNAH mikir ndak ya, kalau orang lain tidak saja terganggu tapi juga tersiksa asap rokok mereka????

  8. Para perokok yang “mbandel” (termasuk saya, he he), perhatikan keluhan orang-orang karena olahmu. Walaupun egoismu tidak separah koruptor, dan lempar puntung rokokmu tidak separah pejabat yang lempar tanggung jawab, sadarlah! Minimal mulai sekarang berniatlah untuk mengurangi merokok. Jangn buang puntung rokok di sembarang tempat!

  9. hahaha…cak Noor, perokoknya mungkin punya kelainan…lebih nikmat kalau merokoknya bercampur bau kamar mandi. Menurut saya, perilaku perokok di tempat umum memang menjengkelkan dan egois. Anehnya, saya pernah mendapat jawaban “tidak enak dan berbau ejekan” ketika saya menyatakan keberatan dengan asap rokok yang “disebul” perokok di dekat saya. Dengan sinisnya dia bilang: lho asapnya sendiri yang suka jalan ke arah ibu. Wah-wah sudah menyengsarakan orang di dekatnya dengan reaksi batuk-batuk, tidak minta maaf; malah menjawab sekenanya.

    Membuang puntung rokok di saluran air? Wah itu intervensi dunia lain lagi. Saluran nafas orang sudah dikotori dengan asap, saluran air juga dirambah dengan puntungnya. Kenapa tidak “ditelan” sekalian ya supaya puasnya ga tanggung. Ekstrem? Maaf ya. Atau ini tantangan bagi produsen rokok supaya menciptakan ramuan, dimana puntung rokok bisa dimakan instan oleh perokoknya. Bukankah mengandung serat yang bisa bikin perut kenyang?…

  10. Jangankan keluhan Pak Noor Farochi, fatwa ulama dan himbauan Rektor saja nggak digubris koq oleh para perokok. Pengamatan saya, sebagian besar perokok di Indonesia adalah “pihak” yang paling egois di dunia ini: perhatikan di kereta api, di bus umum (ekonomi), di mikrolet, di sebagian besar kantor … dengan enak saja mereka merokok bahkan tanpa merasa berdosa dan bersalah mengepulkan dan “menyemburkan” asap ke muka orang lain … Di samping tidak menyehatkan, sungguh itu perbuatan menjengkelkan dan menjijikan. Asap yang telah kena mulut atau hidungnya … ditiupkan sehingga orang lain harus menghirup asap yang berasal dari mulut & hidung kotornya ….

  11. Kalau membuang putung rokok ke dalam closet sih menurut saya tidak menyebabkan saluran tersumbat, tp di saluran air saya yakin bisa. Apa WC dirumahnya juga berbau yang menyengat menusuk hidung ya? kalau mencari inspirasi, berkhayal hanya bisa ketika sedang buang hajat besar, mudah2an sj yang “mikir” itu bukan closet, hahahaha.

  12. Begini Cak Noor…, menurut pengalaman teman saya yang mempunyai kebiasaan merokok di wc ketika sedang buang hajat besar itu memiliki sekurang-kurangnya dua manfaat, pertama bau asap rokok dapat “melawan” gas buangan yang tak sedap. Kedua, untuk mencari inspirasi, berkhayal, mencari solusi terhadap persoalan yang sedang dihadapinya. Bukankah salah satu proses berfikir (“mikir”) itu dimulai dari berkhayal? Benar dan tidaknya itu juga relatif. Tetapi bagi orang yang tidak merokok hal itu akan mengganggu kenyamanan ketika sedang menggunakan wc. Lebih-lebih wc itu diperuntukkan bagi orang banyak dan celakanya bila membuang putung rokok ke dalam closet dapat menyebabkan saluran tersumbat. Kita semua menjadi rugi.

Komentar ditutup.