Warga UM, Anggaplah UM sebagai “Rumah” Sendiri

Kamis, 30 Desember 2010 adalah hari terakhir saya berada di kampus Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2010.

Selepas kuliah di PABTI-UM hari itu, saya iseng-iseng bernostalgia di gedung tempat kuliah saya dulu, yaitu gedung J. Gedung J adalah tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya selama kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UM.

Ketika melihat-lihat suasana gedung J, tiba-tiba ada “panggilan alam” mendera. Saya memutuskan untuk menuju ke toilet. Sesampainya di toilet, alangkah terkejutnya saya melihat salah satu urinoir di toilet pria.  Air dibiarkan mengucur (tanpa dimatikan) , padahal pada urinoir tersebut ada semacam kran untuk mengalirkan dan menghentikan aliran air. Seharusnya, setelah memakai, kran dapat dimatikan untuk menghemat air. Masih banyak saudara-saudara kita yang kekurangan air bersih. Setelah mematikan aliran air, saya mendengar bunyi gemercik air kembali. Ternyata di salah satu WC pria, kran juga masih menyala dan tentu saja air masih mengalir.

Saya pun meninggalkan toilet dan menikmati kembali suasana gedung J yang sedang sepi (hanya ada beberapa mahasiswa) di sana.  Setelah puas, saya meninggalkan gedung J. Di pelataran luar gedung J, saya melihat ada lampu yang masih menyala, padahal waktu itu kondisinya masih terang-benderang (sekitar pukul 11.30). Saya berpikir, berapa ya biaya yang dikeluarkan UM untuk membayar tagihan listrik dan air selama sebulan? Berapa ya yang dapat dihemat UM, jika kejadian ini dapat diminimalkan?

Saya kembali merenung, apakah warga UM (saya tidak berani secara sepihak menekankan kepada mahasiswa UM) sudah merasa memiliki UM sebagai rumah? (bukan hanya merasa UM sebagai kontrakan untuk sementara waktu) Biasanya “rasa memiliki rumah” cenderung berdampak pada tanggung jawab seseorang untuk menjaga, merawat, dan menyayangi rumah yang dimiliki, sedangkan “rasa kontrak rumah” berdampak pada kurang bertanggung jawabnya seseorang terhadap rumah yang dikontrak. Pengontrak cukup memenuhi kewajiban di masa kontrak, misalnya membayar biaya-biaya.  Bila ada yang rusak, selagi tidak sangat dibutuhkan oleh pengontrak, ya akan dibiarkan oleh si pengontrak.

Apakah mungkin layanan di UM kurang memuaskan atau fasilitas yang disediakan kurang memadai, sehingga kita enggan memilikinya? Jika itu alasannya, saya teringat perkataan Jhon F. Kennedy, presiden AS yang cukup terkenal itu. Tanpa seiizin beliau, saya akan mencoba memodifikasinya untuk warga UM.

“Jangan bertanya apa yang telah UM berikan untuk Anda, tetapi bertanyalah apa yang telah Anda berikan untuk UM”

Apakah memang mentalitas bangsa kita sudah seperti ini? Jika itu alasannya, mari kita perbaiki. Sulit? Memang, tetapi saya percaya hal itu bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Tulisan ini bukan bermaksud menggurui rekan-rekan yang lebih senior dari saya, tapi untuk sekadar mengingatkan. Tidak ada yang salah untuk saling mengingatkan. Kalau saya sedang lupa untuk berbuat kebaikan untuk UM, mohon kiranya Anda yang mengetahuinya mengingatkan saya.

Mohon maaf bila ada kata-kata dalam tulisan ini yang kurang berkenan di hati, Semoga kita mampu memberikan yang terbaik untuk UM. Amin.

Malang, Tahun Baru Masehi
1 Januari 2011

Michael (Alumnus FS UM dan Mahasiswa PABTI-UM)
Tinggal di www.leahcim.net

2 tanggapan untuk “Warga UM, Anggaplah UM sebagai “Rumah” Sendiri

  1. Ya begitulah kondisi sebagian saudara kita, Mas Michael. Akan tetapi, sebagian besar yang lain sudah baik bahkan sudah sangat baik, Mas. Selamat tahun baru, Mas. Semoga kesuksesan selalau menyertai Anda, Amin.
    Malang, 2 Januari 2010
    Dawud
    Dekan FS UM

Komentar ditutup.