Icon UM

Graha Cakrawala bisa dikatakan menjadi icon terbaru dari Universitas Negeri Malang. Ada juga kolam renang pendidikan yang menjadi icon juga. Menyusul untuk menjadi icon adalah dibangunnya Graha Rektorat, yang konon akan mulai dibangun tahun ini. Tetapi ada satu icon yang “terlupakan” untuk diangkat, yaitu Masjid Al-Hikmah kita. Masjid Al-Hikmah, dari segi arsitektur, merupakan masjid yang unik dan non-konvensional, karena tidak ada kubahnya. Masjid Salman Bandung sudah begitu populer dengan keunikan desainnya. Bila kita jadikan masjid Al-Hikmah sebagai icon UM, saya kira akan tidak kalah popularitasnya dengan masjid Salman Bandung. Mari kita jadikan masjid Al-Hikmah sebagai icon dari Universitas Negeri Malang. Sehingga kita punya icon yang seimbang, antara icon akademik, sarana akademik, dan spiritual. Langkah pertama menjadikan icon, mungkin dengan menampilkan masjid Al-Hikmah di halaman utama website UM. Setuju?

9 tanggapan untuk “Icon UM

  1. Ya, Rak Djoko.Saya, diding, pegawai lemlit UM, yang menulis. @alfan jamil: saya bukan dari BDM. @Hailak Abdullah Al Biruni dan Pak Djoko: mohon dicermati, dalam tulisan saya konteksnya adalah arsitektur masjid sebagai icon UM. Sudut pandang yang saya lihat adalah dari arsitekturnya yang unik yang layak dijadikan sebagai icon. Sebatas itu saja. Masalah “isi dan tiang”nya masjid, mari kita sharing dengan tulisan yang baru yang memandang dari sudut pandang “isi dan tiangnya”, bukan arsitekturnya. Thanks atas tanggapannya.

  2. Saya ucapkan terima kasih kepada Mas Alfan Jamil atas infonya. Saya sependapat dengan Mas Haikal Abudullah Albiruni, yakni tetang “hakikat isi” bukan arsitektur Masjid Al-Hikmah. Sudah cukup lama saya sholat Dzuhur berjamaah di masjid ini, yakni mulai tahun 1985–sekarang tetapi setelah saya rasakan selama ini, ada sesuatu yang “kontradiktif”.

    Saya pernah menanyakan kepada petugas kebersihan, siapa yang memberinya honorarium, apa jawabnya, dia hanya menerima dari Kantor Subag RT UM. Padahal sekitar tahun 1990, petugas tsb. naik sepeda onthel dari Kec. Pakis, Kab. Malang ke Masjid Al-Hikmah pada jam 04.30 wib. (setelah sholat Subuh), dan pulang setelah sholat Ashar. Terkait dengan Masjid Al-Hikmah UM pada “topik yang lain”, saya pernah menulis di web ini dengan judul “Andakah Penemunya?” tetapi tidak ada respon dari takmirn masjid Al-Hikmah UM.

  3. ya,pasti ini yang nulis anak BDM/HTI.
    sarannya sih bagus…….tapi ini jangan dijadikan trik untuk mendoktrin maba supaya ikut HTI.
    biarkan maba menentukan pilihan sendiri.

  4. Sebelum saya mengomentari tulisan ini, mohon maaf kalau boleh tahu, apakah ini Bapak Drs. Diding Kusumahadi, M.Si atau Mas/Mbak Diding (mahasiswa/mahasiswi UM)?

  5. pasti yang nulis teman2 dari BDM/ HTI ya…hehehe
    saya setuju saja asal jangan menjadikan masjid untuk menari maba dan didoktrin ikut HTI

  6. Saya setuju apabila masjid diperindah bentuknya, dan jama’ahnya semakin banyak

    terkait rencana pembangunan UM, sy mencoba membuat suatu analogi.

    ANALOGINYA SEPERTI INI…

    Jika aku nilai, bangunan ini sangatlah indah dan megah. Dinding-dindingnya di poles dengan berbagai aksesoris yang menawan. Ada lukisan-lukisan kelasik yang menggambarkan kehebatan si pemilik rumah. Lukisan-lukisan tersebut berjejer gagah membuat siapapun yang yang melihatnya akan iri dan bangga. Selain lukisan, ada beberapa medali yang dipajang. Dan juga kepala-kepala binatang buas pun ikut memeriahkan dinding-dinding bangunan ini. Sungguh luar biasa.

    Selain dinding, kita juga akan mendapati atap dan langit-langit bangunan yang sangat kokoh dan artistic. Atap bangunan ini telah terbukti dapat menepis segala bentuk dzat yang mengancam bangunan. Panas dan dingin pun tak akan mampu membuat atap bangunan ini rapuh. Kokoh, itulah gambaran atap bangunan ini. Begitupun dengan langit-langit bangunan. Gambar-gambar indah menghisasinya. Membuat siapapun terpana melihatnya. Sehingga membuat mereka lena untuk selalu melihat ke langit dan lupa kalau mereka sedang berjalan menapaki bumi.

    Selain indah, bangunan ini juga sangatlah megah. Ruang-ruang yang luas merupakan ciri dari bangunan ini. Aku jamin, Siapapun yang berada di dalamnya akan merasakan bahwa dirinya sangatlah kecil. Jika harus berjalan di dalam bangunan ini. Kita pasti akan menemukan kebosanan. Karena kita tidak akan menemukan tepi. Dan jika ada yang mau berlari didalam bangunan ini. Dia hanya akan capek dengan usahanya. Bangunan ini sangatlah megah. Hingga waktu dan ruang tidak memiliki batas.

    tapi aku melihat sesuatu yang salah dari bangunan ini. Ku rasa, si pemilik rumah hanya memperhatikan keelokan rumah. Si pemilik rumah lupa kalau bangunan yang dia banggakan tersebut tidak hanya punya dinding, atap, langit-langit, lantai dan bahkan kemegahan. Si pemilik rumah lupa kalau banunan ini juga punya tiang. Sebuah bagian dari bangunan yang memang kurang menarik untuk diperhatikan. Saking kurangnya perhatian si pemilik bangunan terhadap tiang bangunannya. Aku melihat tiang ini mulai rapuh. Ternyata Rayap lebih memperhatikannya ketimbang orang-orang yang selalu membanggakan kemegahan dan keindahan rumah.

    Seandainya segala asesoris harus hilang dari bangunan, sehingga bangunan ini tidak nampak indah lagi. Aku tidak terlalu khawatir. Karena, bangunan ini tetap akan menawarkan kemegahannya. Namun aku akan khawatir jika bangunan ini harus hancur dengan seketika, sekaligus menimbun segala keindahan yang ia punya. Dan apakah bangunan yang kokoh ini akan dapat hancur dengan keadaan yang seperti demikian? Tentu saja. Karena tiang yang menyangga bangunan ini sudah keropos. Sehingga bukan tidak mungkin atap dan langit-langit gedung akan menabrak lantai dari bangunan indah ini.

    Sebenarnya apa yang ku kisahkan ini hanyalah sebuah analogi akan sebuah orientrasi pembangunan di UM yang mungkin telah lama melupakan fungsi dan peran dari salah satu sayapnya. Aku khawatir, kita terlalu terpaku pada keindahan bangunan tanpa memperhatikan tiang penyangga yang ada. Jangan sampai, ketika bangunan megah yang kita banggakan runtuh, kita baru akan teringat dengan pentingnya sebuah tiang…

    Aku khawatir, kita terlalu terpaku pada keindahan bangunan tanpa memperhatikan tiang penyangga yang ada. Jangan sampai, ketika bangunan megah yang kita banggakan runtuh, kita baru akan teringat dengan pentingnya sebuah tiang…

    By : Haikal Abdullah Al.Biruni
    Bumi Arema, 16 oktober 2010; pukul 09.33 WIB

Komentar ditutup.