WEB UM: ANTARA BAAKPSI DAN BAUK

Sebagaimana kita ketahui bahwa di Universitas Negeri Malang ini memiliki 2 (dua) biro yaitu Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) dan Biro Administrasi Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI) yang masing-masing dipimpin seorang Kepala Biro. Saat ini BAUK membawahi 3 (tiga) bagian yaitu Bagian Keuangan, Bagian Umum, Hukum, Tata Laksana dan Perlengkapan (UHTP), dan Bagian Kepegawaian sedangkan BAAKPSI membawahi 3 (tiga) bagian yaitu; Bagian Kemahasiswaan (Bag Mawa), Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi (Bag PSI), dan Bagian Pendidikan dan Kerjasama (Bag. PK). Hal yang menarik adalah semua Kepala Bagian di jajaran BAAKPSI adalah wanita sedangkan dijajaran BAUK adalah pria, walaupun semua kepala bironya adalah pria.
Kalau kita perhatikan di web UM, hanya dari jajaran BAAKPSI yang aktif di web baik dengan menyediakan kolom/blog maupun aktif menanggapi pertanyaan/keluhan pada kolom berkarya maupun suara kita. Beberapa nama yang sering saya lihat menanggapi adalah Bu Fatmawati (Kabag Kemahasiswaan), Bpk Noor Farochi, Bu Mimin (Kabag Pendidikan dan Kerjasama), dan Bpk. Djoko Rahardjo.
Kondisi tersebut sangat bertolak belakang dengan jajaran BAUK, sejak web UM ada hingga sekarang belum ada kolom/blog yang menampilkan jajaran bagian dalam BAUK. Padahal kalau kita lihat pada suara kita maupun berkarya, opini, pendapat, pertanyaan maupun keluhan tidak hanya ditujukan pada jajaran BAAKPSI tetapi juga BAUK. Masalah perpakiran, pemanfaatan gedung, sarana dan prasarana olah raga, keamanan, penataan lahan, dan penghijauan sering menjadi sorotan dalam web UM, namun sangat jarang bahkan mungkin tidak ada sama sekali jawaban maupun tanggapan dari pihak yang berkompeten (BAUK).
Kedepan saya dan mungkin segenap warga UM berharap jajaran BAUK lebih aktif lagi di web UM dengan memasang kolom/blog dan berkenan menanggapi keluhan/pertanyaan/pendapat yang berkaitan dengan tanggung jawab jajaran BAUK atau barangkali para pejabat yang peduli dapat meminta agar jajaran BAUK sudi urun rembuk di web UM ini. Untuk jajaran BAAKPSI saya salut dengan kecepatan dalam menanggapi keluhan/pendapat baik dalam forum suara kita ataupun berkarya namun masih perlu ditingkatkan.

17 tanggapan untuk “WEB UM: ANTARA BAAKPSI DAN BAUK

  1. @Pak Imam…terima kasih pak, ternyata Pak Imam mengamati komen yang ada di web UM. Kalau ada yang kurang pas dengan gaya komen saya mohon jangan segan memberi masukan pak. Saat ini sepertinya “ditakdirkan’ kalau Kepala Bagian di BAAKPSI cewek semua, dan kebetulan juga podo “endel” hehe…(sory ya bu Yun n Bu Mimin, tanpa mengurangi kecantikan kalian berdua saya sebut begitu). Kami di BAAKPSI kompak tanpa dikomando Kepala Bironya, langsung “endel”nya keluar begitu ada komen yang masuk ke jantung masing-masing. Saya yakin Bu Yuni dan Bu Mimin sangat setuju dengan pernyataan saya ini. Biasanya kami saling mengingatkan kalau ada komen terbaru yang belum ditanggapi dan harus segera ditanggapi. Pak Noor farochi juga sering hubungi saya kalau ada hal seperti ini. Makasih ya pak Noor..Anda sangat memperhatikan saya..eh pekerjaan saya hehe..
    Menurut saya, komentar yang ditujukan ke unit kerja, bisa dijadikan feed back untuk perbaikan layanan, dan juga salah satu bentuk pertanggungjawaban kinerja pejabat ybs kepada publik. Komentar yang “pedas” harus segera “dijinakkan” dengan respon yang cepat dan cukup supaya tidak berkembang “liar” (Pak Dawud, nuwun sewu pinjam istilah panjenengan). Oleh karena itu, web UM dan face book menjadi menu utama saya setiap pagi bahkan setiap saat. Kalau terlambat membuka web, timbul “rasa kangen”. Kangen membaca tulisan Pak dawud, pak Djoko, Pak Imam, pak Noor, dan juga komen mahasiswa, dan yang lain-lain..
    Selain di Suara Kita dan berkarya, kebiasaan saya memantau dan merespon komentar di kemahasiswaan.um.ac.id, facebook resmi UM dan Forum PKM 2011. Forum PKM 2011 ini kami jadikan media informasi dua arah yang sangat efektif. Beberapa kali kami mengundang Tim PKM (152 judul, 521 mahasiswa), cukup saya share melalui face book ini. Informasi pencairan dana, penyusunan laporan dan hal-hal yang terkait dengan PKM, kami kendalikan via media ini. Sangat efektif dan efisien. Tidak perlu kami menempel-nempel di papan pengumuman yang tidak akan sampai kepada ybs karena dilepas oleh yang tidak berkepentingan. Juga tidak perlu menelpon ke hape masing-masing, yang biasanya menghabiskan biaya pulsa yang mahal.
    Santen parutan klopo, cekap semanten atur kulo…salam

  2. @Moch Syahri
    Hari gini, begitu koq dikorelasikan ya Dik Syahri. Hahaha …
    Juga aneh, sampai sekarang pun mereka tetap “membisu” … Di RAPIM UM saya sudah berulang kali berteriak, kalau ada keluhan di web ini tidak segera ditanggapi langsung oleh yang bersangkutan, komentar berikutnya akan “liar”.
    Atau mungkin, mereka menikmati komentar-komentar di web ini dengan semboyan …. BIARKAN ANJING MENGGONGGONG …. KAMI … KAFILAH TETAP BERLALU. Hohoho … asal tidak dianggap yang komentar ini termasuk kategori yang menggonggong itu.
    Malang, 21 April 2011
    Dawud (FS UM)

  3. Saya mencoba untuk berpikir positif: mungkin staf BAUK sangat sibuk, sehingga tidak sempat memantau web UM.

    Tampaknya cara agak kuno dapat diterapkan: Setiap ada sesuatu, seseorang yang ditunjuk entah siapa dapat mengirim SMS ke pihak terkait dan isinya kira-kira begini:

    Ada keluhan/pertanyaan/saran untuk …….. di web UM [http://suara.um.ac.id/?p=xxxx]. Mohon Saudara/i menanggapi keluhan/pertanyaan/saran itu. Terima kasih.

    NB. Tidak perlu dicetak seperti dulu supaya dapat menghemat kertas. Biaya SMS sekarang sudah cukup murah kok untuk ukuran orang yang sudah bekerja (biaya SMS per bulan setara dengan dua mangkok pangsit mi KOPMA) atau bisa juga pakai fasilitas SMS gratis dari Yahoo!.

    Michael
    (Alumnus FS UM, Mahasiswa PABTI UM)

  4. saya setuju dengan pendapat p. Imam
    sejak web UM ada hingga sekarang belum ada kolom/blog yang menampilkan jajaran bagian dalam BAUK. Padahal kalau kita lihat pada suara kita maupun berkarya, opini, pendapat, pertanyaan maupun keluhan tidak hanya ditujukan pada jajaran BAAKPSI tetapi juga BAUK. kali ini kami sebagai pegawai yang juga di BAUK namun dibantukan dibagian ULPBJ, barangkali mewakili teman2 BAUK sebatas di unit Layanan mohon saran dan kritiknya ….. namanya manusia kan ndak sempurna.

  5. ikut ha……. juga, barangkali sudah dari sononya kalau urusan yang pegang uang tidak banyak bicara, bisa berbahaya. urusan yang mengerti hukum,idem dito, untuk mejawab kritik masih harus melihat pasal-pasal yang terkait, dan idem dito juga dengan urusan UHTP, harus pinter pegang rahasia, so tidak boleh terlalu responsif ha….OPO HUBUNGANE ha….

  6. @Prof Dawud: terima kasih, saya merasa bangga njenengan masih meluangkan waktu untuk menanggapi dan semoga tetap amar ma’ruf.
    @Johanis: terima kasih koreksinya.
    @saudara2 ku: terima kasih sumbang sarannya, namun kita masih harus tetap menyuarakan gagasan/ide demi peningkatan layanan baik didengar ataupun tidak.

  7. Ayo, teman-teman BAUK, kritik yang baik perlu segera ditindaklanjuti dengan berbenah diri.

  8. @Pak Imam,
    Dari jajaran BAAKPSI, sampai saat ini yang paling banyak menanggapi komentar adalah Ibu Yuni (Kabag PSI). Di Suara Kita = 275 komentar dan di Berkarya = 129 komentar.

  9. @djoko rahardjo
    Hahahahaha….. eh kok latah juga. Enak yo bes okodj yg sudah pake mobil Ferrari, Lamhborgini, dan mobil formula one?….. aku bisanya suzuki,… kredit lagi…. mudah2an gak ada debt kolektor yg mukuli aku ya? tp aku punya kereta api lho….hehehehe

  10. Saya sangat setuju kalau Web UM dijadikan ajang untuk menuangkan segala inspirasi, yang penting bermanfaat, untuk lembaga dan masyarakat pada umumnya. Tapi dalam benak saya selalu bertanya..Apa semua aspirasi bisa ditindak lanjuti ya..oleh Bos kita. Kalau tidak ya percuma saja. Buat Pak Imam makasih salutnya. Go..Go..Lanjut terus kita berpatisipasi untuk kemajuan UM..Salut buat semua yang selalu aktif di Web UM. suliADI RS.

  11. Setuju mas Djoko dan P Dawud,..
    The right man on the right place, idealnya begitu, dan semuanya menginginkan pekerjaan dikelola/ditangani oleh ahlinya. Masalahnya adalah terbatasnya SDM, sementara proses rekrutmen/pembinaan/pengkaderan tidak sebanding dengan lajunya perkembangan urusan, sehingga terjadi penumpukan urusan di satu unit, sementara di unit lain kurang urusan kebanyakan orang. Yang terjadi selama ini, lebih seperti tidak ada tali akar pun berguna dan sekarang talinya ruwet akar pun habis. Menumpuknya urusan dan kurangnya waktu dan SDM akan selalu menjadi biang seseorang untuk hanya merespon masalah yang muncul dipermukaan saja dengan tindakan darurat. Asal urusan jalan sambil mencari solusi adalah tidak bijak, karena kebiasaan seperti itu adalah sama artinya membiarkan bola salju menggelinding membawa PR urusan semakin besar untuk diwariskan. Lebih dari itu, ketidak-seimbangan prioritas perhatian urusan antara Akademis dan Admintrasi masih terasa benar bedanya,..ha, ha, ha.

  12. Hahaha…, saya jadi latah pada Pak Dawud

    Bahasa Aremanya “kadit niam”. Sejujurnya, saya “kasihan” kepada Bapak Rektor UM yang telah mendorong “dengan susah payah” kepada para pejabat di lingkungan kantor pusat untuk memiliki “maindset yang berkecukupan”.

    Kalau saya boleh mengumpakan begini…, Rektor sudah menyediakan sirkuit untuk mobil formula 1 (one) dan para dosen “sudah menggunakan ” mobil Ferrari, Lamhborgini, dan mobil formula one lainnya tetapi “pejabat yang dimaksud” masih menggunakan mikrolet. Hahaha…

  13. Hahaha …. saya sudah bosan menyuarakan hal yang sama Mas Imam, baik lugas maupun sindiran, baik langsung maupun tidak langsung. Mungkin mereka termasuk kategori “buta aksara digital” (digital illiterate), atau mungkin mereka tidak berani transparan dalam pelaksanaan kegiatan program, atau mungkin mereka sebenarnya bukan the right man on the right place… Padahal, khsusunya, Kepala Biro AUK mestinya menjadi pelopor, inisiator, teladan dalam upaya-upaya seperti itu. Pengalaman saya bergaul dengan dia, ya, paling-paling, hanya bilang… Inggih, mohon maaf, nyuwun ngapunten …
    Oh, ya, mohon maaf juga, deh.
    Malang, 18 April 2011
    Dawud (FS UM)

Komentar ditutup.