PENERTIBAN STATUS MAHASISWA

Apa tindakan UM bagi Mahasiswa yang Statusnya Tidak jelas

Kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang, agar birokrasi di UM berjalan lebih maksimal dari tahun-tahun sebelumnya menuju yang lebih baik. Bukannya yang sekarang kurang bagus, birokrasi di UM sekarang The Best, sudah dapat acungan jempol dua, apalagi UM sekarang sudah menerapkan system Online terpadu. Tapi, apa salahnya kalau diadakan pembenahan-pembenahan disegala bidang, baik Administrasinya maupun sarana prasarananya.

Saya ingin menyoroti masalah Mahasiswa yang Tidak Jelas Statusnya. Karena di RS juga bertugas untuk merekap mahasiswa yang statusnya tidak jelas. Saya ingin memberi saran kepada Lembaga untuk bertindak tegas bagi Mahasiswa yang statusnya tidak jelas. Artinya Mahasiswa tersebut langsung menghilang dari peredaran. Mahasiswa ini dikatakan tidak jelas karena si mahasiswa tidak mengurus Cuti Kuliah, atau tidak Membayar Registrasi. Ini namanya tidak jelas. Apa tindakan Lembaga selama ini, kalau yang rasakan dari lembaga tidak ada tindakan sama sekali, mudah-mudahan pendapat saya tidak salah.

Melihat keadaan seperti ini, mudah-mudahan mulai tahun ini UM segara menertipkan bagi mahasiswa yang tidak jelas statusnya, maupun bagi mahasiswa yang suka mbolos kuliah.
Bagaimana caranya, kalau boleh saya berpendapat/memberi saran. Apa tindakan lembaga, kepada mahasiswa yang demikian :

1. Bagi mahasiswa yang tidak melakukan Registrasi diwajibkan untuk mengurus Cuti kuliah
2. Bagi mahasiswa yang masa studinya habis harus melakukan Perpanjangan Studi
3. Bagi mahasiswa yang tidak mengurus cuti kuliah maupun tidak registrasi satu semester atau lebih, Subag Akademik Fakultas/lembaga memanggil orang tua mahasiswa untuk dimintai keterangan.( diberi surat tertulis pemberitahuan tentang status akademiknya/aktif atau tidak)
4. Bagi mahasiswa yang suka mbolos kuliah, disini Subag Akademik Fakultas yang bertindak, apa fungsinya : Karena mahasiswa yang tidak kuliah, kurang mendapat perhatian dari pihak Fakultas. Apalagi sekarang sedang marak-maraknya anak hilang, karena pengaruh media. Di UM sendiri juga pernah ada kejadian Mahasiswa tidak kuliah selama 2 Minggu, sampai orang tuanya mencari ke Kampus. Kalau orang tua bertanya ke Kampus, kemudian dari pihak kampus sampai tidak tahu, apa jadinya. Ini kejadian di Fakultas Ilmu Pendidikan tadi pagi. Kedua orang tua mencari anaknya kekampus karena anaknya tidak pulang selama dua minggu, Untung anaknya setelah menghilang selama dua minggu,,tahu-tahu muncul di kampus, kemudian temannya memberitahukan keorangtuanya.

Agar dikemudian hari tidak terjadi hal seperti ini, status mahasiswa perlu ditertibkan.
Sebagai rasa tanggung jawab lembaga kepada anak didiknya..

Ditulis oleh : SuliADI
Pegawai Registrasi dan StatistikBAAKPSI UM

6 tanggapan untuk “PENERTIBAN STATUS MAHASISWA

  1. batas maksimal masa studi mahasiswa S1 dari yang sudah ditetapkan kampus apa masih bisa mengurus perpanjangan masa studi lagi pak?

  2. Hehehe…, ternyata ada yang “mengomentari” komentar saya.

    Singkat cerita, saya dipanggil oleh PR I UM (Prof. Saleh Marzuki), beliau bertanya kepada saya: “Menurut pendapat Pak Djoko bagaimana?” Saya jawab begini…, memang menurut Pedoman Pendidikan IKIP Malang yang bersangkutan “sudah kehilangan haknya” sebagai mahasiswa. Dalam hal ini kita harus menggunakan “kearifan intelektual”, kasus ini adalah “suatu tragedi”. Bukan kesalahan mahasiswi tersebut. Maka demi rasa “keadilan dan kemanusiaan” seharusnya yang bersangkutan masih layak menerima perpanjangan studi.

    Beliau berkata: “Bismillah…, surat perpanjangan studi ini saya tanda tangani!”

  3. Apa yang disampaikan oleh Pak Suliadi tentang “status mahasiswa” itu memang penting dan perlu kehati-hatian.

    Sebelas tahun yang lalu, saya diberi tugas untuk mengurusi “perpanjangan studi” bagi mahasiswa UM. Pengalaman saya memang cukup unik karena harus menerima beberapa alasan mengapa mahasiswa tersebut tidak mengajukan cuti kuliah atau tidak registrasi.

    Ada kasus yang “tergolong berat”, sorang mahasiswi “tidak melakukan registrasi” dan “tidak mengajukan cuti kuliah” selama dua semester berturut-turut. Saat itu ayahnya yang datang ke kantor. Maaf, ayahnya tidak begitu faham dengan persoalan pendidikan karena setiap hari pekerjaannya adalah “mengembalakan sapi “dan mencari rumput di ladang.

    Saya tanyakan kepada beliau, mengapa mahasiswi yang bersangkutan tidak datang sendiri untuk mengurus “perpanjangan studi”?

    Jawabnya diluar dugaan: “Jangankan mengurusi kuliahnya, bayinya saja dibiarkan terlantar! Yang bersangkutan mengalami goncangan jiwa! Suaminya menikah lagi!

    Nampaknya sebelum berangkat, “teman kuliah” dari mahasiswi tersebut telah membekali Ayahnya dengan dokumen: kumpulan KHS, lembar sekripsi Bab I s.d. Bab III yang telah diparaf oleh dosen pembimbing, dan lain-lain.

    Setelah saya periksa berkasnya, ternyata mahasiswi tersebut sudah hampir lulus hanya tinggal menyelesaikan skripsinya saja. Kalau tidak punya masalah, sebetulnya ybs lulus pada semester VIII.

    Saya jadi bingung dan kasihan, akhirnya saya konsultasikan kepada pimpinan UM bagaimana solusinya? Tunggu tulisan saya berikutnya hahaha…

Komentar ditutup.