[SELESAI] Manyambut Parkir Berlangganan UM

SURAT EDARAN PR II UM NOMOR: 2820/UN32.II/TU/2011 TANGGAL 20 MEI 2011

Menyambut surat edaran tersebut di atas maka perlu diusulkan hal-hal berikut.

1. Pembayaran parkir berlangganan bagi warga UM melalui pemotongan gaji bagi PNS/pegawai harian dan pembayaran SPP bagi  mahasiswa.

2. Pembangunanan “tempat parkir yang layak”, khususnya parkir sepeda motor. Sebab selama ini di kantor pusat, satu bilik diisi empat sepeda motor, mestinya diisi tiga sepeda motor.

3. Ruang/jalan di tempat parkir harus dikosongkan supaya tidak merepotkan saat mengambil sepeda motor dan tidak  menyebabkan sepeda motor menjadi “lecet atau bonyok/pesok”

4. Penitipan helem yang aman dengan menggunakan kupon.

5. Hal-hal lain yang dianggap penting.

Malang, 25 Mei 2011

Staf  Subbag  Sardik BAAKPSI UM,

Djoko Rahardjo

46 tanggapan untuk “[SELESAI] Manyambut Parkir Berlangganan UM

  1. Terimakasih atas saran dan masukan warga UM tentang surat edaran Nomor 2820/UN32.II/TU/2011 tentang rencana pelaksanaan uji coba gate (pintu masuk/keluar) kampus dan penataan parkir di UM. Masukan, pendapat, dan saran dari Bapak/Ibu dosen, karyawan dan mahasiswa menunjukkan kepedulian warga UM terhadap pengembangan penataan kampus tercinta ini.

    Subungan dengan hal tersebut, khususnya masukan terhadap tarif parkir sebagaimana dalam isi surat edaran tersebut masih dalam proses rencana pelaksanaan uji coba. Oleh karena itu masukan dan saran dari warga UM tentunya sebagai bahan pertimbangan oleh pimpinan dalam rangka mewujudkan kenyamanan, ketertiban, dan keamanan, serta mewujudkan lingkungan kampus yang kondusif. Kita berharap dengan penataan parkir yang tertib dan aman dapat meningkatkan pencitraan UM sesuai dengan identitas UM The Learning University. Terimakasih masukan dan saran-sarannya.

    HUMAS UM
    Gedung A2 Lantai 2 UM

  2. yth bapak noor,

    1. bukan kabarnya bapak,itu memang iya dan bukan kabar burung tidak mengada ada…saya malah akan membongkar triknya lewat UB tanpa bayar,bapak tinggal pakek pakaian rapi layaknya dosen dan staf UB…trus klakson sambil senyum dan sapa…lolos deh…karena kita dikira staff sana…ini sudah dilakukan berulang kali oleh temen saya dan saya(ini hanya yg pakek sepeda motor kalo mobil saya tunggu rejeki dr Allah dulu untuk mencobanya..he…he)

    2.sepertinya saya tertarik dg ide buka lahan parkir…besok saya akan hunting tempat strategis dan kosong disekitar wilayah UM…mumpung berita ini belum tersebar…lumayan kalo saya tarik persepeda 1000,berarti kalo 100 sepeda perhari pengahasilan kotor 100rb….bisa buat beli susu dan biaya sekolah anak…hmmmmmmm…

    3.kalo yg buka lahan parkir berarti bermindset lebih dr semuanya bapak…karena selain membantu mahasiswa dan staff menyediakan parkir yg murah,trus dia membantu keluarganya untuk hidup layak…he..he

  3. 1. Kabarnya di UB yang dikenakan biaya parkir adalah mereka yang “numpang lewat”, sementara karyawan dan dosen tidak dikenakan biaya parkir.

    2. Dengan diberlakukannya aturan baru tentang biaya parkir ini, nantinya pasti akan bisa membuka lapangan kerja baru. Pasti nanti akan ada yg membuka lahan parkir di luar kampus dg tarip lebih murah…….. pasti penuh….hehehe…. siapa mau?

    3. Kalau jadi diterapkan artinya “Yang membayar parkir” memiliki “mindset berkecukupan”, sedangkan yang menarik biaya parkir sebaliknya (….. ^_^ ……???)

  4. 1. Apakah mahasiswa mengetahui Surat Edaran ini, selain itu posisi mahasiswa juga banyak yang tak tahu karena sedang atau sudah selesai ujian dan pada pulang.
    2. Bagaimana dengan para tamu UM. Tamu acara seminar, lokakarya, tamu bagi mahasiswa hingga pak rektor, mereka akan kaget dengan nominal ini sehingga ada kemungkinan nama UM cemar.

    Bagi siapa saja yang berada di gerbang UM pada tanggal 1 Juni dan tidak tahu surat edaran ini, ketika naik roda dua misalnya, coba sekarang anda bayangkan tangan meraih kantung belakang celana, untuk membuka dompet. Dompet dibuka, secara refleks kita sodorkan uang 1000 rupiah. Sembari menunggu momen hening barang sebentar, alam bawah sadar secara refleks membayangkan dua skenario berikut:

    1. menerima karcis parkir beserta kembalian 500 atau 700 rupiah atau,
    2. menerima karcis parkir lalu ada ucapan terima kasih (berarti tidak ada kembalian).

    Belum terlintas skenario ke 3 yaitu :

    satpam berkata, “kurang 2000 rupiah mas”
    mahasiswa menjawab sambil melihat-lihat kendaraannya, “perasaan ini motor pak”
    satpam menimpali, “iya mas, kalau mobil kurang 4000 rupiah”
    mahasiswa pasrah, “oh begitu, terima kasih pak”

    1. mahasiswa membayar
    2. mahasiswa mundur

    kasihan pak satpam, kasihan mahasiswa, coba bayangkan dan tirukan simulasi buka dompet di atas.

    sapi pemerhati

  5. Sebetulnya yang ditulis oleh Pak Djoko Rahardjo itu cukup netral. Apabila di UM ada restribusi parkir maka akan lebih baik tempat parkir yang ada sekarang ini diperluas/dibangun lebih dahulu. Karena kondisi parkir saat ini jauh dari memadai. Khususnya, tempat parkir sepeda motor.

  6. @ekowahyu
    ralat pak.. untuk poin no. 3 mengenai pintu keluar alternatif hanya jalan gombong dan ambarawa, sedangkan jalan surabaya tidak, karena hanya untuk pintu masuk. biar tidak ada protes nantinya, kasihan satpamnya! njee..

  7. Harap dibaca terlebih dahulu dengan cermat SE PR II Tanggal 20 Mei 2011 ini. (karena di sini tidak ditulis lengkap atau dicantumkan SE aslinya, saya ketik ulang biar ga ribet diskusi kusir)

    1. Pelaksanaan Uji Coba akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2011.

    2. Pintu masuk kampus utama adalah Jalan Semarang, pintu masuk alternatif adalah Jalan Surabaya, Jalan Gombong dan Jalan Ambarawa Barat.

    3. Pintu Keluar Utama adalah jalan Semarang, pintu keluar alternatif adalah Jalan Gombong dan Jalan Ambarawa Barat.

    4. Setiap kendaraan yang masuk kampus (khusus dosen, pegawai adminstrasi, dan mahasiswa) akan diberikan Stiker berlangganan yang dipergunakan untuk penanda pada kendaraannya.

    5. Tarif parkir berlangganan untuk roda 2 (dua) Rp. 50.000,00 (Lima Puluh Ribu Rupiah), dan untuk roda 4 (empat) Rp 100.000,00 (Seratus Ribu Rupiah), selama 1 (satu) semester.

    6. Tarif parkir tidak berlangganan Rp. 3.000,00 (Tiga Ribu Rupiah) untuk kendaraan roda 2 (dua), dan Rp 5.000,00 (Lima Ribu Rupiah) untuk kendaraan roda 4 (empat) per sekali parkir.

    7. Semua kendaraan yang keluar kampus akan diperiksa STNK (Surat Tanda Nomor Kendaran) di setiap Pintu (Gate) keluar.

    8. Pintu (Gate) masuk kampus Universitas Negeri Malang akan dibuka Pk. 06.00 WIB dan ditutup Pk. 17.00 WIB, kecuali pintu Utama Jalan Semarang akan ditutup pada Pk. 21.00 WIB.

    (diketik ulang sesuai aslinya)

    =========
    kesimpulan menanggapi dari tulisan yang sudah ada:
    1. Tidak disebutkan tentang ketentuan Masuk Gate (buka pintu gate) membayar

    2. Yang diberikan stiker adalah civitas akademika UM dan ini juga belum dijelaskan lebih lanjut tentang posisi TAMU yang masuk ke UM dan tidak parkir apakah membayar atau tidak jika tidak memiliki stiker.

    3. Ada standar ganda di sini dimana ketentuan tarif parkir non-stiker adalah PER SEKALI PARKIR, namun di sisi lain tidak dijelaskan juga tentang bayar apa tidaknya saat masuk GATE, jangan-jangan nanti sudah masuk GATE bayar lalu di tempat parkir juga bayar, pindah ke tempat parkir lain bayar lagi… kalo sehari kuliah di beberapa gedung yang berbeda bisa dibayangkan Rp. 3000 x sekian sekian…. he he he he

    4. Juga tidak dijelaskan definisi RODA 2 dan RODA 4 secara rinci, apakah Sepeda Pancal termasuk kategori RODA 2 yang terkena tarif Rp 50.000 atau tidak, termasuk Roda 3 dan Roda 6 (Truk, dan sebangsanya).

    semoga analisa saya tidak salah, dan tidak ada konflik horizontal di antara kita

    ekowahyu-fs um

  8. Menurut saya, kalo tarif parkir tidak sesuai standar, maka yang terjadi adalah semakin banyak kendaraan yang parkir sembarangan karena enggan masuk area parkir. hal ini akan semakin membuat semrawut jalanan UM. satpam um akan menjadi lebih sibuk dari biasanya karena menertibkan parkir liar.
    bagaimana UM bisa maju seperti UGM , ITB, ato tetangga dekat kita, UB, bila ngurus parkir aja masih ruwet gini???

  9. @Moch syahri
    1. secara umum parkir berlangganan jauh labih murah ==> YA, jika dibandingkan dg yg tidak berlangganan. Tapi MASIH JAUH lebih mahal drpd tarif parkir UMUM!
    2. sejauh pengetahuan saya, mahalnya tarfi bagi yang tidak berlangganan semata-mata untuk melindungi Um dari orang-orang yang memanfaatkan jalan tembus UM. Bukan rahasia lagi, sejak ada matos, jalan Gombong dan Terusan Surabaya seperti menjadi jalan tol bagi orang luar ==> kalau lewat saja kan nggak mbayar pak. kecuali keluar masuk ada periksa STNK. Yg kita ‘diskusikan’ kan TARIF PARKIR..
    3. mewakili pejabat yang berwenang (he… sok GR), saya mengucapkan banyak terimakasih atas responnya. Respon-respon yang ada menunjukkan bahwa kita masih mencintai lembaga ini. ==> Cinta lembaga sudah mulai dari masuk kok pak..
    4. Sukses selalu, semoga UM tetap jaya ==> Amin

  10. parkir berlangganan menurut sy ide yg bagus,.,.,.,.,.,.tp, kinerja satpam harus lebih ditingkatkan. banyak kendaraan roda 2 yang diparkir sembarangan (tdk di tempat parkir). harus ada denda (kalau bisa ditilang) hehehe

  11. saya sudah baca surat yang di ributkan ini. Parkir berlangganan akan di berlakukan mulai 1 Juni. ada beberapa hal yang perlu di jelaskan
    1. secara umum parkir berlangganan jauh labih murah
    2. sejauh pengetahuan saya, mahalnya tarfi bagi yang tidak berlangganan semata-mata untuk melindungi Um dari orang-orang yang memanfaatkan jalan tembus UM. Bukan rahasia lagi, sejak ada matos, jalan Gombong dan Terusan Surabaya seperti menjadi jalan tol bagi orang luar.
    3. mewakili pejabat yang berwenang (he… sok GR), saya mengucapkan banyak terimakasih atas responnya. Respon-respon yang ada menunjukkan bahwa kita masih mencintai lembaga ini.
    4. Sukses selalu, semoga UM tetap jaya/

  12. mohon dipertimbangkan tarif parkir yang normal saja tidak usah berlebihan. karyaWan/dosen gratis sebagai bentuk perhatian pada kesejahteraan. Kalau fasilitas parkir cekak dengan harga tinggi, akan banyak orang parkir disekitar kampus, jalan sebentar masuk kampus dapat sehat hemat biaya, atau malah tidak jadi masuk kampus gara2 lupa baWa uang parkir…sayangkan…

  13. parkir mobil 5000? Mending ke Matos sajalah… 2000 seharian
    kalau saya gonta-ganti naik mobil & motor bagaimana?

  14. APa semua ini nanti bisa berjalan dengan semestinya?? Kita tunggu saja kelanjutannya, dan Pak Satpam yang menjalankan. Karena kenyataan dilapangan berbeda dengan di SK. Oke

  15. Mengomentari tarif Parkir Kampus yang terlalu mahal, hal ini menumbuhkan gagasan baru bagi warga sekitar kampus UM untuk menyambut peluang usaha PARKIR SEKITAR KAMPUS dengan standar tarif parkir umumnya, Rp. 1.000,- untuk Sepeda Motor, dan Rp. 2.000,- untuk Mobil.

  16. 1. saya merasa kasihan jika orang luar yang masuk ke UM demi kepentinggan ormawa (semisal olimpiade dan sebagainya akan dikenankan biaya parkir yang mahal)
    2. banyak kondisi tempat parkir yang masih belum memadai (semisal d C1 yang belum ada atapnya, parkir pusat yang sesak, dan di parkiran FIP yang hancur lantanya)
    3. sebaiknya jika nilai parkir segitu tingginya, lebih baik jika mengacu pada batasan parkir kota malang, ya katakanlah mobil 2000 dan motor 1000.
    4. untuk pegawai yang pendapatan dibawah UMR kan otomatis kebanyakan tidak memiliki motor, sebaiknya untuk pemotongan ditentukan bagaimana mekanismenya,

    semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi para pengambil kebijakan, sehingga mampu lebih memikirkan keputusan yang baik bagi semua pihak, terimakasih

    angga mahasiswa FIP

  17. moga-moga para pembuat kbijakan membaca masukan dari teman-teman!
    kl ndak.. zo tuas rame!

  18. Aduh…, ternyata SE PR II UM tentang tarif parkir mendapatkan “reaksi” yang cukup hangat. Bagaimana kalau saya menawarkan pada warga UM untuk membeli sepeda motor “Jialing roda 3 (tiga)” karena yang ada tarip parkirnya hanya roda 2 (dua) dan roda 4 (empat).

    Jadi, sepeda motor roda 3 (tiga) tidak membayar biaya parkir alias “gratis”. Ini dagelannya “Ludruk yang Kritis”, hahaha….

  19. KASIHAN sudah di PARKIR kan

    ketika kasihan hanyalah sebuah kata, adalah sebuah perasaan yang tak mampu berbuat “jika aku menjadi”
    kasihan dari ketidak tahuan, kasihan dari ketidak mau tahuan,

    kasihan hamparan rumput, mimpi akut berharap sehijau tetangga kampus
    OH, INSENTIF,… ,OH, KOPERASI,.. KASIHANI KAMI,..yang hampir mampus

    kan kukemanakan sepeda tua ku parkirkan
    halaman sendiripun tak lagi berbelas kasihan

  20. Ikutan nimbrung juga ya Pak Djoko….., saya berpikir mungkin tarif parkir UM sengaja dibuat mahal agar tidak “banyak peminat yang parkir” karena lahan parkir UM yang masih terbatas, sehingga mengurangi desak-desakan parkir sepeda motor seperti selama ini….saya berharap tarif ini hanya sementara sambil menunggu pembangunan lahan parkir yang lebih besar kapasitasnya.

    Staf FS

  21. Tarif parkir yang nggak wajar.. amat sangat mahal…
    Akan lebih mantap kalau jalanan dalam kampus yg masih rusak berat segera dibikin mulus, terutama di jalan Ambarawa hingga sebelah utara gedung J. (masih bagusan jalan kampung), tempat parkir sepeda motor yang terlalu sesak segera diperluas (karyawan akan parkir sepeda motor saja susahnya cari tempat minta ampun).
    Ironis sekali, ‘dirumah sendiri’ harus bayar parkir (yg nggak murah)…
    Semoga UM lebih baik…

  22. Ikut nimbrung pak Djoko,

    Walah … mahaal banget!
    Emangnya UM jalan tol, sehingga tarif masuk UM berkendaraan jadi mahal.
    Usul pak Djoko gimana kalau kita buka lahan parkir di jalan Surakarta dan Jl. Surabaya di luar pagar UM ? dengan tarif sesuai perda Pemkot Malang ( masak kalah sama kafe yang bisa menguasai jl. Lawu belakang Perpustakaan Kota Malang). Dengan demikian orang yang mau masuk UM pakai kaki saja untuk menciptakan UM bebas polusi udara, dari pada pakai kendaraan lewat jl. Ambarawa yang rusak berat itu.

  23. Menanggapi SURAT EDARAN PR II UM NOMOR: 2820/UN32.II/TU/2011 TANGGAL 20 MEI 2011 oleh bapak Djoko Raharjo,
    Menurut saya:
    sebaiknya di pertimbangan lagi besar biaya tarif parkir bagi kendaraan yang tidak berlangganan, karena menurut kami sebagai mahasiswa ini bukan nominal yang kecil, sebaiknya kita juga mempertimbangkan bagaimana dampak dari semua ini. Banyak ORMAWA UM yang sering mengadakan kegiatan-kegiatan besar seperti seminar, Olimpiade, dan kegiatan-kegiatan besar lainya, bisa kita lihat kegiatan-kegiatan tersebut peserta yang dibik tidak hanya mahasiswa dari UM namun juga mahasiswa dari Universitas lain. Seperti kegiatan Olimpiade tingkat SMA sudah pasti pesertanya 100% berasal dari luar UM, tidak menutup kemungkinan kita akan kehilangan peserta dengan alasan parkir UM yang terlalu besar, dan tidak wajar. kalaupun masih ada peserta bisa jadi akan menimbulkan perbincangan diantara mereka yang mampu memperburuk citra UM dimata masyarakat. Bahkan kegiatan besar di Malang saja tarif parkirnya paling mahal mencapai Rp.2000,00 untuk roda 2.

    Sekian suara dari saya. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam pengetikan dan pemilihan kata. Saya harap pendapat saya dapat dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan demi Pencitraan Um yang lebih baik lagi di mata masyarakat luas.
    Wass. wr. wb.

    P. Yustisia W. mahasiswa FMIPA UM

  24. sampai sekarang saya belum membaca edaran itu. adakah yang bersedia mengupload hasil scan surat itu?

  25. Tarip parkir tidak berlangganan jelas amat sangat mahal, termasuk jika dibandingkan dengan parkir di Matos yang jelas-jelas merupakan kawasan bisnis.
    Mudah-mudahan yang tercantum dalam SE itu (3 ribu utk spdmtr dan 5 ribu utk mbl) itu hanya salah ketik. Jika ternyata tidak salah ketik, kasihan betul tamu-tamu kita yang harus membayar biaya parkir yang mahal, padahal TAMU ITU HARUS DIMULIAKAN.
    Mari kita tunggu edaran yang berisi ralat untuk “salah ketik” itu.

  26. Ada beberapa yg ada dibenak saya :
    1. bagaimana dengan PNS yang dapat atau menggunakan mobil/sepeda dinas (plat merah) apa juga dikenakan biaya parkir? kalo nggak, saya juga mau dong pake kendaraan itu? 🙂
    2. biaya parkir kemahalan, mending parkir di Kosabra untuk jl surabaya, di jl surakarta untuk jl semarang dan di matos untuk jl gombong….
    3. jadi tamu di rumah sendiri, sungguh ironis
    4. mending uang parkirnya saya kasihkan ke anak saya untuk beli susu atau bayar lesnya….

    Ifa Nursanti Kepegawaian

  27. @tollo
    betul..betul..betull..
    kasihan Satpamnya yang nantinya berhadapan langsung dengan pengguna kebijakan, mereka akan jadi sasaran kekecewaan dan rasa ketidak puasan.
    Apa ada yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu pada Satpam selaku pelaksana kebijakan seandainya mereka menegakkan peraturan sesuai protap yang telah di tentukan!

  28. apakah solusi ini terbaik untuk menanggulangi masalah kehilangan kendaraan,…………. misal kalo ada kendaraan yang hilang apakah diganti? trims semoga UM lebih baik

  29. biaya parkir vs. biaya bensin dari rumah ke kantor malah besar biaya parkir ….

    ekowahyu-fs um

  30. Menanggapi SE PR II, Nomor 2820/UN32.II/TU/2011 tanggal 20 Mei 2011 tentang penerapan sistem penjualan stiker Parkir di Universitas Negeri Malang:
    1. Apakah ini dampak dari berlakunya BHP Perguruan Tinggi di UM?
    2. Apakah sudah kehabisan cara dalam penggalian dana untuk pengembangan UM yang kaya ini?
    3. Mengapa ikut2an PTN yang lain apa tdk ada ide kreatif yang lain?tapi boleh2 saja asal proporsional.
    4. Mengapa harus PNS Dosen+Pegawai yang sudah mengabdikan dirinya harus dibenani biaya parkir, yang selama ini kita bangga sudah merasa memiliki (sence of belonging) dg UM, harus membayar parkir dirumah sendiri setiap.
    5. Tarif parkir terlalu mahal, karena umumnya sepeda motor Rp 500,- mobil Rp 1.000,-( jika tdk beli stiker)sedang di SE sepeda motor Rp 3.000,- mobil Rp 5.000,- (per sekali parkir), tdk obyektif.
    6. Kurang luasnya lahan parkir dengan jumlah pemilik kendaraan di UM, keamanan juga msh hrs ditingkatkan.
    7. Apakah ini bisa dikatakan pencerminan tujuan 3 pilar UM yang ke 3 yaitu penguatan tatakelola akuntabilitas dan PENCITRAAN PUBLIK menuju otonom Perguruan Tinggi ?
    8. Sekian dulu suaraku, dan suara kita, mudah2an mau mendengar dan tdk marah. Terimakasih.

  31. Kalau saya perhatikan, yang paling utama yang harus di benahi adalah sarana & tempat parkirnya. Coba kita lhat area parkir di FIP, Sastra, Pusat, Teknik, Sabud & MIPA. Saat ini, semuanya sudah tidak layak, mulai dari lantainya yang rusak, atap yang pecah, pos satpam yang seadanya dan masih banyak yang lainnya. Mohon ini diperhatikan kalau ingin mengharapkan pelayanan yang memuaskan!

  32. ada permasalahan yang signifikan dari rencana yang akan diberlakukan, bukan rahasia umum kalau banyak dari teman-teman karyawan kita yang penerimaan gajinya perbulan kurang dari Rp. 50.000,-, bahkan ada yang mines( itu..tu tiap bulan nombok). Nah loo… kalau masih di bebankan biaya parkir berlangganan Rp. 50.000,- perbulan. berarti harus nombok laaaagi..
    Apa nggak sebaiknya karyawan GRATISS aja,,

  33. ada permasalahan yang signifikan dari rencana yang akan diberlakukan, bukan rahasia umum kalau banyak dari teman-teman karyawan kita yang penerimaan gajinya perbulan kurang dari Rp. 50.000,-, bahkan ada yang mines( itu..tu tiap bulan nombok). Nah loo… kalau masih di bebankan biaya parkir berlangganan Rp. 50.000,- perbulan. berarti harus nombok laaaagi..
    Apa nggak sebaiknya karyawan GRATISS aja,,

  34. apa betul pak parkir untuk roda dua Rp3.000,00. Mahal amat! apa tidak akan timbul gejolak di waktu akan datang.

  35. Menanggapi SURAT EDARAN PR II UM NOMOR: 2820/UN32.II/TU/2011 TANGGAL 20 MEI 2011 oleh bapak Djoko Raharjo,
    Menurut saya begini;
    1. Dengan diterapkannya sistem perparkiran berlangganan itu baik baik saja selama tidak terlalu memberatkan pengguna lokasi parkir. Tentunya lokasi parkir “harus” sangat strategis artinya antara ruang/kelas kuliah/kantor tidak terlampau jauh dengan lokasi parkir. Seperti yang selama ini sudah ada.

    2. Disisi lain penerapan SE ini menunjukkan perencanaan tata letak yang tidak terencana dengan baik, mustinya bisa diketahui bahwa jumlah pegawai dan mahasiswa keseluruhan berapa, diasumsikan masing masing mahasiswa dan pegawai memiliki kendaraan baik roda 2 ataupun roda 4, atau bila perlu ada studi kelayakan untuk jumlah pemakai roda 4 berapa persen dan pengguna roda dua berapa persen, hal ini sangat diperlu dilakukan untuk menentukan jumlah dan luasan lahan parkir yang harus disediakan agar semua kendaraan bisa tertampung dengan baik.

    3. Tentunya bagian/instansi terkait masalah perpakiran ini harus paham dan mengerti akan kebutuhan lahan perpakiran yang ada di UM, agar pihak pimpinan dalam mengambil kebijakan terhadap civitas akademik UM khususnya tidak timbul kontro versi dan merugikan pengguna.

    4. Hal terakhir tentunya masalah keamanan kendaraan yang di parkir harus mendapat perhatian dari instansi terkait. Bila benar benar diterapkan sistem perparkiran yang baru tentu harus diimbangi juga dengan keamanan yang terjamin.

    Mungkin itu tanggapan dari saya terkait informasi SE masalah perpakiran di UM.
    Terima kasih.

    Rudi R W FS UM

  36. Yth. Bapak Moch. Syahri

    Biaya parkir berlengganan setiap “semester” untuk roda dua Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) dan untuk roda empat Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah). Yang “tidak mengikuti parkir berlangganan” setiap memasuki (setiap hari/setiap parkir?) kawasan parkir untuk roda dua Rp3.000,00 dan untuk roda empat Rp5.000,00.

  37. saya belum membaca surat itu. Kira-kira berapa biaya parkir nya per tahun Sam?

Komentar ditutup.