+6281555X-marny: Mohon PANITIA SERTIFIKASI GURU UM, bijaksana dlm memutuskan kelulusan peserta se

Mohon PANITIA SERTIFIKASI GURU UM, bijaksana dlm memutuskan kelulusan peserta sertifikasi guru kuota 2008 terutama yg telah mengikuti diklat dan harus ujian ulang 2 kali karena keputsan yg salah bisa mematikan semangat mengajar guru yg bersangkutan tertm yg berstatus swasta, yg mana berimbas terhdp pembelajaran trhdp anak didik. Trimkasih. Kpn pngmumn hasil diklat certfksi trutama yg hrs her,diumumkan?

12 tanggapan untuk “+6281555X-marny: Mohon PANITIA SERTIFIKASI GURU UM, bijaksana dlm memutuskan kelulusan peserta se

  1. KAMI mohon daftar peserta yang lulus fortofolio segera di tampilkan………………………..
    kami semua ingin tahu siapa saja yang lulus,agar perjuangan kami tidak sia-sia………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    KAMI MOHON DENGAN SANGAT.

  2. Mohon panitia sertifikasi meneliti keautentikan data yang dibuat peserta, karena selama ini banyak yang memalsukan data guru khususnya disekolah swasta yang merekayasa SK GTY, dan juga banyak sekali yang berbisnis pembuatan dan penyusunan fortofolio
    bertarif antara 850.000 sampai 2juta rupiah.

  3. wow..wow semua guru disibukkan dengan sertifikasi. Saya kecewa dengan para guru yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik yang embel-embelnya tunjangan profesional yang berlimpah tapi mereka tidak profesional. Ngajar masih seenaknya, bahkan dengan embel-embel telah bersertifikasi, seolah-olah mereka guru senior yang bisa sakkarepe dewe. Mengapa uang negara tidak untuk mengangkat orang-orang yang masih di bawah garis kemiskinan…bukannya saya menolak adanya sertifikasi, tapi seleksi betul guru yang akan disertifikasi agar uang negara benar-benar bermanfaat. dan kontrol terus kinerja guru yang telah mendapatkan tunjangan profesi karena mengajar 24 jam membuat model pembelajaran murid mencatat, guru ngobrol di kantor/kantin berlaku kembali.

  4. MASALAH RIZQI ORA USA DIDOLEI NEMEN-NEMEN SEBAB IKU WES DIJATAH KARO GUSTI ALLOH, SENG PENTING AYO DULUR PODO NYIAPNO KANGGO SANGUNE MATI. MUGO – MUGO KONCO-KONCO PESERTA SERTIFIKASI DI UM DEWENEHI GAMPANG LULUSE, TAPI INGAT LHO YANG SUDAH LULUS SERTIFIKASI DI UNESA TH. 2008 BELUM DAPAT SK, APALAGI TUNJANGANNYA

  5. Saudara Admin/Webmaster yth.
    beginilah Buku-5 halaman 4, berbunyi
    13. Peserta yang lulus mendapat sertifikat pendidik, sedangkan yang tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti ujian ulang sebanyak-banyaknya dua kali.

    sedang di halaman 5, begini:
    UJIAN ULANG
    Ujian ulang diperuntukkan bagi peserta sertifikasi yang tidak lulus uji kompetensi di akhir PLPG. Ujian ulang pada hakikatnya sama dengan ujian pertama yaitu meliputi ujian tulis dan atau ujian praktik. Dalam kondisi tertentu (jumlah peserta dalam rombel sedikit), maka ujian praktik (yang
    belum memenuhi skor minimal) dapat menggunakan kelas lain sesuai dengan kondisi setempat, misalnya melibatkan panitia dan atau instruktur sebagai siswa.

    kurang cetho, yok opo maneh
    tapi kok masih nggak bisa memuaskan peserta ya?

  6. WARNING……!!!!!!!!

    UP: ketua rayon dan ketua pelaksana sertifikasi

    tolong di LIHAT buku panduan PLPG yang telah anda buat sendiri yaitu:

    hal 2 tolong dilihat alur yang tertera dalam work flow
    bahwa setelah melaksanakan diklat harus mengikuti
    ujian, di dalam ujian hanya ada 2 kemungkinan
    LULUS / TIDAK LULUS,

    yang LULUS mendapat sertifikat pendidik,

    yang TIDAK LULUS harus ujian ulang max 2x,
    yang LULUS mendapat sertifikat pendidik
    yang TIDAK LULUS dikembalikan ke Dinas pendidikan,

    ada bebrapa hal yang menurut saya LUCU untuk kapasitas se LEVEL panitia
    1. jika pesrta telah mendapatkan surat panggilan mengikuti PLPG, artinya dia tdk lulus PORTOFOLIO tapi kelengkapan administrasi ( status guru gtt/gty, masa kerja dll) lulus, tapi kenapa setelah mengikuti PLPG dinyatakan tidak lulus tanpa ujian ulang sesuai prosedur, memang status nya GTT tapi dimana tingkat kejelian panitia,,,,,,sampai-sampai yang harusnya tdk lolos portofolio atau mungkin malah di diskwalifikasi tapi tetap di berangkatkan PLPG,……….

    2. ada juga informasi yang tidak lulus karena masakerja kurang…………….kami berangkat mengikuti sertifikasi karena mendapat panggilan dari dinas, kalau memang ada dari kami yang masa kerjanya kurang kenapa kami di panggil………..

    SAYA BUTUH KONSKUENSI DAN TANGGUNG JAWAB MORAL DARI PANITIA

    jadi orang jangan plin plan pak…….

    ojo gur waton ngomong tapi ngomongo nganggo watonan pak……….aturane digawe…….

    tdk sopan saya ngomong begini, smoga itu bisa mengetuk hati anda anda sebagai pemegang kebijakan

  7. Trima kasih Atas tanggapan Bapak , akan tetapi dalam hati saya ketika melihat portofolio kenapa kok tidak lulus pada hal portofolio saya itu masing-masing komponen ada isinya dibanding dengan yang lain, bahkan di kabupaten lain ada guru portofolionya hanya asal-asalan itu juga lulus.

    berikutnya yang perlu saya sampaikan adalah dampak ketidak lulusan saya sebagai kepala sekolah akan berpengaruh kepada guru dan anak didik , ini mohon betul 2 faer.

  8. Guru Profesional, Selayaknya?

    Sudah sekian banyak guru kita mendapatkan predikat guru profesional. Sejumlah di antara mereka telah mendapatkan tunjungan profesional, sebesar satu kali gaji pokok mereka. Dalam hal ini, mereka seharusnya berlaku profesional ketimbang sebelumnya.
    Kegiatan-kegiatan akademis, pengembangan profesi dan pendukung-pendukung profesionalisme guru seharusnya semakin ditingkatkan. Bukan justru mereka tetap seperti “yang dulu”. Dulu kurang rajin, sekarang harusnya rajin; dulu rajin, sekarang harus lebih rajin. Ya, rajin dalam segala hal sebagaimana dituntutkan kepada seorang profesional. Bila mereka kerja hanya sekadarnya saja, profesionalisme yang diharapkan bisa jadi profesionalisme semu, yang pada gilirannya, tak bisa mengantarkan anak bangsa maju dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain.
    Komponen-komponen dalam portofolio seperti pendidikan dan pelatihan, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, prestasi akademik, pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, organisasi di bidang pendidikan dan sosial, bisa dijadikan pedoman untuk meningkatkan profesionalisme guru.
    Pendidikan dan pelatihan hendaknya tetap diikuti tanpa mengorbankan kepentingan peserta didik.Sering kita dengar, bahwa sejumlah guru kita sering meninggalkan tugas utamanya untuk diklat. Peserta didik ditinggal begitu saja tanpa ada koordinasi dengan kawan-kawan guru mata pelajaran yang sama. Akibatnya, peserta didik terabaikan. Mereka tak mendapatkan pengajaran selama guru mereka mengikuti diklat. Diklat yang pelaksanaanya jauh dari sekolah, hendaknya tidak hanya diikuti yang orang yang sama. Digilir agar semua guru mata pelajaran yang sama menikmati “enaknya” diklat. Tidak hanya itu-itu saja yang berangkat diklat.
    Kegiatan pembelajaran dilakukan atas perencanaan yang baik; kegiatan ini perlu didukung oleh pengetahuan yang memadai. Bila selama ini pengetahuan atau penguasaan terhadap materi ajar dirasa kurang, maka sudah selayaknya mulai sekarang diperbaiki atau ditingkatkan dengan banyak membaca buku-buku teks atau referensi pendukung lainnya. Hanya dengan car ini, pengetahuan dan penguasaan materi ajar bisa ditingkatkan. Mau profesional? Bila mau, guru harus banyak membaca dan kalau perlu menulis. Menulis apa saja. Syukur-syukur menulis buku ajar.
    Prestasi akademik bisa dicapai dengan cara mengikuti lomba akademik. Biasanya lomba akademik ini didasarkan pada penulisan karya ilmiah. Nah, bila kemampuan menulis guru kurang atau bahkan tidak ada, akan sulitlah dia mendapatkan atau menggapai prestasi akademik. Kemampuan menulis ini akan mendukung guru untuk melakukan kepembimbingan terhadap teman sejawat: menjadi instruktur, tutor atau pemandu kegiatan akademik. Kemampuan menulis juga bisa mengantarkan guru untuk mengembangkan profesionalisme, dengan cara menulis buku, artikel, melakukan penelitian dan lain-lain.
    Bila di masa lalu, para guru belum dapat tunjungan profesi, mungkin sedikit susah untuk mengembangkan diri. Boro-boro beli buku teks, koran atau majalah. Mungkin untuk memenuhi keperluan pokok saja, susah. Kini, bagi mereka yang sudah dapat tunjangan profesi, tentu tak ada alasan untuk tidak mampu mengeluarkan biaya guna mengembangkan diri. Namun, menurut informasi, atau semacam kabar burung, uang tunjangan profesi, justru untuk beli TV, kendaraan, atau untuk keperluan konsumtif lainnya. Waduh, bisa-bisa profesionalisme mereka, bisa luntur.
    Semoga guru profesional kita, benar-benar bisa mempertahankan dan kalau perlu meningkatkan profesionalisme-nya. Semoga!

  9. Anda harus percaya terhadap lembaga sekaliber UM. Walaupun saya bukan alumnus UM, saya kagum dengan UM. UM itu salah satu PT yang bagus lho. Pihaknya banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan PT-PT lain, khususnya berkait dengan penerbitan jurnal ilmiah. Barusan saya mengikuti pelatihan tentang penyuntingan dan pengelolaan jurnal ilmiah. Pematerinya ramah-ramah dan baik serta kompeten. Saya salut dengan UM.
    Bila tidak lulus sertifikasi, tolong jangan UM yang dipersalahkan. Kembalikan kepada diri kita masing-masing, apakah kita ini sudah layak menjadi guru profesional. Orang yang profesional tidak akan menyerah begitu tidak lulus sertifikasi. Tunjukkan dulu dedikasi kita dalam upaya penyerdasan anak bangsa. Jangan lalu loyo dan tidak bersemangat mengajar lantaran tidak lulus sertifikasi. Berat lho, menyandang status guru profesional. Kalau setelah menyandang status profesional kita justru tidak berlaku profesional, berarti kita mengingkari profesionalitas kita sendiri. Menurut anda?

  10. Yth. Pak Daim,
    Walaupun saya bukan orang yang terlibat dalam pelaksanaan DIKLAT SERTIFIKASI GURU Rayaon 15 Malang, saya tergerak untuk memberikan komentar terhadap surat Bapak.
    Bahwa sertifikasi guru didahului dengan pemeriksaan portofolio yang dikirim oleh peserta. Bila skor memenuhi syarat (saya kira Bapak sudah paham betul mengenai syarat kelulusannya), maka yang bersangkutan pasti dinyatakan LULUS. Bila ketentuan-ketentuan terpenuhi, tidak ada alasan untuk menyatakan TIDAK LULUS. Ternyata, Bapak dan kawan-kawan tidak memenuhi ketentuan sehingga harus mengikuti DIKLAT.
    Dalam DIKLAT, tentua berlaku ketentuan-ketentuan Diklat. Lulus atau tidaknya juga tergantung apakah yang bersangkutan itu memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku.
    Walaupun portofolio kawan Bapak itu sederhana (mungkin skor rendah), yang pasti bila yang bersangkutan ikut Diklat, maka yang bersangkutan punya kesempatan untuk berhasil dalam Diklat. Saya yakin, kawan Bapak itu memenuhi segala persyaratan untuk lulus DIKLAT. Sekadar diketahui, bahwa ada sejumlah komponen DIKLAT: PPG, PENDALAMAN MATERI, MODEL PEMBELAJARAN, PEER TEACHING. Penguasaan teori dan praktik menentukan berhasil atau tidaknya peserta dalam DIKLAT.
    Mungkin saja, kawan bapak tadi (walau portofolip dan masa kerjanya belum lama) memenuhi pesyaratan lulus DIKLAT. Kelulusan diklat bukan didasarkan pada lamanya menjadi guru tetapi pada pemenuhan hal-hal yang dipersyaratkan dalam diklat itu sendiri.
    Instropeksi diri kita masing-masing, apakah performansi dalam diklat kita itu “layak” mengantarkan kita untuk menjadi guru profesional?
    Salam,

  11. kepada
    Yth.Bapak Pimpimpinan Sertifikasi Rayon 15 Malang
    di Malang

    Assalamualaikum wr.wb

    Salam Silaturrohim kami sampaikan kepada Bapak Pimpinan semoga selalu mendapatkan hidayah dari Alloh SWT, amin

    Perlu kami sampikan kepada Bapak pimpinan bahwa sekolah kami SMP Islam Sunan Gunung Jati Ngunut pada tahun 2008 telah disertifikasi sejumlah 5 orang dan itu semua telah mengikuti diklat , akan tetapi setelah pengumuman keluar tanggal 22 Januari 2009 ternyata hanya satu guru yang lulus dan itu adalah guru yang masa kerjanya paling muda di banding yang lain disamping itu portofolionya itu juga sangat sederhana sekali dibanding 4 orang termasuk saya( kepala Sekolah ) juga tidak lulus. ini mohon untuk ditinjau kembali apa memang sudah benar, Saya kawatir lembaga bapak nanti akan tercemar ini guru sudah mulai mewacanakan nanti akan melapor ke mentri pendidikan Nasional.

    Demikian mohon segera ditindak lanjuti, sekian

    Wassalam.
    Kepala Sekolah

    TTD
    AHMAD DAIM

  12. sudahlah bapak percaya pada UM, dan selalu berserah pada Tuhan Yang Maha Kuasa. kalau memang sudah rejeki tidak akan lari kemana gitu lho !!!!!

Komentar ditutup.