Banyak Komentar Belum Diterbitkan di SUARA KITA dan BERKARYA

Informasi untuk pengelola SUARA KITA dan BERKARYA.

Kondisi 15 Januari 2012 di SUARA KITA

1. Ada 4 komentar ditangguhkan bertanggal 14 Nov, 1 Des, 14 Des, 31 Des. Semua komentar layak diterbitkan.

2. Ada 1 komentar spam bertanggal 13 Jan. Komentar ini memang spam.

3. Ada 31 komentar di tong sampah bertanggal 11 Agu – 6 Des. Ada 24 komentar yang layak diterbitkan.

 

Kondisi 15 Januari 2012 di BERKARYA

1. Ada 20 komentar ditangguhkan bertanggal 9 Jan – 15 Jan. Semua komentar layak diterbitkan.

2. Ada 10 komentar spam bertanggal 31 Des – 14 Jan. Ada 7 Komentar layak diterbitkan.

3. Ada 16 komentar di tong sampah bertanggal 27 Jul – 11 Jan. Ada 13 komentar layak diterbitkan.

 

SARAN: Seandainya ada komentar yang tak layak diterbitkan atau memang spam maka sebaiknya komentar-komentar seperti itu memang dihapus, jangan dibiarkan terus menumpuk dalam status ditangguhkan, spam, atau tong sampah.

Seandainya pengelola membutuhkan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi saya melalui HP atau email: johanisar@ymail.com.

Malang, 15 Januari 2012

Johanis Rampisela

Dosen Fisika FMIPA UM

 

 

10 tanggapan untuk “Banyak Komentar Belum Diterbitkan di SUARA KITA dan BERKARYA

  1. KOMENTAR INI 5 KALI DICEKAL. Kasubag ataukah Kepala Pusat TIK yang mencekal? Atas dasar apa? JIKA TULISAN INI TIDAK BENAR, PUSAT TIK DAPAT MENGGUNAKAN HAK JAWAB MELALUI KOMENTAR?

    Inilah tulisan saya yang DICEKAL oleh Pusat TIK dan tidak diterbitkan di BERKARYA.

    Mengapa Lelang Bandwidth UM Tahun 2012 GAGAL?

    Status Lelang Bandwidth UM Tahun 2012

    a. Pada tanggal 29 November 2011, UM telah menetapkan salah satu ISP sebagai penyedia bandwidth 32 Mbps berupa campuran domestik dan internasional dengan nilai Rp 660 juta (sumber http://www.um.ac.id/procurement/2011/11/194/).

    b. Pada tanggal 19 Januari 2012, UM mengumumkan bahwa lelang penyediaan bandwidth 32 Mbps berupa khusus Internasional, GAGAL karena semua perusahaan yang ikut dalam pelelangan tidak memenuhi persyaratan administrasi atau teknis (http://www.um.ac.id/procurement/2012/01/196/).

    Mengapa Lelang Bandwidth GAGAL?

    1. RENCANA PUSAT TIK

    Dalam RAPAT KOORDINASI 12 Desember 2011 (sumber: http://tik.um.ac.id/?p=852), Kepala Pusat TIK menyampaikan bahwa:

    a. Peristiwa putusnya kabel jaringan dari PT Telkom yang mengakibatkan terganggunya koneksi internet menunjukkan ketergantungan kita bila satu ISP saja.

    b. Bandwidth yang tersedia sekarang 32 Mbps, pada 2012 akan diusahakan 2X-nya tetapi tidak pada satu perusahaan ISP saja, melainkan yang berbeda dengan syarat yang lebih besar dan mempunyai 5 koneksi internasional.

    Analisis

    a. Pada saat Rapat Koordinasi 12 Desember 2011, salah satu ISP telah ditetapkan sebagai pemenang lelang bandwidth yang pertama pada tanggal 29 November 2011. Rencana Pusat TIK adalah lelang kedua tidak boleh dimenangkan oleh ISP yang sama.

    b.Pada tanggal 13 Januari 2012, dokumen penawaran lelang kedua dibuka dan ISP yang sama, lolos persyaratan administrasi dan mengajukan harga terendah. Agar ISP yang sama tidak menang maka satu-satunya kemungkinan adalah menggagalkannya melalui persyaratan teknis.

    2. PERSYARATAN TEKNIS LELANG

    Ada perbedaan dalam penafsiran persyaratan teknis lelang antara Tim Teknis dengan Peserta Lelang. Bertindak sebagai Tim Teknis adalah Kepala Pusat TIK (sumber http://tik.um.ac.id/?p=884). Persyaratan teknisnya tertulis:

    a. ISP mempunyai jalur sambungan langsung komunikasi international sendiri dan tidak menyewa atau menggunakan operator komunikasi internasional lainnya setidaknya ke lima negara yang mewakili kawasan Asia dan Trans-Pasific (nilai tambah jika mencakup Eropa) melalui jaringan serat optik yang ditunjukkan oleh dokumen teknis koneksi-koneksi tersebut.

    b. ISP mempunyai regional peering dengan sedikitnya lima negara yang mewakili kawasan Asia dan Trans-Pasific (nilai tambah jika mencakup Eropa) melalui kabel serat optik yang ditunjukkan dengan dokumen kerjasama dengan peering tersebut.

    Analisis

    a. Tim Teknis mengartikan bahwa sambungan langsung komunikasi internasional berarti memiliki kabel langsung ke China dan tidak melalui Hongkong, langsung ke Jerman tidak melalui Malaysia. Peserta Lelang mengartikan bahwa hal itu bisa. Peserta Lelang juga mempersoalkan tuntutan yang sedemikian tingginya bahkan UI, ITB, UGM, Gunadarma, IPB, dan Unpad tidak menuntut persyaratan setinggi itu.

    b. Ada Peserta Lelang yang sudah lolos persyaratan administrasi mengajukan bahwa ada 7 peering yaitu ke Singapore, Malaysia, Korea, Hongkong, USA, China (via Hongkong), Jerman (via Malaysia).

    c. Peserta Lelang yang memiliki 7 peering dan kemudian 2 peering ditolak dengan alasan bukan sambungan langsung, masih memiliki 5 peering. Peserta Lelang ini tidak mengerti mengapa mereka dinyatakan gagal padahal mereka memenuhi persyaratan teknis.

    d. Saya berpendapat bahwa penafsiran sambungan langsung oleh Tim Teknis terlalu tinggi karena untuk negara yang jauh, sangat sulit untuk menarik kabel serat optik secara langsung. Selain itu, apa gunanya jika sambungan langsung hanya ke negara tetangga tetapi sambungan ke Amerika dan Eropa (yang penuh dengan isi) saja tidak ada?

    SARAN

    a. Gangguan Internet sepanjang tahun 2011 yang disebabkan oleh ISP adalah 7,5 jam. Berdasarkan data tersebut, UM tidak perlu didukung dua ISP karena gangguan tersebut hanya 7,5/24 x 1/365 x 100 = 0,09% per tahun (spesifikasi teknis memberi toleransi sampai dengan 1%). Jika menggunakan dua ISP maka diperoleh 32 Mbps x 2 = 64 Mbps dengan biaya Rp 660 juta x 2 = Rp 1,32 M. Bandingkan jika hanya menggunakan satu ISP maka diperoleh 112 Mbps dengan biaya yang sama.

    b. Jika memang UM memaksakan diri untuk memakai dua ISP maka harus diatur cara lelang yang profesional yang memang mempersyaratkan ada dua ISP. Selain itu, jika itu memang dimaksudkan sebagai cadangan maka keduanya harus memiliki jalur domestik dan internasional. Jangan seperti sekarang ini (lelang pertama campuran domestik dan internasional, dan lelang kedua khusus internasional) karena jika hasil lelang pertama mati maka UM juga tidak bisa mengakses domestik (misalnya Google) karena pada bandwidth yang kedua hanya bisa mengakses internasional.

    c. UM rugi Rp 462 juta per tahun dengan cara lelang saat ini. Hal ini disebabkan karena pada lelang pertama UM memesan 32 Mbps bandwidth campuran domestik dan internasional sedangkan pada lelang kedua memesan 32 Mbps bandwidth internasional saja. Jika lelang ini dilakukan maka akan terjadi kesulitan teknis dalam pengelolaannya sehingga akibatnya bandwidth internasional pada lelang pertama tidak akan dipakai sehingga UM rugi sebesar 70% x Rp 660 juta = Rp 462 juta.

    d. Kebutuhan bandwidth dan spesifikasi teknis hendaknya direncanakan dengan baik termasuk teknis pelaksanaan. Ide untuk penyusunan sebaiknya mendengarkan dari pihak penyedia jasa internet dan teknisi. Persyaratan peering mungkin perlu dikembangkan bukan hanya ke beberapa negara tetapi juga ke penyedia isi (misalnya Google, YouTube, Facebook, Yahoo).

    d. Sebaiknya diadakan EVALUASI ULANG, bukan lelang ulang. Evaluasi ulang terhadap persyaratan teknis perlu dilakukan agar kebenaran ilmu dapat ditegakkan, rasa keadilan dipenuhi, dan hubungan kemitraan yang saling menghormati dapat dirasakan oleh Peserta Lelang. Jika ini tidak dilakukan maka UM akan kehilangan kehormatannya di mata Peserta Lelang dan membuka peluang untuk digugat.

    Semoga UM dapat mengambil jalan yang terbaik.
    Malang, 24 Januari 2012
    Johanis Rampisela (Dosen Fisika FMIPA UM)

  2. Kalau tulisan usulan dan saran untuk membawa kepada pilihan terbaik buat UM seperti ini yg dengan “terpaksa” menjadi sebuah komentar itu ibarat memecahkan kaca.
    Saat kita berada di depan kaca kemudian melihat ada noda lumpur/kotoran yang menempel di wajah kita, tentunya kita akan dengan segera membersihkan noda tersebut dari wajah kita. Sehingga wajah kita akan menjadi indah dan enak dipandang, bukannya lantas kita marah dan kemudian memecahkan kaca tersebut karena telah menunjukkan ada noda di wajah kita.

  3. Kalau sumbangan tulisan dan saran untuk pilihan terbaik yang kemudian tulisan tersebut “terpaksa” menjadi komentar seperti di bawah ini maka ini ibarat kaca yang dipecah.
    Saat kita melihat wajah kita yang terkena noda lumpur sehingga kelihatan menjadi jelek, tentunya kita akan segera membersihkan wajah kita itu dari noda lumpur yang ada dan menjadi bersih, bukannya memecahkan kaca yang telah menunjukkan noda di wajah kita itu.

  4. @Johanis Rampisela

    Dari tulisan bapak ini saya berterima kasih atas aktifnya bapak kembali dalam web suara ini, saya merasakan adanya kekecewaan yang sangat pada website ini. Komentar yang dulu mudah untuk terbit kini menjadi sulit untuk diterbitkan dan tidak ada update sama sekali. Saya sudah sekarang menjadi malas untuk berpartisipasi menulis aktif disini, bayangkan saja jika tulisan saya itu penting dan baru 2 atau 4 haru diterbitkan sedangkan berita tersebut sudah tidak hanggat lagi. Saya berharap dengan adanya website suara ini menjikan kampus um bukan kampus cuek, tak menghiraukan suara yang bisa dijadikan evaluasi.

    Indonesia besar dan tanggu itu karena kritik, dan kritik disini adalah untuk membangun dan menjadikan baik, kemudian GRATIS karena kita cinta dengan kampus UM. Bayangkan saja jika UM harus membayar komentator untuk memberikan evaluasi, berapa yang harus dikeluarkan kampus untuk membayarnya??

    Terima Kasih,
    DEDI MUKHLAS
    TEP FIP UM 09

  5. Sampai dengan komentar ini dimuat, pengelolaan komentar di SUARA KITA dan BERKARYA masih belum dilakukan dengan baik.

    Salah satu contoh komentar yang tidak sesuai adalah komentar dari “aktivis mahasiswa” untuk tulisan ini. Mestinya komentar ini tidak perlu diterbitkan oleh Pusat TIK.

    Mudah-mudahan saja Pusat TIK sebagai pengelola sempat membaca tulisan dan komentar ini untuk kemudian melakukan perbaikan.

    Jika ada kritik berupa komentar atau tulisan, baik itu ditujukan untuk unit lain ataupun Pusat TIK, maka seharusnya komentar/tulisan itu diterbitkan lalu dijawab oleh unit atau Pusat TIK. Itulan yang namanya HAK JAWAB. Jangan seperti tulisan saya di BERKARYA tentang “Mengapa Lelang Bandwidth UM Tahun 2012 GAGAL?” yang belum diterbitkan sampai sekarang karena tulisan tersebut mengungkapkan hal-hal yang sesungguhnya terjadi dan tulisan memberi saran untuk mengatasi hal tersebut.

  6. Sampai dengan komentar ini dimuat, pengelolaan komentar di SUARA KITA dan BERKARYA masih belum dilakukan dengan baik.

    Salah satu contoh komentar yang tidak sesuai adalah komentar dari “aktivis mahasiswa” untuk tulisan ini. Mestinya komentar ini tidak perlu diterbitkan oleh Pusat TIK.

    Mudah-mudahan saja Pusat TIK sebagai pengelola sempat membaca tulisan dan komentar ini untuk kemudian melakukan perbaikan.

    Jika ada kritik berupa komentar atau tulisan, baik itu ditujukan untuk unit lain ataupun Pusat TIK, maka seharusnya komentar/tulisan itu diterbitkan lalu dijawab oleh unit atau Pusat TIK. Itulan yang namanya HAK JAWAB. Jangan seperti tulisan saya di BERKARYA tentang “Mengapa Lelang Bandwidth UM Tahun 2012 GAGAL?” yang belum diterbitkan sampai sekarang karena tulisan tersebut mengungkapkan hal-hal yang sesungguhnya terjadi dan tulisan memberi saran untuk mengatasi hal tersebut.

  7. kami mendengar kasak-kusuk di UM tentang rencana sekelompok mahasiswa dan sekelompok oknum-oknum di UM ingin merusak sistem demokrasi menjadi DEMOCRAZY, DENGAN CARA PRESURE DAN PEMAKSAAN UNTUK MEMBALIKKAN FAKTA DEMOKRASI YANG TELAH BERJALAN, TERUTAMA PEMILIHAN DEKAN FIP, DEKAN MIPA, PR1 DAN PR3. SUNGGUH SEBUAH MALAPETAKA/BENCANA BESAR BUAT UM JIKA HAL ITU SAMPAI TERJADI. KARENA UM DENGAN MOTTONYA THE LEARNING UNIVERSITY AKAN TERNODAI DI KANCAH LOKAL (UM) MAUPUN NASIONAL. SBG MAHASISWA KEMBALI KAMI MENGINGATKAN JUGA KPD REKTOR UNTUK TIDAK GEGABAH DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN PENTING UNTUK KEBERLANGSUNGAN UM KEDEPAN. SALAM DEMOKRASI

  8. Baru saja saya melihat pada artikel Berkarya: Prediksi 10 Besar Webometrics Indonesia Januari 2012 ada komentar dari Mr. Lincoln: Halo, Apakah Anda membutuhkan pinjaman apapun? di sini adalah kesempatan Anda untuk mendapatkan pinjaman,…

    Nah tentu saja Pengelola Berkarya seharusnya tidak menyetujui komentar ini. Komentar perlu dibaca sebelum disetujui.

Komentar ditutup.