Bedol Kampus atau Ekspansi Kampus?

Seiring dengan mandat yang diberikan pemerintah sehingga IKIP Malang berubah menjadi Universitas maka mestinya diperlukan penambahan sumberdaya yang secara teoritis menjadi dua kali lipat. Maksudnya jika dahulu UM hanya mengelola mahasiswa kependidikan maka sekarang juga mengelola nonkependidikan. Selain itu terjadi fenomena penambahan fakultas dan prodi baru yang tentu semakin menambah sesaknya kampus UM.

Pada tingkat jurusan yang mengelola kependidikan dan nonkependidikan sudah terasa kesesakan itu manakala datang alat laboratorium untuk keperluan riset. Semasa masih IKIP peralatan-peralatan laboratorium fungsinya adalah untuk keperluan pendidikan saja dan bukan untuk riset sehingga penyimpanannya tidak terlalu kritis. Nah untuk peralatan keperluan riset maka perawatan sangat kritis karena alat-alat tersebut harganya mahal sehingga perlu ruangan khusus, misalnya ber-AC, tegangan harus super stabil, dan seterusnya.

Selain itu ketika saya berkunjung ke ITS dan UGM, gedung jurusan fisika UM dimana saya bekerja ukurannya ternyata hanya 1/3 dari gedung mereka, padahal mereka hanya mengelola mahasiswa nonkependidikan, sementara kita mengelola dua kelompok mahasiswa.

Dari kondisi di atas saya sering berkeinginan bagaimana kalau UM bedol kampus dan merancang gedung-gedung sesuai dengan kondisi real kebutuhan masa kini dan mendatang sebagai sebuah universitas. Artinya dalam perancangan sudah memikirkan fakultas, jurusan, dan prodi yang akan kita miliki kelak. Sebagai contoh misalnya jika di masa mendatang perlu pendirian fakultas kedokteran, maka sudah dipikirkan pula lokasi rumah sakit pendidikannya, dan seterusnya. Juga jika nantinya semua jurusan di fakultas teknik membuka non kependidikan maka alokasi gedung dan ruang juga dialokasikan.

Jika bedol kampus dirasa berat maka cara lain adalah ekspansi kampus dengan mengembangkan kampus kedalam berbagai wilayah di kota atau kabupaten Malang, seperti Unair atau UI.

Dari perbincangan dengan beberapa orang ketika saya wacanakan bagaimana kalau UM bedol kampus, walau ada yang setuju namun rata-rata masih ragu-ragu atau kurang setuju dan masih memilih tetap di Jl Semarang dan solusi tentang kurangnya gedung adalah dengan membangun gedung bertingkat.

Menurut saya masalah kurangnya sarana gedung yang sesuai adalah sesuatu yang harus dipikirkan solusinya mulai sekarang, tidak perduli apakah nanti memilih bedol kampus atau ekspansi kampus, harapannya solusinya tidak tambal sulam. Untuk itu setiap jurusan dan prodi seharusnya sudah punya visi kondisi masa depan dan sudah memiliki gambaran kebutuhan gedungnya seperti apa.

Satu tanggapan untuk “Bedol Kampus atau Ekspansi Kampus?

  1. apapun namanya demi perluasan ,perbaikan, penyempurnaan akademik tercint ini….monggo…
    tapi pelu dipikirkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan…..
    jangan asal main tebang main terjang kawasan…. amdal harus diperhatikan …jangan kering gersang.. takada kawasan hijau…. taman….hutan biologi yg hanya sekkelumit habis terbabat….hati2 kawasan resapan ….bahkan biologi ga ada hijauan……….di j gombong trotoar masak nabrak pohon…. walah gimana ini….pohon peneduh pinggir … ditabrak… yang jalan harus manjat?…mohon pemikiran lb lanjut …….kampus hendaknya nyaman dan aman serta indah serasi…..

Komentar ditutup.