5 Alasan Kenapa Pengalaman Mahal

Pengalaman setiap manusia jelas berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan itula yang menjadikan pengalaman itu perlu disharing atau dibagi dengan orang-orang sekitar kita. Banyak orang yang sukses namun tidak mau membagikan pengalamannya kepada sesamanya. Padahal kita tau pengalaman hanya akan kita bawah mati. Tapi setelah membaca beberapa alasan kenapa alasan itu mahal, mungkin kita bisa memaklumi orang tidak berbagi pengalamannya.

Berikut alasan kenapa sebuah pengalaman itu berharga:

  1. Textbook hanya bisa memuaskan lapar intelektual
    ketika sang pemimpin menghilang begitu saja, semua gajah menjadi kebingungan. Mereka terdiam tanpa tahu kemana arah yang harus mereka ambil untuk menuju oasis baru. Bertanya? Kepada siapa? Membaca? Atas buku apa? Manusia beruntung karena bisa bertanya. Manusia juga beruntung karena bisa membaca buku. Namun dibalik keuntungan itu, manusia menghadapi resiko besar. Jika bertanya, belum tentu orang yang ditanya tahu jawabannya. Dan jika membaca textbook, belum tentu textbook itu sejalan dengan realitas hidup. Lewat textbook kita hanya bisa memuaskan lapar intelektual. Namun kita tidak bisa merasakannya dengan hati, kulit, tangan, kaki, keringat, atau air mata. Padahal pengalaman adalah tentang sensasi yang pernah dirasakan oleh sekujur tubuh kita. Jadi, bacalah textbook. Tetapi jangan terlalu cepat puas dengan isinya.
  2. Pengalaman tidak bisa didelegasikan
    Banyak orang yang terlalu sering mendelegasikan hal-hal penting kepada orang lain. Lebih parahnya lagi, banyak anak buah yang ‘mendelegasi’ tugas-tugas penting kepada atasannya. Lho, kok bisa? Ya bisa. Jika ada tugas penting, mereka tidak mengambil tanggungjawab. Nanti saja kalau sudah ada atasan; ‘itu bukan tanggungjawab saya’. Atau, ‘gaji saya tidak termasuk mengerjakan tugas itu’. Kalau ada penugasan penting, sebisa mungkin menghindar saja. Biarkah teman lain yang menanganinya. Padahal, ada aspek-aspek kritis dalam jabatan dan posisi kita yang harus kita ambil peluangnya untuk menjadi pengalaman berharga. Sekalipun ada banyak orang dalam satu level jabatan, tetapi kita selalu bisa menemukan salah satu dari mereka yang mengungguli kolega lainnya. Keunggulan itu pasti tidak didapatkannya dengan mendelegasikan kepada orang lain, melainkan dari ‘mengalaminya’ sendiri. Jadi pupuklah pengalaman sebanyak dan sebaik mungkin. Karena pengalaman tidak bisa didelegasikan.
  3. Bayarlah harganya secara penuh
    Anda tidak bisa membeli setengah perangkat pesawat televisi, misalnya. Atau setengah tube pasta gigi. Anda harus membeli ‘1 unit’ dengan harga penuh. Anda yang hanya mau membeli setengahnya jangan harap bisa mendapatkannya. ‘take it all, or leave it alone’. Untuk membeli sebuah pengalaman tidak mesti begitu. Kita boleh membeli ‘sebagiannya’ atau ‘seutuhnya’. Terserah anda. Jika anda hanya ingin ‘seperempatnya’ saja juga boleh. Anda bisa mendapatkannya hanya dengan ‘titel jabatan anda’ tanpa melakukan hal-hal bermakna selama menduduki jabatan itu. Makanya ada orang-orang yang sudah bertahun-tahun menduduki jabatan penting tertentu tetapi kualitas dirinya tidak mencerminkan tingginya jabatan yang disandangnya. Atau, anda bisa membelinya secara penuh. Caranya? Manfaatkanlah jabatan atau posisi apapun anda saat ini untuk melakukan tindakan-tindakan yang bernilai tinggi. Baguskan prestasi anda. Sempurnakan kualiatas kerja anda. Maka anda akan mendapatkan pengalaman itu seutuhnya. Karena hanya dengan semua hal itu anda bisa membayar harganya secara penuh.
  4. Pengalaman berharga seringkali ada di tempat lain
    Coba perhatikan betapa banyak orang yang hanya melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang hingga belasan atau puluhan tahun. Salahkah itu? Tidak salah jika memang ingin membangun keahlian dibidang itu saja sampai masa pensiun tiba. Tetapi jika ada perasaan bosan, atau menginginkan hal lain padahal masih ngendon saja diposisi yang sama; pasti ada yang salah. “masalahnya saya tidak diberi kesempatan untuk pindah departemen,” ini adalah alasan klise yang sering kita dengar. Itukah yang menghalangi kita dari pengalaman berharga untuk meningkatkan kapasitas diri kita? Tidak. Sejauh yang saya tahu, jika kita bersedia bekerja extra, memberi lebih banyak waktu, bekerjasama dengan orang lain, membuka diri dengan penugasan dan pekerjaan baru, mengulurkan tangan untuk menawarkan bantuan; maka kita punya kesempatan yang sama untuk ‘membeli’ pengalaman itu. Dengan cara itu, kita bisa belajar dan mengembangkan diri lebih cepat dan lebih luas dibandingkan kolega-kolega kita yang lainnya.
  5. Nikmati saat menjalani keadaan yang paling menyulitkan
    Tidak disangka-sangka, pemimpin gajah itu datang lagi. Setelah semua kesulitan yang dialami oleh semua anggota kelompok, dia datang sama misteriusnya dengan ketika dia menghilang. Semua anggota kelompok sekarang kembali bersuka cita. Tetapi, pemimpin gajah itulah yang paling bahagia. Karena sekarang dia memiliki calon pengganti yang bisa diandalkannya jika suatu saat nanti dia harus benar-benar ‘pergi’. Tidak disangka, seekor gajah pun memahami makna suksesi. Dia tahu jika pemimpin pengganti haruslah gajah yang kemampuan memimpinnya sudah teruji. Saat dia tahu kebanyakan gajah sering bersembunyi dibalik ketiak pemimpinnya, dia pergi sebelum sampai di oasis yang baru. Dengan cara itulah calon pemimpin berikutnya menunjukkan kemampuannya dihadapan para gajah lain yang hanya cocok untuk menjadi pengikut saja. Dalam karir, mungkin anda menghadapi masa-masa sulit. Bahkan atasan anda membiarkan kesulitan itu melumatkan sekujur tubuh dan meremukkan tulang belulang anda. Janganlah menyalahkan atasan anda. Karena boleh jadi, sesungguhnya anda sedang diawasi oleh mata yang tidak terlihat.

Sumber: Teknologi Pendidikan Indonesia

Dedi Mukhlas

Seorang Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang Berkembang dari Mahasiswa TEP UM dan Bekerja Karena Kecintaan akan Lembaga Universitas Negeri Malang (UM). I Like Technology for Education | Master Konsultan Internet Pendidikan. Terima Kasih

4 tanggapan untuk “5 Alasan Kenapa Pengalaman Mahal

  1. benar..saya setuju..
    haha..kita dapat belajar banyak dari sebuah pengalaman..
    tapi tidak harus dengan pengalaman sendiri bukan?
    kita pun bisa belajar dari pengalaman teman atau rekan-rekan kita..

    -adi-

Komentar ditutup.