MODERASI DAN EDITING vs PEMBERANGUSAN

Moderasi pada dasarnya adalah kegiatan untuk memandu, mengatur, dan menengahi komunikasi interaktif, lisan atau tulis. Tujuan moderasi adalah agar komunikasi interaktif berlangsung secara jujur, adil, dan sesuai dengan koridor hukum, tatakrama, serta kesantunan. Editing merupakan kegiatan menyunting tulisan baik menyangkut bahasa maupun isi tulisan. Tujuannya agar tulisan itu mudah dipahami dan juga tidak melanggar hukum, tatakrama, serta kesantunan.
Moderasi dan editing memiliki tujuan mulia. Sebagai contoh, moderasi dan editing dilakukan untuk menjaga agar tulisan di web um.ac.id ini bermartabat, elegan, dan intelek. Moderasi dan editing dapat pula dilakukan agar tulisan itu tidak sampai melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Moderasi dan editing dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya tulisan yang menyinggung Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan.
Sebaliknya, moderasi dan editing bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan penghambatan, pengebirian, pembungkaman, dan pemberangusan pendapat dan komunikasi. Sebagai contoh, penulis-penulis yang bertanggungjawab dan berdedikasi pada tugasnya: Bu Fat, Bu Yuyun, Bu Mimin, Pak Noor Farochi, Pak Jo harus dimoderasi (dan mungkin diedit) tulisannya, setidak-tidaknya itu jelas-jelas (bertujuan untuk) menghambat komunikasi, bahkan mungkin mengebiri, membungkam, dan atau memberangus pemikiran dan pelaksanaan tugasnya. Sebagai gambaran kasus: ada keluhan mahasiswa yang ditulis dan terbit Jumat siang hampir tutup kantor. Bu Fat membacanya sore ketika di rumah. Bu Fat langsung menjawab, tetapi terbitnya baru Senin. Waduuuh, sudah berapa hari keluhan itu tidak segera dapat klarifikasi dan atau penyelesaian. Padahal, yang membaca keluhan itu sudah banyak.
Untuk itulah saya senang langkah Pokja untuk menghilangkan moderasi model itu dan diganti dengan pengaktifan dan pemberdayaan redaksi. Saya pendukung berat Gus Dur: wong berpendapat koq dilarang. Aneh. Siapa sih yang dapat menghalangi orang berpendapat? Lelah sendiri. Saya menikmati tulisan Pak Djoko Rahardjo. Saya menikmati tulisan, komentar, kritikan Pak Noor Farochi yang singkat dan ces pleng, termasuk kritikan atas tulisan saya. Saya pun menikmati kritikan yunior saya Dik Syahri. Kata-kata dibalas (dengan penjelasan) kata-kata. Perbedaan (pendapat) itu karunia Allah. Pebedaan pendapat itu kasih-sayang Allah. Mari kita gunakan secara bertanggung jawab. Mari kita jaga. Mari kita rawat.
Malang, 25 April 2012
Dawud
Fakultas Sastra UM

6 tanggapan untuk “MODERASI DAN EDITING vs PEMBERANGUSAN

  1. Dear Pak Dawud, saya suka dengan tulisan Bapak yang memberikan penjelasan mengenai apa sebenarnya hakekat dan makna dari seorang moderator. Terima kasih atas ilmu yang sudah dibagikan kepada pembaca Suara, semoga ke depan website suara.um.ac.id bisa semakin baik dan tetep semangat untuk nulis. 🙂

  2. Pak Noor, kita tidak bertengkar tetapi berbeda pendapat. Beda pendapat menandakan adanya dinamika pemikiran atau apalah yang masing-masing ada dasarnya.
    Pak Dawud, wah saya menjadi bersemangat lagi mencermati tulisan di website kita. Beberapa waktu sempat “tiarap” dan kehilangan selera karena respon cepat saya tidak ada artinya.
    Ayo teman-teman kita songsong hari esok yang lebih baik.

  3. Alhamdulillah, sekarang moderasi sudah tidak ada lagi. Insyallah saya akan mulai berkomentar lagi. Kita harus membiasakan bertengkar dengan kata-kata demi kebaikan lembaga tercinta ini. Amin.

  4. Kesempatan telah diberikan, tinggal dimanfaatkan dan dijaga keberadaannya.
    Pantas, dulu saya mikir, apa website ini Sabtu dan Minggu tutup ya? Kok terbitnya baru Senin ya? Juga apa yang bertugas ini tidak membukanya di rumah atau di manapun ketika lepas hari/jam kerja ya? hehehe…
    Ya sudahlah, semoga ke depan semakin baik lagi.

Komentar ditutup.