GALA-GALA

Langkah kecil Pokja Revitalisasi Sistem dan Teknologi Informasi-Komuniasi pada domain PUBLIK telah dilakukan, yakni mengubah moderasi Berkarya dan Suara Kita menjadi pemberdayaan Redaksi. Setelah diluncurkan oleh Pak Jo, bahwa mulai 24 April 2012, hak tulis redaksi dan hak tulis para penulis terpercaya tanpa moderasi serta tanpa edit; dan hak komentar pemangku kepentingan tanpa moderasi, tetapi “dipantau” oleh Redaksi untuk diambil “perlakuan” jika perlu saja, mendapatkan apresiasi: sambutan meriah, ungkapan riang-gembira, perasaan “merdeka”. Di antara mereka yang mengapresiasi adalah Pak Djoko Rahardjo, Pak Darwawan, Bu Fatmawati, Pak Noor Farochi, Pak Syahri, Mas Michael, Mas Dedi Mukhlas, Mas Wawan (Ekowahyu), Mas RR Widodo, dan Pak Yoyok.
Saya sadar bahwa langkah kecil “pengembalian hak” ini tidak mengenakkan sebagian pihak. Saya mendapatkan informasi bahwa Kamis, 26 April 2012 pagi ada pihak yang “mempertanyakan” langkah Pokja ini kepada pimpinan UM. Tidak apa-apa mempertanyakan itu. Itu hak demokratis setiap individu. Bahkan, kalau mau, menulis di web um.ac.id pun, Pokja tidak akan memoderasi. Kalau itu dilakukan sangat bagus: cover both sides (kata Dik Syahri, dosen Jurnalistik). Bagaimanapun juga, atas nama Pokja, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan siapa pun Anda.
Langkah ini perlu untuk menandai bahwa Pokja mulai bekerja serius. Pokja akan terus melangkah. Masih banyak lagi langkah lain yang akan Pokja lakukan (ini terus kami laporkan perkembangannya dalam tulisan lain). Pokja melakukan ini, disamping mandat Rapim, karena amanat “suara rakyat” UM dan karena kecintaan kami pada UM. Alhamdulillah, kami tidaklah mencari popularitas, kami tidaklah mencari jabatan, dan kami tidaklah mencari uang dari kegiatan ini. Kalau itu kami dapat, semata-mata konsekuensi logis dari suatu aktivitas kelembagaan dan kedinasan.
Saya trenyuh saat Pak Suparno, Rektor UM, mengatakan di depan khalayak “Saya kerepotan menjawab pertanyaan dan memberi komentar atas celetukan orang tentang hasil penilaian Webometrics atas um.ac.id … bukan hanya turun, tetapi terjun bebas, Pak Parno. Bagaimana ini?” Saya pun tidak tega melihat wajah Pak Rofi’uddin, PR II UM, saat mengatakan di hadapan khalayak di A1 “Saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Mungkin ironi: PR II harus membawa modem kalau mau akses internet dari A1. Di A1 saja seperti ini, apa lagi di unit lainnya.”
Pak Parno guru saya. Pak Rofi’uddin karib saya. Di luar kedinasan, saya biasa guyon dengan beliau. Bahkan, dengan Pak Rofi’uddin (apalagi kalau bersama Pak Maryaeni) kami biasa saling gojlog dan saling “umpat”. Akan tetapi, saat mengungkapkan itu beliau sebagai Rektor dan PR II. Rektor adalah simbol UM. PR II adalah simbol kelembagaan UM. Saya menangkap ungkapan itu adalah INSTRUKSI, INSTRUKSI, INSTRUKSI. Untuk itulah, saya dan anggota Pokja yang lain hanya ingin KERJA, KERJA, KERJA untuk UM tercinta (maaf pinjam kata-kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan). Itulah pandangan kami. Itulah tugas kami. Semoga Allah meridoi. Semoga Allah melindungi. Semoga Allah menjauhkan kami dari niat yang tidak ikhlas. Amin.
Kepada kawan-kawan yang menyambut dengan meriah dan riang-gembira, izinkanlah saya ungkapkan perasaan itu sebagaimana saat saya menikmati saduran lagu India berjudul Jana-Jana menjadi Gala-Gala oleh Rhoma Irama berikut ini.
GALA-GALA
Kini ‘ku telah kembali
kembali padamu kasih
setelah lama kutinggal pergi … iiiiiiiiii
Lama sudah kumenanti
menanti memadu kasih
penuh rasanya rindu di hati … iiiiiiiiii
Oh tiada terkira, rindu segala-gala gala galanya ….
Oh tiada terkira, rindu segala-gala gala galanya ….

Oh tiada terkira, rindu segala-gala gala galanya ….
Oh tiada terkira, rindu segala-gala gala galanya ….

Kurindu gayamu ketika bercanda
tawa lepas renyah ceria
Kurindu gayamu ketika bermanja
meluluhkan segenap jiwa
Kurindu bagaimana engkau membujuk ketika ‘ku merajuk
Kurindu bagaimana kau mengasihi ketika ‘ku bersedih
Malang, 26 April 2012
Dawud
(Dekan FS UM, anggota Pokja)

10 tanggapan untuk “GALA-GALA

  1. @budi
    Lha, justru tugas Pokja dan Tim IT ini memperbaiki sistem TIK UM, Mas Budi. Personel Pokja terdiri atas Wakil Rektor II, Wakil Rektor IV, Dekan FS, Dekan FT, Pak Jo, dan Pak Nugroho. Tenaga tim IT adalah seluruh tenaga yang ada di Pusat TIK UM (software dan hardware) ditambah dengan tenaga andal yang ada di unit kerja lainnya, yakni fakultas, biro, dan lembaga.

    Tidak menyelesaikan pesoalan dan rugi dari segi waktu? Oh, tidak sama sekali. Justru sebaliknya. Menyelesaikan masalah dengan: percepatan, percepatan, dan percepatan; serta efisiensi, efisiensi, dan efisiensi.

    Contoh percepatan 1: penggunaan bandwidth dan layanan internet sudah jauh lebih bagus saat ini. Padahal, sudah bertahun-tahun keluhan itu dibiarkan saja! Tim perangkat keras IT bekerja hanya dua minggu sudah teratasi (dan masih akan diperbaiki lagi dengan single sign on).
    Contoh percepatan 2: tim perangkat lunak sudah menyelesaikan 95% keluhan user dalam waktu kurang dari seminggu. Padahal, keluhan itu sudah disampaikan sejak 2007 (saya punya datanya), dan dibiarkan saja!

    Contoh efisisiensi 1: Saat ini, tim software sedang menyelesaikan integrasi program akademik, kemahasiswaan, kepegawaian, dan keuangan. Ini akan menyebabkan efisiensi yang luar biasa!
    Contoh efisiensi 2: salah satu program Pokja da Tim IT adalah e-payment host to host. Saat program ini nanti diimplementasikan, tiap tahun UM menghemat sekitar 350 juta, dibandingkan dengan tanpa e-payment host to host.
    Contoh efisiensi 3: biaya yang digunakan untuk menangani ini hanya 10% dari proposal yang diajukan oleh pihak lainnya!

    Khusus tentang moderasi yang saya tulis di Gala-Gala: substansinya adalah betapa aneh pejabat yang melaksanakan tugasnya dimoderasi, antara lain, Pak Noor Farochi (yang mengawal registrasi), Bu Fatmawati (yang mengawal kemahasiswaan), Bu Aminarti S. Wahyuni (yang mengawal Sistem Informasi), saya sendiri (yang mengawal kebijakan Rapim).

    Sebagai salah satu contoh, bayangkan apa yang terjadi andai moderasi itu masih dijalankan: pertanyaan calon mahasiswa yang akan ikut SNMPTN 2012 tidak bisa dijawab dengan cepat dan tepat oleh Pak Noor Farochi! Saya banyangkan: Ngeriiiii!

    Untunglah semua sudah berlalu! Kita mantap dan tegap untuk menatap dan melangkah ke depan!
    Semoga bermanfaat, Terima kasih.

    Malang, 24 Mei 2012
    Dawud, anggota Tim Pokja, Dekan FS

  2. Mengapa tidak TIK yang diperbaiki? kalau membentuk pokja baru justru tdk akan menyelesaikan persoalan, malah akan merugi dari segi waktu. itu pertanyaan saya, terima kasih

  3. @Luthfi
    (1) Bukan kisruh, Pak Luthfi. Sudah lama semua warga UM menginginkan revitalisasi kapasitas TIK UM, antara lain bisa mendapatkan layanan yang terintegrasi, tepat, dan cepat.
    (2) Pemberi amanat itu Rapim. Kondisilah yang memaksa dilakukan langkah darurat itu.
    (3) Untuk menyelesaikan masalah itu perlu level tertinggi, yakni Rapim agar bisa menggkoordinasi semua organ di UM. Tidak cukup hanya UPT.
    (4) Perlu saya sampaikan, bahwa Pak Jo berperan sebagai anggota Pokja. Rapim menunjuk PR II, Dekan FS, dan Dekan FT sebagai anggota Pokja. Kami bertiga menambah anggota, yakni Pak Jo dan Pak Nugroho.
    Dawud
    Dekan FS, anggota Pokja.

  4. Sejak beberapa kali ikut Lokakarya Webometrics yang diadakan UM (Pak Jo dkk), beberapa kali saya sempat menyambangi web UM (dan subdomainnya).
    Kalo masalah ‘kisruh’ ini, saya cuma jadi bertanya-tanya, apa gak overlap antara Pusat TIK dan Pokja IT?

    Salam,
    Luthfi
    pengunjung (tidak) setia web UM sejak Oktober 2010

  5. Ya…ya..yaaa,… pak Dawud…. yang penting,…semoga saja yang merajuk sudah terbujuk (bukan dibujuk’i) dan yang bersedih tidaklah bersedih lagi …. bersama sang kekasih.

  6. @Pak Noor Farochi
    Waduh, saya hanya bisa MENYUMBANGKAN lagu, Pak Noor, nggak bisa nyanyi apalagi jadi penyanyi. MENYUMBANGKAN lagu berarti ‘membuat jadi (jauh) lebih sumbang’ lagu. Analoginya, MELEBARKAN bermakna ‘membuat jadi lebih lebar’, MENINGGIKAN maknanya ‘membuat jadi lebih tinggi’. Begitulah Pak Noor. He … he … he ….

  7. Saya dukung Pokja IT ini agar mengembalikan fungsi sistem IT sebagai pelayan kebutuhan informasi UM dan bukan sebaliknya.

  8. Ya pak Imam,.. kok bisa begitu ya? Padahal saat ini banyak lho ‘rakyat UM’ yang merasa benar-benar merdeka setelah “merasa terbelenggu oleh penguasa” menjadi begitu plong riang gembira, saking gembiranya sampai-sampai pak Dekan mau jadi penyanyi (hehehehe…) ^_^

  9. Wah, yang melapor ke pimpinan UM itu koq tak berperasaan ya. Padahal selama ini sudah memoderasi Berkarya dan Suara Kita semaunya. Kalau mengikuti tulisan Pak Dawud, mestinya INSTRUKSI, INSTRUKSI, INSTRUKSI yang dijawab oleh Pokja dengan KERJA, KERJA, KERJA diikuti pula oleh yang melapor itu dengan MUNDUR, MUNDUR, MUNDUR.

Komentar ditutup.