Euforia Kebebasan

Diawali dengan tulisan Pak Jo (Layanan SUARA KITA: Tulisan & Komentar Langsung Tampil), kemudian peringatan oleh Pak Dawud (Moderasi dan Editing vs Pemberangusan), dipertegas melalui “Gala-Gala”, dan disampaikan pula landasan yuridis formal “Beberapa Larangan dalam Bertransasksi Elektronik”, serta petunjuk teknis oleh Pak Yoyok Adisetio Laksono “Usulan Disclaimer dan Aturan di Suara Kita dan Berkarya”.

Kesimpulan saya terhadap lima tulisan di atas adalah: Pak Jo memproklamirkan kemerdekaan berpendapat, Pak Dawud mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat ada batasnya, dan Pak Yoyok mencoba menguraikan secara teknis “batas” kebebasan berpendapat.
Kelima tulisan ini mendapat sambutan yang sangat antusias, terbukti dari banyaknya yang memberikan komentar. Semuanya berbahagia merayakan euforia kebebasan yang selama ini terbelenggu oleh sosok yang bernama “moderasi”. Ditengah perayaan euforia kebebasan ini, saya setuju dan senang dengan hilangnya moderasi, tetapi saya ingin menyampaikan beberapa hal, sebagai berikut:
1. Kita sepertinya sedang sibuk (bukan berebut) dengan “pepesan kosong”. Maksudnya, kita sibuk berdebat tentang “batasan kebebasan berpendapat”, bukan menanggapi pendapat/kritik seseorang. Seperti kita tahu, tulisan di suara kita dan berkaya selama ini adem ayem. Tidak ada kritik pedas atau pendapat yang “diluar batas etika berpendapat” terkait dengan lembaga kita. Sehingga terasa sangat janggal, disaat kita sibuk berdebat tentang batasan kebebasan berpendapat, kebebasan berpendapatnya siapa yang akan kita batasi? Sudah sedemikian masif-kah kritik dan pendapat yang ada di Suara Kita dan Berkarya, sehingga kita perlu “mengingatkan” tentang etika dan tangggung jawab kebebasan berpendapat? Saya khawatir, perdebatan tentang batasan kebebasan berpendapat ini malah menjadi “ancaman” dari kebebasan berpendapat itu sendiri.

2. Sebagai intelektual, saya rasa biar saja orang bebas berpendapat. Sebagai insan akademik, pasti semua sudah paham bagaimana etika menyampaikan pendapat atau bahkan kritik . Justru dengan membiarkan seseorang menyampaikan pendapatnya secara bebas, kita akan dapat menilai, seberapa cerdas seseorang menyampaikan pendapatnya. Dari pendapat yang disampaikan, akan kelihatan sifat “intelektual-nya”, atau sebaliknya akan terlihat pula “tulalit-nya”.

3. Apa batasan kebebasan berpendapat? Menurut saya adalah fakta. Selama pendapat yang disampaikan berdasarkan fakta, tidak ada yang perlu dibatasi. Seberapa kuatkan kita menutupi fakta atas nama etika? Yang harus kita waspadai adalah pendapat yang berdasarkan opini atau dugaan. Dan saya yakin, kita cukup cerdas untuk menilai pendapat itu berdasar fakta atau opini pribadi semata. Dalam menilai suatu pendapat, kita harus menilainya dari perspektif kebenaran yang berdasarkan fakta, bukan sopan atau tidak sopan dan baik atau buruknya.
Sebagai insan perguruan tinggi, selayaknyalah kita berpikir positif tentang kebebasan berpendapat. Masalah etika dan tanggung jawab dalam menyamaikan pendapat pasti melekat dalam diri kita sebagai intelektual yang senantiasa menjaga martabat akademik, sehingga tidak perlu disikapi dan dikhawatirkan secara berlebihan.

Diding Kusumahadi
Pegawai Lembaga Penelitian

8 tanggapan untuk “Euforia Kebebasan

  1. @dawud
    Terima kasih, Prof. Saya sangat setuju bahwa kita sepakat untuk tidak bersepakat. Ketika saya baca tulisan Bapak yang berbunyi : “Biarkanlah kita memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat sesuatu. Itu warna-warni. Sangat indah.”, saya terasa menghirup udara segar yang selama ini saya impikan di lembaga kita yaitu “dialog yang menghargai perbedaan dengan mengedepankan kesetaraan, tanpa hegemoni kekuasaan”. Salut pada Prof. Dawud. Salam hormat.

  2. Pak Diding, saya sangat senang dengan pemikiran Bapak. Saya menikmatinya: termasuk saya menikmati kritikan Bapak atas pemikiran saya. Sangat sah kita berbeda pendapat. Sangat sah kita bersepakat untuk tidak bersepakat. Biarkanlah kita memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat sesuatu. Itu warna-warni. Sangat indah.
    Dawud
    FS UM

  3. @dawud
    Yang terhormat Pak Dawud, saya menyimpulkan fakta yang disampaikan Pak Dawud sebagai berikut: fakta 1 tentang kaidah berbahasa, fakta 2 tentang menebar kebencian, fakta 3 tentang mengatur komunikasi, fakta 4 tentang penyalahgunaan website UM, fakta 5 tentang jangan terlalu yakin berbaik sangka, fakta 6 tentang pentingnya fakta dibanding etika.
    Dalam menulis Euforia Kebebasan, saya menggunakan perspektif normatif. Tetapi Bapak menanggapinya dari perspektif implementatif. Apabila normatif “berkolaborasi” dengan implementatif, maka akan memunculkan varian baru yang bernama “masalah” . Masalah adalah kesenjangan antara yang seharusnya terjadi, dengan apa yang terjadi. Sehingga apabila pendapat saya dipertemukan dengan pendapat Bapak, tidak akan ketemu “titik equilibrium”-nya karena perbedaan perspektif.
    Dasar normatif pemikiran saya adalah bahwa seseorang yang “menikmati” bangku perguruan tinggi (S1, S2, dan S3) adalah orang yang cerdas, kompeten dan mampu dalam bidang akademik. Karena bangku perguruan tinggi, diisi oleh orang yang “super” (super dalam konteks manusia, baik dosen maupun mahasiswanya), seharusnya tidak terjadi fakta yang Bapak sampaikan. Karena yang Bapak sampaikan adalah fakta, maka yang salah adalah sistem penerimaannya sehingga kita menerima orang yang tidak “super”.
    Mohon maaf, Pak Dawud, saya tidak dapat menanggapi satu per satu fakta yang Bapak sampaikan karena kita beda perspektif, sehingga perdebatan akan menjadi semakin panjang. Mungkin akan lebih bermanfaat dan pasti “nyambung” apabila kita buka forum baru yang bernama “penyelesaian masalah” atas fakta yang Bapak sampaikan. Bila itu terjadi, saya akan dengan senang hati menanggapinya.
    Saya sangat berterima kasih, karena Pak Dawud berkenan memberikan tanggapannya.

  4. Curhat saja saat aktif di berbagai media online (2007-sekarang)

    Dinamika molak-maliknya rasa dalam berdiskusi online memang menggoda. Ada kelembutan yang menggoda kita untuk menampilkan performa yang sebaik-baiknya. Bayangkan bisa berpendapat lewat tulisan, bisa di delete kalo efeknya kurang ampuh. Padahal dalam kenyataan, misalkan disuruh pidato, ndredeg tidak karuan. Tentunya menampilkan performance lewat tulisan berbeda dengan jadi orator.. (tidak bisa merevisi ucapan).

    Inilah media online. yang ada plus dan minusnya, diantaranya:

    Plus
    1. Menjadi ajang kita untuk sumbangsih pada universitas. (dibutuhkan kebebasan disini)
    2. silaturahmi tentunya.
    3. dll yang bagus-bagus

    Minus
    1. Bisa menjebak kita ke dalam menjadi orang yang merasa paling benar, pendapatnya paling ideal.
    2. Kalo lagi berseberangan pendapat, bisa kebawa waktu tidur, waktu makan (pengalaman sendiri).
    3. dll, yang kurang bagus.

    Dahulu kalo melihat rame-rame begini jadi ikut semangat, kalo sekarang senyum-senyum saja.

    Bagaimanapun teknologi itu mempermudah, tapi ngurangi fadhilah..
    Belum tentu orang yang berdiskusi online dengan kita yang kelihatannya keras. Waktu kita ketemu, ternyata orangnya asyik banget untuk berdiskusi.

    Kalo pribadi,
    Punya tulisan diberikan apresiasi baik itu kebahagiaan
    Punya tulisan diberikan apresiasi kurang baik itu pelajaran

    yang susah itu kalo tidak mau komentar

    Hadi

    Alumni FSUM

  5. tidak tahu kenapa, blog di FIP justru menjadi ajang sampah.
    banyak sub domain tetapi tidak ada isinya.

    mau bukti? silahkan ke sini http://blog.fip.um.ac.id/

    yang paling parah adalah adanya prediksi TOG*L … what the heck?

    sebegitu banyak subdomain tapi ga ada isinya… kasihan servernya
    di blog.um.ac.id juga masih banyak yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab

    anonymous-by intention

  6. Menarik sekali tulisan Pak Diding tentang Euforia Kebebasan, terutama 3 (tiga) hal yang dikemukakan, termasuk kritik terhadap pemikiran dan usulan saya tentang perlunya Pedoman Menulis dan Berkomentar (sayang belum diulas juga oleh Pak Diding). Saya akan mengulas dari 6 (enam) sisi berikut ini.
    (1) Euforia Kebebasan: Fakta 1
    Dalam penggunaan Bahasa Indonesia, kita kenal dengan ungkapan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar: baik berarti sesuai dengan situasi dan kondisi; benar berarti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam ungkapan Bahasa Jawa, kita mengenal “bertutur itu harus empan papan.” Dalam Pragmatik teori Barat, dikenal maksim tutur, misalnya, maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim kesantunan “bicaralah secukupnya, bicaralah sesuai dengan isinya, dan bicaralah sesuai dengan kesantunan”.
    Contoh kecil, ketika seorang teman bertanya ke teman dekatnya “Dengar-dengar Pak Kyai QQQQ meninggal di Makkah ya. Benarkah? Kalau benar, tolong saya dihubungi!” diucapkan (langsung atau via telepon)o oleh si A ke B, tuturan itu: baik dan benar, empan papan, dan memenuhi maksim tutur. Akan tetapi, jika pertanyaan itu ditulis di Suara Kita yang merupakan informasi publik, itu tidak baik, itu tidak empan papan, dan itu tidak memenuhi kaidah maksim tutur. (Contoh ini pernah ditulis di Suara Kita. Pak Kusmain menelpon Admin (saat itu masih ada moderasi), agar tulisan itu dihapus).
    Apakah komentar seperti itu dibiarkan atas nama kebebasan berpendapat?
    (2) Euforia Kebebasan: Fakta 2
    Pak Johannis Rampisela menulis di Berkarya dengan judul Pemimpin yang Menarik: Mahmoud Ahmadinejad (16 Februari 2012). Salah satu komentar ditulis Irvan (entah siapa dia, karena tidak ada identitasnya). Irvan membuat komentar satu kalimat dengan “menghakimi” Ahmadinejad adalah orang kafir syi’ah. Selanjutnya, dia mengutip mentah-mentah tulisan pihak lain (dalam hal ini Ar-Rahmah.com) yang sangat panjang, yang menurut saya adalah “berkategori” menebar kebencian, permusuhan suku, ras, agama, dan/atau antargolongan.
    Syukurlah, Admin (saat itu masih ada moderasi) juga menghapusnya, setelah banyak kritik atas komentar itu. Saya termasuk yang mengkritik tulisan Irvan itu. Kritik saya masih ada sampai tanggapan ini saya tulis.
    Apakah komentar seperti itu juga dibiarkan saja atas nama kebebasan berpendapat?
    (3) Euforia Kebebasan: Fakta 3
    Pak Diding menyebut tulisan dan komentar di Berkarya dan Suara Kita adem ayem. Tidak ada kritik pedas atau pendapat yang “diluar batas etika berpendapat” terkait dengan lembaga kita. Sehingga terasa sangat janggal, disaat kita sibuk berdebat tentang batasan kebebasan berpendapat …
    Ada media yang jauh lebih adem ayem, yakni jurnal ilmiah, misalnya, Bahasa dan Seni, Sekolah Dasar, dan Penelitian Pendidikan. Komunikasi media itu satu arah karena media cetak, terbit setahun dua kali. Sekalipun begitu, di bagian belakang juga dimuat Pedoman Penulisan. Apakah Pedoman Penulisan ini untuk membatasi kebebasan berpendapat? Oh, tidak! Demikian juga, coba baca usulan saya di Suara Kita tentang Pedoman Menulis dan Berkomentar. Pedoman menulis dan bekomentar seperti ini lazim, misalnya, di Tempointeraktif (pernyataan disclaimer); Yahoo! (modelnya saya adopsi dalam usulan saya), dan juga The Jakarta Post.
    Apakah pedoman seperti itu untuk membatasi kebebasan berpendapat ataukah mengatur komunikasi dalam berpendapat?
    (4) Euforia Kebebasan: Fakta 4
    Isi um.ac.id ada bermacam-macam: berita (diisi oleh humas); blog dan “subdoman” (diisi oleh pengguna tertentu: institusi, organ UM, dan pribadi baik dosen maupun mahasiswa); dan komunikasi interaktif (Berkarya dan Suara Kita). Marilah kita lihat, minggu lalu, ada blog tentang “Agen Bola | Bandar Bola | Taruhan Bola | Judi Bola”. Ini jelas melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Ada juga blog yg dimanfaatkan untuk nebeng Publik Relation, yakni http://blog.um.ac..id/wisatamalang/. Pernah juga di Berkarya ini ada tulisan satu paragraf berisi tentang kesenjangan model pendidikan; tetapi 3—4 paragraf berikutnya berisi promosi lembaga pendidikan yang dia punyai.
    Apakah hal-hal seperti ini tidak perlu diatur atas nama kebebasan berpendapat?
    (5) Euforia Kebebasan: Fakta 5
    Pak Diding juga menulis “Sebagai intelektual, saya rasa biar saja orang bebas berpendapat. Sebagai insan akademik, pasti semua sudah paham bagaimana etika menyampaikan pendapat atau bahkan kritik ….”
    Kita beri kebebasan orang berpendapat. Tapi, pastikah semua paham bagaimana etika menyampaikan pendapat atau bahkan kritik? Semua? Yakin? Husnudzon ‘berbaik sangka’ boleh, bagus. Akan tetapi, tidak boleh ceroboh, Bukankah kaum intelektual juga manusia?
    Ini menyangkut hak, kewajiban, dan larangan. Saat ada moderasi dulu, beberapa kali Pak Kusmain harus menelpon Admin karena ada komentar dari warga kampus yang tidak layak muat (tidak perlu saya sebutkan di sini siapa penulisnya dan apa isinya).
    (6) Euforia Kebebasan: Fakta 6
    Pak Diding juga menulis, “Dalam menilai suatu pendapat, kita harus menilainya dari perspektif kebenaran yang berdasarkan fakta, bukan sopan atau tidak sopan dan baik atau buruknya.”
    Mari kita perhatikan (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (b) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan (c) Peraturan Pemerintah Nomor 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Ketiga perundangan itu mengatur kebebasan akademik, kebebasan membar akademik, dan otonomi keilmuan.
    Salah satu contoh kecil, perhatikanlah kutipan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 91 ayat (1): “Pimpinan perguruan tinggi wajib mengupayakan dan menjamin agar setiap anggota sivitas akademika melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dan dilandasi oleh etika dan norma/kaidah keilmuan.”
    Benarkan etika, antara lain, kesantunan, kesopanan, kebaikan, keburukan diabaikan atau setidaknya tidak perlu diperhatikan demi kebebasan berpendapat, toh, yang penting berdasarkan fakta?
    Semoga bermanfaat. Terima kasih
    Malang, 1 Mei 2012
    Dawud
    Dekan FS, anggota Pokja.

  7. Saya melihat kebebasan berpendapat dari perspektif kekuasaan, di mana perbedaaan pendapat cenderung dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Saya hanya berharap bahwa “suara yang berbeda (tentu dalam konteks benar dan berdasar fakta)” mendapat tempat yang semestinya, karena suasana akademik di universitas akan semakin “berwarna” dengan perbedaan pendapat. Karena itu saya setuju dengan 4 poin yang ada sekarang saja yang bersifat universal. Yang mengkhawatirkan adalah “aturan main” yang terlalu teknis dan rinci, akan menghalangi calon penulis dan calon komentator memberikan pendapatnya.
    Bagaimanapun juga saya sudah punya perbedaan pendapat dengan Pak Yoyok, ya? Ha…..ha…….ha……..Terima kasih atas tanggapannya.

  8. Saya sependapat dengan Pak Diding bahwa bagi kalangan akademis memang betul bahwa tata krama biasanya dipegang teguh sehingga tidak perlu khawatir di Suara Kita dan Berkarya akan ramai seperti di kaskus. Tetapi tentunya kita tidak boleh berandai-andai karena bisa saja ada satu atau dua orang yang belum mengerti tentang tata krama menulis di media publik, misalnya mahasiswa baru, lalu tiba-tiba menulis menumpahkan kekesalannya, atau bisa juga orang luar yang memang sengaja bikin onar.

    Aturan yang saya usulkan dan diusulkan oleh Pak Eko Wahyu, Mas David, Pak Ibrahim, dan Pak Dawud saya yakin semangatnya sama dengan Pak Diding, yaitu bukan memberangus kebebasan berpendapat tetapi lebih kepada cara berpendapat agar terjadi dialog yang sehat dan membangun.

Komentar ditutup.