DAKWAH KYAI NYENTRIK

Udara dingin yang menyelimuti sepanjang malam diakhir bulan sya’ban ini serta masih adanya sebagian manusia mengkais sisa keberkahannya dicelah bayang-bayang ramadhan yang kian benderang diujung langit. Bersama itu pula berbagai hati mulai bergolak, ada yang hatinya selama ini dirasa sakit, timbullah kegembiraan dan pengharapannya untuk bisa tersembuhkan tapi banyak pula hati yang membiarkannya sakit terus walau sampai parah dan rapuh. Ada pula hati yang selama ini merasa tenang, senang dan nyaman oleh buaian kenikmatan hidup tiba-tiba murung dan merasa terusik oleh datangnya bulan yang menurutnya akan menghambat perniagaan dan kesenangannya.Tapi ada pula hati yang benar-benar merindukannya karena sangat menginginkan peningkatan pada ruhiyahnya begitu juga hati para juru dakwahpun mereka sama bersuka cita untuk menyambutnya, demikianlah yang seharusnya bagi hati yang merasa bertakwa.
Persipan pokok yang perlu dilakukan adalah menata hati sejak dini, agar dalam menjalankan kewajiban ibadah mahdhah dan sunnahnya bisa maksimal tidak terjebak oleh imajinasi liar yang bisa menyeretnya pada amal yang sia-sia. Kenapa kita harus menata hati? Kalau menurut pakar kejiwaan, mereka ada yang mengatakan bahwa manusia itu adalah sebuah entitas dan makhluk multi dimensional yang salah satu dimensi eksistensialnya adalah dimensi afeksi dan perasaan dan kalau Rasulullah SAW jauh hari sudah memberikan isyaratnya agar umatnya berhati-hati, sebab kondisi hati itu berbolak-balik. Peringatan Rasulullah SAW ini harus selalu diwaspadai khususnya bagi para pengemban dakwah, merujuk pada realita zaman ini banyak pengemban amanah yang dilecehkan oleh hawa nafsunya sendiri.
Ada beberapa catatan moral dan ketinggian spiritual dari segelintir kyai yang komitmen dalam maharlah dakwahnya dan mereka mempunyai metode lain dari yang lain. Kalau zaman dahulu kesombongan Nabi Musa as. dapat dipatahkan oleh Nabinya para sufi yaitu Khidir as. dan disini saya petikkan perjalanan dakwah seorang kyai dan mudah-mudahan bisa memotivasi kita dalam memperbaiki akhlak supaya lebih baik dari sebelumnya. Ada seorang kyai yang tidak saja piawai dalam beretorika (billisan) tapi beliau tak segan-segan menyampaikan dalam bentuk perbuatan, diantaranya adalah kyai tersebut membaurkan diri dengan manusia yang hidupnya di lembah hitam, tak peduli apa kata santrinya bahkan perilakunya yang kontroversi itu sempat mengundang cemooh dan benci dari masyarakat. Tapi selang beberapa lama masyarakat pun terdiam. Sebab beberapa rumah tempat prostitusi tersebut dibongkar dan dibangunlah mushola yang lumayan besar sebagian mucikarinya jadi santrinya kyai tersebut sedang yang lain mudik untuk kembali hidup normal.
Kisah yang lain adalah petualangan dakwah K.H. Khamim Jazuli yang akrab dipanggil Gus Mik asal Ploso Kediri. Kehidupannya aneh, beliau bertualang dari hotel ke hotel yang ada diskotik dan karaokenya (dugem) dan kalau tidur hanya beralas koran, banyak orang yang mengejarnya bahkan wartawan dari majalah matra pun memburunya tapi Gus Mik sulit ditemuinya. Syahdan suatu ketika wartawan tersebut bertemu dan bertanya tentang kebiasaannya diatas, Gus Mik mengatakan kalau dia merasa senang dengan kebiasaannya itu dan beliau sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh ulama dahulu, namanya adalah Imam Ahmad bin Hanbal r.a.
Kalau masuk ke tempat hiburan yang diharamkan oleh Islam, justru Imam Ahmad bin Hanbal r.a. berdoa di pintu pertama. Ia berdoa,”Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah di akhirat nanti.”
Gus Mik adalah orang aneh yang kharismatik sangat dekat dengan orang-orang pinggiran (orang-orang miskin dan orang-orang zalim). Beliau memberi kemaslahatan pada mereka dan sering dengan cara-cara yang diluar nalar, dan doa-doanya selalu mustajabah. Beliau wafat pada 5 Juni 1993 sedang peninggalan satu-satunya adalah majelis semaan Al-qur’an yang anggotanya ribuan orang hingga sampai sekarang. Dan masih banyak jenis kyai nyentrik lainnya yang metodenya hampir sama, yaitu terjun langsung di tempat-tempat maksiat dan membuat perubahan pada pelaku maksiat kiranya dirahmati Allah mereka, dan calon-calon penerusnya mungkin sudah dipersiapkan oleh sang kholiq, ada contoh sederhana yaitu sebagian dosen di UIN dibuat geleng-geleng kepala sebab mahasiswanya yang ala gembel ternyata mereka sangat hafal dengan Al-qur’an. Cuplikan di atas yang bisa kita petik adalah :
Pertama, orang itu tidak bisa memvonis dan menyimpulkan baik buruk seseorang itu hanya berdasar lahiriyahnya saja dan bersifat zhon (praduga) dan kalau salah akan jadi bumerang bagi dirinya.
Kedua, jangan merasa diri ini sudah mumpuni dan tuntas dalam menuntut ilmu.
Ketiga, janganlah seseorang itu suka menghina, merendahkan orang lainnya.
Keempat adalah, sebagai orang muslim yang diberi kenikmatan Tuhannya berupa ilmu, derajat, mustinya syukur dan tawadhu’ pada Tuhannya dan tidak sewenang-wenang kepada orang yang mungkin punya sedikit kesalahan. Yah, terkadang ada benarnya. Penampilan yang halus dan sopan padahal juga sudah melaksanakan aktivitas ibadah, tapi masih belum bisa membersihkan kerak-kerak hatinya yang masih kasar….. kata Allah, “Walau kunta fazh-zhan qalbi laan fadh-dhuu min khaulik” artinya: “Sekiranya kamu bersikap keras, lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”

Demikian pentingnya seseorang agar selalu menata hatinya agar bisa mendorong dirinya untuk selalu bercermin dan merasa malu pada penciptanya.
“Tasyabbahu inlan takuunuu mitslahum fa-innat tasyabbaha bilqiraam falaah”
Marhaban ya Ramadhan …