[SELESAI] Almamaterku: Dari Pajangan, Kanvas, hingga Makanan Tikus

Setiap perguruan tinggi tentu memiliki ciri khas yang menjadi identitasnya. Seperti logo, atribut almamater, termasuk fisik kampus hingga budaya kehidupan kampusnya. Semua hal tersebutlah yang membedakan dan dicireni oleh masyarakat. Dapat dipastikan seluruh sivitas akademika bangga terhadap almamaternya. Terutama para mahasiswa yang jumlahnya mendominasi dalam jajaran sivitas akademika kampus, lebih runcing lagi adalah para anggota ormawa yang menjadi pioneer pergerakan mahasiswa di kampus.
Begitu juga halnya kita, sebagai warga perguruan tinggi yang tidak lama lagi akan menginjakkan kiprahnya di usia yang ke-58 ini, tak usah diragukan lagi kebanggaannya terhadap almamater yang telah membesarkan kita. Namun, dimanakah point tersebut?
Sudah sering dibicarakan, bahwa kita warga Universitas Negeri Malang selalu terbayang-bayangi oleh kampus tetangga (tak perlu disebut yang mana, red). “Mulai dari fisik kampus saja sudah kalah ‘bening’, apalagi yang lain-lain,” komentar seorang rekan dari FMIPA. Memang, dan kita harus realistis. Namun realistis tersebut harus dibarengi dengan upaya bagaimana kita menghalau bayang-bayang tersebut. Jika tidak, sampai kapan kita akan terus terbayang-bayangi?
Terkait almamater, warga tetangga kampus kita tampak sangat rajin mengenakan jas almamaternya yang berwarna biru kehijauan itu. Setiap hari, pasti kita mendapatinya. Hal itu seolah-olah menampakkan bahwa sangat bangga dan cintanya mereka terhadap almamaternya. Dari hal tersebut, secara tidak langsung mereka berseru pada setiap orang termasuk kita: “Ini lho kami!” Lantas yang patut dipertanyakan adalah, dimanakah kita? Mana alamamater biru yang kita katanya sangat dibanggakan itu? Apakah hanya atribut pelengkap upacara saja?
Pengalaman pribadi, saya pernah memakainya di hari kuliah biasa, dan lucunya mendapat komentar yang amat beragam dengan motif yang sama: “Rajin amat, mau upacara ya?” Lantas saya bertanya, apa saya salah dengan memakai alamamater saya? Bahkan, dosen pun juga turut berkomentar: “Habis acara seminar ya mas?” Hati kecil saya tertawa, ternyata se-simple itu mindset mengenai jas almamater. Sepele, sangat sepele memang! Namun soal yang sepele itu menjadi integrated mindset yang kompleks. Lalu buat apa kita memperoleh jas almamater itu? Apakah memang hanya untuk dipakai setahun sekali? Lucunya, ada seorang mahasiswa seni rupa yang malah melukis berkanvaskan jas almamaternya. Kreatif banget, sayangnya salah tempat. Ada juga rekan yang jas almamaternya berlubang dikerat tikus karena berdiam lama dalam almari.
Bukankah hal baik jika ada penjadwalan untuk pemakaian almamater? Tidak ada salahnya bukan. Adakah efek yang negatif dari memakai almamater? Justru lebih banyak sisi positif pada ranah yang tak kita jangkau. “Ini lho kami, mahasiswa UM!,” itu yang harus kita serukan tanpa berseru. Jangan sampai jas almamater biru kebanggaan kita hanya menghabiskan stok tekstil nasional yang berakhir mubadzir. (*.RAR)

Rafendra Aditya Rahman
Educational Technology FIPUM
@ra_adira

Rafendra Aditya Rahman

Penggila mimpi yang gila mewujudkan mimpi :) ASEAN be The ONE! Scout-er | RedCross-er | Environmental Activist

2 tanggapan untuk “[SELESAI] Almamaterku: Dari Pajangan, Kanvas, hingga Makanan Tikus

  1. (1) Masukan Anda sangat bagus. Bahan ini akan kami bawa ke Rapat Pimpinan UM untuk menjadi bahan pertimbangan kebijakan pimpinan UM.
    (2) Anda juga harus bangga lambang dan jas almamater UM sangat dibanggakan oleh warga kampus lain.
    (3) Warga kampus lain juga banyak yang memuji pelaksanaan sebagaian besar pelaksaan dan manajemen pembelajaran di UM, secara substantif.

  2. Artikel ini juga menggugah kesadaran saya sebagai mahasiswa UM terhadap apa yang telah ada tapi belum dilaksanakan, seperti yang disinggung pada cerita artikel ini mengenai pemakaian Almamater UM yang sampai saat ini belum bisa disama ratakan untuk pemakaiannya bagi setiap mahasiswa. Mungkin dengan penerapan penjadwalan pemakaian Almamater bagi setiap mahasiswa dapat memberikan sifat kebanggaan tersendiri dan sebagai identitas kehidupan kampus dalam perkuliahan..

Komentar ditutup.