[selesai] ALMAMATER vs KARAKTER: DIMANAKAH ‘KALPATARU’ KITA?

ALMAMATER vs KARAKTER: DIMANAKAH KALPATARU KITA?

                Minggu, 25 September 2012 lalu, terselenggarakan Training Motivasi Berprestasi oleh Bagian Kemahasiswaan Universitas Negeri Malang bagi Mahasiswa Baru Bidik Misi 2012. Kebetulan waktu itu Pengurus Komunitas Mahasiswa Bidik Misi (KOMADIKSI) mendapat undangan dari Kabag Kemahasiswaan, Ibu Dra. Fatmawati untuk turut hadir guna memperkenalkan KOMADIKSI kepada Mahasiswa Baru Bidik Misi.

Training tersebut diikuti oleh Mahasiswa Bidik Misi dari seluruh Fakultas. Kurang lebih 300 Mahasiswa Bidik Misi dari total 530 Mahasiswa hadir mengikuti Training yang digelar di Aula Utama A3 itu. Diawal acara yakni saat presensi sebelum memasuki aula, banyak mahasiswa yang kebingungan. Termasuk kami dari perwakilan KOMADIKSI. Banyak yang bingung dimeja mana harus presensi karena tidak adanya tulisan/sign yang jelas dikarenakan ada banyak meja. Sehingga beberapa dari mereka harus survey ke setiap meja bahwa di meja tersebut presensi untuk Fakultas apa. Tidak jarang juga beberapa dari menjadi ‘guide dadakan’. Semoga dalam penyelenggaraan acara serupa hal ini telah diantisispasi oleh panitia, sehingga tidak terjadi lagi.

Nah, tidak hanya para peserta yang bingung ternyata. Kami pun yang notabene diundang secara langsung malah mendapat ‘tanda tanya’ balik dari panitia yang stand by disana. Asumsi kami, terjadi miskomunikasi antara panitia penyelenggara. “Ndak apa-apa, boleh saja silahkan mengikuti, namun dengan konsekuensi ya itu, tidak mendapat konsumsi lho ya. Karena  begini mas, konsumsi sudah di-setting oleh panitia untuk 300 peserta,” tutur seorang bapak panitia kepada Ketua KOMADIKSI, Mas Sahrul. Tapi untungnya masalah ini mendapat jalan setelah beberapa saat kami merasa tak menentu.

Acara pelatihan berjalan mulus. Diawali dengan sambutan dari Kabag Kemahasiswaan, Ibu Fatmawati yang disisipkan sesi perkenalan dari Perwakilan KOMADIKSI kepada peserta. Acara inti yakni training motivasi sendiri berlangsung tiga sesi dengan dua pembicara dan ditutup dengan sesi tanya jawab serta perenungan. Para peserta cukup antusias mengikuti jalannya acara yang berdurasi sekitar 210 menit dari pukul 8.30 sampai 12.00 tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang menyampaikan pesan dan kesan serta pertanyaannya saat sesi tanya jawab. Dan hampir seluruh peserta merasakan manfaat positif kegiatan tersebut dengan adanya perubahan dalam diri mereka. Salah satu peserta mengaku ada mendapat ‘pencerahan’ setelah mengikuti acara ini, dia menuturkan bahwa ternyata ia baru tersadarkan dan harus segera menata kembali semangatnya.

Melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta, dan berdasar pada asas keadilan, sebaiknya kuota peserta dapat ditambah sehingga memenuhi 530 Mahasiswa dari sumber dana APBN. Karena sebelum acara dimulai tampak beberapa mahasiswa menuruni tangga meninggalkan gedung A3 dengan kecewa. Mereka mengeluhkan bahwa sudah mendaftarkan diri tetapi namanya tidak tercantum dalam daftar presensi fakultasnya dikarenakan kuota telah terpenuhi. Salah seorang dari mereka mengeluhkan, “Kalau kuota sudah terpenuhi, mestinya formulir kami ditolak. Atau paling tidak ada pengumuman daftar peserta yang dapat mengikuti training. Sehingga tidak terjadi hal seperti ini.”

Ada hal yang fenomenal di akhir acara tersebut, walaupun bagi kebanyakan orang adalah sesuatu yang sangat biasa. Fenomena tersebut adalah puluhan bahkan ratusan kotak kardus makanan yang tergeletak diantara barisan kursi dalam aula utama. Adapun yang membawa kotak mereka itu pun karena didalamnya masih terdapat makanan yang belum mereka konsumsi, sedang selebihnya, hampir semua meninggalkannya begitu saja. Bahkan salah seorang peserta putra bersama dengan kelompoknya berceletuk, “Biarkan sajalah, ntar juga ada petugasnya sendiri!” Tidak hanya di dalam aula, tumpukan kardus makanan juga terjadi di sekitar gedung A3 tempat para peserta menikmati makan siang yang didapat ketika keluar dari aula. Yang mengherankan, mengapa tidak ada inisiatif untuk melipat kotak kardus tersebut sehingga lebih ringkas dan mereduksi penggunaan ruang di tempat sampah. Salah seorang dari pengurus KOMADIKSI dari FIP yang melipat kotak makanannya dan meringsekkan gelas minumnya malah mendapat komentar ini: “rapi amat sih, ntar juga ada yang beresin”.

Jika kita telaah lebih lanjut, bukan sekedar masalah dimana tempat buang sampah atau inisiatif terkait itu. Melainkan dimana letak kesadaran nurani kita sebagai kaum cendekia khususnya civitas akademika UM yang notabene melukiskan kalpataru dalam almamaternya. Lebih dari itu adalah terkait tanggung jawab kita tela menghasilkan sampah, yang konsekuensinya adalah bagaimana mengatasinya. Lepas dari ada atau tidaknya petugas yang akan membersihan, apakah ini mindset kita? Seorang bloger UI yang juga aktivis lingkungan hidup bahkan menggunakan kalimat lebih pedas dalam postingnya:  “Kita kaum terdidik, berkesempatan lebih untuk mendalami ipteks, banyak ilmu telah menempa kita. Apakah kita masih juga harus dibimbing hanya untuk mengambil sikap atas sampah kita sendiri?” Jika kita hubungkan dengan training motivasi ini, Anda dapat menyimpulkan sendiri jawabannya. (*.RAR)

R a f e n d r a   A d i t y a   R a h m a n

Teknologi Pendidikan FIPUM

Aditya Candra | @ra_adira

08993929290


Rafendra Aditya Rahman

Penggila mimpi yang gila mewujudkan mimpi :) ASEAN be The ONE! Scout-er | RedCross-er | Environmental Activist

Satu tanggapan untuk “[selesai] ALMAMATER vs KARAKTER: DIMANAKAH ‘KALPATARU’ KITA?

  1. @refanrafen…trima kasih atas perhatian anda selama mengikuti kegiatan kami. Permasalahan ketidaknyamanan yang anda tulis akan kami gunakan untuk evaluasi dan perbaikan pelayanan pada kegiatan berikutnya. Satu hal yang tidak anda lihat adalah informasi fakultas yang terpampang di atas meja presensi dan telah terpasang sejak sesi presensi dibuka. Mungkin anda tidak melihat karena tertutup dengan teman-teman yang sedang melakukan presensi. Perihal kuota, kami mengharapkan seluruh penerima Bidik Misi APBN mengikuti kegitan tersebut. Namun demikian sampai dengan batas akhir pendaftaran hanya 300-an mahasiswa yang mendaftar. Mereka yang mendaftar setelah batas akhir pun masih tetap dilayani sampai dengan hari kamis pk 15.00. Proses pendaftaran ini penting untuk mempersiapkan jumlah konsumsi dan bahan pelatihan yang dibagikan kpd peserta. Hal ini terkait dengan pertanggungjawaban penggunaan dana yang harus sesuai dengan jumlah yang hadir. Soal konsumsi untk perwakilan KOMADIKSI, sudah teratasi kan?
    Perihal sampah, marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan kampus kita. Dengan peran serta seluruh warga kampus, kebersihan dan keindahan kampus akan lebih mudah terwujud.
    Trima kasih.
    Salam,

Komentar ditutup.