[selesai] BEM: Eksekutif yang Terhipnotis

Nina bobo ooo nina bobo . .

Larik lagu masa kanak itu mungkin mengingatkan kita kembali pada kenangan masa kecil. Disaat menjelang tidur dan orang tua menyanyikannya untuk kita hingga terlelap. Begitu nyaman dan romantis jika kita mengenangnya.
Tahukah kamu?

Bahwa dalam kampus kita sepertinya ada yang tengah menyanyikan lagu kanak itu sampai sekarang. Cobalah tengok pada gedung sebelah barat RR A3 yang masih tergolong baru itu! Ya, tidak salah lagi, gedung Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pusat. Gedung itu sepertinya tak terhuni. Saya yakin sepenuhnya, siapapun yang melewati depannya pasti akan memiliki asumsi yang sama. Bagaimana tidak, sekilas saja kita memandang sudah tersuguhkan pemandangan yang nggak banget! Undak-undak yang rusak, sampah yang berserakan, lantai yang begitu sangat kotornya, kaca jendela yang entah berapa senti tebal debunya.
Nah, siapa yang mengira kalau itu adalah Sekretariat BEM? Mahasiswa baru yang belum tahu banyak tentang kampus misalnya. Lha wong sehuruf pun tidak ada yang menerangkan ‘ini adalah Sekretariat BEM UM’. Pasti ketika akhirnya tau bahwa itu adalah Sekretariat BEM, akan percaya nggak percaya. Masa Sekretariat BEM macam itu?
Lucunya, masih kita dapati beberapa mahasiswa yang mengenakan jaket bertuliskan “Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Malang”. Rupanya budaya malu perlahan mulai pudar. Seharusnya mereka malu donk pakai jaket kebesarannya dengan faktanya seperti itu. Sama halnya semakin membeberkan keburukannya sendiri. Karena sebagian orang pasti berkata: “Itu lho BEM, yang lagi ‘tidur’!” Karena itulah yang terucap dari mereka, bukan ini: “Itu lho BEM, wow pengen deh jadi BEM!”
Fenomena ini memang sudah menjadi rahasia umum. Bukan rahasia lagi kalau BEM UM tengah hibernasi dan entah kapan akan terbangun. Lucunya banyak dari kita berkata itu biasa karena sudah bosan banget mendengar dongengan membosankan itu. Atau mungkin versi acuh seperti ini “Ah, biar! Emang efek buat gua?” Tetapi, inikah karakter mahasiswa? Bukankah katanya mahasiswa itu kritis, idealis, dan seterusnya?
Jika pembaca termasuk kategori orang yang saya sebut tadi (yang berkata “itu biasa”, red), coba kita refleksi sejenak. Idealis dan kritis memang mestinya sudah menjadi karakter kita. Walaupun memang sering ketika kita kritis banyak sambutan miring. Nah mengenai hal ini, lihatlah bahwa mereka yang menghuni gedung lusuh itu adalah ‘pemerintah’ kita. Mereka adalah tolok ukur ‘kasat mata’ terhadap kualitas kampus kita. Maka, secara tidak langsung jika mereka kurang baik, kita semua pun terimbas lumpur hitamnya. Apakah kita akan terus berdiam atau bahkan ikut hibernasi?

Wahai BEM-ku,
Please realize your position
Realize the word ‘executive’ of yours
That you have to wake up and show us your brilliant!
That your seats are not for hibernation! (*.RAR)

Rafendra Aditya Rahman

Penggila mimpi yang gila mewujudkan mimpi :) ASEAN be The ONE! Scout-er | RedCross-er | Environmental Activist

2 tanggapan untuk “[selesai] BEM: Eksekutif yang Terhipnotis

Komentar ditutup.