[SELESAI] Prof Efendy, Teladan Yang Luar Biasa dalam Bidang Penelitian

effendy
Mengabdikan Diri Meneliti Atom
Selasa, 04 Desember 2012 00:03 WIB
0 komentar
0 Like Dislike 0

Mengabdikan Diri Meneliti Atom
MI/Ramdani/cs
Selama 22 tahun ia meneliti sintesis dan penentuan struktur senyawa koordinasi dengan metode difraksi sinar X yang membawanya menjadi peraih Habibie Award.

WAJAH Effendy tampak sedikit gugup saat ia menerima penghargaan Habibie Award 2012. Maklum, tak terpikir sebelumnya ia bisa meraih penghargaan bergengsi dalam kancah ilmu pengetahuan itu.

“Saat dihubungi, saya sempat bertanya mungkin Effendy yang lainnya. Setelah dipastikan, saya merasa senang karena masih ada yang memperhatikan nasib peneliti,” ujarnya seusai menerima Habibie Award di Jakarta, pekan lalu.

Siang itu, saat tiba di Ibu Kota untuk bertemu dengan mantan Presiden BJ Habibie, Effendy membawa istrinya, Aniswati. Tak ketinggalan, ia juga mengajak tiga putranya, Naufal Attiqurrahman, 13, Fiqry Ihsanurrahman, 9, dan Adzka Rizky Taufiqurrahman, 5.

“Saya membawa anak-anak agar mereka bisa lebih baik daripada saya di kemudian hari. Orangtua harus memberikan contoh untuk merangsang anak-anak,” jelas pria penikmat soto malang itu, santai.

Penghargaan Habibie Award yang Effendy terima cukup bergengsi. Ia terpilih karena berhasil menemukan sintesis dan penentu struktur senyawa koordinasi dengan metode difraksi sinar X. Apalagi penelitian itu dilakukannya selama 22 tahun.

“Pada intinya, sampel dihambat dengan sinar X. Setelah kena, maka ada sinar yang difraksikan. Sinar akan ditangkap dengan detektor, lalu dianalisis. Dari sinar yang difraksikan, kami akan me-modeling posisi-posisi suatu atom di dalam senyawa,” jelasnya menanggapi hasil penelitiannya itu.

Lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 September 1956 itu menggunakan difraksi sinar X untuk menganalisis padatan kristalin. Sinar X merupakan radiasi gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sekitar 1 Å (angstrom).

Berada di antara panjang gelombang sinar gama dan sinar ultraviolet. Sinar X dihasilkan jika elektron berkecepatan tinggi menumbuk suatu logam target.

“Saya sangat tertarik di bidang sintesis dan penentuan struktur senyawa organik. Ini sangat menyenangkan karena membuat saya selalu ingin mengetahui lebih banyak lagi,” tuturnya, serius.

Pada penelitian sintesis, ia menggunakan garam-garam tembaga, perak, dan logam-logam alkali dengan ligan-ligan dari unsur golongan 15 (N, P, As, Sb). Dari penelitian itu, ia pun mendapatkan kesimpulan-kesimpulan yang berkaitan dengan banyak hal.

Khususnya, pengaruh perbandingan jumlah mol garam dengan mol ligan-ligan terhadap struktur senyawa koordinasi, pengaruh keruahan (bulkiness) ligan terhadap struktur senyawa koordinasi, dan pengaruh perpanjangan rantai pada ligan bidentat terhadap struktur senyawa koordinasi.

Penelitian yang ia garap bersama timnya berawal pada 1989. Kerja sama penelitian itu menghasilkan sedikitnya 70 artikel di jurnal internasional. Sebanyak 14 di antarnya dipublikasikan di Dalton Transactions yang terbit di Inggris.
Namun, pada 2007, ia mengaku penelitiannya agak mundur. Pasalnya, ia terlibat dalam pengembangan program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). “Saya membimbing guru-guru kimia SMA untuk dapat mengajar kimia secara bilingual,” jelas Effendy.

Lewat program RSBI, ia menulis buku A Level Chemistry for Senior High School Students volume 1A, 1B, 2A, 2B, dan 3A. Semua buku pelajaran itu berbahasa Inggris. “Mungkin karena fokus menulis buku, penelitian sintesis sempat kedodoran,” lanjutnya.

Keaslian
Minimnya peralatan penunjang penelitian masih menjadi kendala utama. Ia mengaku tak semua perguruan tinggi memiliki alat dan teknisi untuk sintesis. Terutama, alat untuk melihat dan me-modeling atom.’

“Sampai sekarang belum ada peralatan yang dapat melihat atom atau molekul. Kita sekarang bersaing secara global. Jadi, penelitian saya adalah tim. Saya yakin suatu saat akan ada peralatan untuk me-modeling atom,” jelasnya.

Selama menggeluti dunia kimia, Effendy selalu mendapatkan penelitian yang sama, terkait dengan topik dan pembahasan dari peneliti lainnya yang ada di Indonesia. “Saya pernah membuang hasil penelitian saya karena sudah ada penelitian yang duluan muncul di sebuah jurnal ilmiah. Kalau sudah seperti ini, tak ada lagi gunanya seorang peneliti melanjutkan penelitiannya,” cetusnya seraya merapikan kerak bajunya.

Untuk itulah, ia mengaku penelitian harus cepat, tepat, dan terarah dengan topik yang dibahas. Hal itu berguna agar tak didahului peneliti lainnya. “Penelitian sintesis dan penentuan struktur senyawa sudah puluhan tahun saya lakukan. Hasilnya cukup baik dan belum ada yang meneliti,” sambung Effendy.

Unsur keaslian dalam penelitian menjadi syarat utama, terutama untuk hasil ilmiah yang akan dipublikasikan di dunia internasional. “Penelitian di bidang sains itu global. Makanya, saya membuat tim. Semakin lama meneliti semakin ‘berbahaya’,” jelasnya.

Ia menyayangkan masih banyaknya dosen yang memberikan pelajaran kimia secara tradisional. Padahal, perkembangan ilmu kimia semakin kompleks. “Ini tantangan bagi dosen kimia. Generasi muda harus diberikan pemahaman yang global. Saya kira kompetensi dosen harus dilakukan untuk bisa memberikan kesenangan dalam belajar,” jelas alumnus The University of Western Australia, Perth, itu.

Lewat Habibie Award, Effendy mengaku penghargaan itu sebagai pendorong untuk mewujudkan impiannya, yaitu mendukung Universitas Negeri Malang dalam membangun crystallography center. (M-5)

Iwan Kurniawan, iwak@mediaindonesia.com
sumber http://www.mediaindonesia.com/read/2012/12/04/367448/270/115/Mengabdikan-Diri-Meneliti-Atom

Moch Syahri

Moch Syahri adalah Pembina Paket Jurnalistik pada Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Satu tanggapan untuk “[SELESAI] Prof Efendy, Teladan Yang Luar Biasa dalam Bidang Penelitian

Komentar ditutup.