[SELESAI] Remunerasi

Berita Remunerasi dari JPNN.com (http://www.jpnn.com/read/2013/01/27/155833/Pegawai-Kemendikbud-Terima-Remunerasi-Separuh-Gaji-Pokok-) menyatakan bahwa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2013 akan mendapatkan remunerasi 50% dari gaji pokok.
Banyak pihak yang merasa senang dengan diberikannya remunerasi. Akan terbayang pendapatan tambahan yang bermanfaat untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Atau, sudah merencakanan untuk membeli sesuatu, mungkin juga digunakan menambah rekening tabungan yang belum (dan tidak akan pernah) “jumbo”.
Begitu mendengar kabar semakin dekatnya remunerasi diimplementasikan, perasaan berbunga-bunga muncul. Perasaan yang wajar dan bentuk dari rasa syukur. Tetapi, jangan berbahagia melulu. Dibalik “si manis remunerasi”, terbayangkan jugakah konsekuensi logis remunerasi? Bahwa dibalik “kebahagiaan” (berupa penerimaan remunerasi), konsekuensi logisnya adalah “ancaman” (berupa peningkatan kinerja)?
Konsekuensi logis inilah yang mungkin luput dari “mimpi” kita. Kita hanya bermimpi bahagia menerima remunerasi, tetapi kita tidak pernah bermimpi upaya apa yang dapat kita lakukan dalam meningkatkan kinerja. Mampukah kita meningkatkan kinerja? Inilah pertanyaan esensial yang akan membuat kita malu dan ngeri.
Malu (tapi mau) karena kita menerima remunerasi, tetapi tidak ada peningkatan kinerja. Etos kerja tidak meningkat, bahkan cenderung tetap.
Ngeri, karena sadar akan kemampuan diri, sehingga tidak mungkin akan dapat mencapai standar peningkatan kinerja yang telah ditargetkan. Ada rasa tidak yakin akan mampu meningkatkan kinerja. Terutama dalam bidang TIK. Perkembangan TIK yang begitu pesat, membuat kita ngeri, apakah kita mampu mengejar ketertinggalan itu?
Oleh karena itu, marilah menyikapi remunerasi secara proporsional. Artinya kita terima uang remunerasi dan “dibayar lunas” dengan “peningkatan kinerja”. Bukan diterima uangnya, tetapi “enggak janji deh” dengan peningkatan kinerja. Deal?

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id

3 tanggapan untuk “[SELESAI] Remunerasi

  1. Dulu pernah ada guyonan dari pimpinan di unit kerja saya, dengan santainya bertanya kepada kami para staf,

    Pimpinan: “dulu sampeyan masuk ke UM mencari kerja atau mencari duit”,
    dijawab serentak “nyari kerja Pak”,
    Pimpinan: “ya sudah, kalau begitu jika dikasih kerjaan ya jangan ngresulo wong niatnya dulu nyari kerja. Kalo dulu niatnya nyari duit, saya ta ikut bawa karung sekalian”

    … hahahaha biar ga tegang dan tetap fokus pada niat … mariiiiiii

    ekowahyu.s – FISUM

  2. Nah itulah mayoritas orang Indonesia. Mau enaknya saja,tanpa mau bersusah payah. Untuk hal ini, yang perlu kita renungkan adalah bahwa 1.APAKAH SUDAH MAKSIMALKAH KINERJA KITA !!!! 2.APA ORIENTASI KERJA KITA . 3. APA KITA BENAR2 DISEBUT ABDI NEGARA ?
    Karena yang disebut abdi itu adalah orang yang mengabdi/bekerja tanpa pamrih.
    Sedangkan kita para pegawai, apakah sudah cukup bersyukurkah kita dengan apa yang sudah kita dapatkan ?. Sudah bersyukurkah kita dengan rizki yang Allah berikan kepada kita melalui UM ?
    “Tidak akan pernah maksimal kerja kita, jika orientasi kita adalah materi dan menyampikan tanggung jawab dan rasa memiliki lembaga kita.
    Wassalam.

Komentar ditutup.