[SELESAI] Codot makan durian

Saya punya pohon kelengkeng putih di belakang rumah. Karena tergolong varietas genjah, dengan cepat dapat berbuah. Tinggi pohonnya hanya 1,5 meter. Buahnya tidak banyak, sekitar 75 biji, tetapi besar-besar, lebih kecil sedikit dari kelengkeng ping-pong. Adalah menjadi hiburan tersendiri bagi saya untuk menikmati pemandangan buah kelengkeng yang “gemandul”. Minggu lalu, malam hari sekitar jam 9, saya melihat banyak codot di sekitar pohonnya. Pagi harinya, buah kelengkeng saya, habis-bis. Bersih, tidak menyisakan satupun untuk pemiliknya.
Ngomong-ngomong soal codot, saya menjadi tertarik untuk mengkaji hikmah dari perilakunya, sebagai berikut: (1) selalu makan buah yang matang/masak. Codot mempunyai “sensor” untuk menyisir buah yang sudah matang, sehingga buah yang masih muda, tidak akan masuk sasaran tembaknya. (2) tidak pernah keluyuran waktu siang hari. (3) makan secukupnya. Asal sudah kenyang, akan pergi dengan sendirinya, tetapi akan kembali pada esok harinya.
Hikmah yang dapat saya simpulkan adalah konsistensi. Codot selalu berperilaku konsisten “on the track” sesuai dengan takdir sang pencipta. Codot diciptakan dengan takdir untuk makan buah yang matang, hidup di malam hari, dan makan secukupnya.
Kelengkeng saya memang habis, karena jumlah codotnya sekitar 5-10 ekor yang menyerbu. Tetapi di samping pohon kelengkeng, ada pohon jambu air. Buahnya juga banyak. Tetapi tidak habis dalam sekejap, karena jumlah buahnya yang banyak. Bukti bahwa codot tidak serakah. Yang menarik, bila jambu air ber-ulat, tidak akan disentuh sedikit-pun oleh codot. Hal ini terlihat dari tidak adanya bekas gigitan codot di buah jambu air yang ber-ulat. Luar biasa. Codot-pun masih punya sikap toleransi (tepo seliro) dengan ulat. Sudah tahu bahwa jambu air dimakan ulat, codot tahu diri dengan tidak menyentuh makanan yang menjadi hak si-ulat. Kearifan alam yang luar biasa, yang kadang-kadang kita kurang peka memahaminya.
Dibalik hikmah sifat codot yang konsisten dan toleran di atas, pernahkah berpikir sebaliknya: codot makan buah yang masih muda, keluyuran di siang hari, dan membawa keranjang untuk membawa pulang buah ke rumah? Atau ada codot makan durian, padahal durian adalah makanan tupai (bahasa jawa: bajing ). Masih bolehkah kita sebut codot bila perilakunya berubah, tidak sesuai dengan takdirnya? Jawabnya adalah tidak mungkin karena codot selalu taat asas dan konsisten terhadap takdirnya. Tidak ada ceritanya codot mengingkari takdirnya, karena tidak dikaruniai akal oleh sang Pencipta. Jadi, seharusnya, yang berakal harus berpikir, dan berperilaku jauh lebih baik dari codot yang “tidak berakal”.
Sebagai penutup, mungkin ada pembaca yang tahu, bahasa Indonesia-nya codot, apa ya?Kelelawar?sepertinya kurang pas.

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id

3 tanggapan untuk “[SELESAI] Codot makan durian

  1. @Mas Budi
    Tanggung jawab? Saya setuju bahwa tanggung jawabnya besar, pada tataran normatifnya. Tapi pada tataran implementatifnya (atas pertimbangan kepentingan tertentu), satu kata utuh dipecah menjadi dua suku kata: tanggung dan jawab.
    @Yusuf xwt
    Lha ini, kalau mendahului codot, namanya apa ya? Mungkin super codot ya? ha……….haaaaa…….

  2. Memang manusia bukanlah codot, tetapi bahkan bisa berperilaku lebih dari codot. Dalam Al-Qur’an disampaikan “ulaaika kal an’am balhum adhol”, artinya mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat lagi. Bersyukurlah codot bisa berperilaku dan berperan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Makanya kalo mau makan klengkeng jangan dipandang doang. Syukur kalo mau kasih tahu kami, so pasti segera terbang mendahului codot. Wah lebih parah lagi he…he…he…

    Yusuf xwt
    Pegawai PSI UM

  3. Untung codot tidak diberi akal, klo berakal bisa jadi tidak hanya kranjang yang dibawa.
    Akal merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan YME, oleh karenanya anugerah yang besar juga membawa tanggung jawab yang besar pula.
    .
    Salam
    Mas Budi
    Buruh di UM

Komentar ditutup.