[SELESAI] Orisinil

Adaptor komputer saya hilang, karena lupa ditaruh di mana. Ketika mau membeli di toko komputer, pelayan toko mengatakan: “adaptor yang orisinil kami tidak punya, yang ada KW. Kalau Bapak mau, kami ambilkan”. Saya mengecek beberapa toko sebagai bahan perbandingan. Akhirnya ketemu, harga orisinil Rp 250.000, sedangkan yang KW hanya Rp 65.000.

Ada masalah lain. Mobil saya sudah berumur 28 tahun saat ini. Sehingga wajar apabila mesinnya sudah harus diperbaiki. Dari bengkel langganan, setelah dibongkar dan diketahui penyebab kerusakan, saya ditawari oleh pemilik bengkel: “Mau pakai yang orisinil atau KW? Kalau orisinil sekitar 10 juta, apabila KW sekitar 2 juta”

Dari dua kasus di atas, pilihan yang saya ambil sama, yaitu saya pilih yang KW, bukan yang orisinil. Dengan alasan lebih murah, saya memilih yang KW. Dari perspektif manajemen, saya termasuk pelanggan yang “tidak loyal”. Padahal pabrikan selalu berharap bahwa pelanggan selalu loyal dengan membeli onderdil yang orisinil, bukan KW, dengan alasan yang bermacam-macam. Salah satu alasan yang umum adalah bahwa onderdil KW akan merusak mesin/peralatan dalam jangka panjang. Yang pasti, satu hal yang esensial dari onderdil Orisinil dan KW adalah masalah pembajakan. Onderdil orisinil, karena dibuat sebagai kelengkapan peralatan secara utuh, tentu proses pembuatannya melalui penelitian yang rumit. Misalnya tentang daya tahan/keawetan onderdil. Supaya awet, pasti dipilihkan bahan yang terbaik. Sebaliknya, onderdil KW, dibuat hanya dengan memperhitungkan keuntungan, sehingga pemilihan bahan adalah yang lebih murah, tanpa mempertimbangkan keawetan onderdil. Ada 2 keuntungan yang didapat produsen KW yaitu bebas biaya riset dan bebas dari tanggung jawab moral terhadap pelanggan. Sehingga barang KW dapat lebih murah dari yang orisinil karena sifat barang KW yang merupakan “produk pembajakan”.

Itu kalau kita bicara masalah “mesin” komputer dan mobil. Bagaimana bila kita mau memperbaiki “mesin” organisasi yang rusak? Mau pilih onderdil yang KW atau orisinil?

Dalam organisasi, khususnya dari perspektif Sumber Daya Manusia (SDM)-nya, hanya ada dua kelompok yaitu pemimpin dan pekerja. [Analog dengan lebah, hanya ada ratu lebah (sebagai pemimpin) dan lebah pekerja (sebagai yang dipimpin). Masing-masing individu lebah sudah tahu “tupoksi-nya”, sehingga pekerjaan di dunia lebah begitu teratur karena masing-masing tahu peran dan tugasnya].

Variabel yang harus ditegaskan adalah “komitmen awal”. Jejak awal komitmen seseorang menapaki jalur yang mana: (calon) pemimpin atau (calon) pekerja, sangat mudah ditelusuri. Begitu masuk anggota organisasi, baik individu maupun organisasi harus konsisten. Apabila diterima sebagai calon pemimpin, organisasi harus “mendidik” individu sebagai calon pemimpin yang baik. Individu juga harus berusaha meningkatkan kompetensinya agar dapat menjadi pemimpin yang baik pada saatnya. Sebaliknya, organisasi juga harus mendidik calon pekerja dengan baik agar dapat bekerja secara profesional pada saat mendatang. Calon pekerja juga harus berusaha meningkatkan “skill”nya, supaya dapat menjadi profesional. Seperti cerita lebah di atas, apabila masing-masing individu “konsisten dengan komitmen awalnya”, maka organisasi akan berjalan dengan baik, karena telah di “skenario-kan“ dan di antisipasi sejak awal kemungkinan perkembangan organisasi yang akan terjadi pada masa mendatang.

“Mesin” organisasi akan bermasalah, ketika “konsistensi komitmen awal” tidak dipenuhi. Mesin organisasi akan terseok-seok, ketika “calon pekerja” menjadi “pemimpin”, dan sebaliknya “calon pemimpin” menjadi “pekerja”. Kalau saya ibaratkan (sesuai dengan konteks cerita ini, yaitu tentang orisinal dan KW), “calon pemimpin yang menjadi pekerja” adalah yang orisinil, sedangkan “calon pekerja yang menjadi pemimpin” adalah KW.

Jadi, bagaimana cara memperbaiki mesin organisasi yang “masuk angin”? Sudah pasti, harus dengan menggunakan onderdil yang orisinil, yaitu dengan cara mengembalikan semua pada habitatnya. Ibarat lebah di atas, bila habitatnya ratu, ya dikembalikan menjadi ratu. Dan yang sejak awal habitatnya pekerja, dikembalikan juga ke komunitas pekerja. Terasa tidak sinkron, apabila pekerja menjadi ratu, dan sebaliknya ratu menjadi pekerja, karena dari penampilannya saja (belum kompetensinya), sudah jelas tidak cocok plus tidak elok, karena tidak sesuai dengan rancangan awal peruntukannya.

Tapi kan sulit juga harus mengembalikan semua ke “blue print” organisasi, karena sudah terlanjur, sehingga tidak mungkin di tarik kembali? Gampang. Manajemen adalah ilmu dan seni. Apa artinya? Ketika manajemen berjalan pada “orbit”nya, kita boleh berlega hati (bukan berbangga diri), dan sampaikan saja bahwa kita menjalankan organisasi secara “scientific management”. Tetapi saat organisasi sedang terserang “demam”, itulah saat kita menyampaikan justifikasi pada publik bahwa manajemen adalah seni. Lho?

Diding Kusumahadi
Pegawai Subag Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id

6 tanggapan untuk “[SELESAI] Orisinil

  1. @diding

    time will tell dan time to tell adalah sodara kandung …
    when the time comes … it’s time to tell …
    when it doesn’t come … let there be a light and wait until it tells us

    hahahahahaha
    sama-sama Pak… terima kasih juga ….

  2. @anonymous–
    Perbedaan. Ini esensinya. Perbedaan harus diselesaikan dengan dialog. Dialog adalah tiang demokrasi. Dialog adalah ciri khas masyarakat akademik. Perbedaan tidak bisa diselesaikan dengan hegemoni.
    Saya sangat senang dengan tanggapan yang Anda sampaikan. Sayang sekali, saya tidak dapat mengetahui jati diri anda sebenarnya. Tapi tidak masalah. Saya sangat menghormati tanggapan Anda.
    Kalau Anda menutup tanggapan dengan “time to tell”, ijinkan saya menutup dialog kita dengan “the show must go on”. Haaaa……..Haaaaaa. Sekali lagi, salam hormat dan terima kasih saya atas tanggapan Anda.

  3. @diding

    Maaf kalau salah memaknai, karena pemikiran mungkin bisa berbeda, dengan landasan yang tentu berbeda pula.

    Dari sini sudah terlihat sekilas kan, bahwa interpretasi antara satu orang dengan orang yang lain bisa berbeda.
    demikian pula konteks organisasi. Tidak ada yang tahu persis mau kemana arah pengembangan SDM suatu organisasi kecuali bagi mereka yang memegang kendali organisasi tersebut.

    Perbedaan pola pikir, interpretasi, dan juga cara eksekusi tiap orang dalam organisasi pasti berbeda-beda. Dan perbedaan itulah yang justru membawa berkah, karena dengan adanya perbedaan terjadi dinamika, terjadi adu kemampuan adu opini dan adu kompetensi.

    Namun tetap harus diingat tiada seorang pun berhak menilai bahwa dirinya itu ter-akreditasi A, B atau C. Ada pihak lain yang berwenang untuk menilai ini, dan ada pihak lain pula yang berhak dan berwenang untuk mengarahkan bahwa seseorang itu meskipun dengan akreditasi C pun layak dibawa ke kancah persaingan dengan mereka yang ber-akreditasi A.

    Time will tell … biarlah waktu yang berbicara.

  4. @anonymous–
    Jangan salah memaknai. Tolong dipahami konteks. Bahwa konteksnya adalah organisasi. Scope-nya adalah organisasi, bukan kehidupan masyarakat secara makro.

  5. Sebuah analogi yang salah kaprah ….

    Berdasarkan tulisan di atas, serta merta penulis menyimpulkan bahwa ada Manusia KW dan manusia ORIGINAL.
    Dalam sejarah, hal serupa pernah hampir diterapkan oleh bangsa Jerman bahwa satu-satunya ras yang unggul adalah ras Arya sehingga proses pemusnahan ras secara perlahan-lahan dilakukan (dan untungnya tidak jadi terlaksana seluruhnya)

    Mengutip dari sebuah filsuf: “Seorang pemimpin dianggap berhasil apabila orang tidak mengetahui keberadaannya, namun ketika pekerjaan dan tujuannya telah tercapai, semua orang akan berkata: kami melakukannya sendiri (tanpa ada yang memimpin) – Lao Tzu

    Tuhan menciptakan manusia dengan segala fitrahnya … kalaupun ada yang berbakat jadi pemimpin, dan ada yang berbakat jadi pekerja tidak serta merta itu membuat mereka menjadi ORIGINAL atau KW. Karena Pemimpin tanpa Pekerja tidak akan ada yang dipimpin, dan Pekerja tanpa Pemimpin akan semburat seperti pasir di gunung Bromo yang tertiup angin.

    Kalaupun ada yang sebenarnya berbakat jadi pekerja dan kemudian dijadikan pemimpin, siapa yang tahu arah perjalanannya ke depan? Siapa yang tahu X-factor yang ada padanya sehingga dia dijadikan pemimpin, hanya Tuhan yang Maha Tahu … manusia tidak berhak menguak tabir itu.

    Ya. Anonymous– sengaja digunakan untuk tidak merujuk apakah ini Original atau KW ….

    Terima kasih

Komentar ditutup.