[selesai] ABU-ABU

Putih dimaknai sebagai sesuatu yang bersih. Putih dimaknai sebagai sesuatu yang baik, suci, bersih, benar. Warna putih adalah icon kebaikan. Hitam dimaknai sebagai sesuatu yang kotor. Umumnya perilaku yang tidak baik disimbolkan dengan warna hitam. Hitam dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek, buruk, kotor, salah.

Dalam khasanah warna, apabila warna hitam dicampur dengan warna putih, akan menghasilkan varietas warna baru yang bernama abu-abu. Apabila pencampuran dilakukan dengan mengaduk setengah hati, masih akan kelihatan, mana yang warna putih, dan mana yang warna hitam. Sebaliknya, apabila pencampuran dilakukan dengan penuh semangat, akan tercipta warna abu-abu yang sempurna. Tidak akan kelihatan, mana yang putih dan mana yang abu-abu.

Makna hitam dan putih, mungkin sudah jelas , semua orang tahu. Sedangkan abu-abu? Istilah populer yang ada di masyarakat adalah apa yang disebut “wilayah abu-abu”. Wilayah ini sangat menarik untuk ditelusuri, karena diwilayah ini bersemayam berbagai macam perilaku yang absurd. Area ini merupakan arena pertempuran antara si-putih (kebaikan) melawan si-hitam (keburukan). Umumnya, wilayah ini dipergunakan sebagai bengkel resmi untuk merekayasa perbuatan salah menjadi perbuatan yang dapat “diterima “ (tidak akan pernah dapat dibenarkan, karena sudah jelas sesuatu yang salah). Hal yang baik dan buruk menjadi rancu. Yang benar dan yang salah sengaja dikaburkan, sehingga seolah-olah tidak ada alternatif benar dan salah. Seolah-olah yang ada adalah hanya kebenaran.

Yang benar (pasti) di-salah-kan (dan sebaliknya) yang salah adalah yang benar. Wilayah abu-abu, bisa jadi, merupakan singgasana yang sangat nyaman bagi para fans berat Machiavelli. Medan yang nyaman bagi pecinta hedonisme. Tempat yang sejuk bagi mereka yang haus akan justifikasi tindakan mereka yang amat sangat subyektif. Istana yang nyaman bagi pemuja ” value free”. “Rest area” yang sangat ideal bagi penggemar hegemoni kekuasaan, karena dapat dilaksanakan tanpa halangan, tanpa ada seorangpun yang berani dan sanggup menghentikannya. Semuanya serba instan. Apapun keinginannya, seketika itu juga, selalu terpenuhi. Semua individu menjadi raja yang sangat mencintai wilayah kekuasaannya. Semua keinginannya diumbar untuk dilaksanakan seolah olah hidup ini abadi.

Mereka lupa bahwa manusia bisa (dan pasti) mati. Mereka salah menduga bahwa kehidupan abadi bukanlah saat ini, tetapi setelah mereka meninggalkan wilayah abu-abu yang dicintainya. Syukurlah, apabila mereka segera tersadar, bahwa mereka hidup di habitat yang tidak cocok, dan segera kembali ke habitat yang sebenarnya.

Yang harus kita cermati adalah dampak dari hasil pengembaraan di wilayah abu-abu. Setelah menanggung akibat dari pertandingan di wilayah abu-abu, hanya rasa penyesalan yang menjadi pendamping hidup yang setia dalam suka dan duka. Ada paradakos di sini yaitu, ketika mereka berangkat ke wilayah abu-abu dengan gagah dan “sengaja”, berubah menjadi kecut dan berdarah-darah ketika kembali, sebagai akibat tidak kuat bertahan di medan permainan. Hikayat dan akibat dari para mantan pemain inilah, yang harus kita simak dengan baik ceritanya, mengambil hikmahnya, agar kita tidak tergoda untuk ikut bertanding. Hikmah merupakan portal yang menghalangi kita untuk masuk arena pertandingan.

Berbuat baik (putih) adalah kewajiban. Berbuat jahat (hitam) adalah pilihan. Berbuat membenarkan yang salah (abu-abu) adalah kesesatan. Sehingga, masih perlukah minta kepada wasit “perpanjangan waktu” untuk meneruskan pertandingan di wilayah abu-abu? Saya hanya bisa memastikan bahwa pemain abu-abu, pasti rokoknya gudang garam merah, kerena (sesuai slogannya) punya “selera pemberani”.

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id