[selesai] INSTAN

Kata instan mempunyai pengertian cepat, langsung jadi, siap pakai. Semua langsung siap tanpa bersusah payah untuk memprosesnya. Contoh yang paling sederhana dan mudah adalah mie instan. Hanya tinggal mendidihkan air, masukkan mie dan bumbunya, selesai dan siap untuk di makan. Atau contoh lain adalah susu instan. Tanpa harus punya sapi dan memeras susunya, kita hanya tinggal menyeduh susu instan dengan air panas, susu siap diminum. Kelebihan dari mie dan susu adalah perusahaan pembuatnya secara tegas menyatakan (mengakui) bahwa produknya instan. Dalam kemasannya tertulis “instant noodle” untuk mie, atau “susu instan” untuk produk susu.
Dua produk di atas adalah sekedar dua contoh untuk produk makanan. Untuk melihat produk lain dari hasil karya instan, coba ketik di google dengan kata kunci produk instan. Akan kita temui banyak produk instan di sana. Akan dapat ditemui produk jilbab instan. Maksud jilbab instan, penggunaannya begitu praktis, tidak ribet, semudah memakai topi, sehingga disebut jilbab instan. Ada juga dari dunia kosmetik, disebut dengan kosmetik instan. Misalnya produk pemutih kulit, hanya dengan menggunakannya beberapa minggu, kulit anda akan dijamin putih bila menggunakan kosmetik tersebut.
Instan yang canggih adalah pesan instan (instant messaging). Dengan berbekal komputer atau handphone, kita dengan mudah dapat menikmati pesan instan. Dengan tidak memperdulikan dimensi ruang dan waktu, seseorang dapat kita hubungi melalui pesan instan ini. Bahkan untuk mencetak seorang entertainer-pun, dapat dilakukan dengan instan. Berbagai kontes “idol” di televisi, merupakan sarana untuk mengorbitkan seseorang menjadi “artis dadakan”. Padahal, untuk mendukung seorang peserta untuk menjadi pemenang, berapa rupiah SMS yang kita berikan pada pengelola acara? Berapa laba pengelola acara? Dan yang paling penting, pemenangnya ditentukan bukan berdasarkan prestasi-nya, tetapi dukungan sms-nya.
Produk instan telah merambah ke segala sudut kehidupan manusia. Produk instan mengubah mimpi manusia menjadi kenyataan dalam sekejap tanpa harus ter-mehek-mehek untuk meraihnya. Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, apa yang diinginkan segera terwujud di depan mata. Produk instan seolah-olah merupakan produk “sulap” yang selesai dan tercapai hanya dengan “bim salabim”. Produk instan merupakan dukun sakti yang dapat mengubah hidup manusia menjadi lebih baik, walaupun harus dengan mengorbankan harta dan (tidak jarang) kehidupannya. Manusia menjadi begitu tunduk dan patuh pada “perwujudan keinginannya”. Budaya instan telah menjadi “icon” gaya hidup, yang digandrungi banyak orang. Dengan hanya menggosok lampu Aladin, semua mimpi yang ada diangan-angan, dengan seketika tersedia dihadapan kita.
Budaya instan tengah melebarkan sayapnya dalam rangka mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Budaya instan menawarkan pilihan jalan keluar yang seolah-olah tepat untuk menyelesaikan masalah. Segala macam persoalan yang rumit, di selesaikan dengan cara instan. Cara instan memang bisa menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi tidak untuk jangka panjang. Budaya instan hanya menunda resiko. Dampak dari budaya instan tidak kita rasakan seketika, tetapi akan terasa dalam jangka panjang.
Tapi, di tengah gemerlap godaan duniawi, adakah cara untuk menjadi kaya secara instan? Ada. Hanya caranya yang harus dipertanyakan ke”beradaban”nya, karena mungkin (maaf) biadab.