[selesai] PINOKIO

Saya mempunyai seorang tetangga mulai kecil (tahun 1970-an), yang suaminya adalah dosen sebuah PTN (yang pasti bukan UM). Saya tahu dan mengerti betul budaya lingkungan asalnya, karena saya kenal sejak dahulu. Budaya lingkungannya dibesarkan dengan (dalam konteks hiburan) gegap gempita orkes dangdut (termasuk saya juga). Kebiasaan sejak kecil mendengarkan musik orkes ini, terbawa sampai sekarang. Makanya, sampai saat ini saya bersahabat dengan Rita Sugiarto, Camelia Malik, dan yang paling top: Elvi Sukaesih.
Pada setiap hari Jum’at sore, saya selalu menjalankan ritual wajib berupa main tenis lapangan di universitas tetangga sebelah. Di atas lapangan tenis, ada aula lengkap dengan soundsistemnya. Suara lagu cha-cha yang selalu terdengar dengan keras, mengganggu orang yang main tenis. Ternyata aula tersebut digunakan ibu-ibu untuk berlatih dansa. Para petenis tidak bisa protes masalah kebisingan pada pengelola lapangan, karena yang berlatih dansa adalah ibu-ibu pejabat. Karena keluarga pejabat, tidak ada yang berani usil untuk mengusiknya.
Kejadian mengejutkan terjadi ketika pedansa dan petenis pulang bersamaan. Saya heran dan kaget, ternyata diantara sekian banyak ibu-ibu, ada tetangga saya yang ikut berlatih sebagai pedansa. Saya hanya bisa melongo, terheran-heran. Bagaimana orang yang budaya asalnya adalah orkes (dang-dut) bersalin rupa menjadi dansa? Ah gak jauh koq, hanya dari orkes menuju orkestra. Weleh-weleh……..
Kejadian lain, kali ini dari teman UM. Tahun lalu, saya ikut sebuah pelatihan di aula perpustakaan. Lazimnya pelatihan, ada cofee break sekitar pukul 10.00. Ada seorang teman yang duduk manis di kursi, memanggil anak buahnya yang (saya tidak tahu) kebetulan atau sengaja mengikuti pelatihan. Tapi dugaan saya sang anak buah sengaja diikutkan untuk menambah ilmu untuk kemajuan kantornya, plus (nah, ini) melayani sang prabu. . Sang anak buah ikut pelatihan dengan tugas ganda. Sambil menyelam minum air. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Sang prabu memerintahkan prajuritnya untuk mengambilkan snack!. Wah, hebat betul pejabat karbitan kita ini, bukan duduk di café, tapi minta dilayani. Benar-benar seorang sahabat super. Seorang prabu punya prajurit yang dilengkapi dengan asesoris “loyalitas buta”. Enak tenan….. Mungkin masa kecil sahabat super ini telah kenyang dalam menikmati pahitnya kehidupan kaum proletar, sehingga begitu mendapat “setetes saja ” kekuasaan, diseruput dengan ganas karena begitu hausnya akan kenikmatan hidup borjuis, walaupun dengan cara yang salah konteks.
Pelajaran apa yang dapat ditarik dari dua cerita yang saya sampaikan di atas? Adalah, bagaimana, ternyata, kacang bisa lupa kulitnya. Adalah, bagaimana mungkin, buah bisa jatuh jauh dari pohonnya. Adalah bagaimana “seorang” petruk dadi ratu. Adalah sesuatu yang aneh, akar budaya yang tertanam sejak kecil, dicabut begitu saja dengan ringan, demi memenuhi gengsinya sebagai seorang prabu. Supaya kelihatan terpandang dan terhormat di in-group-nya dan terlebih lagi out-groupnya (karena tidak mengenal asal-usulnya), akar budaya yang bersifat ndeso (untuk ukuran sekarang) harus dihilangkan. Asal-usul yang berbau “sawah dan kerbau” harus di-delete..
Supaya berimbang, dan demi memenuhi unsur cover both side, saya akan melihat diri saya sendiri. Pada waktu kecil, saya dibesarkan di lingkungan yang full orkes. Tapi menjadi absurd ketika sudah tua begini saya menjadi pengikut “mother monster”? Bila mengalun suara orkes (dangdut) saya pura-pura tidak kenal, tidak suka. Padahal, kalau tidak ada yang melihat, minimal kaki akan ikut bergoyang sambil mengingat masa kecil yang menyenangkan. Pada saat muda, saya biasa menggenggam cangkul, tapi saat tua menggenggam raket tenis? Kalau sekarang diminta bantuan mencangkul, beralasan tidak bisa karena tidak pernah memegang cangkul, sehingga tidak bisa membantu untuk menyelesaikan. Atau menggunakan alasan medis untuk menutupi keengganan, dengan mengatakan tangan dan kaki saya sakit karena asam urat. Linu semua. Atau, yang berbahaya, saat kecil suka mencuri jambu, setelah besar mencuri prabu. Kebiasaan kecil, dibawa terus sampai besar.
Lingkungan masyarakat sewaktu masih kanak-kanak, akan terbawa terus sampai dewasa. Mungkin, sewaktu besar, kita hidup dilingkungan yang berbeda, budaya sejak kecil tidak bisa disembunyikan apalagi diingkari. Sepandai-pandainya menyimpan asal-usul, pada momen tertentu, akan ketahuan juga. Misalnya, saya sendiri, kalau men dengarkan lagu orkes di atas, kalau tidak ada yang melihat, bisa joget sampai pagi. Ketahuan aslinya: Petruk dadi Pinokio.

Diding Kusumahadi
Pegawai Subag Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

Satu tanggapan untuk “[selesai] PINOKIO

  1. Padahal Petruk dadi Ratu justru bermakna sebaliknya, dimana Petruk ingin mengobrak-abrik tatanan kahyangan yang sudah mapan dan terlalu mainstream.

    Tapi bagi sebagian orang Petruk dadi Ratu disimbolkan sebagai seorang kawulo alit yang mendadak jadi terkenal ….

    Tidak banyak dari kita yang tahu betapa sebenarnya Petruk itu Sakti Mandraguna, tidak ada yang bisa menghadapinya pada saat dia belum menjadi Petruk kecuali Eyang Semar Bodronoyo ….

Komentar ditutup.