[selesai] KEMBANG API

Karir kerja seseorang, tiap tahun pasti akan bertambah naik. Yang tahun ini golongan IIb, misalnya, 4 tahun lagi akan naik menjadi golongan IIc. Atau contoh dilevel “juragan”, yang saat ini menjabat sebagai lower manager, bisa jadi tahun depan akan menjadi middle manager. Kenaikan karir menjadi keniscayaan, dengan asumsi ceteris paribus. Bagaimana hakekat menapaki karir dalam frame business as usual? Caranya adalah dengan naik kendaraan yang tepat. Stasiunnya sama. Tetapi loket pembelian karcis yang berbeda. Satu loket untuk pejabat karir dan satu lagi untuk non karier. Pejabat karir harus membeli tiket balon udara, pejabat non karier harus membeli tiket naik kembang api. “Opo maneh, iki?”
Karir pemimpin harus naik kendaraan yang tepat. Artinya, harus memenuhi ketentuan peruntukan masing-masing kendaraan. Sudah disediakan kendaraan bagi masing-masing jabatan yang bersifat mengikat serta final. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Pemimpin karier wajib naik balon udara dalam meniti karirnya. Naik dengan pelan, mantab, dan pasti. Ada antrian yang panjang untuk bergantian naik ke udara. Karena antrian panjang, dibuatlah karcis demi ketertiban urutan. Masing-masing memegang tiket untuk naik secara sah. Tidak ada kendaraan lain yang disediakan bagi pejabat karier, kecuali balon udara. Sesama penumpang, dilarang mendahului (karena nomor antrian sudah ditentukan). Siapa yang berangkat duluan, tentu akan mencapai ketinggian terlebih dahulu. Antri dengan tertib sesuai urutan adalah syarat mutlak bagi pejabat karier. Dimungkinkan menyalip antrian, selama ada alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum (positif).
Berbeda dengan pejabat non karier. Pejabat ini tidak perlu mengantri. Yang ada adalah dapat tiket dan tidak dapat tiket. Mendapat tiket, berarti siap untuk naik. Bila tidak mendapat tiket, jangan berharap dapat naik kembang api dalam meniti karirnya. Bagi yang tidak mendapat tiket, dimohon dengan hormat untuk meninggalkan stasiun. Karena sifatnya yang tidak perlu antri, jelas, pejabat non karier dilarang keras naik balon udara. Kendaraan yang disediakan hanya kembang api. Melesat cepat ke udara. Dari bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Tidak naik step by step, karena naiknya berdasarkan dukungan orang banyak. Begitu hasil pemilihan menyatakan dirinya menang, melesatlah ke udara dengan naik kembang api. Sah dan halal.
Jelas, pejabat karier wajib hukumnya untuk mengantri dulu naik balon udara. Pejabat non karier tidak ada antrian, hanya menunggu kepastian kemenangan pemilihan. Meskipun stasiunnya sama, kepadatan peron calon penumpang sangat jauh berbeda. Peron calon penumpang yang menunggu balon udara penuh sesak dengan penumpang yang antri dengan memegang karcis ditangan. Berdesakan dan terdengar gaduh, karena gundah menunggu datangnya balon udara dengan kapasitas penumpang yang sangat terbatas. Tidak mungkin balon udara dapat memuat seluruh penumpang diperon dengan sekali angkut. Antrian yang panjang, memancing kedatangan para calo menawarkan jasanya. Jasa menyalip antrian, membuat para calon penumpang yang bertempramen tidak sabaran menjadi tergoda. Dijalin kesepakatan “dagang sapi” dengan sang calo. Begitu terjadi deal dengan si calo, dengan senyum mengembang, berangkat dululah penumpang dengan bantuan calo. Atas jasa si calo yang “baik tapi tidak benar”, antriannya yang bernomor sekian puluh, menjadi antrian nomor 1. Ajaib. Melengganglah dengan mantab dan pasti si penyalib antrian, melangkah naik balon udara dengan pe-de-nya. Tetapi penyalib antrian “pura-pura” lupa, bahwa ancaman kehabisan api yang menyembur ruang balon, bisa dan sangat mungkin terjadi. Apalagi status naiknya sebagai penumpang adalah penumpang gelap, dalam arti penumpang tidak sah karena hasil melangkahi penumpang yang tertib. Ketika dengan tenang tengah menikmati perjalanannya yang nyaman, tiba-tiba terdengar lagu anak anak “balonku” yang populer itu. Meletus balon hijau….dorrr……..Apabila resiko ini terjadi, jelas dia akan jatuh terhempas ke tanah dengan telak.Masih mending kalau jatuhnya setengah perjalanan, kalau sudah hampir sampai tujuan?Bisa jadi bebek belur. Biasanya bukan sekedar jatuh, tapi terpimpa tangga pula. Inilah konsekwensi logis yang luput dari perhitungannya, pada waktu menjalin deal dengan calo. Bukankah tindakannya merugikan penumpang lain yang antri dengan tertib? Sehingga penumpang yang tertib berpredikat sebagai yang dianiaya. Jangan disepelekan doanya.
Disisi lain, di peron pejabat non karier terlihat sangat sepi. Karena kendaraaannya adalah kembang api yang melesat dengan cepat, tidak ada antrian, karena semua penumpang dalam hitungan detik dapat diantarkan sampai tujuannya dengan selamat. Walaupun berjalan full speed, resiko meledak di udara sangat kecil, karena yang dibawanya adalah amanat dari para pemilih. Karena amanat dari pemilih inilah, keabsahannya sebagai penumpang tidak perlu diragukan lagi dari sisi manapun. Pemilih mempersilahkannya dengan ikhlas untuk naik kembang api. Sudah tentu, perbuatan baik akan mendapat balasan yang lebih baik, sehingga para penumpang tidak khawatir terjadi kecelakaan.
Pada hakekatnya, ada perbedaan esensial dari dua jenis pejabat ini. Pejabat karier di pilih bukan dalam arti sebenarnya, sedang non karier di pilih dalam arti sebenarnya. Meski perbedaannya terletak hanya pada kata “bukan”, implikasinya tidak sederhana. Karena hanya terpaut selangkah keseberang inilah, banyak yang tergoda untuk berpindah masuk ke jalur tetangga yang terlihat sepi walaupun tahu bukan haknya, yaitu pejabat karier yang naik naik kembang api. Semoga tidak meledak ditengah jalan. Itulah yang dinamakan politisasi birokrasi,
Kembang api memang indah. Tapi jangan hanya kembang indahnya saja yang dinikmati, hati-hati dengan api-nya. Kembangnya memang bisa membuat hati menjadi bungah, tetapi jangan lupa bahwa apinya bisa membumihanguskan karir. Berani coba? Semoga tidak, karena hanya akan menambah panjang jumlah korban sia-sia kecelakaan penumpang gelap kembang api. Adakah kesanggupan dan kepekaan kita untuk mengambil pelajaran dari para korban? Padahal Pak De Rhoma telah mengingatkan bahwa

Sebagai hidangan penutup, tidak ada salahnya kita nikmati ini: http://www.youtube.com/watch?v=76l-TO7kZz4

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

4 tanggapan untuk “[selesai] KEMBANG API

  1. @Dedi Mukhlas
    Siiiipppp.Anda paham maksud saya. Mohon dalam membaca artikel, jangan hanya yang tersurat, tetapi explore juga yang tersirat. Yang tersirat ini yang lebih asyik. Terima kasih atensinya. Salam sukses.

  2. @diding
    Benar juga jika apa yang disampaikan Pak Didig, memang di Berkarya Harus memiliki sudut pandang akademis dan berisikan kajian pustaka yang sangat mendalam. Oke, sama-sama Pak. Sukses selalu untuk Bapak 🙂

    Terima kasih juga atas kesedian Bapak dalam memberikan respon dan tanggapan.

  3. @Dedi Mukhlas
    Hubungannya? tergantung dari sudut pandang kita. Saya memang sengaja masuk SUARA KITA, karena artikel saya hanya catatan kecil saja, yang tidak layak dikaji dari sudut pandang akademis. Sedang BERKARYA DAN TERUS BERKARYA harus punya derajat akademik yang tinggi. Terima kasih sarannya.

  4. Maaf apa hubungannya artikel ini dengan SUARA KITA??? Apa ini TIM SUKSES Pak Aji Romah??? Sangat di sayangkan jika SUARA KITA yang seharusnya bisa memberikan penjelasan menggenai bidang akademis, kampus, tanya jawab, dan sebagainya seputar UM dijadikan hal yang tidak jelas. Menurut saya cocoknya artikel ini masuk dalam BERKARYA UM, bukan disini. Terima kasih

    DEDI MUKHLAS
    TEP UM 2009

Komentar ditutup.