[selesai] JOY FLIGHT

Cucak rowo merupakan burung peliharaan kelas premium yang suaranya ciamik. Sayang, karena suaranya bagus, harganya mahal. Belum sangkar emasnya, yang juga lumayan mahal. Karena unsur mahal ini, mulai dulu sampai saat ini, saya belum berkesempatan memilikinya. Cukup mendengarkan suara cucak rowo tetangga. Lebih efektif dan efisien. Tanpa harus repot memberi makan, membersihkan kotorannya, sampai memandikan. Juga tidak perlu repot menitipkan si cucak rowo bila ditinggal pergi ke luar kota beberapa hari. Tidak perlu pusing mengurus segala sesuatunya, tapi nunut menikmati suaranya. Ini namanya ikut menikmati burung tetangga dalam konteks positif. Tapi disisi lain, bisa jadi, merupakan cermin egoisme individu yang tinggi.
Di sisi lain, halaman belakang rumah saya ada pohon jambu air yang tinggi dan rindang. Karena rindang dan tidak pernah di ganggu, banyak burung yang berdiam di sana. Burung gereja, pasti ada. Kutilang, banyak. Ada juga beberapa perkutut. Tetapi yang dominan adalah burung emprit. Saking kerasannya, ada beberapa sarang burung bertengger di dahan yang tinggi. Emprit menjadi penguasa pohon jambu. Yang lain hanya nunut ngiyup. Karena jumlahnya banyak, komunitas emprit menjadi penguasa tunggal pohon. Yang lain agak enggan bertengger, karena kalah banyak dalam hal jumlah anggota komunitas.
Emprit versus Cucak rowo. Sudah pasti, dari segi suara, suara emprit bukan lawan yang seimbang cucak rowo. Suara emprit monoton (satu nada saja), sedangkan cucak rowo begitu variatif nadanya. Dari sisi fisiknya, cucak rowo gagah dan badannya bongsor, sedangkan si emprit kecil mungil. Dari dua aspek ini saja (suara dan badan), cucak rowo menang telak. Skor 2-0 untuk cucak rowo.
Tetapi, meskipun badannya kecil dan suaranya monoton, emprit juga punya kelebihan. Meskipun kecil, gerakannya tangkas dan gesit. Kelebihan ini yang bisa menjadi senjata pamungkas bagi emprit untuk mengalahkan cucak rowo. Senjata pemusnah massal yang akan membuat cucak rowo tidak berarti apa-apa dengan kewibawaan suaranya dihadapan si emprit yang kecil. Apa senjatanya? KEBEBASAN.
Cucak rowo hanyalah burung dalam sangkar emas, walaupun penampilan dan suaranya meyakinkan, tidak bisa terbang bebas sesuai keinginannya. Cucak rowo hanya ”dowo buntute, akeh wulu-ne”. Ada ikatan dengan majikannya, sebagai kompensasi dari kenikmatan sesaat yang didapatnya. Bentuk kenikmatannya berupa makan dan minum yang selalu tersedia tanpa meminta dan mencari, kebersihan sangkar yang selalu terjaga, kebersihan badan , dan jaminan keselamatan dari terkaman kucing garong. Semua fasilitas bintang lima ini harus ditebus dengan kebebasan yang dikebiri oleh majikan. Dipenjara seumur hidup, tetapi semua terjamin, kecuali kebebasan untuk melakukan joy flight. Hanya bebas melakukan salto di dalam sangkar emasnya. Dalam konteks ini, yang harus dimaklumi adalah bahwa cucak rowo tidak bisa memilih karena eksploitasi manusia. Begitu ditangkap manusia dan dikurung, ya habis sudah. Tidak punya daya untuk melawan. Lain dengan manusia yang punya daya tawar untuk memilih. Mau bebas atau mau dieksploitasi.
Lain lagi dengan emprit. Meskipun fasilitas yang di dapatnya adalah kelas backpacker, mau apa dan kemana saja, tidak ada yang melarang. Dengan kebebasan penuh yang dimilikinya, emprit “berjalan lurus” selaras dengan takdirnya. Meski makanan harus mengais sendiri karena tidak tersedia, minum bukan air mineral, sarangnya mungkin sangat kotor, mandinya bukan mandi susu, emprit terlihat sangat menikmati hidupnya yang bebas dari eksploitasi. Emprit melakukan joy flight dengan nyaman, tanpa takut harus menabrak gunung Salak. Dengan senjata “kebebasan” inilah emprit membangun serangan terhadap cucak rowo sehingga memenangkan pertandingan secara telak dengan skor (~) – (2) sampai game over.
Kebebasan untuk memilih adalah esensi kehidupan manusia. Hanya ada dua jalan yang dipilih: jalan yang lurus atau yang bengkok. Tidak ada third way. Kalaupun ada, third way dibuat sendiri sebagai emergency exit untuk membenarkan tindakannya yang salah dan menghindari resiko duniawi saja. Hanya ada dua jalan disediakan oleh Sang Pencipta untuk dipilih, dan manusia bebas, sebebas-bebasnya, memilih dengan konsekuensinya masing-masing.
Akhirnya, kalau menjadi supporter fanatik, manakah yang harus dipilih? Cucak rowo atau emprit? Saya yakin, pasti yang dipilih emprit rasa cucak rowo. Kalau pilihannya model sinkretisme begini, namanya ser….kah. Emprit rasa cucak rowo inilah yang dinamakan third way. Kalau mau, akan saya panggilkan Doraemon untuk membuatnya dengan memanfaatkan kantong ajaib yang dimiliki.

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

4 tanggapan untuk “[selesai] JOY FLIGHT

  1. Kadang-kadang hidup adalah suatu “pilihan”, namun tidak jarang ada pula hidup ini sebagai garis “nasib”.
    Tinggal kita yang menyikapi, mau jadi emprit ataupun cucak rowo.
    Kalu mau jadi emprit, jadilah “emprit erline” yang mampu mengatasi badai kehidupan. Walaupun kecil atapun dipinggirkan, mampu tetap bersuara dengan nyaring. Sehingga banyak orang mau tidak mau pada akhirnya tetap mendengarkan kicauannya yang khas namun menyejukkan hati yang gersang. Keberadaannya walaupun kecil, bisa menjadi “suluh” ditengah kehidupan.
    Kalu mau jadi cucak rowo, jadilah “cucak rowo erline” yang mampu bersenandung nyaring buat semua orang, dalam kondisi apapun bisa menjadi berkat. Walaupun banyak orang memuji-muji keindahan si cucak rowo dhowo buntute tidaklah membuat pongah hatinya, namun bisa “mulat sariro hangrosowani”. Keberadaannya walaupun besar, bisa menjadi pengayom buat semua orang.
    Apapun pilihannya, marilah kita sekarang keluar dari zona nyaman kita. Mari berbuat yang terbaik untuk UM tercinta.
    Selamat berkarya & bekerja. GBU

  2. Terima kasih uraian sebagai penjelasan tambahan. Mantab. Terima kasih juga atas atensi Bapak Yusuf.

  3. Kalau boleh memilih, maunya orang banyak yang pilih menjadi emprit rasa cucak rowo. Tapi yaitu tadi, serrakah namanya. Kata orang, waktu anak bermanja-manja, tatkalah mudah foya-foya, ketika tua kaya raya, dan maunya setelah mati masuk syurga. Dalam dilematis kehidupan, kadang tatkalah ia harus memilih emprit yang bebas, eh..eh.. nyatanya ia tak mampu berekspresi dalam kebebasannya. Dalam kebebasannya ia tak tahu harus berbuat apa, untuk apa, kemana, dan kepada siapa. Akhirnya menerawang kembali, alangkah enaknya menjadi cucak rowo, dapat tinggal di rumah indah, nyaman, mau tidur bebas… menggantung, ndlosor, atau nangkring… bebaslah. Mau makan tinggal makan, mau minum tinggal minum, ya.. ada jaminanlah tak kurang makan, sandang, dan papan.
    Itulah gambaran banyak orang di negeri ini, sehingga banyak yang enggan berkarya dan berprestasi. Maunya nyaman terrus, tak mau lagi tersandung resiko yang harus dihadapi. Padahal semua ada resikonya, semuanya akan dipergilirkan pada saatnya. Kebebasan memilih telah dibebaskan oleh Tuhan: “faalhamaha fujuuraha wa taqwaha”, tentu juga dengan segala resikonya… membawa kesengsaraan atau menikmati kesenangan, masuk ke neraka atau ke syurga.

    Yusuf xwt
    Bagian PSI BAKPIK UM

Komentar ditutup.