[selesai] FACE/OFF

Ayam merupakan simbol jagoan, bila si ayam adalah ayam jantan. Ayam jago merupakan manifestasi dari kekuatan, kemenangan, kejantanan. Seseorang akan disebut dengan jagoan apabila selalu berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Ini mungkin ada hubungannya dengan sabung ayam, dimana salah satu pihak akan menang. Persepsi sebaliknya, ada pada ayam betina. Ayam betina diasosiasikan secara paradoks dengan ayam jantan. Ayam betina dianggap hanya bisa bertelur dan mengeram. Tidak punya daya untuk bertarung. Ada lagi ayam yang lain, yang maknanya juga berbeda, yaitu ayam sayur.
Ada unggas lain yang serumpun dengan ayam, yaitu bebek. Bebek identik dengan latah, ikut-ikutan. Istilah mem-bebek mempunyai makna hanya mengikut saja yang ada di barisan depan, tanpa memperhitungkan resiko yang dihadapi.
Tetapi, (saya baru tahu), ternyata telur bebek bisa dititip tetaskan pada ayam. Menjadi unik, karena seekor bebek harus hidup sekomunitas dengan ayam. Dari penampilannya jelas berbeda. Ayam terlihat gagah, sedang bebek terlihat lamban. Gerakan ayam begitu gesit dalam mematuk makanan. Sedangkan bebek kalah cepat gerakannya dengan ayam dalam mencari makan. Tetapi pada saat di dunia air, ayam hanya kan menjadi penonton, sedangkan bebek dengan gesit mencari makanan di dalam air. Ayam bisa berlari cepat dan gesit, sedangkan bebek harus megal-megol dengan tergopoh-gopoh untuk meraih kecepatan lari.
Bagaimana dengan perilakunya? Apakah bebek akan berperilaku seperti ayam, karena telah serumah dan sehidup semati dengan ayam? Atau sebaliknya, sang bebek akan mempertahankan sifat ke-bebek-annya, walaupun hidup di komunitas ayam? Dengan kata lain, apakah bebek akan melawan takdirnya dengan menjadi ayam, atau patuh pada takdirnya dengan tetap menjadi bebek? Saya tidak tahu. Tapi karena ini kisah nyata, saya diambil hikmahnya bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku.
Ada jagoan lain yang juga hebat: macan. Dengan sorot mata yang tajam, dengan kecepatan kemampuannya menangkap mangsa, macan merupakan raja hutan yang sosoknya ditakuti. Bila sudah melihat macan, semua akan terbirit-birit menjauhi, karena tidak mau berurusan dengan sang raja. Sang raja tidak takut menghadapi apapun dan siapapun. Namanya juga raja “hutan”.
Lalu, bagaimana kalau macan masuk kandang bebek? Apakah akan berperilaku menjadi bebek, atau tetap menjadi macan? Namanya bukan macan si raja hutan, tetapi macan ompong, karena tidak mampu menangkap mangsa. Hanya penampilannya yang menakutkan, tetapi sebenarnya tidak punya daya serang terhadap lawan, hanya karena giginya sudah tanggal semua. Tinggallah auman-nya yang menggetarkan lawan, walau taringnya sudah pensiun. Hanya macan ompong yang berani melawan bebek, supaya tidak kehilangan status sosialnya sebagai raja.
Bagaimana seandainya macan masuk kantor? Jelas sang macan akan mengobok-obok tikus kantor. Kantor menjadi bersih dari tikus, karena macan adalah saudara tua kucing. Bukankah tikus takut dengan kucing? Dengan kucing saja, takutnya setengah mati, apalagi dengan mbah-nya kucing. Lha iya, namanya macan apa? Macan kertas. Apa mungkin macan masuk kantor? Tidak mungkin, karena macan kertas tidak buta huruf. Sehingga begitu masuk pintu kantor, terpampang tulisan “dilarang memakai sandal”, sang macan tertunduk lesu dan segera berbalik langkah meninggalkan kantor dengan rasa kecewa, karena tahu diri tidak bisa mematuhi ketentuanyang berlaku, hanya gara gara tidak bersepatu. Atas nama etika dan norma kesopanan, macan kertas harus memadamkan hasratnya untuk menyerang, hanya karena bersandal jepit. Character assasination untuk macan kertas dirancang sedemikian rupa, sampai akhirnya semua penghuni kantor plus tikusnya punya persepsi yang sama bahwa si macan tidak sopan, menjengkelkan, memuakkan, mengganggu, menyebalkan, sehingga berbahaya bagi kelestarian kerajaan. Walaupun niatnya bagus, yaitu membasmi tikus kantor, sang macan dengan berat hati harus mengibarkan bendera putih, harus kalah “hanya karena” selembar kertas pengumuman juncto rekayasa opini subyektif. Akhircerita, sang macan dengan geram meninggalkan kerumunan tikus yang berpesta dengan dua agenda: pertama, merayakan terusirnya si macan. Kedua, merayakan pelestarian kekuasaan para tikus akan kepentingan sesaatnya yang sesat di kantor.
Tetapi, meskipun macan kertas, tetaplah macan yang mempuyai sifat pantang berputus asa. Sang macan punya harapan bahwa suatu saat akan mendapatkan sepatu. GPL, sang macan pergi ke negeri dongeng, untuk membeli sepatu. Ternyata ada dua alternatif: Pertama, Cinderella tidak keberatan meminjamkan sepatunya. Kedua, pesan pada Eyang Gepeto (abah-nya Pinokio). Karena dikejar waktu, diputuskan untuk meminjam, bukan memesan. Sepatu kaca digunakan sebagai tiket yang sah untuk masuk kantor, dan tumit sepatunya yang lancip, rencananya dipakai untuk menggembosi perut para tikus kantor yang gendut.
Begitu mendapat pinjaman sepatu kaca Cinderella, babak kedua setelah istirahat 15 menit, dimulai. Aksi sang macan ditunggu semua orang. Aksi macan kali ini benar-benar menghibur semua orang. Tingkah polah macan ini sangat ditunggu oleh banyak orang. Orang menjadi puas dan terhibur dengan aksinya. Aksi sang macan pada babak kedua ini mengejutkan dan membuat penonton tersenyum. Karena memakai sepatu kaca, macan harus menyesuaikan penampilannya. Tetap menjadi macan, tetapi melakukan FACE/OFF  (ingat  Travolta dan Cage) . Menjadi macan macam apa lagi? Macan sirkus.
Lho……lho……siapa itu yang interupsi? Oooooo….. ada yang ketinggalan, dan minta jatidirinya di tampilkan. Siapakah dia? Macan Kemayoran. Ayo, macan mana yang belum diabsen, silahkan angkat tangan!

 

Diding Kusumahadi

Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN

Fakultas Ekonomi

e-mail: diding@um.ac.id

 

2 tanggapan untuk “[selesai] FACE/OFF

  1. @Kasubag Akademik FE-UM
    Saya setuju dengan analogi Bapak. Analogi menarik, yang sebenarnya lebih tepat. Rajawali di komunitas ayam. Karena hidup dikomunitas ayam, mau tidak mau harus berperilaku sebagai ayam, ya?Tentu, ayam tidak mau ambil resiko. Rajawali berbahaya, sehingga harus dipotong paruh, sayap dan kukunya yang tajam. Sehingga, jadilah rajawali yang jinak, yang menjadi herbivora. Haaa………hhhaaaaa………Terima kasih atas tanggapannya.

  2. Bagaimana kalau si Ayam mau jadi Rajawali atau sebaliknya.

    ADA ALKISAH:

    Satu kali ada seorang Petani menemukan sebutir telur rajawali dipuncak bukit yang tinggi diatas pohon yang besar. Kemudian telur tersebut dia taruh pada induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Karena induk ayam tidak dapat membedakan telur ayam dan telur rajawali; maka dierami juga.
    Setelah + 21 hari menetaslah: mula-mula telur ayam; keluar ayam yang kecil-kecil yang lucu-lucu sudah bisa jalan dan berlari-lari kesana kemari. Tetapi kemudian induk ayam bingung kenapa telur yang satu ini kok belum menetas juga, dengan penuh kesabaran ditunggu……..pada akhirnya menetas juga; keluarlah anak rajawali.
    Rajawali berbeda dengan anak ayam udah bisa berlari-lari, sedang sang rajawali masih bengong karena badannya lebih besar, sayapnya juga lebih panjang. Induk ayam bodoh ngak bisa bedain ini anak rajawali atau anak ayam; tetapi walaupun demikian semua dipelihara dengan baik dengan penuh kasih sayang. Sang Rajawali mulai besar; karena dipelihara induk ayam; ia berbuat, bersikap dan bertindak seperti induk ayam yang mengasuhnya.
    Suatu hari dia lihat di atas langit terbang seekor burung Rajawali: terbang tinggi gagah perkasa dengan membentangkan sayapnya.
    Melihat kejadian demikian, terjadilah dialog antara anak rajawali dengan Induk Ayam:
    Ma….ma…ma…. burung terbang diatas itu apa ma..?
    Oh …itu burung Raja segala Raja burung namanya burung Rajawali jawab induknya.
    Bagus ya ma…… dan ..ma….hebat ya ma…., andai aku seperti itu betapa dasyatnyanya aku ini…? Kata sanga anak rajawali.
    Bagus katamu…..!!!!! kamu harus hati-hati kata induk ayam; kita ini keluarga ayam bisa mati kalau ketemu burung itu…. Dan kamu jangan mimpi …kamu ini ayam tahu……..!!!!
    Alkisah sampai akhir hidupnya anak rajawali itu tidak pernah bisa terbang tinggi; karena mental dan pola hidupnya tetap sebagai anak ayam.

    BANYAK HAL DALAM HIDUP YANG MENAWAN MATA; TETAPI HANYA SEDIKIT YANG MENAWAN HATI.

    TERBENTUKNYA GAMBAR JATI DIRI YANG SALAH; AKIBAT CARA PANDANG YANG SALAH.

    JADILAH SI AYAM JANTAN BERMENTAL “RAJAWALI”; BUKAN SI RAJAWALI BERMENTAL AYAM.

    Selamat bekerja dan berkarya buat UM tercinta. GBU

Komentar ditutup.