[selesai] TOURING

Alon-alon asal kelakon. Hikmah yang bisa kita ambil, bahwa dalam mencapai tujuan, kita tidak boleh tergesa-gesa. Segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan cermat, sehingga walaupun pencapaian tujuan tidak efisien, tetapi efektif. Efisiensi nomor dua, yang nomor satu adalah efektivitas. Tujuan adalah yang paling utama, walaupun harus dicapai dengan tergopoh-gopoh. Keong adalah icon yang pas.
Dalam budaya kontemporer, semua serba cepat. Efektif dan efisien adalah dua kata kunci dalam mencapai tujuan. Instan mensyaratkan efektivitas dan efisiensi sederajat. Efektif tapi tidak efisien, dianggap tidak berhasil. Efisien tapi tidak efektif, juga salah. Maka keduanya harus berjalan bergandengan untuk mencapai tujuan. Dua variabel ini harus berkolaborasi dengan akur untuk mencapai garis finish. Kacamata kuda merupakan asesoris wajib yang harus dikenakan, supaya tidak tolah-toleh dan fokus ke sasaran. Walau tidak melihat samping, tetapi dia akan tahu pesaing akan menyalip lewat suara dan senggolannya dari samping. Kalau musuh di samping, akan disikutnya dengan harapan tidak berani menyalip. Tetapi walaupun kena sikut akhirnya dapat menyalip juga, tanpa ragu-ragu sengaja diambil cara ekstrim untuk menghalanginya: jegal kaki belakangnya hingga terjatuh. Yang penting lari secepat-cepatnya untuk mencapai garis finish dan menjadi juara satu. Tidak peduli cara yang digunakan licik dan curang, yang penting juara satu. Prinsipnya adalah siapa cepat, akan dapat. Kata January Christy: “:…. tutup mata, tutup telinga, jangan dengar apa katanya….”
Lawan yang tidak sepadan dari budaya modern ini adalah kearifan budaya lokal. Jelas, budaya lokal anti instan. Budaya lokal dirancang untuk memanusiakan manusia. Sedangkan budaya modern dirancang dengan memperlakukan manusia sebagai mesin. Dari rancangan awal saja sudah kelihatan, bahwa budaya modern bukan tandingan budaya lokal. Kelasnya berbeda. Budaya lokal penuh kearifan kemanusiaan. Masih memikirkan toleransi dengan sesama (bukan hanya manusia) makhluk ciptaan Tuhan. Ada harmoni dan keseimbangan diantara sesama makhluk hidup. Budaya modern menggilas habis budaya lokal yang penuh kearifan dalam menjalani kehidupan.
Dalam prakteknya, alon-alon asal kelakon bermetamorfosis menjadi alon alon, gak kelakon. Sehingga pengartiannya: jika kita berprinsip alon alon asal kelakon, akibatnya akan dapat memetik dua dampak sekaligus yaitu akan: alone (bahasa Inggris yang artinya sendiri) dan alone (bahasa Jawa yang artinya lambat sekali). Sehingga apabila tetap mempertahankan prinsip alon-alon ini, akan sendirian karena lambaaaat sekali. Namanya juga keong, ya jelas tidak akan pernah bisa ngebut. Teman temannya tidak akan sabar menunggu, sehingga keong di tinggal sendirian. Dengan sirine yang meraung-raung lengkap dengan lampu kelap-kelipnya, rombongan touring anti macet berangkat dengan arogan. Derum mantab knalpotnya saja, sudah membuat orang ketakutan. Belum lagi sepatu boot-nya yang penuh kancing logam, siap menendang siapa saja yang mencoba menghalangi. Akibat tendangannya akan membisa menimbulkan infeksi akut. Lambaian tangan pengawal untuk memerintahkan minggir, merupakan sinyal dari yang punya hajat untuk tidak mau diusik. Jika semua pengguna jalan antri , dan mentasbihkan kemacetan sebagai TtM, rombongan touring melenggang lancar tanpa hambatan. Penggguna jalan yang antri, segera protes karena haknya diserobot rombongan touring. Tetapi protesnya sengaja tidak dihiraukan dan memang tidak terdengar, kalah dengan kerasnya suara sirine pemecah antrian. Kalaupun mendengar protes meskipun lamat-lamat, ya ……”sikat saja, bleh”.
Hanya, yang perlu dipastikan sebelum berangkat touring adalah janga lupa membawa kotak P3K. Namanya celaka di tengah jalan, siapa tahu. Dan periksa dengan teliti bekal yang dibawa, jangan sampai terbawa jenis keong yang satu ini. Bahayanya adalah keong ini fokus menyengat ubun-ubun. Dampak sengatannya, lebih hebat dari Tomcat. Keong apakah gerangan? Bukan keong sembarang keong, tapi keong racun. Keong racun bisa mengganggu kenyamanan touring.
Selamat touring. Hati-hati, jangan ngebut. Kalau kesandung , bisa disalip keong. Sampai jumpa di ……

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id