[selesai] KALEIDOSKOP [ diambang batas ]

Sebelum batas akhir itu tiba [pensiun] dan sebelum kuucapkan selamat tinggal buat UM tercinta, saat ini masih kuhirup udara sejuk hijaunya taman dihalaman fakultas sastra yang asri, juga masih sempat kunikmati canda burung kutilang yang bebas bernyanyi sambil berlarian diranting pepohonan nan rindang tanpa takut adanya pemburu liar yang mengejarnya, keceriaan antara pagi dan siang dalam suasana redup oleh mendung yang bergayut sejak pagi seakan mengundang silir angin agar membelai wajah bumi, juga agar daun daun hijau itu sama menari untuk mengiringi daun daun kering yang luruh satu satu seakan siap menjadi rabuk demi lancarnya manusia dalam membudayakan penghijauan
Sesaat jiwa inipun terlena hanyut bersama datangnya kenangan lama yang tiba tiba singgah dipelupuk mata, terbayang saat pertama datang ke UM dengan wajah dan tubuh kotor oleh debu beramai ramai ikut mengetuk pintu depan lembaga, bersaing melalui ujung pena bersama sama dalam pengharapan untuk bisa mengerjakan lahan cangkulan yang sudah ditawarkan oleh lembaga, dengan modal percaya diri dan rasa yakin terhadap proses seleksi karena UM adalah lembaga pendidikan tempat berkumpulnya para pakar intelektual dan termasuk salah satu tempat rujukan bagi lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dan dalam hal seleksi penerimaan pegawai barupun saya percaya dan yakin bahwa para senior pengemban amanah di UM tak mudah terharu oleh ratap dan tangisan, tak mudah terayu oleh hangatnya pelukan dan tak bergeming sedikitpun terhadap berbagai penampilan, juga UM tak mengenal adanya “pegawai siluman”yang konon masuknya tak diketahui pintunya,
Menengok masa lalu bukan berarti memasang ranjau untuk menimbulkan gelisah dan kemurungan tapi merupakan sinyalemen khususnya bagi generasi mendatang bila ingin mendapatkan pekerjaan tetap, harus sejak dini mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan atau resiko dan tentu medan akan berbeda mengikuti masanya tapi yang jelas baik berbeda zaman atau beda medan, yang dibutuhkan tetap sama yaitu sosok yang “berilmu dan punya jiwa pejuang”
Tak pernah terlupakan dalam benak ini begitu UM membukakan pintu untukku, berarti telah membersihkan wajah dan tubuh ini dari tebalnya debu, menerangkan ketidak pastian, mengentaskan keterpurukan dan kefakiran ilmu melalui siraman air kehidupan, ungkapan syukur telah menuntunku kepada jalan amanah sebagai konsekwensi nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadaku, kulaksanakan sampai batas kemampuan meski kusadari sangat banyak kekurangan, yang tak terlupakan juga adalah ketika mahluk astral menjelma dengan berbagai macam bentuk yang menyeramkan sering menyapa dihadapanku diberbagai keadaan, tapi semua tak menggoyahkan aktivitas yang harus kukerjakan dan
Yang berkesan paling mendalam adalah lembaga telah mendidikku melalui – dimudahkan memasuki perpustakaan serta prosesnya, baik perpustakaan pusat maupun perpustakaan masjid al hikmah maka saya manfaatkan agar bisa mengurangi kefakiran dalam hal wawasan maupun informasi, dan benar kata orang bahwa buku adalah sumber ilmu yang tak pernah kering dan bagi orang orang yang haus mereka menyebut buku buku diperpustakaan itu sebagai jendela dunia Dan perpustakaan di UM dibuka untuk siapa saja yang berminat, terutama para karyawan atau pegawai agar bisa dijadikan mitra profesional bagi masyarakat akademis, jadi idealnya memang kita harus melek informasi tidak hanya mengenai ilmu eksak saja tapi juga wawasan dalam hal spiritual, sebab ilmu tentang ke Tuhannan akan bisa mengingatkan siapa sebenarnya jati diri kita dan di islam memang mewajibkan bagi penganutnya agar menuntut ilmu mulai sejak kecil agar tidak disebut” hamaqah”(bodoh menurut al Ghozali) yaitu tak tahu cara mencapai arah tujuan hidup, tak tahu adanya negeri impian sehingga bingung hendak kemana sampan didayung dan alqur’an pun menceritakan orang orang bodoh ketika ditanya diakhirat mereka menjawab – innaa kunnaa’an hadzaa ghaafilin, artinya”sesungguhnya mengenai hal ini kami lupa” (QS Al A’raf 172), dan sungguh banyak yang kurang menyadari bahwa dengan ilmu merupakan proses menuju puncak kenikmatan dan dasar dari ladang amalan yang menekankan kualitas tuk mencapai ruhnya
Kutengadahkan wajah ini sambil kutarik nafas dalam dalam dan kini perjalanan ini sudah diambang batas dan kuucapkan terimakasih kepada lembaga pendidikan Universitas Negeri Malang yang telah memberikan sarana dan prasarana mudah mudahan UM mendapat keridhaanNya sepanjang masa dan bisa menjadi wasilah keberkahan dunia dan akhirat bagi mereka yang belajar didalamnya………….(d7-fs)

2 tanggapan untuk “[selesai] KALEIDOSKOP [ diambang batas ]

  1. @LIAA
    DALAM KALAENDER AKADEMIK UM DISEBUTKAN BAHWA MASA PERKULIAHAN SEMESTER GASAL 2013/2014 ADALAH 26 Agt—13 Des 2013

  2. Pak mau tanya , awal kuliah itu 19 agsts apa 26 agsts ? Di brosur seleksi kok 19 , tp di brosur lain 26 ?

Komentar ditutup.