[selesai] BAMBU

Meskipun sudah agak terlambat karena berita lama, tetap faktual dan tidak kehilangan daya tariknya karena masalah yang diperbincangkan adalah masalah universal yang tidak mengenal kadaluarsa yaitu kejujuran. (http://edukasi.kompas.com/read/2013/04/08/08492234/Para.Pengungkap.Kecurangan.UN.Itu.Kini.Berjuang.Sendiri).
Ada pernyataan yang menarik dari berita ini, saya kutipkan sebagai berikut: “…….Psikolog anak Silmi Kamilah Risman berharap orangtua selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak sejak dini di rumah karena anak sudah mulai mengikuti contoh-contoh yang ada di masyarakat. Orangtua harus tetap kritis meski harus menentang arus.
“Suara-suara yang kritis itu seperti suara sumbang dalam tim koor yang kompak,” ujarnya.”
Kritis meski harus menentang arus. Kalimatnya pendek, tapi implikasinya panjang. Enak yang ngomong, tapi butuh nyali yang jempolan serta mental yang kuat bagi pelakunya. Bila berani, resikonya: dikucilkan atau malah dihancurkan. Tentu melawan dengan sembodo, bukan anymous. Jati diri harus jelas. Perlunya jati diri yang jelas adalah sebagai penanda bahwa inilah “calon musuh yang berbahaya”. Jangan menjadi Godot.
Seperti kasus Siami yang melaporkan kecurangan UAN. Siami sempat menjadi artis dadakan, karena berita tentang dia menjadi perbincangan yang hangat. Atas nama kejujuran, dia berani melaporkan kecurangan UAN. Hal yang biasa dan wajar saja, tetapi dampaknya yang luar biasa. Siami diusir orang sekampung karena dianggap jujur. Implikasi yang tidak terduga. Orang jujur koq malah disalahkan orang sekampung. Pada perkembangan selanjutnyas, hanya majalah Tempo yang memberikan bukti, bukan janji. Majalah ini menghadiahkan sebuah rumah untuk Siami. Pelaku kejujuran terusir dengan tidak hormat di kampungnya sendiri. Bukti ramalan Joyoboyo: jamane jaman edan. Ora edan ora keduman.
Ada beragam cara untuk menolak pelawan arus. Cara yang paling lazim dan lugas adalah menolak mentah-mentah. Menolak dengan cara mengamputasi kakinya, sehingga hanya bisa jalan di tempat, walaupun suaranya keras. Karena tidak bisa berjalan, lama lama akan hilang, karena teman-temannya yang sebarisan sudah berjalan meninggalkan dengan cepat di depan. Cara yang halus adalah adalah dengan memberi stempel (dianggap!) tidak bisa bekerjasama. Padahal, kalau mau bicara jujur, aslinya adalah karena tidak mau kepentingannya terganggu. Agenda kepentingan sudah disusun rapi dan siap implementasi. Dengan datangnya arus, akan dianggap mengganggu kelancaran implementasi. Karena dianggap mengganggu, harus disingkirkan. Dengan kekuasaan dalam genggaman, sangat mudah untuk membuat kapok pelawan arus. Mudah saja sebenarnya untuk menilai tindakannya benar atau tidak karena indikatornya sudah terang benderang, yaitu kembali ke laptop. Artinya kembali pada rule of the game. Apakah sudah sesuai dengan aturan main yang telah disepakati bersama.
Adakalanya juga pelaku tidak kuat melawan arus. Bila orientasi prinsipnya berubah, maka tinggal memutar dayung saja untuk ikut mendut-mendut hanyut mengikuti arus. Ketika merasakan nikmatnya terhanyut, hatinya berguman menyesal: “gak mbiyen-mbiyen, rek”. Ada kalanya karena memang secara fisik tidak mampu melawan karena kewalahan dan kelelahan mendayung. Energinya telah terkuras habis, sehingga dengan terpaksa berbalik arah mengikuti arus. Tidak jarang juga sudah kewalahan dan kelelahan, tetapi tetap memegang teguh niatnya: kamu bisa!. Akhirnya karena kebulatan tekadnya untuk bisa, akan mengakibatkan mati tenggelam karena melawan arus yang deras.
Setali tiga uang dengan tim koor yang kompak di atas. The Show must go on. Kalau pada waktu show ada dissenting opinion, apa jadinya? Karena bersikeras tidak mau menyesuaikan diri dengan teman-temannya, maka dengan terpaksa harus disingkirkan karena mengacaukan suara yang telah padu. Pentas paduan suara akan kacau gara-gara satu orang yang punya suara berbeda.
Saya jadi ingat nasehat seorang sohib: ibarat pohon bambu, semakin tinggi akan tertunduk di terpa angin. Tapi akan kembali tegak ketika angin telah lewat. Jarang ada pohon bambu yang roboh. Pohon bambu itu liat dan lentur. Tetapi jangan sampai tumbuh menjadi bambu yang lurus. Pasti akan dipotong duluan. Bener juga ya? Berani coba?

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id