[selesai] PANCASILA, TERABAIKAN ?

Sudah lama terjadi pemilihan pemimpin mulai dari pemilihan gubernur hingga pemilihan lurah/ kepala desa, semua dilakukan dengan pemilihan langsung oleh rakyat.  Apakah hal ini  beralasan bahwa setiap orang boleh menentukan hak pilihnya masing-masing ataukah euforia kebebasan untuk menyatakan pendapat, saya tidak tahu.
Kalau saya pikir-pikir, pemilihan pemimpin seperti ini telah tidak sesuai dengan Sila:  Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Betapa tidak, bukankah dari sila tersebut kita seharusnya dalam memilih pemimpin itu harusnya melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
Bukan sebaliknya, pemilihan langsung, memilih karena dia adalah ‘segolongan’ dengan pemilih, karena dia separtai, karena pandai-pandainya dia melakukan promosi, karena ‘pesan’ sponsor, dan seterusnya.  Padahal di dalam musyawarah yang diutamakan adalah kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Kalau ini terus berlanjut dan berurat berakar, bukan tidak mungkin suatu saat akan ada ide untuk mengganti Pancasila karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman.  Mungkin Laboratorium Pancasila UM bisa memberikan pencerahan.
Ini sekedar pendapat, bisa juga keliru…mohon dimaafkan… bagaimana dengan anda ?

 Noor Farochi – UHTBMN UM

2 tanggapan untuk “[selesai] PANCASILA, TERABAIKAN ?

  1. mohon maaf saudara ojan, mungkin yang dimaksud bapak Noor Farochi adalah kenapa pemilihan pemimpin di Indonesia ini dilakukan secara langsung oleh rakyat, sedangkan di sila ke 4, yang salah satu artinya; yang saudara tulis ((1) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan)??siapa wakil-wakil itu?..kenapa tidak wakil-wakil itu saja yang memilih?kenapa harus rakyat?..dengan melihat banyak fakta akibat dari pemilihan dari rakyat tersebut yang hasilnya adalah maraknya korupsi, dan lainnya..calon pemimipin saling promosi, spanduk dimana-mana, yang menang insya Allah yang banyak “duitnya”..yang banyak dukungan parpolnya..padahal kualitasnya belum tentu..
    dari hal tersebut sangat jelas -seperti yang disampaikan pak Noor, bukan kepentingan bersama lagi, melainkan kepentingan individu atau kelompok tertentu..
    mohon maaf..saya sejujurnya, masih sering bertanya-tanya bagaimana kedudukan serta manfaat pancasila, sepertinya hanya kata(kalimat) yang hanya dibaca ketika upacara..
    ditambah lagi sekarang, dibangku universitas..mata kuliah pancasia hanya 2 sks+PKn 2 sks, total 4 sks, hanya di semester 1 dan 2, tambah tak diterapkanlah pancasila tersebut oleh mahasiswa yang notabenenya the agent of change..
    mohon pencerahnnya..saya mahasiswa angkatan ’11..terima kasih

  2. saya mahasiswa semester akhir pak Noor,
    Bapak betul mengartikan sila keempat hanya mempunyai satu arti saja, tetapi, Pak Noor juga seharusnya bisa melihat perkembangan setelah reformasi seperti apa posisi Pancasila? artinya Pancasila sudah melahirkan butir2 Pancasila hasil produk Reformasi kita.
    salah satu arti butir Pancasila Sila 4 adalah, (1) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan. jadi sudah jelas menurut saya Pak, tidak ada yang salah dengan Negara ini,

Komentar ditutup.