5km

Batas maksimal kecepatan berkendaraan di dalam Kampus 5km/jam.
Nggak salah?
Setahu saya yang bisa berjalan 5 km/jam adalah:
becak, sepeda gayung, sepeda motor yang bannya bocor sehingga harus ndorong (‘nyurung’).
Menurut saya dalam membuat rambu-rambu harusnya dilihat siapa yang jadi konsumennya. Lebih baik pasang saja Batas maksimal 15km/jam atau 20km/jam sehingga sesuai dengan kenyataan.
Tapi saya sangat suka dengan peniadaan polisi tidur di kawasan kampus dan memasang rambu-rambu batas kecepatan.
Jangan ngebut! Jadilah Warga UM yang taat aturan, jangan kalau ada Pak Satpam saja jalnnya pelan.

fa'ul

Kasubbag Tenaga Administrasi UM

7 tanggapan untuk “5km

  1. max 5km/jam => menurut saya, mungkin maksudnya adalah harapannya mobilitas di kampus ini dengan jalan saja, jadi untuk kendaraan yg baru masuk kampus um ini langsung di parkir saja dan selanjutnya bisa jalan. saya lebih setuju jika mobilitasnya dengan jalan kaki jadi bisa damai selalu dan sama rata. ok….

  2. @caknoors
    Ya cak noor; kalau mencontohkan rambu-rambu yang dibuat gak bisa/bingung, tapi mencontohkan yang dilanggar oke. Pak Khotib ahlinya buat rambu-rambu yang religi, misalnya. Anda memasuki kawasan pendidikan, berlalulintaslah dengan sopan; Pelan-pelan banyak pejalan kaki; Nikmati suasana keindahan dan kenyamanan UM dengan sopan berkendaraan, masih banyak lagi cak noor.

  3. @kusmain
    Iya Pak Kus, saya kok belum pernah lihat yang memasang rambu-rambu 5 Km itu mencoba memberi contoh bagaimana berkendara dengan kecepatan 5 Km/jam. Jangan-jangan nanti Pak Zainal Agung juga akan berkomentar “berteori sih gampang, prakteknya yang sulit”, ya Pak Zainal?

  4. Setahu saya pimpinan FS telah mengusulkan pembongkaran polisi tidur di UM, tidak berhenti, tetapi ada kelanjutannya disertai dengan pemasangan rambu-rambu yang benar dan berbudaya. Namun sampai detik ini rambu-rambu yang ada hanya rambu 5 km yang harus dilanggar oleh pengguna jalan; sebab masak orang disuruh nuntun sepeda atau mendorong mobil. Saat ini masih banyak pengendara sepeda motor yang ngebut. Ayo pak Mutarom rambu-rambunya diperbaiki

  5. Memang aturan batas kecepatan itu kurang rasional sehingga banyak diantara kita yang mengabaikannya. Tetapi sepertinya budaya berlalullintas kita sangat payah, misalnya pejalan kaki yang mau nyebrang jalan tidak pernah diberi kesempatan lewat (nyebrang) terlebih dulu. Hal ini terjadi pada daerah-daerah yang diberi tanda menyeberang (zebra cross). Mobil dan motor keduanya sama saja perilakunya (meskipun yang mengendarai mungkin berbeda statusnya di kampus ini).
    Pelanggaran lain yang sering kita temui adalah pelanggaran parkir. Tanda dilarang parkir dibuat besar-besar dengan biaya yang mahal dengan tujuan mudah untuk dilihat dan dikenali. Sehingga tidak ada alibi yang menyatakan “saya tidak melihat rambu dilarang parkir” atau “rambunya ga kelihatan”. Jalan diantara gedung G dan gedung H (yang biasa saya lewati) adalah salah satu contohnya. Mobil-mobil bagus berjajar memenuhi jalan, sampai-sampai tidak ada bagian yang disisakan untuk pejalan kaki. Kondisi tidak nyaman dan aman bagi pejalan kaki ini diperparah oleh para pembalap motor.
    Ide untuk membuat outer ring road dengan perparkiran disisi luar kampus masih berupa rencana yang implementasi pembangunannya entah kapan. Kenyamanan kampus adalah tanggung jawab kita bersama dan perlu kontribusi dari setiap kita. Semoga ramadhan kali ini menjadikan kita lebih berbudaya. amin.

    Muladi

  6. Hehe… becak/sepeda sih masih lebih cepat dari 5 km/jam. 5 km/jam itu kecepatan orang berjalan. Agak tidak rasional memang rambu 5 km/jam.

Komentar ditutup.