KEISTIMEWAAN GURU

Pepatah arab mengatakan: “ Kun kitabaan mufiidaan bila’unwanaan walaatakun ‘unwanaan bilakitabaan” Maksudnya adalah, Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul namun jangan menjadi judul tanpa kitab.
Pepatah diatas cukup menggelitik juga dan tak ada salahnya kalau kita berikan apresiasi dengan meresponnya sebagai hikmah yang positif apalagi kalau mengingat proses awal dihadirkannya kita didunia ini diberi bekal fitrah dan bekal dasar intelektual yang menjadikan manusia berbeda dengan mahluk lainnya dan bagi fitrah yang belum dicemari oleh sistem negatif tentu akan termotivasi untuk meningkatkan nilai nilai moral dan spiritual sebagai perwujudan rasa syukur dengan merealisasikan perbuatan yang menunjukkan jati diri sebagai manusia mulia.
Pepatah diatas juga mengingatkan agar keberadaan kita didunia ini bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain bukan malah sebaliknya merugikan orang lain atau membuat sengsara orang lain,kalau memakai bahasanya orang kampus menjadi”agen of change” tapi kita sama tahu bahwa konsep merubah dan meneladani orang lain tidak semudah membalik telapak tangan apalagi hidup di era sekarang ini sarat dengan konflik dan hidup ditengah dinamika membutuhkan pemikiran fokus dan disiplin yang tinggi dengan berpikir sungguh sungguh maka seseorang akan menyadari bahwa potensi,idea maupun konsep yang tersimpan pada dirinya tak mungkin dibiarkan berkelana tanpa arah namun semua hendaklah diarahkan kesuatu tujuan tertentu yaitu memperdalam ilmu pengetahuan sebagai landasan untuk ditebarkannya kembali demi kemaslahatan sesama khususnya bangsa indonesia
Pepatah diatas identik dengan profesi seorang guru apalagi saat ini memilih menjadi guru adalah opsi yang cerdas,juga di mata masyarakatpun menjadi sangat menarik bahkan menjadi idola,beda dengan guru dimasa lampau orang kerap memandang sebelah mata sebab disamping tak bergengsi tingkat kesejahteraannyapun kurang memadai,tapi bagi seseorang yang disingkapkan sedikit tirai hijab sungguh merasa terilhami bahwa sebagai pendidik merupakan ladang amal yang menjanjikan kemuliaan dunia akhirat dan sesungguhnyalah guru adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, sekarang dan masa mendatang
Siklus kehidupan terasa kian singkat,roda waktu tanpa ampun menggilas disemua aspek kehidupan bagai air mengalir mencari ruang-ruang yang kosong, sebagaimana kondisi kekinian meskipun masyarakat pedalaman tak lagi telanjang dan manusia rimba tak lagi menggunakan kapak batu dan panah beracun tapi dampak teknologi membuat keresahan baru bagi mereka sebab dengan perubahan perubahan yang cepat itu telah memicu hegemoni kehidupan dalam bentuk ketatnya persaingan diantara sesama,dan dalam kondisi seperti sekarang inilah sangat dibutuhkan peran guru, peran pemimpin untuk memberikan solusi agar masyarakat, bangsa merasa dipedulikan dan merasa diperhatikan suara jeritannya…..saya pernah baca bahwa pak presiden SBY pun pingin menjadi guru dan keinginan itu disampaikannya dalam peringatan HUT PGRI di istora senayan (27 nopember2013) beliau mengatakan:”insya Allah tahun depan setelah selesai dari tugas sebagai presiden rasanya profesi yang baik bagi saya adalah menjadi guru,betapa guru dengan misi yang besar untuk anak didik harus pandai pandai mengatur dapur agar tetap mengebul,” dan ditegaskan juga oleh pakar spiritual Imam Al Ghazali bahwa seorang berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya,dialah dinamakan orang besar dikolong langit ini ia bagai matahari memberi cahaya orang lain sedang ia sendiripun bercahaya ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain iapun sendiri harum
Jadi bisa kita simpulkan bahwa pepatah diatas semakna dengan orang yang profesinya sebagai sosok teladan, guru (ustadz) secara etimologi profesinya memang mengajar ilmu pengetahuan, tapi banyak orang yang memaknai secara sempit (identik dengan agama) beda dengan da’i, kalau da’i adalah sebutan untuk aktivis dakwah yang menyeru mengajak umat manusia menuju jalan Allah tapi konotasinya orang orang merubahnya menjadi”penceramah” padahal tugasnya lebih khusus dari sekedar ustadz maupun muballigh kalau menurut saya baik yang profesinya sebagai ustadz (guru-dosen) pemimpin maupun da’i kalau niatnya sudah benar dan tidak semata mata khubbuddun-ya,maka merekalah yang pantas disebut pejuang sejati pantas menyandang predikat agen of change, mereka sama sama punya kemampuan profesional dibidangnya dan masing masing mampu membaca dan bertindak, berani dan siap menghadapi segala konsekwensinya…tapi sayang orang orang seperti mereka konon..sangat sedikit jumlahnya.(d720mei2014)

2 tanggapan untuk “KEISTIMEWAAN GURU

  1. Sebagai alumni yang baru saja lulus, tersirat pemikiran untuk bekerja demi mendapatkan bayaran yang cukup banyak. Melihat profesi guru yang “hanya” mendapatkan bayaran kecil sekali saya memutuskan bekerja di perusahaan rokok (yang terkenal gaji besar) dengan mengesampingkan menjadi guru (padahal saya saudah keterima menjadi guru di salah satu SMK di Malang. Setelah 9 bulan bekerja ternyata pilihan saya ini saya rasa salah dan akhirnya saya memilih resign. Saya menyesal kenapa hanya mengedepankan gaji dalam bekerja. Mungkin gara-gara itu saya sekarang lumayan sulit menjadi guru karena sudah melamar ke sekolah sekolah tapi belum dapat juga. Pesan saya, jangan hanya gaji saja yang menjadi prioritas dari kerja, khususnya fewsh graduate, tetapi harus pas dengan hat. 🙂

Komentar ditutup.