SELESAI] Penandatanganan Nota Kesepahaman Antara UM dengan PT. Telkomsel

22/04/2013 2 komentar

http://www.um.ac.id/news/2013/04/883/

bla bla bla …. . Guna mendukung kemudahan akses, Telkomsel juga memasang Telkomsel WiFi HotSpot untuk penyaluran kreativitas dan inovasi mahasiswa.

MARI BERJUANG UNTUK KEMERDEKAAN FREKUENSI 2.4GHz

RISE TO FIGHT….

 

hanya satu kata MERDEKA

 

Laksono Budiarto
( pegawai rendahan yang ingin berjuang demi kemerdekaan dan kemajuan IT UM )
NIP 19700702 200112 1 001
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Jadwal Registrasi Semester Ganjil 2013

Dear Pak Humas UM,
Saya igin menanyakan kepan tanggal untuk melakukan registrasi semester, karena teman dan orang tua saya menanyakan informasi tersebut untuk pembayaran semester ganjil. Mohon informasinya, dan salam sukses.

Terima kasih
Dedi Mukhlas

[selesai] LIBUR SEMESTER GENAP

17/04/2013 1 komentar

Selamat malam, Pak..
Saya Lilis Doloksaribu angkatan tahun 2012, jurusan Ekonomi Pembangunan, fakultas Ekonomi..
Saya ingin bertanya, tentang liburan semester genap, Pak, libur mulai kapan dan masuknya kapan, Pak?
Berhubung saya dari Sumatera Pak, saya harus mesan tiket jauh-jauh hari biar dapat harga murah.
Terima kasih Pak..

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[selesai] ADA APA DENGAN PASCASARJANA?

17/04/2013 6 komentar

Alhamdulillah serangkaian kegiatan penataan kelembagaan di Universitas Negeri Malang berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2012 tanggal 7 Mei 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) Universitas Negeri Malang telah mencapai 90% tinggal 10% yang belum terselesaikan.
Perangkat organisasi kelembagaan yang menjadi tuntutan OTK telah dipenuhi termasuk mutasi pejabat sturuktural dan pelaksana administrasi telah dilakukan dan berjalan dengan dapat dikatakan baik. Namun masih meninggalkan sisa satu pekerjaan yang belum dilaksanakan yaitu penyelenggaraan Pascasarjana monodisipliner yang secara tegas ditulis dalam OTK dan Statuta dilakukan oleh jurusan dan fakultas.
Fakultas Pascasarjana berubah menjadi Program Pascasarjana pada akhir tahun 90-an mengisyaratkan agar penyelenggaraan program S1, S2, dan S3 terdapat sinkronisasi kurikulum dan penyelenggaraannya. Namun sampai saat ini menjelang penerimaan mahasiswa baru tahun 2013 belum ada tanda-tanda perubahan, ada apa? Apakah jurusan masih dianggap belum mampu dan hanya mampu mengelola S1 saja? Atau apa? Pengambil kebijakan yang tahu jawabannya.

Kusmain FMIPA UM

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Alam Indah di Kampus UM

Kampus UM yang hijau dan penuh dengan tanaman bunga menjadikan beberapa spesies kupu-kupu betah berada di kampus tercinta kita ini. Tauka teman-teman, jika kita sadari ada banyak spesies kupu-kupu yang terkadang kita lewati, kecantikan dan kenyamanan alam kampus UM yang asri ini menjadikan kupu-kupu nampak indah dan pemadangan yang menyenangkan…

http://www.kotepoke.org/
http://www.kotepoke.org/
http://www.kotepoke.org/

oleh DEDI MUKHLAS

[selesai] PINOKIO

14/04/2013 1 komentar

Saya mempunyai seorang tetangga mulai kecil (tahun 1970-an), yang suaminya adalah dosen sebuah PTN (yang pasti bukan UM). Saya tahu dan mengerti betul budaya lingkungan asalnya, karena saya kenal sejak dahulu. Budaya lingkungannya dibesarkan dengan (dalam konteks hiburan) gegap gempita orkes dangdut (termasuk saya juga). Kebiasaan sejak kecil mendengarkan musik orkes ini, terbawa sampai sekarang. Makanya, sampai saat ini saya bersahabat dengan Rita Sugiarto, Camelia Malik, dan yang paling top: Elvi Sukaesih.
Pada setiap hari Jum’at sore, saya selalu menjalankan ritual wajib berupa main tenis lapangan di universitas tetangga sebelah. Di atas lapangan tenis, ada aula lengkap dengan soundsistemnya. Suara lagu cha-cha yang selalu terdengar dengan keras, mengganggu orang yang main tenis. Ternyata aula tersebut digunakan ibu-ibu untuk berlatih dansa. Para petenis tidak bisa protes masalah kebisingan pada pengelola lapangan, karena yang berlatih dansa adalah ibu-ibu pejabat. Karena keluarga pejabat, tidak ada yang berani usil untuk mengusiknya.
Kejadian mengejutkan terjadi ketika pedansa dan petenis pulang bersamaan. Saya heran dan kaget, ternyata diantara sekian banyak ibu-ibu, ada tetangga saya yang ikut berlatih sebagai pedansa. Saya hanya bisa melongo, terheran-heran. Bagaimana orang yang budaya asalnya adalah orkes (dang-dut) bersalin rupa menjadi dansa? Ah gak jauh koq, hanya dari orkes menuju orkestra. Weleh-weleh……..
Kejadian lain, kali ini dari teman UM. Tahun lalu, saya ikut sebuah pelatihan di aula perpustakaan. Lazimnya pelatihan, ada cofee break sekitar pukul 10.00. Ada seorang teman yang duduk manis di kursi, memanggil anak buahnya yang (saya tidak tahu) kebetulan atau sengaja mengikuti pelatihan. Tapi dugaan saya sang anak buah sengaja diikutkan untuk menambah ilmu untuk kemajuan kantornya, plus (nah, ini) melayani sang prabu. . Sang anak buah ikut pelatihan dengan tugas ganda. Sambil menyelam minum air. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Sang prabu memerintahkan prajuritnya untuk mengambilkan snack!. Wah, hebat betul pejabat karbitan kita ini, bukan duduk di café, tapi minta dilayani. Benar-benar seorang sahabat super. Seorang prabu punya prajurit yang dilengkapi dengan asesoris “loyalitas buta”. Enak tenan….. Mungkin masa kecil sahabat super ini telah kenyang dalam menikmati pahitnya kehidupan kaum proletar, sehingga begitu mendapat “setetes saja ” kekuasaan, diseruput dengan ganas karena begitu hausnya akan kenikmatan hidup borjuis, walaupun dengan cara yang salah konteks.
Pelajaran apa yang dapat ditarik dari dua cerita yang saya sampaikan di atas? Adalah, bagaimana, ternyata, kacang bisa lupa kulitnya. Adalah, bagaimana mungkin, buah bisa jatuh jauh dari pohonnya. Adalah bagaimana “seorang” petruk dadi ratu. Adalah sesuatu yang aneh, akar budaya yang tertanam sejak kecil, dicabut begitu saja dengan ringan, demi memenuhi gengsinya sebagai seorang prabu. Supaya kelihatan terpandang dan terhormat di in-group-nya dan terlebih lagi out-groupnya (karena tidak mengenal asal-usulnya), akar budaya yang bersifat ndeso (untuk ukuran sekarang) harus dihilangkan. Asal-usul yang berbau “sawah dan kerbau” harus di-delete..
Supaya berimbang, dan demi memenuhi unsur cover both side, saya akan melihat diri saya sendiri. Pada waktu kecil, saya dibesarkan di lingkungan yang full orkes. Tapi menjadi absurd ketika sudah tua begini saya menjadi pengikut “mother monster”? Bila mengalun suara orkes (dangdut) saya pura-pura tidak kenal, tidak suka. Padahal, kalau tidak ada yang melihat, minimal kaki akan ikut bergoyang sambil mengingat masa kecil yang menyenangkan. Pada saat muda, saya biasa menggenggam cangkul, tapi saat tua menggenggam raket tenis? Kalau sekarang diminta bantuan mencangkul, beralasan tidak bisa karena tidak pernah memegang cangkul, sehingga tidak bisa membantu untuk menyelesaikan. Atau menggunakan alasan medis untuk menutupi keengganan, dengan mengatakan tangan dan kaki saya sakit karena asam urat. Linu semua. Atau, yang berbahaya, saat kecil suka mencuri jambu, setelah besar mencuri prabu. Kebiasaan kecil, dibawa terus sampai besar.
Lingkungan masyarakat sewaktu masih kanak-kanak, akan terbawa terus sampai dewasa. Mungkin, sewaktu besar, kita hidup dilingkungan yang berbeda, budaya sejak kecil tidak bisa disembunyikan apalagi diingkari. Sepandai-pandainya menyimpan asal-usul, pada momen tertentu, akan ketahuan juga. Misalnya, saya sendiri, kalau men dengarkan lagu orkes di atas, kalau tidak ada yang melihat, bisa joget sampai pagi. Ketahuan aslinya: Petruk dadi Pinokio.

Diding Kusumahadi
Pegawai Subag Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Ketidak Jelasan Pemotongan Pohon Palem di Perpustakaan UM

Suasana perpustakaan kali ini ada tampilan yang berbeda dengan adanya pemotongan pohon palem di jalan utama perpustakaan. Entah apa yang menjadi latar belakang penebangan pohon palem ini? Mungkin sama dengan kisah di MIPA adanya Regenerasi dengan pohon kayu baru. Yang jelas pemandangan Perpustakaan UM kini berubah menjadi panas dan kurang sejuk.




Semoga bisa memberikan jawaban yang benar dan berkualitas, pohon adalah sahabat manusia yang memiliki sejarah dalam kisah kehidupannya.

Salam Sukses, Dedi Mukhlas | TEP UM 09

[SELESAI] Ijin Bisa UPLOAD di SUARA KITA

05/04/2013 Comments off

Dear Admin,

Beberapa waktu kini website untuk Suara.um.ac.id tidak dapat di ijinkan mengupload sebuah data dan sebagainya sebagai penguat artikel. Entah apa yang sedang terjadi di dalam website suara.um.ac.id ini. Saya berharap problem ini bisa segera diselsaikan agar sebuah opini atau pertanyaan yang sulit di sampaikan dalam bentuk teks bisa disampaikan dalam bentuk gambar.

Berikut contoh hasil problem di Suara Kita:

Salam
Dedi Mukhlas
Mahasiswa TEP UM
209121419493

[selesai] MARI BERJUANG UNTUK KEMERDEKAAN FREKUENSI 2.4GHz

03/04/2013 6 komentar

Negara kita adalah negara yang sudah merdeka, namun dari sisi IT, apakah kita sebagai warga UM sudah merdeka ? menurut saya BELUM, kita masih dijajah, kita belum merdeka. Tulisan saya ini berkaitan dengan pemakai frekuensi 2.4GHz.
Bagaimana perasaan anda manakala melihat orang-orang dari luar UM, makan dan cangkrukan di kantin UM, sampai sampai anda sebagai warga UM tidak bisa makan di kantin sendiri ? atau bisa makan namun kehabisan kursi ? benar memang kantin tersebut untuk UMUM, namun seyogyanya ada kebijakan yang pro kepada kita sebagai warga UM, sehingga kita menjadi MERDEKA di kampus kita sendiri.
Frekuensi 2.4GHz dahulu diperjuangkan oleh senior senior di dunia IT Indonesia agar dibebaskan, Akhirnya, pada tanggal 5 Januari 2005, di tanda tangani Keputusan Menteri No. 2 / 2005 tentang Wireless Internet di 2.4GHz oleh Hatta Rajasa, yang intinya membebaskan pemakaian frekuensi 2.4GHz dengan beberapa syarat. Sayang sekali karena FREE yang dalam hal ini berarti bebas pakai, justru menjadikan banyak pihak termasuk perusahaan-perusahaan di bidang IT, mulai melakukan penjajahan (menurut pandangan saya). Gelombang radio memang tidak bisa dilihat mata, namun jika anda menggunakan perangkat-perangkat tertentu, anda akan tahu persis bahwa udara segar di atas kampus kita, dijejali begitu banyak gelombang, di frekuensi yang MERDEKA tersebut.
Saya sebagai warga UM dan di bidang IT, sungguh trenyuh jika barang yang tak terlihat mata ini, dianggap tidak ada hanya karena tidak terlihat mata. Yang jelas ADA PENJAJAHAN, yang jelas ADA PENJARAHAN frekuensi di atas udara segar UM. Semoga teman-teman yang perduli pada KEMERDEKAAN ini, turut berjuang, mari kita kobarkan gerakan “PERJUANGAN KEMERDEKAAN FREKUENSI 2.4GHz di UNIVERSITAS NEGERI MALANG”. Kita tolak segala macam bentuk penjarahan frekuensi tersebut dari atas UDARA SEGAR UM. Kita harus berdaulat atas frekuensi tersebut diatas udara UM.
Frekuensi tersebut harusnya kita kelola (melalui pusat TIK) untuk kepentingan kita bersama warga UM, bukan untuk kepentingan perusahaan A atau perusahaan B, walau secara fisik mereka hanya memasang titik-titik hotSpot dengan iming-iming FREE ACCESS, nyatanya mereka hanya menggunakan untuk kepentingan perusahaan mereka. MERDEKA ATAU MATI…

Budiarto
Fakultas Ilmu Pendidikan
NIP. 19700702 200112 1 001

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[selesai] INSTAN

01/04/2013 Comments off

Kata instan mempunyai pengertian cepat, langsung jadi, siap pakai. Semua langsung siap tanpa bersusah payah untuk memprosesnya. Contoh yang paling sederhana dan mudah adalah mie instan. Hanya tinggal mendidihkan air, masukkan mie dan bumbunya, selesai dan siap untuk di makan. Atau contoh lain adalah susu instan. Tanpa harus punya sapi dan memeras susunya, kita hanya tinggal menyeduh susu instan dengan air panas, susu siap diminum. Kelebihan dari mie dan susu adalah perusahaan pembuatnya secara tegas menyatakan (mengakui) bahwa produknya instan. Dalam kemasannya tertulis “instant noodle” untuk mie, atau “susu instan” untuk produk susu.
Dua produk di atas adalah sekedar dua contoh untuk produk makanan. Untuk melihat produk lain dari hasil karya instan, coba ketik di google dengan kata kunci produk instan. Akan kita temui banyak produk instan di sana. Akan dapat ditemui produk jilbab instan. Maksud jilbab instan, penggunaannya begitu praktis, tidak ribet, semudah memakai topi, sehingga disebut jilbab instan. Ada juga dari dunia kosmetik, disebut dengan kosmetik instan. Misalnya produk pemutih kulit, hanya dengan menggunakannya beberapa minggu, kulit anda akan dijamin putih bila menggunakan kosmetik tersebut.
Instan yang canggih adalah pesan instan (instant messaging). Dengan berbekal komputer atau handphone, kita dengan mudah dapat menikmati pesan instan. Dengan tidak memperdulikan dimensi ruang dan waktu, seseorang dapat kita hubungi melalui pesan instan ini. Bahkan untuk mencetak seorang entertainer-pun, dapat dilakukan dengan instan. Berbagai kontes “idol” di televisi, merupakan sarana untuk mengorbitkan seseorang menjadi “artis dadakan”. Padahal, untuk mendukung seorang peserta untuk menjadi pemenang, berapa rupiah SMS yang kita berikan pada pengelola acara? Berapa laba pengelola acara? Dan yang paling penting, pemenangnya ditentukan bukan berdasarkan prestasi-nya, tetapi dukungan sms-nya.
Produk instan telah merambah ke segala sudut kehidupan manusia. Produk instan mengubah mimpi manusia menjadi kenyataan dalam sekejap tanpa harus ter-mehek-mehek untuk meraihnya. Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, apa yang diinginkan segera terwujud di depan mata. Produk instan seolah-olah merupakan produk “sulap” yang selesai dan tercapai hanya dengan “bim salabim”. Produk instan merupakan dukun sakti yang dapat mengubah hidup manusia menjadi lebih baik, walaupun harus dengan mengorbankan harta dan (tidak jarang) kehidupannya. Manusia menjadi begitu tunduk dan patuh pada “perwujudan keinginannya”. Budaya instan telah menjadi “icon” gaya hidup, yang digandrungi banyak orang. Dengan hanya menggosok lampu Aladin, semua mimpi yang ada diangan-angan, dengan seketika tersedia dihadapan kita.
Budaya instan tengah melebarkan sayapnya dalam rangka mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Budaya instan menawarkan pilihan jalan keluar yang seolah-olah tepat untuk menyelesaikan masalah. Segala macam persoalan yang rumit, di selesaikan dengan cara instan. Cara instan memang bisa menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi tidak untuk jangka panjang. Budaya instan hanya menunda resiko. Dampak dari budaya instan tidak kita rasakan seketika, tetapi akan terasa dalam jangka panjang.
Tapi, di tengah gemerlap godaan duniawi, adakah cara untuk menjadi kaya secara instan? Ada. Hanya caranya yang harus dipertanyakan ke”beradaban”nya, karena mungkin (maaf) biadab.

Kategori:Tanpa Kategori Tag