[SELESAI] Perguruan Tinggi Indonesia Jangan Terobsesi Ranking

13/05/2013 Comments off

Ranking merupakan salah satu indikator performa sebuah perguruan tinggi. Di tengah maraknya upaya internasionalisasi, perguruan tinggi berlomba-lomba mengejar ranking agar diakui sebagai perguruan tinggi kelas dunia dan berkualitas.

Meski demikian, ranking yang dikeluarkan oleh lembaga perankingan dunia sebaiknya tidak menjadi satu-satunya indikator kualitas perguruan tinggi. “Internasionalisasi bukan berarti memiliki ranking di tingkat internasional. Seharusnya yang menjadi fokus perguruan tinggi adalah pengakuan internasional melalui keunikan universitas,” demikian yang diungkapkan oleh Dra. Tjitjik Srie Tjahjandarie, M.S., Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Universitas Airlangga.

Tjitjik mengungkapkan hal tersebut dalam acara International Office (IO) Meeting 2013 yang diadakan oleh International Office and Partnership (IOP) Universitas Airlangga (UA) di Hotel Bumi, Surabaya (30/4). Pertemuan ini diadakan sebagai ajang silaturahmi antar International Office dari seluruh Indonesia.

“Universitas Airlangga misalnya, kami menganggap ranking sebagai efek sampingf dari capaian yang telah dilakukan. Ranking bukan sesuatu yang kami kejar, tetapi kami ingin menunjukkan kepada dunia keunikan Universitas Airlangga sebagai National Health Science Center. Melalui upaya mengejar keunikan tersebut, lembaga perankingan dunia akhirnya mengakui kami,” tutur Tjitjik.

Pernyataan Tjitjik tersebut juga diamini oleh Prof. Daniel M. Rosyid, Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur. Menurutnya,ranking tidak boleh dianggap lebih penting dari pengakuan. Jika perguruan tinggi terlalu menganggap penting sebuah ranking, hal itu bisa memicu perbuatan tidak bertanggung jawab, misalnya manipulasi data.

“Untuk perguruan tinggi yang belum memiliki ranking, fokuslah pada nilai-nilai yang dibangun. Tunjukkan keunikan universitas, itu akan menarik perhaian internasional. Bangun proses yang baik dan akuntabel, lakukan manajemen yang baik. Selanjutnya, ranking yang akan datang sendiri,” saran Prof. Daniel.

Kondisi yang terjadi saat ini, ada bermacam-macam ranking yang dikeluarkan oleh lembaga perankingan dunia. Setiap lembaga memiliki kriteria sendiri dalam menentukan peringkat perguruan tinggi. Ada yang melihat dari visibiltas website, ada pula yang melihat dari segi reputasi akademik, citasi per fakultas, rasio dosen dan mahasiswa, serta reputasi employability lulusan. Bahkan ada pula yang melihat dari segi penerapan konsep hijau (green campus).

IO Meeting yang diadakan untuk kedua kali ini dihadiri perwakilan International Office dari 35 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Tema yang dibahas kali ini adalah standarisasi perankingan. Tujuannya adalah menyadarkan perguruan tinggi di Indonesia untuk memilih lembaga perankingan yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.

Selain itu, dalam IO Meeting kali ini, IOP UA mengundang 12 perguruan tinggi asing yang telah menjadi partner UA, seperti Melbourne University, Macquaire University, Chatham University, University of Pittsburgh, dan University of West England. Diharapkan peserta IO Meeting dapat membangun kerja sama dengan mereka.

“Kami berupaya menghubungkan partner internasional kami dengan rekan sesama IO. Selama ini kita selalu melihat universitas lain di luar negeri yang sudah maju, tapi kita lupa melihat tetangga kita di Indonesia. Harapannya, melalui IO Meeting ini, kerja sama antar perguruan tinggi di Indonesia juga sebaik kerja sama dengan universitas luar negeri,” ujar IGAK Satrya Wibawa, MCA., Ketua IOP Universitas Airlangga.
dikutip dari http://www.unair.ac.id/berita.unair.php?id=1503

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[selesai] FACE/OFF

06/05/2013 2 komentar

Ayam merupakan simbol jagoan, bila si ayam adalah ayam jantan. Ayam jago merupakan manifestasi dari kekuatan, kemenangan, kejantanan. Seseorang akan disebut dengan jagoan apabila selalu berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Ini mungkin ada hubungannya dengan sabung ayam, dimana salah satu pihak akan menang. Persepsi sebaliknya, ada pada ayam betina. Ayam betina diasosiasikan secara paradoks dengan ayam jantan. Ayam betina dianggap hanya bisa bertelur dan mengeram. Tidak punya daya untuk bertarung. Ada lagi ayam yang lain, yang maknanya juga berbeda, yaitu ayam sayur.
Ada unggas lain yang serumpun dengan ayam, yaitu bebek. Bebek identik dengan latah, ikut-ikutan. Istilah mem-bebek mempunyai makna hanya mengikut saja yang ada di barisan depan, tanpa memperhitungkan resiko yang dihadapi.
Tetapi, (saya baru tahu), ternyata telur bebek bisa dititip tetaskan pada ayam. Menjadi unik, karena seekor bebek harus hidup sekomunitas dengan ayam. Dari penampilannya jelas berbeda. Ayam terlihat gagah, sedang bebek terlihat lamban. Gerakan ayam begitu gesit dalam mematuk makanan. Sedangkan bebek kalah cepat gerakannya dengan ayam dalam mencari makan. Tetapi pada saat di dunia air, ayam hanya kan menjadi penonton, sedangkan bebek dengan gesit mencari makanan di dalam air. Ayam bisa berlari cepat dan gesit, sedangkan bebek harus megal-megol dengan tergopoh-gopoh untuk meraih kecepatan lari.
Bagaimana dengan perilakunya? Apakah bebek akan berperilaku seperti ayam, karena telah serumah dan sehidup semati dengan ayam? Atau sebaliknya, sang bebek akan mempertahankan sifat ke-bebek-annya, walaupun hidup di komunitas ayam? Dengan kata lain, apakah bebek akan melawan takdirnya dengan menjadi ayam, atau patuh pada takdirnya dengan tetap menjadi bebek? Saya tidak tahu. Tapi karena ini kisah nyata, saya diambil hikmahnya bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku.
Ada jagoan lain yang juga hebat: macan. Dengan sorot mata yang tajam, dengan kecepatan kemampuannya menangkap mangsa, macan merupakan raja hutan yang sosoknya ditakuti. Bila sudah melihat macan, semua akan terbirit-birit menjauhi, karena tidak mau berurusan dengan sang raja. Sang raja tidak takut menghadapi apapun dan siapapun. Namanya juga raja “hutan”.
Lalu, bagaimana kalau macan masuk kandang bebek? Apakah akan berperilaku menjadi bebek, atau tetap menjadi macan? Namanya bukan macan si raja hutan, tetapi macan ompong, karena tidak mampu menangkap mangsa. Hanya penampilannya yang menakutkan, tetapi sebenarnya tidak punya daya serang terhadap lawan, hanya karena giginya sudah tanggal semua. Tinggallah auman-nya yang menggetarkan lawan, walau taringnya sudah pensiun. Hanya macan ompong yang berani melawan bebek, supaya tidak kehilangan status sosialnya sebagai raja.
Bagaimana seandainya macan masuk kantor? Jelas sang macan akan mengobok-obok tikus kantor. Kantor menjadi bersih dari tikus, karena macan adalah saudara tua kucing. Bukankah tikus takut dengan kucing? Dengan kucing saja, takutnya setengah mati, apalagi dengan mbah-nya kucing. Lha iya, namanya macan apa? Macan kertas. Apa mungkin macan masuk kantor? Tidak mungkin, karena macan kertas tidak buta huruf. Sehingga begitu masuk pintu kantor, terpampang tulisan “dilarang memakai sandal”, sang macan tertunduk lesu dan segera berbalik langkah meninggalkan kantor dengan rasa kecewa, karena tahu diri tidak bisa mematuhi ketentuanyang berlaku, hanya gara gara tidak bersepatu. Atas nama etika dan norma kesopanan, macan kertas harus memadamkan hasratnya untuk menyerang, hanya karena bersandal jepit. Character assasination untuk macan kertas dirancang sedemikian rupa, sampai akhirnya semua penghuni kantor plus tikusnya punya persepsi yang sama bahwa si macan tidak sopan, menjengkelkan, memuakkan, mengganggu, menyebalkan, sehingga berbahaya bagi kelestarian kerajaan. Walaupun niatnya bagus, yaitu membasmi tikus kantor, sang macan dengan berat hati harus mengibarkan bendera putih, harus kalah “hanya karena” selembar kertas pengumuman juncto rekayasa opini subyektif. Akhircerita, sang macan dengan geram meninggalkan kerumunan tikus yang berpesta dengan dua agenda: pertama, merayakan terusirnya si macan. Kedua, merayakan pelestarian kekuasaan para tikus akan kepentingan sesaatnya yang sesat di kantor.
Tetapi, meskipun macan kertas, tetaplah macan yang mempuyai sifat pantang berputus asa. Sang macan punya harapan bahwa suatu saat akan mendapatkan sepatu. GPL, sang macan pergi ke negeri dongeng, untuk membeli sepatu. Ternyata ada dua alternatif: Pertama, Cinderella tidak keberatan meminjamkan sepatunya. Kedua, pesan pada Eyang Gepeto (abah-nya Pinokio). Karena dikejar waktu, diputuskan untuk meminjam, bukan memesan. Sepatu kaca digunakan sebagai tiket yang sah untuk masuk kantor, dan tumit sepatunya yang lancip, rencananya dipakai untuk menggembosi perut para tikus kantor yang gendut.
Begitu mendapat pinjaman sepatu kaca Cinderella, babak kedua setelah istirahat 15 menit, dimulai. Aksi sang macan ditunggu semua orang. Aksi macan kali ini benar-benar menghibur semua orang. Tingkah polah macan ini sangat ditunggu oleh banyak orang. Orang menjadi puas dan terhibur dengan aksinya. Aksi sang macan pada babak kedua ini mengejutkan dan membuat penonton tersenyum. Karena memakai sepatu kaca, macan harus menyesuaikan penampilannya. Tetap menjadi macan, tetapi melakukan FACE/OFF  (ingat  Travolta dan Cage) . Menjadi macan macam apa lagi? Macan sirkus.
Lho……lho……siapa itu yang interupsi? Oooooo….. ada yang ketinggalan, dan minta jatidirinya di tampilkan. Siapakah dia? Macan Kemayoran. Ayo, macan mana yang belum diabsen, silahkan angkat tangan!

 

Diding Kusumahadi

Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN

Fakultas Ekonomi

e-mail: diding@um.ac.id

 

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Gerakan 1000 Tanda Tangan Mahasiswa FIP UM

Gerakan 1000 Tanda Tangan Mahasiswa FIP UM – Pada Rabu pagi, 01 Mei 2013 digelar acara “Refleksi Hari Pendidikan Nasional”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan FIP serentak di kampus I, II (Jln. Ki Ageng Gribik Sawojajar) dan kampus III (di Blitar). Tema yang diangkat kali ini adalah menanpilkan foto Ki Hajar Dewantoro dan membentangkan kain putih untuk menjadi ajang kreasi mahasiswa dalam menumpahkan isi hatinya dalam memperingati hari Pendidikan Nasional.

post

post

post

post

post

post

Reporter: Dedi Mukhlas – TEP FIP UM

[selesai] HARTANAS

01/05/2013 Comments off

Hartanas adalah hari tawuran nasional, merupakan penawaran dari negeri antah berantah yang konon kabarnya disebut negeri kebenaran, hartanas meskipun hari kecil dan bukan hari besar tapi kalau dalam memperingatinya penuh penghayatan tentu akan memotivasi pada niat sehingga dengan sungguh sungguh mau merubah keadaan yang lebih baik lagi dari yang sekarang, peringatan hartanas ini pertama untuk para orang tua agar bisa meredam anak anak remajanya agar tidak memberikan kebebasan emosional,walaupun mereka tetap memberontak dan selalu membuat ketegangan tetapi ketegasan itu harus tetap dijalankan sesuai aturan keTuhanan,sehingga perasaan peka, toleran,rasa saling menghargai yang mulai hilang itu akan kembali. Hartanas juga perlu diperingati oleh para tokoh masyarakat dan elit negara agar letupan letupan bara itu cepat ditanggapi dan diatasi oleh” kitab kebenaran”dan disampaikan dengan penuh kearifan,sehingga masyarakat tiada merasa dikecewakan. Begitu juga hartanas perlu diperingati oleh para profokator agar mau memikirkan dampak yang terjadi bila selalu menyulut ketidak benaran bahkan dibesar besarkan dimedia pemberitaan, karena akibat yang lain malah justru memperbodoh masyarakat bukan mencerdaskan………..

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] terima kasih KI …… baktimu pada bangsamu sungguh besar

01/05/2013 Comments off

Saya selalu merasa akrab dengan panggilan KI dan NYI, sebagai panggilan bagi pamong di sekolah sekolah Perguruan Taman Siswa. Sungguh sangatlah sulit di masa kini, mencari sosok yang se patriot Ki Hadjar Dewantara, karenanya saya juga merasa sangat berbangga pada Fakultas Ilmu Pendidikan – ku, yang benar-benar bersemangat memeriahkan hari pendidikan nasional ini, dan kembali mengangkat sosok yang sangat penting di dunia pendidikan Indonesia.

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Memayu Hayuning Sariro, Memayu Hayuning Bangsa, Memayu Hayuning Bawana. Momong, Among, Ngemong, Kodrat Alam dan Kemerdekaan.

Wah sayangnya baru se usia ini saya mengetahui beberapa filosofi pendidikan yang beliau cetuskan, itupun masih sedikit sekali dari banyak yang pernah beliau sampaikan.

Adakah yang tergerak hatinya, untuk menggunakan momen HARDIKNAS 2013, sebagai awal untuk menyebarluaskan kembali ajaran-ajaran pendidikan beliau… SEMOGA…….

 

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[selesai] JOY FLIGHT

29/04/2013 4 komentar

Cucak rowo merupakan burung peliharaan kelas premium yang suaranya ciamik. Sayang, karena suaranya bagus, harganya mahal. Belum sangkar emasnya, yang juga lumayan mahal. Karena unsur mahal ini, mulai dulu sampai saat ini, saya belum berkesempatan memilikinya. Cukup mendengarkan suara cucak rowo tetangga. Lebih efektif dan efisien. Tanpa harus repot memberi makan, membersihkan kotorannya, sampai memandikan. Juga tidak perlu repot menitipkan si cucak rowo bila ditinggal pergi ke luar kota beberapa hari. Tidak perlu pusing mengurus segala sesuatunya, tapi nunut menikmati suaranya. Ini namanya ikut menikmati burung tetangga dalam konteks positif. Tapi disisi lain, bisa jadi, merupakan cermin egoisme individu yang tinggi.
Di sisi lain, halaman belakang rumah saya ada pohon jambu air yang tinggi dan rindang. Karena rindang dan tidak pernah di ganggu, banyak burung yang berdiam di sana. Burung gereja, pasti ada. Kutilang, banyak. Ada juga beberapa perkutut. Tetapi yang dominan adalah burung emprit. Saking kerasannya, ada beberapa sarang burung bertengger di dahan yang tinggi. Emprit menjadi penguasa pohon jambu. Yang lain hanya nunut ngiyup. Karena jumlahnya banyak, komunitas emprit menjadi penguasa tunggal pohon. Yang lain agak enggan bertengger, karena kalah banyak dalam hal jumlah anggota komunitas.
Emprit versus Cucak rowo. Sudah pasti, dari segi suara, suara emprit bukan lawan yang seimbang cucak rowo. Suara emprit monoton (satu nada saja), sedangkan cucak rowo begitu variatif nadanya. Dari sisi fisiknya, cucak rowo gagah dan badannya bongsor, sedangkan si emprit kecil mungil. Dari dua aspek ini saja (suara dan badan), cucak rowo menang telak. Skor 2-0 untuk cucak rowo.
Tetapi, meskipun badannya kecil dan suaranya monoton, emprit juga punya kelebihan. Meskipun kecil, gerakannya tangkas dan gesit. Kelebihan ini yang bisa menjadi senjata pamungkas bagi emprit untuk mengalahkan cucak rowo. Senjata pemusnah massal yang akan membuat cucak rowo tidak berarti apa-apa dengan kewibawaan suaranya dihadapan si emprit yang kecil. Apa senjatanya? KEBEBASAN.
Cucak rowo hanyalah burung dalam sangkar emas, walaupun penampilan dan suaranya meyakinkan, tidak bisa terbang bebas sesuai keinginannya. Cucak rowo hanya ”dowo buntute, akeh wulu-ne”. Ada ikatan dengan majikannya, sebagai kompensasi dari kenikmatan sesaat yang didapatnya. Bentuk kenikmatannya berupa makan dan minum yang selalu tersedia tanpa meminta dan mencari, kebersihan sangkar yang selalu terjaga, kebersihan badan , dan jaminan keselamatan dari terkaman kucing garong. Semua fasilitas bintang lima ini harus ditebus dengan kebebasan yang dikebiri oleh majikan. Dipenjara seumur hidup, tetapi semua terjamin, kecuali kebebasan untuk melakukan joy flight. Hanya bebas melakukan salto di dalam sangkar emasnya. Dalam konteks ini, yang harus dimaklumi adalah bahwa cucak rowo tidak bisa memilih karena eksploitasi manusia. Begitu ditangkap manusia dan dikurung, ya habis sudah. Tidak punya daya untuk melawan. Lain dengan manusia yang punya daya tawar untuk memilih. Mau bebas atau mau dieksploitasi.
Lain lagi dengan emprit. Meskipun fasilitas yang di dapatnya adalah kelas backpacker, mau apa dan kemana saja, tidak ada yang melarang. Dengan kebebasan penuh yang dimilikinya, emprit “berjalan lurus” selaras dengan takdirnya. Meski makanan harus mengais sendiri karena tidak tersedia, minum bukan air mineral, sarangnya mungkin sangat kotor, mandinya bukan mandi susu, emprit terlihat sangat menikmati hidupnya yang bebas dari eksploitasi. Emprit melakukan joy flight dengan nyaman, tanpa takut harus menabrak gunung Salak. Dengan senjata “kebebasan” inilah emprit membangun serangan terhadap cucak rowo sehingga memenangkan pertandingan secara telak dengan skor (~) – (2) sampai game over.
Kebebasan untuk memilih adalah esensi kehidupan manusia. Hanya ada dua jalan yang dipilih: jalan yang lurus atau yang bengkok. Tidak ada third way. Kalaupun ada, third way dibuat sendiri sebagai emergency exit untuk membenarkan tindakannya yang salah dan menghindari resiko duniawi saja. Hanya ada dua jalan disediakan oleh Sang Pencipta untuk dipilih, dan manusia bebas, sebebas-bebasnya, memilih dengan konsekuensinya masing-masing.
Akhirnya, kalau menjadi supporter fanatik, manakah yang harus dipilih? Cucak rowo atau emprit? Saya yakin, pasti yang dipilih emprit rasa cucak rowo. Kalau pilihannya model sinkretisme begini, namanya ser….kah. Emprit rasa cucak rowo inilah yang dinamakan third way. Kalau mau, akan saya panggilkan Doraemon untuk membuatnya dengan memanfaatkan kantong ajaib yang dimiliki.

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Kampus UM di Hari Bumi Dunia

Kampus UM di Hari Bumi Dunia – Hari bumi yang sudah selesai dan kita lewati pada hari ini diperingati oleh kampus tercinta universitas negeri malang (um). Kampus UM memperingati hari bumi pada tanggal 25 April 2013 yang di langsungkan pada hari kamis. Suasana berbedah sangat nampak ketika kampus tercinta ini menjalankan program kampus bebas asap dan kendaraan bermotor. Namun selalu ada saja yang nakal.

http://www.kotepoke.org/

http://www.kotepoke.org/

http://www.kotepoke.org/

Dari hasil ini banyak yang mendukung untuk program ini bisa dijalankan setiap hari minggu khususnya dii hari jumat, pemandangan nakal yaitu masih adanya dosen-dosen dan pejabat kampus yang tidak sesuai dengan peraturan yang sudah disepakati. Semoga bisa terealisasi dengan baik untuk agenda mendatang.

[selesai] BEBAS ASAP DAN HIRUK PIKUK Menuju KAMPUS SEHAT: Kampus Dambaan

25/04/2013 4 komentar

Siapa saja yang pada hari ini masuk ke Universitas Negeri Malang merasakan situasi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Situasi di dalam kampus tampak rapi, bersih dan tidak ada lalu lalang kendaraan. Nyaman dan fresh. Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2013 Ormawa UM menggelar gerakan bersama satu hari bebas asap kendaraan bermotor di dalam kampus. Surat Edaran yang ditandatangani oleh Rektor UM mengiatur sentra2 parkir yang feasible sehingga di dalam Kampus benar-benar bersih dari kendaraan bermotor.

Pemandangan lalu lalang pejalan kaki para dosen, mahasiswa dan pegawai yang secara leluasa berjalan dengan tenang bisa kita saksikan di area kampus.

Jika gerakan satu hari bebas asap ini dievaluasi lebih banyak manfaatnya, tidak ada salahnya segera diterapkan. Jika menunggu sempurnanya sarana prasarana yang diperlukan, kemungkinan besar malah tidak akan bisa dilaksanakan karena pada dasarnya sesuatu yang dibuat manusia tidak ada yang sempurna. Kekurangan sarana prasarana bisa dilengkapi sambil berjalan.

Tulisan ini pendapat pribadi, monggo silakan berpendapat.

Fatmawati, Bagian Kerjasama dan Humas

Kategori:5-Pendapat Tag

[selesai] KEMBANG API

23/04/2013 4 komentar

Karir kerja seseorang, tiap tahun pasti akan bertambah naik. Yang tahun ini golongan IIb, misalnya, 4 tahun lagi akan naik menjadi golongan IIc. Atau contoh dilevel “juragan”, yang saat ini menjabat sebagai lower manager, bisa jadi tahun depan akan menjadi middle manager. Kenaikan karir menjadi keniscayaan, dengan asumsi ceteris paribus. Bagaimana hakekat menapaki karir dalam frame business as usual? Caranya adalah dengan naik kendaraan yang tepat. Stasiunnya sama. Tetapi loket pembelian karcis yang berbeda. Satu loket untuk pejabat karir dan satu lagi untuk non karier. Pejabat karir harus membeli tiket balon udara, pejabat non karier harus membeli tiket naik kembang api. “Opo maneh, iki?”
Karir pemimpin harus naik kendaraan yang tepat. Artinya, harus memenuhi ketentuan peruntukan masing-masing kendaraan. Sudah disediakan kendaraan bagi masing-masing jabatan yang bersifat mengikat serta final. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Pemimpin karier wajib naik balon udara dalam meniti karirnya. Naik dengan pelan, mantab, dan pasti. Ada antrian yang panjang untuk bergantian naik ke udara. Karena antrian panjang, dibuatlah karcis demi ketertiban urutan. Masing-masing memegang tiket untuk naik secara sah. Tidak ada kendaraan lain yang disediakan bagi pejabat karier, kecuali balon udara. Sesama penumpang, dilarang mendahului (karena nomor antrian sudah ditentukan). Siapa yang berangkat duluan, tentu akan mencapai ketinggian terlebih dahulu. Antri dengan tertib sesuai urutan adalah syarat mutlak bagi pejabat karier. Dimungkinkan menyalip antrian, selama ada alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum (positif).
Berbeda dengan pejabat non karier. Pejabat ini tidak perlu mengantri. Yang ada adalah dapat tiket dan tidak dapat tiket. Mendapat tiket, berarti siap untuk naik. Bila tidak mendapat tiket, jangan berharap dapat naik kembang api dalam meniti karirnya. Bagi yang tidak mendapat tiket, dimohon dengan hormat untuk meninggalkan stasiun. Karena sifatnya yang tidak perlu antri, jelas, pejabat non karier dilarang keras naik balon udara. Kendaraan yang disediakan hanya kembang api. Melesat cepat ke udara. Dari bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Tidak naik step by step, karena naiknya berdasarkan dukungan orang banyak. Begitu hasil pemilihan menyatakan dirinya menang, melesatlah ke udara dengan naik kembang api. Sah dan halal.
Jelas, pejabat karier wajib hukumnya untuk mengantri dulu naik balon udara. Pejabat non karier tidak ada antrian, hanya menunggu kepastian kemenangan pemilihan. Meskipun stasiunnya sama, kepadatan peron calon penumpang sangat jauh berbeda. Peron calon penumpang yang menunggu balon udara penuh sesak dengan penumpang yang antri dengan memegang karcis ditangan. Berdesakan dan terdengar gaduh, karena gundah menunggu datangnya balon udara dengan kapasitas penumpang yang sangat terbatas. Tidak mungkin balon udara dapat memuat seluruh penumpang diperon dengan sekali angkut. Antrian yang panjang, memancing kedatangan para calo menawarkan jasanya. Jasa menyalip antrian, membuat para calon penumpang yang bertempramen tidak sabaran menjadi tergoda. Dijalin kesepakatan “dagang sapi” dengan sang calo. Begitu terjadi deal dengan si calo, dengan senyum mengembang, berangkat dululah penumpang dengan bantuan calo. Atas jasa si calo yang “baik tapi tidak benar”, antriannya yang bernomor sekian puluh, menjadi antrian nomor 1. Ajaib. Melengganglah dengan mantab dan pasti si penyalib antrian, melangkah naik balon udara dengan pe-de-nya. Tetapi penyalib antrian “pura-pura” lupa, bahwa ancaman kehabisan api yang menyembur ruang balon, bisa dan sangat mungkin terjadi. Apalagi status naiknya sebagai penumpang adalah penumpang gelap, dalam arti penumpang tidak sah karena hasil melangkahi penumpang yang tertib. Ketika dengan tenang tengah menikmati perjalanannya yang nyaman, tiba-tiba terdengar lagu anak anak “balonku” yang populer itu. Meletus balon hijau….dorrr……..Apabila resiko ini terjadi, jelas dia akan jatuh terhempas ke tanah dengan telak.Masih mending kalau jatuhnya setengah perjalanan, kalau sudah hampir sampai tujuan?Bisa jadi bebek belur. Biasanya bukan sekedar jatuh, tapi terpimpa tangga pula. Inilah konsekwensi logis yang luput dari perhitungannya, pada waktu menjalin deal dengan calo. Bukankah tindakannya merugikan penumpang lain yang antri dengan tertib? Sehingga penumpang yang tertib berpredikat sebagai yang dianiaya. Jangan disepelekan doanya.
Disisi lain, di peron pejabat non karier terlihat sangat sepi. Karena kendaraaannya adalah kembang api yang melesat dengan cepat, tidak ada antrian, karena semua penumpang dalam hitungan detik dapat diantarkan sampai tujuannya dengan selamat. Walaupun berjalan full speed, resiko meledak di udara sangat kecil, karena yang dibawanya adalah amanat dari para pemilih. Karena amanat dari pemilih inilah, keabsahannya sebagai penumpang tidak perlu diragukan lagi dari sisi manapun. Pemilih mempersilahkannya dengan ikhlas untuk naik kembang api. Sudah tentu, perbuatan baik akan mendapat balasan yang lebih baik, sehingga para penumpang tidak khawatir terjadi kecelakaan.
Pada hakekatnya, ada perbedaan esensial dari dua jenis pejabat ini. Pejabat karier di pilih bukan dalam arti sebenarnya, sedang non karier di pilih dalam arti sebenarnya. Meski perbedaannya terletak hanya pada kata “bukan”, implikasinya tidak sederhana. Karena hanya terpaut selangkah keseberang inilah, banyak yang tergoda untuk berpindah masuk ke jalur tetangga yang terlihat sepi walaupun tahu bukan haknya, yaitu pejabat karier yang naik naik kembang api. Semoga tidak meledak ditengah jalan. Itulah yang dinamakan politisasi birokrasi,
Kembang api memang indah. Tapi jangan hanya kembang indahnya saja yang dinikmati, hati-hati dengan api-nya. Kembangnya memang bisa membuat hati menjadi bungah, tetapi jangan lupa bahwa apinya bisa membumihanguskan karir. Berani coba? Semoga tidak, karena hanya akan menambah panjang jumlah korban sia-sia kecelakaan penumpang gelap kembang api. Adakah kesanggupan dan kepekaan kita untuk mengambil pelajaran dari para korban? Padahal Pak De Rhoma telah mengingatkan bahwa

Sebagai hidangan penutup, tidak ada salahnya kita nikmati ini: http://www.youtube.com/watch?v=76l-TO7kZz4

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

Kategori:Tanpa Kategori Tag

SELESAI] Penandatanganan Nota Kesepahaman Antara UM dengan PT. Telkomsel

22/04/2013 2 komentar

http://www.um.ac.id/news/2013/04/883/

bla bla bla …. . Guna mendukung kemudahan akses, Telkomsel juga memasang Telkomsel WiFi HotSpot untuk penyaluran kreativitas dan inovasi mahasiswa.

MARI BERJUANG UNTUK KEMERDEKAAN FREKUENSI 2.4GHz

RISE TO FIGHT….

 

hanya satu kata MERDEKA

 

Laksono Budiarto
( pegawai rendahan yang ingin berjuang demi kemerdekaan dan kemajuan IT UM )
NIP 19700702 200112 1 001
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang

Kategori:Tanpa Kategori Tag