[selesai] PINOKIO

14/04/2013 1 komentar

Saya mempunyai seorang tetangga mulai kecil (tahun 1970-an), yang suaminya adalah dosen sebuah PTN (yang pasti bukan UM). Saya tahu dan mengerti betul budaya lingkungan asalnya, karena saya kenal sejak dahulu. Budaya lingkungannya dibesarkan dengan (dalam konteks hiburan) gegap gempita orkes dangdut (termasuk saya juga). Kebiasaan sejak kecil mendengarkan musik orkes ini, terbawa sampai sekarang. Makanya, sampai saat ini saya bersahabat dengan Rita Sugiarto, Camelia Malik, dan yang paling top: Elvi Sukaesih.
Pada setiap hari Jum’at sore, saya selalu menjalankan ritual wajib berupa main tenis lapangan di universitas tetangga sebelah. Di atas lapangan tenis, ada aula lengkap dengan soundsistemnya. Suara lagu cha-cha yang selalu terdengar dengan keras, mengganggu orang yang main tenis. Ternyata aula tersebut digunakan ibu-ibu untuk berlatih dansa. Para petenis tidak bisa protes masalah kebisingan pada pengelola lapangan, karena yang berlatih dansa adalah ibu-ibu pejabat. Karena keluarga pejabat, tidak ada yang berani usil untuk mengusiknya.
Kejadian mengejutkan terjadi ketika pedansa dan petenis pulang bersamaan. Saya heran dan kaget, ternyata diantara sekian banyak ibu-ibu, ada tetangga saya yang ikut berlatih sebagai pedansa. Saya hanya bisa melongo, terheran-heran. Bagaimana orang yang budaya asalnya adalah orkes (dang-dut) bersalin rupa menjadi dansa? Ah gak jauh koq, hanya dari orkes menuju orkestra. Weleh-weleh……..
Kejadian lain, kali ini dari teman UM. Tahun lalu, saya ikut sebuah pelatihan di aula perpustakaan. Lazimnya pelatihan, ada cofee break sekitar pukul 10.00. Ada seorang teman yang duduk manis di kursi, memanggil anak buahnya yang (saya tidak tahu) kebetulan atau sengaja mengikuti pelatihan. Tapi dugaan saya sang anak buah sengaja diikutkan untuk menambah ilmu untuk kemajuan kantornya, plus (nah, ini) melayani sang prabu. . Sang anak buah ikut pelatihan dengan tugas ganda. Sambil menyelam minum air. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Sang prabu memerintahkan prajuritnya untuk mengambilkan snack!. Wah, hebat betul pejabat karbitan kita ini, bukan duduk di café, tapi minta dilayani. Benar-benar seorang sahabat super. Seorang prabu punya prajurit yang dilengkapi dengan asesoris “loyalitas buta”. Enak tenan….. Mungkin masa kecil sahabat super ini telah kenyang dalam menikmati pahitnya kehidupan kaum proletar, sehingga begitu mendapat “setetes saja ” kekuasaan, diseruput dengan ganas karena begitu hausnya akan kenikmatan hidup borjuis, walaupun dengan cara yang salah konteks.
Pelajaran apa yang dapat ditarik dari dua cerita yang saya sampaikan di atas? Adalah, bagaimana, ternyata, kacang bisa lupa kulitnya. Adalah, bagaimana mungkin, buah bisa jatuh jauh dari pohonnya. Adalah bagaimana “seorang” petruk dadi ratu. Adalah sesuatu yang aneh, akar budaya yang tertanam sejak kecil, dicabut begitu saja dengan ringan, demi memenuhi gengsinya sebagai seorang prabu. Supaya kelihatan terpandang dan terhormat di in-group-nya dan terlebih lagi out-groupnya (karena tidak mengenal asal-usulnya), akar budaya yang bersifat ndeso (untuk ukuran sekarang) harus dihilangkan. Asal-usul yang berbau “sawah dan kerbau” harus di-delete..
Supaya berimbang, dan demi memenuhi unsur cover both side, saya akan melihat diri saya sendiri. Pada waktu kecil, saya dibesarkan di lingkungan yang full orkes. Tapi menjadi absurd ketika sudah tua begini saya menjadi pengikut “mother monster”? Bila mengalun suara orkes (dangdut) saya pura-pura tidak kenal, tidak suka. Padahal, kalau tidak ada yang melihat, minimal kaki akan ikut bergoyang sambil mengingat masa kecil yang menyenangkan. Pada saat muda, saya biasa menggenggam cangkul, tapi saat tua menggenggam raket tenis? Kalau sekarang diminta bantuan mencangkul, beralasan tidak bisa karena tidak pernah memegang cangkul, sehingga tidak bisa membantu untuk menyelesaikan. Atau menggunakan alasan medis untuk menutupi keengganan, dengan mengatakan tangan dan kaki saya sakit karena asam urat. Linu semua. Atau, yang berbahaya, saat kecil suka mencuri jambu, setelah besar mencuri prabu. Kebiasaan kecil, dibawa terus sampai besar.
Lingkungan masyarakat sewaktu masih kanak-kanak, akan terbawa terus sampai dewasa. Mungkin, sewaktu besar, kita hidup dilingkungan yang berbeda, budaya sejak kecil tidak bisa disembunyikan apalagi diingkari. Sepandai-pandainya menyimpan asal-usul, pada momen tertentu, akan ketahuan juga. Misalnya, saya sendiri, kalau men dengarkan lagu orkes di atas, kalau tidak ada yang melihat, bisa joget sampai pagi. Ketahuan aslinya: Petruk dadi Pinokio.

Diding Kusumahadi
Pegawai Subag Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
E-mail: diding@um.ac.id

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Ketidak Jelasan Pemotongan Pohon Palem di Perpustakaan UM

Suasana perpustakaan kali ini ada tampilan yang berbeda dengan adanya pemotongan pohon palem di jalan utama perpustakaan. Entah apa yang menjadi latar belakang penebangan pohon palem ini? Mungkin sama dengan kisah di MIPA adanya Regenerasi dengan pohon kayu baru. Yang jelas pemandangan Perpustakaan UM kini berubah menjadi panas dan kurang sejuk.




Semoga bisa memberikan jawaban yang benar dan berkualitas, pohon adalah sahabat manusia yang memiliki sejarah dalam kisah kehidupannya.

Salam Sukses, Dedi Mukhlas | TEP UM 09

[SELESAI] Ijin Bisa UPLOAD di SUARA KITA

05/04/2013 Comments off

Dear Admin,

Beberapa waktu kini website untuk Suara.um.ac.id tidak dapat di ijinkan mengupload sebuah data dan sebagainya sebagai penguat artikel. Entah apa yang sedang terjadi di dalam website suara.um.ac.id ini. Saya berharap problem ini bisa segera diselsaikan agar sebuah opini atau pertanyaan yang sulit di sampaikan dalam bentuk teks bisa disampaikan dalam bentuk gambar.

Berikut contoh hasil problem di Suara Kita:

Salam
Dedi Mukhlas
Mahasiswa TEP UM
209121419493

[selesai] MARI BERJUANG UNTUK KEMERDEKAAN FREKUENSI 2.4GHz

03/04/2013 6 komentar

Negara kita adalah negara yang sudah merdeka, namun dari sisi IT, apakah kita sebagai warga UM sudah merdeka ? menurut saya BELUM, kita masih dijajah, kita belum merdeka. Tulisan saya ini berkaitan dengan pemakai frekuensi 2.4GHz.
Bagaimana perasaan anda manakala melihat orang-orang dari luar UM, makan dan cangkrukan di kantin UM, sampai sampai anda sebagai warga UM tidak bisa makan di kantin sendiri ? atau bisa makan namun kehabisan kursi ? benar memang kantin tersebut untuk UMUM, namun seyogyanya ada kebijakan yang pro kepada kita sebagai warga UM, sehingga kita menjadi MERDEKA di kampus kita sendiri.
Frekuensi 2.4GHz dahulu diperjuangkan oleh senior senior di dunia IT Indonesia agar dibebaskan, Akhirnya, pada tanggal 5 Januari 2005, di tanda tangani Keputusan Menteri No. 2 / 2005 tentang Wireless Internet di 2.4GHz oleh Hatta Rajasa, yang intinya membebaskan pemakaian frekuensi 2.4GHz dengan beberapa syarat. Sayang sekali karena FREE yang dalam hal ini berarti bebas pakai, justru menjadikan banyak pihak termasuk perusahaan-perusahaan di bidang IT, mulai melakukan penjajahan (menurut pandangan saya). Gelombang radio memang tidak bisa dilihat mata, namun jika anda menggunakan perangkat-perangkat tertentu, anda akan tahu persis bahwa udara segar di atas kampus kita, dijejali begitu banyak gelombang, di frekuensi yang MERDEKA tersebut.
Saya sebagai warga UM dan di bidang IT, sungguh trenyuh jika barang yang tak terlihat mata ini, dianggap tidak ada hanya karena tidak terlihat mata. Yang jelas ADA PENJAJAHAN, yang jelas ADA PENJARAHAN frekuensi di atas udara segar UM. Semoga teman-teman yang perduli pada KEMERDEKAAN ini, turut berjuang, mari kita kobarkan gerakan “PERJUANGAN KEMERDEKAAN FREKUENSI 2.4GHz di UNIVERSITAS NEGERI MALANG”. Kita tolak segala macam bentuk penjarahan frekuensi tersebut dari atas UDARA SEGAR UM. Kita harus berdaulat atas frekuensi tersebut diatas udara UM.
Frekuensi tersebut harusnya kita kelola (melalui pusat TIK) untuk kepentingan kita bersama warga UM, bukan untuk kepentingan perusahaan A atau perusahaan B, walau secara fisik mereka hanya memasang titik-titik hotSpot dengan iming-iming FREE ACCESS, nyatanya mereka hanya menggunakan untuk kepentingan perusahaan mereka. MERDEKA ATAU MATI…

Budiarto
Fakultas Ilmu Pendidikan
NIP. 19700702 200112 1 001

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[selesai] INSTAN

01/04/2013 Comments off

Kata instan mempunyai pengertian cepat, langsung jadi, siap pakai. Semua langsung siap tanpa bersusah payah untuk memprosesnya. Contoh yang paling sederhana dan mudah adalah mie instan. Hanya tinggal mendidihkan air, masukkan mie dan bumbunya, selesai dan siap untuk di makan. Atau contoh lain adalah susu instan. Tanpa harus punya sapi dan memeras susunya, kita hanya tinggal menyeduh susu instan dengan air panas, susu siap diminum. Kelebihan dari mie dan susu adalah perusahaan pembuatnya secara tegas menyatakan (mengakui) bahwa produknya instan. Dalam kemasannya tertulis “instant noodle” untuk mie, atau “susu instan” untuk produk susu.
Dua produk di atas adalah sekedar dua contoh untuk produk makanan. Untuk melihat produk lain dari hasil karya instan, coba ketik di google dengan kata kunci produk instan. Akan kita temui banyak produk instan di sana. Akan dapat ditemui produk jilbab instan. Maksud jilbab instan, penggunaannya begitu praktis, tidak ribet, semudah memakai topi, sehingga disebut jilbab instan. Ada juga dari dunia kosmetik, disebut dengan kosmetik instan. Misalnya produk pemutih kulit, hanya dengan menggunakannya beberapa minggu, kulit anda akan dijamin putih bila menggunakan kosmetik tersebut.
Instan yang canggih adalah pesan instan (instant messaging). Dengan berbekal komputer atau handphone, kita dengan mudah dapat menikmati pesan instan. Dengan tidak memperdulikan dimensi ruang dan waktu, seseorang dapat kita hubungi melalui pesan instan ini. Bahkan untuk mencetak seorang entertainer-pun, dapat dilakukan dengan instan. Berbagai kontes “idol” di televisi, merupakan sarana untuk mengorbitkan seseorang menjadi “artis dadakan”. Padahal, untuk mendukung seorang peserta untuk menjadi pemenang, berapa rupiah SMS yang kita berikan pada pengelola acara? Berapa laba pengelola acara? Dan yang paling penting, pemenangnya ditentukan bukan berdasarkan prestasi-nya, tetapi dukungan sms-nya.
Produk instan telah merambah ke segala sudut kehidupan manusia. Produk instan mengubah mimpi manusia menjadi kenyataan dalam sekejap tanpa harus ter-mehek-mehek untuk meraihnya. Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, apa yang diinginkan segera terwujud di depan mata. Produk instan seolah-olah merupakan produk “sulap” yang selesai dan tercapai hanya dengan “bim salabim”. Produk instan merupakan dukun sakti yang dapat mengubah hidup manusia menjadi lebih baik, walaupun harus dengan mengorbankan harta dan (tidak jarang) kehidupannya. Manusia menjadi begitu tunduk dan patuh pada “perwujudan keinginannya”. Budaya instan telah menjadi “icon” gaya hidup, yang digandrungi banyak orang. Dengan hanya menggosok lampu Aladin, semua mimpi yang ada diangan-angan, dengan seketika tersedia dihadapan kita.
Budaya instan tengah melebarkan sayapnya dalam rangka mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Budaya instan menawarkan pilihan jalan keluar yang seolah-olah tepat untuk menyelesaikan masalah. Segala macam persoalan yang rumit, di selesaikan dengan cara instan. Cara instan memang bisa menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi tidak untuk jangka panjang. Budaya instan hanya menunda resiko. Dampak dari budaya instan tidak kita rasakan seketika, tetapi akan terasa dalam jangka panjang.
Tapi, di tengah gemerlap godaan duniawi, adakah cara untuk menjadi kaya secara instan? Ada. Hanya caranya yang harus dipertanyakan ke”beradaban”nya, karena mungkin (maaf) biadab.

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[SELESAI] Otto bemo fans club

25/03/2013 4 komentar

Adalah nama suatu wadah paguyuban mantan satuan pengaman (satpam ) yang kemarin dibentuk dan dirayakan di gedung pertemuan Hall Mawar Selorejo oleh sesepuh satpam angkatan tahun 1980 Universitas Negeri Malang.
Didasari oleh kebersamaan visi, mereka ingin mewujudkan suatu kelompok sosial yang teratur dan terkoordinir. merasa sejiwa, merasa ada ikatan batin, mereka ingin bangun melalui penghayatan solidaritas dan kepedulian yang tinggi agar jiwa jiwa yang telah mengalami mutasi dan rotasi dalam kepegawaian tak merasa tercecer berserakan dalam kesendirian, kita semua faham bahwa misi mereka lebih di prioritaskan pada masalah sosial dan moral, dan secara pribadi saya ucapkan selamat atas terbentuknya paguyuban “ottobemo” mudah mudahan sukses.
Mungkin ada dua pertanyaan bagi saya yaitu,kenapa wadah paguyuban itu diberi nama otto bemo dan apakah ada makna filosofi yang terkait dengan visi atau misi paguyuban? Karena setahu saya bahwa nama “ottobemo” itu adalah nama lagu penyemangat ketika peleton satpam melakukan aktifitas lari lari dan senam kesegaran jasmani, kalau tak salah bunyi syairnya begini:
“Otto bemo – otto bemo, beroda tiga….dia berhenti di tengah tengah kota – ayo nona ayo nona..berbaju biru.. – nona bilang tidak punya uang..jalan kaki saja…”
Dan pertanyaan kedua adalah, apakah paguyuban ottobemo hanya diperuntukkan untuk mantan satpam yang masih aktif dan yang sudah pensiun saja? Lalu bagaimana dengan satuan satpam yang baru kalau dikaitkan dengan sesama korp dan persaudaraan? Kalau masukan dari saya adalah janganlah meninggalkan konsep korp dan persaudaraan walau terhadap generasi PAM yang baru….

Kategori:Tanpa Kategori Tag

[selesai] ABU-ABU

20/03/2013 Comments off

Putih dimaknai sebagai sesuatu yang bersih. Putih dimaknai sebagai sesuatu yang baik, suci, bersih, benar. Warna putih adalah icon kebaikan. Hitam dimaknai sebagai sesuatu yang kotor. Umumnya perilaku yang tidak baik disimbolkan dengan warna hitam. Hitam dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek, buruk, kotor, salah.

Dalam khasanah warna, apabila warna hitam dicampur dengan warna putih, akan menghasilkan varietas warna baru yang bernama abu-abu. Apabila pencampuran dilakukan dengan mengaduk setengah hati, masih akan kelihatan, mana yang warna putih, dan mana yang warna hitam. Sebaliknya, apabila pencampuran dilakukan dengan penuh semangat, akan tercipta warna abu-abu yang sempurna. Tidak akan kelihatan, mana yang putih dan mana yang abu-abu.

Makna hitam dan putih, mungkin sudah jelas , semua orang tahu. Sedangkan abu-abu? Istilah populer yang ada di masyarakat adalah apa yang disebut “wilayah abu-abu”. Wilayah ini sangat menarik untuk ditelusuri, karena diwilayah ini bersemayam berbagai macam perilaku yang absurd. Area ini merupakan arena pertempuran antara si-putih (kebaikan) melawan si-hitam (keburukan). Umumnya, wilayah ini dipergunakan sebagai bengkel resmi untuk merekayasa perbuatan salah menjadi perbuatan yang dapat “diterima “ (tidak akan pernah dapat dibenarkan, karena sudah jelas sesuatu yang salah). Hal yang baik dan buruk menjadi rancu. Yang benar dan yang salah sengaja dikaburkan, sehingga seolah-olah tidak ada alternatif benar dan salah. Seolah-olah yang ada adalah hanya kebenaran.

Yang benar (pasti) di-salah-kan (dan sebaliknya) yang salah adalah yang benar. Wilayah abu-abu, bisa jadi, merupakan singgasana yang sangat nyaman bagi para fans berat Machiavelli. Medan yang nyaman bagi pecinta hedonisme. Tempat yang sejuk bagi mereka yang haus akan justifikasi tindakan mereka yang amat sangat subyektif. Istana yang nyaman bagi pemuja ” value free”. “Rest area” yang sangat ideal bagi penggemar hegemoni kekuasaan, karena dapat dilaksanakan tanpa halangan, tanpa ada seorangpun yang berani dan sanggup menghentikannya. Semuanya serba instan. Apapun keinginannya, seketika itu juga, selalu terpenuhi. Semua individu menjadi raja yang sangat mencintai wilayah kekuasaannya. Semua keinginannya diumbar untuk dilaksanakan seolah olah hidup ini abadi.

Mereka lupa bahwa manusia bisa (dan pasti) mati. Mereka salah menduga bahwa kehidupan abadi bukanlah saat ini, tetapi setelah mereka meninggalkan wilayah abu-abu yang dicintainya. Syukurlah, apabila mereka segera tersadar, bahwa mereka hidup di habitat yang tidak cocok, dan segera kembali ke habitat yang sebenarnya.

Yang harus kita cermati adalah dampak dari hasil pengembaraan di wilayah abu-abu. Setelah menanggung akibat dari pertandingan di wilayah abu-abu, hanya rasa penyesalan yang menjadi pendamping hidup yang setia dalam suka dan duka. Ada paradakos di sini yaitu, ketika mereka berangkat ke wilayah abu-abu dengan gagah dan “sengaja”, berubah menjadi kecut dan berdarah-darah ketika kembali, sebagai akibat tidak kuat bertahan di medan permainan. Hikayat dan akibat dari para mantan pemain inilah, yang harus kita simak dengan baik ceritanya, mengambil hikmahnya, agar kita tidak tergoda untuk ikut bertanding. Hikmah merupakan portal yang menghalangi kita untuk masuk arena pertandingan.

Berbuat baik (putih) adalah kewajiban. Berbuat jahat (hitam) adalah pilihan. Berbuat membenarkan yang salah (abu-abu) adalah kesesatan. Sehingga, masih perlukah minta kepada wasit “perpanjangan waktu” untuk meneruskan pertandingan di wilayah abu-abu? Saya hanya bisa memastikan bahwa pemain abu-abu, pasti rokoknya gudang garam merah, kerena (sesuai slogannya) punya “selera pemberani”.

Diding Kusumahadi
Pegawai Sub Bagian Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id

Kategori:5-Pendapat Tag

[SELESAI] Potret Acara Job Fair Um 2013

15/03/2013 Comments off

Potret Job Fair UM 2013 – Tanggal 11 Maret 2013, kampus universitas negeri malang (UM) atau yang dikenal sebagai IKIP Malang menyelengarakan Job Fair atau Bursa Kerja perdana di Gedung Graha Cakrawala. Antusias peserta begitu besar dengan banyaknya peserta yang datang dan ikut dalam lowongan pekerjaan di Job Fair UM 2013. Kerja sama Job Fair UM 2013 ini terselengara dengan kerja sama +60 Perusahan ternama Indonesia.

Sumber: http://www.kotepoke.org/2013/03/gallery-job-fair-um-2013.html

http://www.kotepoke.org/2013/03/gallery-job-fair-um-2013.html

http://www.kotepoke.org/2013/03/gallery-job-fair-um-2013.html

Semoga di Tahun 2014, agenda ini bisa dilanjutkan kembali :D

Dedi Mukhlas
Mahasiswa S1 TEP 2009

[SELESAI] Orisinil

14/03/2013 6 komentar

Adaptor komputer saya hilang, karena lupa ditaruh di mana. Ketika mau membeli di toko komputer, pelayan toko mengatakan: “adaptor yang orisinil kami tidak punya, yang ada KW. Kalau Bapak mau, kami ambilkan”. Saya mengecek beberapa toko sebagai bahan perbandingan. Akhirnya ketemu, harga orisinil Rp 250.000, sedangkan yang KW hanya Rp 65.000.

Ada masalah lain. Mobil saya sudah berumur 28 tahun saat ini. Sehingga wajar apabila mesinnya sudah harus diperbaiki. Dari bengkel langganan, setelah dibongkar dan diketahui penyebab kerusakan, saya ditawari oleh pemilik bengkel: “Mau pakai yang orisinil atau KW? Kalau orisinil sekitar 10 juta, apabila KW sekitar 2 juta”

Dari dua kasus di atas, pilihan yang saya ambil sama, yaitu saya pilih yang KW, bukan yang orisinil. Dengan alasan lebih murah, saya memilih yang KW. Dari perspektif manajemen, saya termasuk pelanggan yang “tidak loyal”. Padahal pabrikan selalu berharap bahwa pelanggan selalu loyal dengan membeli onderdil yang orisinil, bukan KW, dengan alasan yang bermacam-macam. Salah satu alasan yang umum adalah bahwa onderdil KW akan merusak mesin/peralatan dalam jangka panjang. Yang pasti, satu hal yang esensial dari onderdil Orisinil dan KW adalah masalah pembajakan. Onderdil orisinil, karena dibuat sebagai kelengkapan peralatan secara utuh, tentu proses pembuatannya melalui penelitian yang rumit. Misalnya tentang daya tahan/keawetan onderdil. Supaya awet, pasti dipilihkan bahan yang terbaik. Sebaliknya, onderdil KW, dibuat hanya dengan memperhitungkan keuntungan, sehingga pemilihan bahan adalah yang lebih murah, tanpa mempertimbangkan keawetan onderdil. Ada 2 keuntungan yang didapat produsen KW yaitu bebas biaya riset dan bebas dari tanggung jawab moral terhadap pelanggan. Sehingga barang KW dapat lebih murah dari yang orisinil karena sifat barang KW yang merupakan “produk pembajakan”.

Itu kalau kita bicara masalah “mesin” komputer dan mobil. Bagaimana bila kita mau memperbaiki “mesin” organisasi yang rusak? Mau pilih onderdil yang KW atau orisinil?

Dalam organisasi, khususnya dari perspektif Sumber Daya Manusia (SDM)-nya, hanya ada dua kelompok yaitu pemimpin dan pekerja. [Analog dengan lebah, hanya ada ratu lebah (sebagai pemimpin) dan lebah pekerja (sebagai yang dipimpin). Masing-masing individu lebah sudah tahu “tupoksi-nya”, sehingga pekerjaan di dunia lebah begitu teratur karena masing-masing tahu peran dan tugasnya].

Variabel yang harus ditegaskan adalah “komitmen awal”. Jejak awal komitmen seseorang menapaki jalur yang mana: (calon) pemimpin atau (calon) pekerja, sangat mudah ditelusuri. Begitu masuk anggota organisasi, baik individu maupun organisasi harus konsisten. Apabila diterima sebagai calon pemimpin, organisasi harus “mendidik” individu sebagai calon pemimpin yang baik. Individu juga harus berusaha meningkatkan kompetensinya agar dapat menjadi pemimpin yang baik pada saatnya. Sebaliknya, organisasi juga harus mendidik calon pekerja dengan baik agar dapat bekerja secara profesional pada saat mendatang. Calon pekerja juga harus berusaha meningkatkan “skill”nya, supaya dapat menjadi profesional. Seperti cerita lebah di atas, apabila masing-masing individu “konsisten dengan komitmen awalnya”, maka organisasi akan berjalan dengan baik, karena telah di “skenario-kan“ dan di antisipasi sejak awal kemungkinan perkembangan organisasi yang akan terjadi pada masa mendatang.

“Mesin” organisasi akan bermasalah, ketika “konsistensi komitmen awal” tidak dipenuhi. Mesin organisasi akan terseok-seok, ketika “calon pekerja” menjadi “pemimpin”, dan sebaliknya “calon pemimpin” menjadi “pekerja”. Kalau saya ibaratkan (sesuai dengan konteks cerita ini, yaitu tentang orisinal dan KW), “calon pemimpin yang menjadi pekerja” adalah yang orisinil, sedangkan “calon pekerja yang menjadi pemimpin” adalah KW.

Jadi, bagaimana cara memperbaiki mesin organisasi yang “masuk angin”? Sudah pasti, harus dengan menggunakan onderdil yang orisinil, yaitu dengan cara mengembalikan semua pada habitatnya. Ibarat lebah di atas, bila habitatnya ratu, ya dikembalikan menjadi ratu. Dan yang sejak awal habitatnya pekerja, dikembalikan juga ke komunitas pekerja. Terasa tidak sinkron, apabila pekerja menjadi ratu, dan sebaliknya ratu menjadi pekerja, karena dari penampilannya saja (belum kompetensinya), sudah jelas tidak cocok plus tidak elok, karena tidak sesuai dengan rancangan awal peruntukannya.

Tapi kan sulit juga harus mengembalikan semua ke “blue print” organisasi, karena sudah terlanjur, sehingga tidak mungkin di tarik kembali? Gampang. Manajemen adalah ilmu dan seni. Apa artinya? Ketika manajemen berjalan pada “orbit”nya, kita boleh berlega hati (bukan berbangga diri), dan sampaikan saja bahwa kita menjalankan organisasi secara “scientific management”. Tetapi saat organisasi sedang terserang “demam”, itulah saat kita menyampaikan justifikasi pada publik bahwa manajemen adalah seni. Lho?

Diding Kusumahadi
Pegawai Subag Umum dan BMN
Fakultas Ekonomi
e-mail: diding@um.ac.id

Kategori:5-Pendapat Tag

[SELESAI Insentif

11/03/2013 Comments off

Kalau berbicara soal”insentif” kita semua sama tahu apa arti atau tujuan lembaga atau perusahaan swasta bagi para pelaksana , karyawan ataupun buruh, yang jelas responnya sangat positif apalagi budaya tambahan rejeki tersebut benar benar sangat membantu sekali bagi mereka contohnya di lembaga UM Malang yang sudah lama membudayakan pemberian insentif (honor administrasi) bagi pegawainya ( hingga jadi pengharapan mereka di tiap bulan).
Dan bukti dibutuhkannya uang insentif bagi karyawan di lihat dari begitu ada kelambatan dalam pembayaran ( sebab rotasi pegawai) mereka menjadi resah…tapi belum panik…memang ada yang mengatakan bahwa uang insentif ibarat “fitamin” sedang burung jalak saja kalau seminggu tak diberi kroto,…ya malas berkicau…

Kategori:Tanpa Kategori Tag